Chapter 55
Keadaan di kota raja memang aman-aman saja, akan tetapi Paman Jenderal Chang masih tetap merasa penasaran. Setelah melakukan penggeledahan dengan cermat di kota raja dan hasilnya nihil, kini penyelidikan mulai diarahkan ke luar kota raja. Agaknya Paman Chang telah mempunyai rencana untuk melakukan gerakan pembersihan di tempat-tempat tertentu dan hanya menanti kedatanganmu, Lan-moi, untuk memulainya. Oleh karena itu, sebaiknya engkau segera menghadap ke sana.
Mereka lalu memutuskan untuk menghadap Jenderal Chang pada esok pagi. Hong Bu berjanji untuk menyampaikan kedatangan Siang Lan kepada pamannya, lalu mereka berempat akan bersama-sama menghadap sang jenderal.
Pertemuan yang ramah dan akrab itu membuat hati Chang Hong Bu semakin tertarik kepada Siang Lan. Hal ini diketahui oleh Lian Hong dan suaminya yang merasa girang, juga dirasakan oleh Siang Lan sendiri. Sebetulnya, ia merasa bersyukur bahwa seorang pemuda perkasa seperti Chang Hong Bu menaruh perhatian, akan tetapi ia masih sangsi. Dapatkah ia menjalin asmara dengan seorang pria?
Sesungguhnya, saat itu hatinya sudah lebih condong kepada Paman Bu-beng-cu, laki-laki yang telah mencurahkan banyak budi kebaikan, menumbuhkan semangat hidupnya, dan satu-satunya pria yang amat dikaguminya. Akan tetapi, mengingat keadaan dirinya yang sudah ternoda, ia takut untuk menyatakan cinta kepada seorang pria.
Bagaimana jika laki-laki seperti Chang Hong Bu mengetahui bahwa ia bukan perawan lagi? Akankah sikapnya berubah, berbalik menjadi jijik, dan tidak lagi mencintainya? Betapa ia akan merasa terhina, marah, dan mungkin saja berbalik menjadi amat benci kepada Hong Bu.
Panglima besar Jenderal Chang Ku Cing menerima kedatangan Nyo Siang Lan yang ditemani Chang Hong Bu, Sim Tek Kun, dan Ong Lian Hong dengan wajah berseri-seri. Jenderal yang berusia lima puluh dua tahun itu masih tampak gagah perkasa, dengan tubuh tinggi tegap dan wajah penuh wibawa. Sepasang matanya yang tajam memancarkan keteguhan seorang pemimpin, namun ia tampak ramah saat menyambut Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan yang memang ia kagumi.
"Selamat datang, Hwe-thian Mo-li! Kami sudah lama menunggu kedatanganmu!"
"Maafkan saya, Paman. Karena masih harus membenahi Lembah Selaksa Bunga, maka kedatangan saya agak terlambat," kata Siang Lan.
"Kami kira kalian tentu sudah mendengar peristiwa pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi kerajaan sekitar sebulan yang lalu. Sejak kejadian itu, sampai kini tidak ada lagi pembunuhan. Kami sudah mengerahkan semua tenaga untuk membongkar dan mencari pelakunya, namun selama ini kami gagal.
Tiga orang pembunuh itu jelas memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan tentu mempunyai hubungan dengan pihak yang berkhianat terhadap kerajaan. Sayang, sampai sekarang kami belum berhasil membongkar rahasia itu. Agaknya pihak mereka juga ketakutan dan berdiam diri sehingga sulit untuk dilacak."
"Paman, seperti yang telah saya laporkan kemarin, bagaimana pendapat Paman tentang usul Hwe-thian Mo-li untuk mengendurkan penjagaan guna memancing para pembunuh agar mereka berani beraksi kembali? Dengan demikian, kita dapat melacaknya," kata Hong Bu kepada pamannya.
Jenderal Chang mengangguk-angguk. "Usul yang dikemukakan Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan memang cukup baik. Akan tetapi, kami kira hasilnya tidak sepadan dengan risikonya. Jika kita mengendurkan penjagaan, hal ini mungkin saja mudah diketahui oleh mereka karena para pembunuh itu tentu mempunyai persekutuan dengan orang dalam.
Risikonya cukup berat. Bagaimana jika mereka serentak bergerak melakukan pembunuhan lagi? Tidak, kami kira siasat itu terlalu berbahaya. Namun, kami telah mendapatkan titik terang. Penyelidikan kami telah menemukan tempat persembunyian gerombolan yang mencurigakan. Mungkin saja mereka adalah gerombolan Pek-lian-kauw atau Ngo-lian-kauw yang sedang memperkuat diri di hutan luar kota raja untuk mengadakan penyerbuan besar-besaran.
Penemuan inilah yang lebih penting! Kita harus mendahului mereka dan menghancurkan mereka sebelum sempat bergerak. Untuk membantu para perwira tinggi memimpin pasukan, kami minta agar kalian berempat membantu."
"Mereka adalah sisa-sisa anggota Ngo-lian-kauw. Para pemimpinnya, Ngo-lian Heng-te yang dahulu berkedudukan di Poa-teng, Hopak, telah dibasmi oleh Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan! Kini agaknya sisa anggota dan pimpinan Ngo-lian-kauw mengadakan gerakan pemberontakan, bergabung, dan diperkuat oleh Pek-lian-kauw."
Setelah mempelajari peta dengan saksama, Jenderal Chang Ku Cing memanggil para perwira tinggi pembantunya. Semua perwira merasa gembira ketika mendengar bahwa mereka akan dibantu oleh dua pasang orang muda yang sudah dikenal kehebatannya. Terutama dengan adanya Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan, hati mereka menjadi lega.
Siang Lan membantu Sim Tek Kun membujuk Lian Hong agar wanita yang sedang mengandung dua bulan itu tidak ikut dalam penyerbuan. Akhirnya Lian Hong mengalah dan tinggal di rumah, sedangkan Siang Lan, Tek Kun, dan Hong Bu menemani lima perwira tinggi memimpin sekitar tujuh ratus prajurit melakukan penyerbuan ke hutan itu pada pagi hari.
Setelah membunuh enam pejabat tinggi setia, Pangeran Bouw Ji Kong menghentikan aksi itu dan menyelundupkan tiga sekutunya keluar dari kota raja. Mereka adalah Hwa Hwa Hoat-su (datuk Pek-lian-kauw), Hongbacu (tokoh Mancu utusan Nurhacu), dan Tarmalan (datuk bangsa Hui).
Pangeran Bouw Ji Kong tidak mengadakan gerakan karena penjagaan Jenderal Chang sangat ketat. Namun, diam-diam ia tetap menjalin hubungan dengan Pek-lian-kauw dan Ngo-lian-kauw yang memusatkan kekuatan di Bukit Cemara. Bukit itu penuh dengan hutan lebat dan gua-gua yang telah diubah menjadi terowongan, lengkap dengan jebakan berbahaya dan racun.
Menurut Pangeran Bouw Ji Kong, pihak Pek-lian-kauw diperintahkan untuk tidak bergerak sebelum ada tanda darinya. Ia ingin menyusun siasat agar keadaan di kota raja kacau sehingga pertahanannya melemah.
Akan tetapi, Pangeran Bouw Ji Kong terlalu meremehkan kecerdikan Jenderal Chang Ku Cing. Secara diam-diam, jenderal yang berpengalaman ini mengalihkan perhatiannya ke luar kota raja dan mendapati bahwa Bukit Cemara menjadi sarang pemberontak. Tanpa bocor, gerakan pembersihan pagi itu berjalan sempurna. Para pemberontak baru menyadari kehadiran pasukan kerajaan setelah bukit itu terkepung.
Bukit Cemara pun geger. Terjadi pertempuran dahsyat yang campur aduk, sehingga kedua pihak tidak mungkin menggunakan panah karena berisiko mengenai kawan sendiri. Banyak prajurit kerajaan terjebak perangkap dan ledakan, namun karena jumlah pasukan kerajaan dua kali lebih besar, pihak pemberontak menderita lebih banyak korban. Apalagi di sana ada Hwe-thian Mo-li, Sim Tek Kun, dan Chang Hong Bu yang mengamuk seperti tiga ekor naga sakti.
Pangeran Bouw Ji Kong terkejut mendengar pasukan kerajaan menyerbu sarang Pek-lian-kauw dan Ngo-lian-kauw di Bukit Cemara. Ia tahu bahwa mereka adalah sisa anak buah Pek-lian-kauw cabang Liauw-ning dan Ngo-lian-kauw dari Poa-teng. Karena kecerdikannya, ia tidak menaruh orang-orangnya di sana agar rahasia persekutuannya tidak terbongkar.
Bagaimanapun, ia berharap pertempuran itu akan merugikan pasukan kerajaan karena di antara pemimpin Pek-lian-kauw terdapat dua orang kakek sakti berjuluk Thian-te Lo-mo (Iblis Tua Langit dan Bumi). Thian Lo-mo bermuka putih seperti kapur, sedangkan Tee Lo-mo bermuka hitam seperti arang. Sepasang kakek berusia enam puluh tahun itu selain memiliki ilmu silat tinggi, juga mahir menggunakan ilmu sihir.
Ketika pasukan kerajaan menyerbu, mereka berdua mengamuk dengan golok besar yang berputar bagaikan naga. Mereka bahkan dapat mendatangkan awan dan halilintar dari sihir mereka yang membuat prajurit gentar. Akan tetapi, tiba-tiba tiga orang muda itu muncul. Hwe-thian Mo-li berkelebat dengan pedang Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) di tangan, menyambar bagaikan halilintar untuk menangkis golok besar di tangan Thian Lo-mo.