Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 53

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 53

Kedua tangan yang saling berpegang itu merenggang dan perlahan-lahan terlepas ketika Cu An mulai melangkah meninggalkan Li Ai. Setelah mengikuti bayangan pemuda yang menuruni lereng terakhir itu sampai bayangan tersebut lenyap, barulah Li Ai tidak dapat menahan tangisnya. Ia menangis sedih, berjalan mendaki bukit sambil terisak. Ia teringat akan keadaan dirinya, yakin bahwa ia tidak akan mungkin dapat hidup berjodoh dengan Cu An, pemuda yang telah merebut cintanya.

Ia teringat akan Bong Kim atau Bong Kongcu, putra hartawan Bong di kota raja, pria pertama yang mengaku cinta dan melamarnya sebagai istri. Mula-mula ia memang tertarik, akan tetapi setelah pemuda itu diberitahu bahwa ia bukan perawan lagi, Bong Kim malah menghinanya dan memandang rendah kepadanya serta hanya ingin menjadikannya sebagai selir. Karena ia tidak mencintai Bong Kim, sikap pemuda itu tidak begitu menyakitkan hatinya, apalagi pemuda hartawan tersebut telah menerima hajaran keras dari Hwe-thian Mo-li.

Akan tetapi, ia benar-benar jatuh cinta kepada Bouw Cu An. Jika sampai Bouw Cu An nanti memperlihatkan sikap seperti Bong Kim, ia tidak akan kuat menerimanya. Lebih baik mati saja! Oleh karena itu, sebaiknya ia tidak melanjutkan hubungan cintanya dengan Bouw Cu An. Bahkan, sebaiknya ia tidak saling mencintai dengan pria mana pun agar jangan sampai tersiksa hatinya kelak.

Pemuda mana yang mau menerima jodoh seorang gadis yang bukan perawan lagi? Ah, betapa tolol dan tidak adilnya laki-laki! Ia bukan perawan lagi bukan karena kesalahannya, bukan karena kehendaknya, melainkan karena terpaksa! Orang bernasib buruk sepertinya bukannya dikasihani, malah dihina, direndahkan, dan diejek.

Bagaimana sebaliknya kalau pria? Berapa banyaknya laki-laki yang ketika menikah bukan perjaka lagi, dan hal itu pun terjadi karena dia sengaja, karena kesalahannya, bukan karena ada yang memaksa, tetapi jika laki-laki, tidak ada yang menghina atau menyalahkannya! Betapa tidak adilnya ini. Pikiran seperti ini mengganggu kepalanya ketika ia mendaki pulang ke perkampungan Ban-hwa-pang sehingga setelah tiba di rumah, ia merasa pening dan segera merebahkan diri untuk tidur dengan wajah yang masih menyisakan bekas air mata.

Sementara itu, Bouw Cu An yang menuruni bukit itu pun dilanda perasaan campur aduk. Ada rasa gembira dan bahagia karena ia merasa benar bahwa ia telah jatuh cinta kepada Kui Li Ai dan ia merasa bahwa gadis itu pun membalas cintanya. Mereka berdua saling mencintai dan alangkah bahagianya kalau kelak ia dapat menjadi jodoh, menjadi suami gadis yang baginya paling cantik dan menarik di antara semua wanita di dunia ini. Akan tetapi, perasaan bahagia ini dinodai ingatannya akan ayahnya. Ayahnya mempunyai niat memberontak, yang berarti ayahnya mempunyai watak pengkhianat terhadap pemerintah.

Sebaliknya, Kui Li Ai adalah putri tunggal mendiang Kui Ciang-kun, seorang perwira tinggi yang patriotik, seorang pahlawan yang gagah perkasa dan dihormati karena kesetiaannya kepada pemerintah. Kalau kemudian Li Ai mengetahui bahwa ayahnya seorang pengkhianat, apakah gadis itu sudi menjadi menantu seorang pengkhianat?

Ingatan ini membuat hati Cu An merasa berat dan sedih sekali. Ia mengambil keputusan untuk menentang ayahnya sendiri, untuk berusaha sekuat tenaga menyadarkan keinginan ayahnya yang hendak memberontak itu. Bagaimanapun juga, ayahnya telah mendapatkan kedudukan yang cukup tinggi dari Kaisar, diangkat menjadi penasihat Kaisar dalam urusan hubungan dengan suku-suku lain di luar daerah kekuasaan Kerajaan Beng. Dengan keputusan hati yang tetap, pemuda itu lalu mempercepat perjalanannya menuju ke kota raja.

Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan memasuki kota raja. Jantungnya berdebar ketika ia memasuki kota raja yang sudah dikenalnya dengan baik itu. Sudah lama ia merasa rindu sekali kepada Ong Lian Hong, adik seperguruan atau adik angkatnya sendiri, putri dari gurunya.

Dulu, ia tidak jadi singgah di rumah adiknya itu karena bagaimanapun juga, ia masih merasa tidak enak untuk bertemu dengan Sim Tek Kun, putra Pangeran Sim Liok Ong yang merupakan pendekar Kun-lun-pai dan kini menjadi suami Ong Lian Hong. Ia pernah jatuh cinta kepada putra pangeran itu.

Sim Tek Kun merupakan pria pertama yang dicintainya, akan tetapi kemudian ia mengetahui bahwa Sim Tek Kun adalah pemuda yang sudah dijodohkan dengan Ong Lian Hong sejak mereka kecil dan ternyata keduanya juga jatuh cinta setelah bertemu saat mereka dewasa. Bahkan, ia sendiri yang mendorong keduanya agar dapat saling bertemu dan berjodoh!

Biarpun ia melepas cinta pertamanya itu dengan rela, tetap saja ada bekas luka dalam hatinya, walau kini luka itu sudah mengering. Ia merasa amat rindu kepada Ong Lian Hong dan kini ia tidak dapat menahan lagi rasa rindunya. Ia menekan perasaan tegangnya, lalu setelah mengambil keputusan, pada siang hari itu ia melanjutkan langkahnya langsung ke istana Pangeran Sim Liok Ong, tempat Ong Lian Hong tinggal bersama suaminya.

Penjaga istana Pangeran Sim tentu saja tidak mengenalnya. Akan tetapi, ketika ia memperkenalkan diri sebagai Hwe-thian Mo-li dan ingin bertemu dengan pasangan Sim Tek Kun, dua orang prajurit itu terkejut dan cepat memberi hormat, lalu mempersilakan Siang Lan duduk menanti di dalam gardu penjagaan karena mereka hendak melapor ke dalam istana.

Tak lama kemudian, Siang Lan melihat Ong Lian Hong dan Sim Tek Kun berlari-lari keluar dari dalam istana menuju ke gardu penjagaan dekat pintu gerbang. Ia bangkit berdiri dan keluar dari gardu menyambut mereka. Hatinya terharu sekali ketika ia melihat Lian Hong masih tetap cantik dan anggun, akan tetapi tampak agak berisi. Setelah dekat, ia gembira sekali melihat bahwa adiknya itu ternyata agak gemuk, tanda bahwa Ong Lian Hong telah mengandung! Mungkin baru beberapa bulan sehingga tidak tampak terlalu besar, namun ia dapat menduga bahwa adiknya itu telah hamil.

"Enci Lan!" Lian Hong berlari dan mengembangkan kedua lengannya.

"Hong-moi!" Siang Lan juga menyambut dan keduanya berangkulan, lalu Lian Hong menangis terisak. "Hush! Lian Hong, kenapa pertemuan menggembirakan ini kausambut dengan tangis?" kata Siang Lan tersenyum, akan tetapi kedua matanya basah. "Enci... maafkan aku."

Tiba-tiba Lian Hong merasa lengannya dipegang suaminya dan tahulah ia bahwa suaminya melarang ia membicarakan urusan lama yang hanya akan menimbulkan kesedihan, maka ia melanjutkan dengan maksud lain, "Maafkan kami tidak tahu akan kunjunganmu sehingga lambat menyambutmu."

"Aih, tidak apa-apa, Adikku. Aku pun tidak memberi kabar lebih dulu, bagaimana kalian bisa tahu?"

"Hwe-thian Mo-li, sungguh kami merasa bahagia sekali dapat menerima kunjunganmu!" kata Sim Tek Kun dengan ramah dan gembira.

"Kun-lun Siauw-hiap, bagaimana keadaan kalian? Engkau menjaga Adikku dengan baik, bukan?" tanya Hwe-thian Mo-li dan suaranya terdengar biasa karena hatinya kini sudah tenteram melihat bahwa mereka berdua agaknya tidak ingin bicara tentang masa lalu.

"Kami dalam keadaan baik, terima kasih. Mari kita bicara di dalam saja. Hong-moi, ajak Encimu masuk ke dalam."

"Mari, Enci Lan!" Lian Hong lalu menggandeng tangan Siang Lan dan mereka berdua berjalan menuju istana Pangeran Sim, diikuti oleh Sim Tek Kun dari belakang. Setelah oleh Lian Hong encinya itu dipertemukan dengan Pangeran Sim Liok Ong dan istrinya, Lian Hong dan Sim Tek Kun lalu mengajak Siang Lan masuk ke dalam, dan di ruangan dalam mereka bertiga bercakap-cakap dengan gembira.

"Sudah berapa bulan kandunganmu, Lian Hong?"

Lian Hong menundukkan wajah memandang ke arah perutnya, wajahnya berubah kemerahan dan tangan kirinya mengelus perut, mengerling sambil tersenyum kepada suaminya lalu menjawab, "Dua bulan lebih, Enci Lan."

"Mudah-mudahan anakmu yang pertama laki-laki, Adik Hong!"

"Nona Nyo Siang Lan, sungguh kami berdua merasa beruntung sekali dapat menerima kunjunganmu ini. Akan tetapi, kalau boleh kami mengetahui, apakah selain kunjungan persaudaraan, kedatanganmu ini ada hubungannya dengan undangan Jenderal Chang Ku Cing?"

"Aih, benar sekali! Bagaimana engkau dapat mengetahuinya, Sim Kongcu?"

"Wah, kenapa sih kalian menggunakan sebutan seperti orang asing begitu? Aku jadi merasa tidak enak mendengarnya. Kun-ko dan Lan-ci, kenapa kalian tidak menyebut seperti kakak dan adik saja?" tegur Lian Hong sambil tertawa.

Wanita muda ini maklum bahwa terdapat kecanggungan di antara dua orang yang dulu memiliki hubungan batin itu, maka ia mencairkan kekakuan tersebut. Sim Tek Kun dan Nyo Siang Lan tertawa mendengar ini.

"Nah, kalau engkau sudah ditegur oleh istrimu yang galak ini, lalu bagaimana sikapmu, Kun-ko?" kata Siang Lan, menyebut Kun-ko tanpa canggung karena memang ia sudah lama mengenal Sim Tek Kun, bahkan sebelum Lian Hong mengenal putra pangeran itu.

Sim Tek Kun tertawa. "Ha-ha, memang aku yang bersalah, Lan-moi. Sepantasnya memang kita tidak bersikap sungkan dan asing satu sama lain. Bukankah kita telah menjadi lebih akrab daripada sekadar teman, kini dapat dibilang menjadi keluarga? Istriku adalah adik angkatmu, maka aku pun berarti saudaramu pula."

Percakapan menjadi lebih ramah dan akrab. Siang Lan lalu menceritakan maksud kunjungannya ke kota raja, menjawab pertanyaan Tek Kun tadi.

"Sesungguhnya memang benar bahwa Paman Jenderal Chang Ku Cing mengutus Saudara Chang Hong Bu berkunjung ke Ban-hwa-kok dan mengundangku agar aku membantu dia melakukan penyelidikan dan menangkap para pembunuh yang telah melakukan pembunuhan terhadap para pejabat tinggi yang setia kepada Kaisar. Karena kami di Ban-hwa-kok sedang membangun, maka aku minta Bu-ko, maksudku Saudara Chang Hong Bu, untuk kembali dulu ke kota raja, kemudian aku menyusul setelah pekerjaan di sana selesai. Setelah memasuki kota raja, sebelum menghadap Paman Jenderal Chang Ku Cing, aku ingat kepada kalian, maka aku langsung saja berkunjung ke sini terlebih dahulu. Kalian tentu lebih tahu apa yang telah terjadi di kota raja sehingga Paman Jenderal Chang perlu mengundang dan meminta bantuanku."

Ong Lian Hong menjawab, "Paman Jenderal Chang Ku Cing juga sudah mengundang kami berdua dan meminta bantuan kami, serta menanyakan alamatmu kepada kami. Kami hanya mengira-ngira saja di mana keberadaanmu, Enci Lan, karena kami telah mendengar tentang engkau yang membasmi gerombolan Ban-hwa-kok dan memimpin perkumpulan itu. Adapun tentang pembunuhan-pembunuhan itu, memang aneh, dan agaknya suamiku dapat bercerita lebih banyak."

Siang Lan memandang Tek Kun. "Apakah yang telah terjadi, Kun-ko?"

Tek Kun menghela napas panjang sebelum menjawab. "Telah terjadi pembunuhan atas diri enam orang pejabat tinggi yang setia kepada Kaisar dan melihat cacat yang diderita keenam orang itu, mudah diketahui bahwa pembunuhnya tentu ada tiga orang. Penyebab kematian itu ada tiga macam, jadi mungkin setiap orang pembunuh telah membunuh dua orang pejabat tinggi. Melihat dari cacat yang menyebabkan kematian, dan cara mereka membunuh tanpa diketahui seorang pun petugas jaga, padahal yang dibunuh adalah pejabat-pejabat tinggi yang rumahnya dijaga, maka jelas bahwa mereka adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi."

"Hemm, apakah bukan orang-orang Pek-lian-kauw dan Ngo-lian-kauw yang melakukannya? Ingat, dulu pun yang melakukan pemberontakan adalah orang-orang Pek-lian-kauw yang mempunyai banyak sekali tokoh lihai."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment