Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 57

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 57

Dua wanita cantik itu disambut dengan penuh kegembiraan oleh keluarga Ciok. Jaksa Ciok sudah lama mendengar dan mengagumi nama besar Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan, apalagi gadis perkasa itu adalah murid dari menantunya, mendiang Ong Han Cu. Nyonya Ciok Bwe Kim yang kini telah berusia empat puluh tahun lebih namun masih tampak cantik itu pun merasa girang dan terharu. Ia sudah banyak mendengar tentang Nyo Siang Lan sebagai murid tersayang mendiang suaminya.

Siang Lan dihormati dan disanjung, lalu diterima dengan pesta makan keluarga sehingga ia merasa senang dan berterima kasih. Ternyata bukan hanya mendiang gurunya saja yang baik terhadap dirinya, melainkan juga istri gurunya serta seluruh keluarga. Setelah tengah hari, mereka berdua menaiki kereta meninggalkan kediaman Jaksa Ciok Gun untuk kembali ke rumah Pangeran Sim Liok Ong.

Ketika kereta tiba di dekat lapangan terbuka di depan pasar, di seberang jembatan besar, Siang Lan melihat banyak orang berkerumun. Terdengar suara tambur dan canang dipukul, seperti yang biasa dilakukan para penjual obat untuk menarik minat pembeli melalui demonstrasi ilmu silat. Mendengar irama tambur dan canang yang gagah serta bertenaga, Siang Lan tertarik dan menyuruh kusir menghentikan keretanya. Lian Hong tertawa melihat kakaknya bersikap seperti kanak-kanak yang hendak menonton penjual obat, namun ia pun ikut turun dan bergabung dengan Siang Lan menghampiri kerumunan itu.

Beberapa penonton memberikan tempat kepada kedua gadis itu di barisan depan. Mereka menyingkir dengan sopan saat menyadari bahwa dua wanita jelita yang hendak menonton itu turun dari kereta dengan sikap layaknya bangsawan.

Siang Lan dan Lian Hong memperhatikan dengan saksama. Ternyata tontonan itu adalah seorang gadis muda belia dan seorang kakek berambut putih. Gadis itu cantik manis, usianya sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun, dengan pakaian sederhana namun rapi dan ketat sehingga menonjolkan lekuk tubuhnya yang sedang mekar.

Kakek itu diperkirakan berusia enam puluh tiga tahun. Wajahnya menunjukkan garis-garis penderitaan, rambutnya putih semua, dan tampak lemah seperti petani. Dialah yang menabuh canang, sementara sang gadis menabuh tambur dengan gerakan gagah dan bertenaga.

Setelah melihat banyak orang berkumpul, kakek itu memberi isyarat dan mereka menghentikan tabuhan. Ia lalu memberi hormat ke empat penjuru. Kerumunan mulai berbisik, bertanya-tanya di mana obat yang dijual.

Kakek itu kemudian berkata dengan suara lemah, “Saudara sekalian yang terhormat, sebelumnya kami berdua mohon maaf. Kami bukan penjual obat dan tidak memiliki sesuatu untuk ditawarkan. Namun, karena kehabisan bekal dalam perjalanan ini, kami hanya memohon kedermawanan Saudara sekalian untuk menyumbang. Sebagai gantinya, kami menyuguhkan beberapa permainan silat dari cucu kami yang masih bodoh. Jika pertunjukan ini tidak berharga, mohon dimaafkan.”

Kakek itu mengambil tambur dari tangan cucunya dan mulai menabuh dengan lemah. Siang Lan dan Lian Hong menyadari bahwa hanya sang cucu yang mahir ilmu silat, sementara kakek itu hanyalah petani biasa.

Gadis manis itu berdiri tegak, memberi hormat ke empat penjuru dengan merangkap kedua tangan di depan dada, lalu mulai bersilat. Gerakannya ringan, cepat, dan mengandung tenaga. Bagi Siang Lan dan Lian Hong, ilmu silat itu belum terlalu tinggi, namun mereka terkejut karena mengenali bahwa gerakan gadis itu adalah ilmu silat Kun-lun-pai, satu perguruan dengan Sim Tek Kun.

Lian Hong hendak menyapa, namun Siang Lan memegang lengannya, memberi isyarat agar diam dan melihat perkembangannya.

Setelah belasan jurus, gadis itu berhenti dan disambut tepuk tangan meriah. Bagi penonton awam, permainan itu cukup mengagumkan, apalagi didukung oleh paras sang gadis yang cantik dan menggairahkan.

Sang kakek lalu mengedarkan caping untuk meminta sumbangan. Setelah uang terkumpul cukup banyak, kakek itu berterima kasih kepada warga kota raja. Tiba-tiba, seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, wajah bopeng, dan bermata lebar muncul dari kerumunan dengan sikap bengis.

“Enak saja kalian mengumpulkan uang tanpa memberi sesuatu! Ini penipuan!” teriaknya lantang. Kakek itu memandang dengan kaget, menjelaskan bahwa mereka hanya sekadar memohon bantuan. Namun, si bopeng itu menantang sang gadis untuk melakukan *pi-bu* (adu ilmu silat).

Gadis itu menolak dengan tenang, namun si bopeng terus mendesak. Ia bahkan menantang dengan taruhan: jika ia kalah, ia akan memberi lima tail perak, namun jika gadis itu kalah, ia harus menjadi kekasihnya selama sebulan.

Mendengar itu, gadis tersebut marah. Ia memberi isyarat kepada kakeknya untuk menjauh, lalu mengikat pinggangnya dan menggulung lengan baju. Ia menudingkan telunjuk ke wajah si bopeng dan berseru, “Koan Sek, dengarkan baik-baik! Kami mungkin miskin dan bodoh, tetapi kami adalah manusia yang menjunjung tinggi kesusilaan dan harga diri. Aku tidak sudi melakukan hal hina! Jika aku menang, aku tidak butuh uangmu. Jika aku kalah, aku tidak akan menuruti keinginanmu yang rendah. Bunuh saja aku jika kau bisa!”

Siang Lan dan Lian Hong tertegun melihat kegagahan gadis remaja itu. Koan Sek yang merasa dipermalukan segera menyerang dengan kasar. Gadis she Siauw itu berhasil mengelak dari serangan pertama, namun saat Koan Sek mencengkeram dadanya, gadis itu menangkis dengan sigap meski sempat terdorong oleh kekuatan lawan, lalu membalas dengan tendangan ke arah lambung.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment