Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 54

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 54

Jenderal Chang juga menduga demikian. Akan tetapi, anehnya, begitu diadakan pembersihan dan seluruh kota raja digeledah, tidak dapat ditemukan jejak para pembunuh itu. Padahal, kalau ada orang-orang Pek-lian-kauw bersembunyi di kota raja, sudah pasti dapat diketahui dan ditangkap karena penggeledahan dilakukan sampai ke pelosok-pelosok. Mereka seolah menghilang, dan setelah melakukan pembunuhan-pembunuhan itu serta pemerintah mengadakan pembersihan dan pencarian, pembunuhan itu pun berhenti tiba-tiba.

“Kami berdua juga sudah membantu sedapat mungkin, menyelidiki seluruh tempat, bahkan beberapa malam kami bergadang dan meronda secara diam-diam, namun tidak menemukan apa pun. Melihat penjagaan yang dilakukan atas perintah Jenderal Chang, tidak mungkin ada orang asing dapat keluar masuk pintu gerbang kota raja seenaknya saja.”

“Hem, kalau begitu, apakah tidak mungkin kalau ada pengkhianatan di dalam kota raja yang sengaja menyembunyikan para pembunuh itu?” tanya Hwe-thian Mo-li.

“Persis, itu pun telah kami pikirkan. Dan mengingat bahwa hanya rumah-rumah pejabat yang amat tinggi kedudukannya saja yang terbebas dari penggeledahan, maka andaikata ada pengkhianat, dia pasti seorang pejabat tinggi. Akan tetapi siapa? Siapakah pejabat tinggi yang hendak mengkhianati kaisar dan bersekutu dengan pihak pemberontak?”

“Seorang pengkhianat yang bergerak dengan diam-diam dan rahasia jauh lebih berbahaya daripada pemberontakan yang bergerak dengan terang-terangan,” kata Siang Lan. “Apakah setelah pembunuhan enam orang pejabat tinggi itu, lalu berhenti dan tidak terjadi pembunuhan lagi?”

“Itulah masalahnya, maka amat sukar menyelidiki siapa dalang pembunuhan-pembunuhan itu. Setelah terjadi pembunuhan enam orang pejabat tinggi itu dan Jenderal Chang melakukan penyelidikan dengan ketat, pembunuhan itu berhenti dan tidak pernah terjadi lagi kerusuhan, apalagi pembunuhan,” kata Sim Tek Kun.

“Hem, agaknya dalangnya memang cerdik. Kalau menurut aku, sebaiknya kita pancing dia keluar dengan jalan memperlemah penjagaan dan penyelidikan. Kalau para pembunuh itu menganggap penjagaan menjadi lemah, kemungkinan besar mereka akan bergerak lagi, dan itulah kesempatan bagi kita untuk menangkapnya.”

“Akan tetapi hal itu membahayakan keselamatan para pejabat tinggi!” seru Ong Lian Hong.

“Sebaiknya engkau menghadap Jenderal Chang dan membicarakan hal ini dengan dia, Lan-moi. Hanya dialah yang berhak mengambil keputusan,” kata Tek Kun.

“Akan tetapi nanti dulu, Enci Lan. Jangan tergesa-gesa meninggalkan aku. Aku masih rindu. Biarlah engkau tinggal dulu barang sehari dua hari di sini. Aku ingin mengadakan pesta keluarga untuk menyambutmu. Setelah itu baru engkau pergi menemui Jenderal Chang dan mulai bekerja!” kata Lian Hong, dan atas permintaan adik angkatnya ini tentu saja Siang Lan tidak mampu menolak.

Ketika berada berdua saja di dalam kamar mereka, Lian Hong berkata kepada suaminya, “Kun-ko, aku ingin mengadakan pesta keluarga dan mengundang Chang Hong Bu untuk datang dan ikut dalam pesta makan untuk menyambut kunjungan Enci Lan.”

Mendengar sesuatu yang agak aneh dalam nada suara istrinya, Tek Kun memandang wajah Lian Hong dan alisnya berkerut. “Eh, Hong-moi, apa artinya ini? Apa maksudmu mengundang Chang Hong Bu ke dalam pesta keluarga kita? Dia itu tidak mempunyai hubungan keluarga dengan kita atau dengan Siang Lan!”

Istrinya tersenyum manis. “Aih, suamiku! Apakah engkau tidak dapat menduga apa maksudku? Kita sudah tahu bahwa Chang Hong Bu adalah seorang pemuda yang gagah perkasa. Dia keponakan Jenderal Chang, murid Siauw-lim-pai yang tinggi ilmu silatnya, juga seorang pemuda terpelajar dan baik budi, tampan pula. Tidakkah engkau pikir dia itu cocok sekali kalau menjadi pasangan hidup Enci Lan?”

“Oh-oh! Maksudmu, engkau hendak menjadi comblang? Istriku, jangan kau gegabah. Bagaimana kalau Siang Lan tidak setuju? Ingat, ia galak sekali, jangan-jangan ia akan marah kepadamu karena ulahmu yang nakal ini!”

“Kun-ko, apakah engkau tidak melihat wajah Enci Lan ketika ia bercerita tentang pertemuannya dengan Chang Hong Bu di Lembah Selaksa Bunga? Kemudian ia menceritakan betapa bersama Chang Hong Bu ia dikeroyok orang-orang lihai dari Pek-lian-kauw. Ketika menceritakan tentang kegagahan Chang Hong Bu, kulihat wajahnya berseri dan sinar matanya masih membayangkan kekaguman terhadap pemuda pendekar Siauw-lim-pai itu!

“Nah, berdasarkan kenyataan ini, salahkah aku kalau aku sekarang berusaha untuk saling mendekatkan mereka? Siapa tahu mereka akan dapat menjadi jodoh yang serasi dan bahagia, seperti kita, suamiku!”

Melihat pandang mata Lian Hong membayangkan keharuan dan kesedihan hati, Tek Kun maklum apa yang dipikirkan istrinya. Istrinya sudah diberitahu bahwa dahulu, sebelum dia bertemu dengannya, dia telah mempunyai hubungan batin dengan Siang Lan. Hwe-thian Mo-li mencintainya, akan tetapi sengaja mengalah ketika mengetahui bahwa selain dia tunangan Lian Hong, juga saling mencintai dengan tunangannya itu.

Mendengar itu, hati Lian Hong terharu dan sedih sekali. Ia merasa iba kepada Siang Lan yang amat dikasihinya seperti kakaknya sendiri. Maka kalau kini ia berusaha untuk membahagiakan hati Siang Lan dan mencoba mencarikan jodoh yang setimpal, apa salahnya hal itu dicobanya?

Dia merangkul istrinya. “Baiklah, istriku, lakukanlah semua rencana baikmu itu.”

Lian Hong merasa girang dan mencium pipi suaminya. “Engkau memang suami yang paling baik, Kun-ko!”

Demikianlah, malam itu diadakan pesta makan keluarga. Karena yang berpesta itu orang-orang muda dan di situ hadir pula Chang Hong Bu, maka Pangeran Sim Liok Ong dan istrinya setelah selesai makan lalu masuk ke dalam; tidak ingin mengganggu kegembiraan pertemuan orang-orang muda itu.

Kini tinggal Sim Tek Kun, Ong Lian Hong, Chang Hong Bu, dan Nyo Siang Lan berempat yang bercakap-cakap. Setelah makan selesai, mereka pindah duduk di ruangan tamu dan melanjutkan percakapan di situ.

Siang Lan juga terkejut namun gembira ketika melihat kedatangan Hong Bu yang diundang untuk ikut berpesta. Akan tetapi, ia tidak berprasangka karena ia tahu bahwa hubungan antara keponakan Jenderal Chang dan Sim Tek Kun tentu akrab, maka undangan itu pun dianggapnya wajar saja. Sebaliknya, Hong Bu gembira sekali karena memang dia telah jatuh cinta kepada Hwe-thian Mo-li sejak pertama kali berjumpa.

“Wah, kalau aku tahu engkau sudah berada di kota raja, Lan-moi, aku tentu segera menemuimu di sini! Paman Jenderal Chang sudah amat menanti-nanti kedatanganmu,” demikian Hong Bu berkata sambil menatap wajah yang jelita itu.

“Sebetulnya begitu tiba di kota raja, aku ingin segera menghadap Paman Jenderal Chang, Bu-ko, akan tetapi ini, Hong-moi dan Kun-ko menahan aku.” “Habis, kami sudah amat kangen, sih!” kata Lian Hong, dan mereka berempat bercakap-cakap tentang keadaan di kota raja.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment