Chapter 58
“Wuuuttt... plakk!” Koan Sek berhasil menangkis tendangan tersebut, dan mereka segera saling serang dengan sengit.
Siang Lan dan Lian Hong memperhatikan betapa gerakan gadis itu sudah cukup baik dan merupakan dasar ilmu silat Kunlun-pai. Namun, tampak jelas bahwa ia belum menguasai ilmunya dengan matang. Gerakannya cukup lincah dan tubuhnya ringan, tetapi tenaganya kurang kuat sehingga setiap kali benturan terjadi, tubuh gadis itu terhuyung mundur.
Melihat hal itu, Koan Sek tertawa mengejek. Sikap sombong dan memandang rendah lawan adalah pantangan bagi seorang ahli silat karena dapat mendatangkan kelengahan bagi diri sendiri.
Hal itu terbukti ketika perkelahian berlangsung belasan jurus. Koan Sek terus mendesak gadis itu sambil tertawa-tawa dan mengeluarkan ucapan tidak senonoh. Saat ia berhenti menyerang untuk tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba tubuh gadis itu menyambar dengan cepat sambil melompat tinggi dan melancarkan tendangan.
Koan Sek terkejut dan segera menangkap kaki kiri gadis itu yang mengarah ke wajahnya.
“Plakk!” Ia berhasil menangkap pergelangan kaki kiri gadis itu, tetapi tiba-tiba kaki kanan lawan menendang dengan pengerahan seluruh tenaga, bertumpu pada kaki kirinya yang sedang tertangkap.
“Wuuttt... desss...!” Sepatu gadis itu tepat mengenai ulu hati Koan Sek sehingga tubuhnya terjengkang. Ia terbanting jatuh dengan sangat keras hingga sejenak pandangannya nanar dan segala sesuatu tampak berputar-putar.
Ketika mendengar sorak-sorai dan tepuk tangan penonton, ia menyadari kondisinya. Segera ia melompat berdiri, menggoyang kepalanya untuk mengusir pening, lalu mencabut golok dari pinggangnya.
Para penonton menjerit ketika melihat Koan Sek dengan golok terhunus kini menerjang dan menyerang gadis itu secara membabi buta. Gadis itu mencoba berloncatan ke kanan dan kiri untuk mengelak, tetapi tiba-tiba kaki kiri Koan Sek menendang mengenai pahanya hingga ia terpelanting.
Bagaikan binatang buas, Koan Sek yang marah dan malu karena sempat dirobohkan, mengejar dengan lompatan dan mengayunkan goloknya ke atas untuk membacok gadis itu. Gadis tersebut terjatuh miring dan tampak tidak mampu menghindar, namun ia sama sekali tidak menunjukkan ketakutan, justru memandang penyerangnya dengan mata menyorot penuh kemarahan.
Golok di tangan Koan Sek terayun turun, dan...
“Desss...!” Tubuh Koan Sek terpental dan terbanting ke tanah. Ia merasa seolah disambar halilintar sehingga tidak menyadari bahwa seorang pemuda gagah perkasa baru saja melompat dan menendangnya.
Pemuda itu adalah Chang Hong Bu. Ia kebetulan lewat dan melihat keributan tersebut. Ketika menyaksikan Koan Sek hendak menyerang seorang gadis dengan golok, ia menjadi marah dan sekali terjang, tubuh Koan Sek terlempar.
Pada saat itu, muncul dua orang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun. Mereka adalah kakak seperguruan Koan Sek. Ketiganya memasuki kota raja untuk bersenang-senang. Karena terbiasa memaksakan kehendak dan merasa diri sebagai jagoan, ditambah tabiat Koan Sek yang merupakan lelaki hidung belang, mereka mencoba mempermainkan gadis tersebut untuk memamerkan kepandaian.
Kini, melihat adik seperguruan mereka ditendang, kedua kakak seperguruan Koan Sek menjadi marah dan melompat ke arena sambil mencabut golok masing-masing.
“Keparat, jangan main keroyokan!” bentak orang bertubuh tinggi kurus dengan wajah pucat. Sementara itu, orang kedua yang bertubuh pendek gemuk dengan mata sipit segera menyerang Chang Hong Bu.
Permainan golok si pendek gemuk ternyata cepat dan kuat, jauh melampaui kemampuan Koan Sek. Namun, dengan mudah Hong Bu mengelak. Sementara si tinggi kurus hendak ikut mengeroyok, Lian Hong melompat ke lapangan dan membentak, “Jahanam dari mana kalian berani mengacau di sini?”
Melihat wanita cantik jelita di depannya, si tinggi kurus menyeringai. “Ah, Nona manis, aku tidak tega melukaimu. Minggirlah agar golokku tidak menggores kulitmu yang lembut.”
Lian Hong marah besar. “Keparat busuk!” Ia menerjang dengan tamparan tangan kiri yang mendatangkan angin dahsyat hingga si tinggi kurus terkejut dan melompat mundur.
Koan Sek, yang melihat kedua suheng-nya maju, kembali percaya diri. Ia bangkit berdiri dan melangkah lebar menghampiri gadis pesilat tadi dengan golok di tangan.
Akan tetapi, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat, dan Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan sudah berada di depannya. Koan Sek yang mata keranjang sampai tertegun melihat kecantikan gadis itu.
“Manusia busuk, mampuslah kau!” seru Siang Lan. Tubuhnya berputar dan kaki kirinya melancarkan tendangan berputar.
“Syuuttt... desss...!” Tubuh Koan Sek terkena tendangan tepat di dada hingga terlempar dan jatuh terbanting dengan keras.
Sebelum ia sempat merangkak bangun, Siang Lan telah tiba di depan laki-laki bermuka bopeng itu dan kembali menendang, kali ini menyasar pergelangan tangan kanan Koan Sek. “Wuuttt... krekk!” Tulang pergelangan tangan itu patah dan goloknya terlempar jauh.
“Aduhh!” Koan Sek menjerit sambil memegangi tangan kanannya.
Sementara itu, pertarungan antara si tinggi kurus melawan Lian Hong juga berat sebelah. Baru tiga kali membacok dan selalu luput, tangan kiri Lian Hong menampar pipi kanan lawan.
“Wuutt... krekk!” Tulang rahang si tinggi kurus patah, dan tendangan susulan membuat goloknya terlempar. Ia menjerit kesakitan dan terpelanting.
Demikian pula si pendek gemuk, ia bukan lawan sepadan bagi Hong Bu. Dalam dua gebrakan, ia roboh tertendang. Ketiganya kini tidak berdaya, terkapar kesakitan di bawah tekanan lawan-lawan mereka.
Banyak orang mengenali ketiga sosok muda tersebut. Seseorang berteriak, “Ah, itu Hwe-thian Mo-li! Mampuslah orang-orang jahat ini!”
Mendengar nama Hwe-thian Mo-li, Koan Sek dan kedua suheng-nya terkejut setengah mati. Nyali mereka ciut, dan ketiganya segera menjatuhkan diri, berlutut, serta membenturkan dahi ke tanah berulang kali.
“Ampunkan hamba... ampunkan hamba...” gumam mereka berulang kali. Suara si tinggi kurus terdengar tidak jelas akibat rahangnya yang patah, sementara si pendek gemuk melolong ketakutan. Koan Sek sendiri menangis tersedu-sedu seperti anak kecil, bahkan ketiganya tampak mengompol karena saking takutnya.
Para penonton melihat perbedaan drastis antara mereka dengan gadis manis tadi. Gadis itu bersikap gagah berani saat terancam maut, sementara ketiga orang sombong itu berubah menjadi pengecut.
Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan kini mengenali gadis manis tersebut. Ia adalah Siauw Kim, gadis yang pernah diselamatkannya dari tangan hartawan Siong Tat. Siang Lan sempat membunuh Siong Tat dan membebaskan Siauw Kim beserta kakeknya, Lim Bun, seorang petani dari desa Kang-leng.
Siang Lan terkejut karena setahunya, tiga tahun lalu Siauw Kim hanyalah gadis remaja yang lemah. Kini, meskipun belum matang, ia jelas memiliki dasar ilmu silat Kunlun-pai. Mengingat nasib Siauw Kim, hati Siang Lan menjadi panas. Ia mengambil golok para penjahat itu dan berseru.
“Kalian tidak berhak hidup di dunia ini karena hanya menebar kejahatan. Namun, aku, Hwe-thian Mo-li, tidak pernah memberi ampun kepada laki-laki yang memandang rendah wanita tanpa memberikan hukuman setimpal.”
Golok di tangannya berkelebat tiga kali bagaikan halilintar. Ketiga penjahat itu menjerit kesakitan karena pangkal hidung mereka terpotong, darah pun membasahi wajah mereka.
“Pergilah kalian! Jika aku melihat muka kalian lagi di kota raja, kepalamu yang akan kubuntungi!” Siang Lan menendang mereka hingga terpelanting dan jatuh bergulingan.
Sambil menangis kesakitan, ketiganya terhuyung-huyung melarikan diri. Para penonton merasa senang namun juga ngeri, lalu satu per satu membubarkan diri. Saat Siang Lan menoleh, ia melihat gadis itu bersama kakeknya sedang berlutut di depan Chang Hong Bu dengan penuh haru.