Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 59

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 59

“Kalau tidak ada Tai-hiap yang menolong saya dan kakek, kami berdua tentu telah tewas di tangan orang-orang jahat itu. Kami berhutang budi dan nyawa kepada Tai-hiap, dan kami bersedia mengorbankan jiwa raga kami untuk membalas kebaikan Tai-hiap. Kalau kami tidak mampu membalasnya, kami akan bersembahyang setiap hari memohon kepada Thian agar Dia yang membalas budi kebaikan Tai-hiap kepada kami.”

Melihat gadis itu dan kakeknya berlutut di depan kakinya, Hong Bu menjadi serba salah. Untuk membangunkan gadis itu, dia harus menyentuhnya, dan hal ini tidak ingin dia lakukan karena tentu dianggap kurang sopan. Kalau tidak dibangunkan, dia merasa rikuh sekali dua orang kakek dan cucu itu berlutut di depan kakinya.

“Nona dan engkau, Kakek yang baik, bangkitlah dan jangan berlutut seperti ini!” katanya, akan tetapi gadis itu tidak mau bangkit dan kakeknya pun agaknya hanya ikut-ikutan tidak mau berdiri. Melihat Siang Lan dan Lian Hong memandang ke arah mereka, Hong Bu lalu berseru kepada Siang Lan.

“Lan-moi, tolonglah, bangkitkan mereka.”

Siang Lan menghampiri dua orang yang masih berlutut itu sedangkan Hong Bu sudah mundur menjauhkan diri sehingga mereka tidak lagi berlutut di depan kakinya.

“Siauw Kim, engkaukah ini? Dan bukankah ini Kakek Lim Bun yang dulu tinggal di Kang-leng?”

Gadis itu memang Siauw Kim dan kakeknya adalah Kakek Lim Bun. Tiga atau empat tahun yang lalu, ketika dalam keadaan miskin, terpaksa Kakek Lim Bun menggadaikan cucunya, Siauw Kim, kepada Hartawan Siong Tat untuk mengobati sang cucu. Hampir saja Siauw Kim menjadi korban kejahatan Siong Tat yang mata keranjang, dan hampir pula Kakek Lim Bun bunuh diri. Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan menolong mereka, bahkan membunuh Hartawan Siong Tat, menghancurkan rumah gadai tersebut, serta menghajar para anak buah pegadaian itu.

Ketika Siauw Kim memandang dan melihat Siang Lan, segera ia teringat maka ia pun menubruk kaki Siang Lan sambil menangis. Juga Kakek Lim mengenal Siang Lan. “Ah, kiranya engkau juga yang menolong kami, Li-hiap!” katanya.

Siang Lan menarik bangun Siauw Kim dan memandangi gadis itu dengan kagum. Gadis remaja dahulu itu kini telah dewasa, cukup cantik, manis, dan gagah.

“Bagaimana kalian dapat berada di kota raja dan mengapa kalian tadi mencari sumbangan?”

“Aih, Li-hiap. Panjang ceritanya,” kata Siauw Kim.

“Enci Lan, tidak baik bicara di sini. Mari kita ajak adik ini dan kakeknya ke rumah dan kita bicara di sana! Kakak Chang Hong Bu, karena sudah saling bertemu di sini secara kebetulan, mari engkau ikut dengan kami.”

Ajakan Lian Hong ini diterima dengan senang oleh Hong Bu karena memang tadinya ia bermaksud pergi mengunjungi Siang Lan, gadis yang telah memikat hatinya.

Setelah tiba di rumah Pangeran Sim Liok Ong, mereka disambut oleh Sim Tek Kun dan mereka semua mengajak Siauw Kim beserta kakeknya ke dalam ruang tamu. Lian Hong menceritakan dengan singkat kepada suaminya tentang Siauw Kim dan kakeknya. Kemudian, tiba giliran Siang Lan untuk bercerita tentang Siauw Kim dan Lim Bun yang ditolongnya sekitar tiga tahun lebih yang lalu di Kang-leng. Setelah itu, Siang Lan memegang tangan Siauw Kim dan bertanya.

“Nah, sekarang tiba giliranmu, Siauw Kim. Ceritakan keadaan dirimu sejak kita saling berpisah. Bagaimana engkau kini dapat menjadi murid Kun-lun-pai dan bagaimana pula engkau sampai tiba di kota raja?”

Siauw Kim lalu menceritakan riwayatnya. Setelah dulu ditolong Siang Lan, gadis remaja itu masih mengalami banyak kesengsaraan lagi. Ibunya dan tiga orang adiknya mati satu demi satu karena wabah penyakit yang mengamuk. Kakek Lim Bun terpaksa membawa cucunya yang tersisa pergi meninggalkan dusun Kang-leng. Akan tetapi di tengah perjalanan yang sengsara itu, tiba-tiba Kakek Lim Bun jatuh sakit pula. Agaknya wabah itu telah menular kepadanya juga.

Mujur baginya, dalam keadaan setengah mati di lereng sebuah bukit, mereka berdua bertemu dengan seorang pertapa miskin sederhana yang dapat mengobati Kakek Lim Bun sampai sembuh. Mendengar riwayat Siauw Kim yang penuh kesengsaraan, pertapa itu lalu mengizinkan Siauw Kim dan kakeknya tinggal di bukit tempat ia bertapa, hidup sederhana, dan Siauw Kim lalu dilatih ilmu silat olehnya.

“Akan tetapi sungguh nasib kami amatlah buruk, Li-hiap,” kata Siauw Kim dan tiba-tiba gadis itu menangis. Lim Bun juga menundukkan mukanya yang telah keriputan dan menghela napas berulang-ulang.

“Nanti dulu, Nona!” tiba-tiba Sim Tek Kun berkata. “Siapakah pertapa yang melatih silat kepadamu itu? Apakah dia seorang tokoh Kun-lun-pai?” Dia tadi sudah mendengar dari istrinya bahwa Siauw Kim memperlihatkan ilmu silat Kun-lun-pai.

Siauw Kim menyusut air matanya. “Nama Suhu hanya saya ketahui julukannya saja karena beliau tidak pernah menceritakan nama aslinya. Julukannya adalah Kim-gan-liong.”

“Ah, kiranya gurumu itu adalah Susiok Kim-gan-liong!” seru Tek Kun. “Dan di mana beliau sekarang?”

Siauw Kim menangis lagi. “Itulah, nasib kami sungguh selalu buruk. Setelah hidup tenang dan tenteram bersama Suhu, walaupun dalam keadaan sederhana sekali, selama hampir tiga tahun, Suhu meninggal dunia.”

“Beliau meninggal?” Tek Kun berseru kaget. “Akan tetapi kenapa? Bagaimana beliau yang belum tua benar sampai meninggal?”

Siauw Kim menggelengkan kepala dengan sedih. “Sejak hidup bersamanya, kami melihat Suhu seperti hidup dalam timbunan duka. Beliau tidak pernah tampak gembira, bahkan sering kali tampak gelisah dan berduka, dan kesehatannya sering terganggu. Akhir-akhir ini beliau sering batuk-batuk, terkadang mengeluarkan darah, dan pada suatu malam, sekitar empat bulan yang lalu, Suhu meninggal dunia.”

“Aih, kasihan Susiok.” Sim Tek Kun menghela napas panjang.

Lian Hong dan Siang Lan juga menundukkan muka mereka. Dahulu, mereka menganggap bahwa Kim-gan-liong merupakan salah satu musuh besar yang mengeroyok dan membunuh guru mereka, Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu, ayah kandung Ong Lian Hong. Akan tetapi, kemudian Siang Lan mengetahui bahwa Kim-gan-liong sama sekali tidak ikut mengeroyok, melainkan ia hanya mengajak pi-bu Pat-jiu Kiam-ong karena memang pi-bu merupakan kesukaan Kim-gan-liong.

Agaknya peristiwa itu, walaupun ia tidak ikut mengeroyok, menjadi penyebab tewasnya Pat-jiu Kiam-ong yang diracuni dan dikeroyok banyak orang. Hal itu meracuni hatinya sehingga ia sakit-sakitan, menjadi pertapa, dan dalam usia yang belum tua, sekitar lima puluh empat tahun, telah meninggal karena digerogoti penyakit yang timbul dari penyesalan dan duka!

“Siauw Kim, setelah gurumu meninggal, lalu engkau dan kakekmu pergi ke kota raja?” Siang Lan bertanya.

Seperti yang telah dilakukan sejak tadi dan tidak luput dari perhatian Siang Lan, Siauw Kim mengerling ke arah wajah Chang Hong Bu; kerling tajam yang mengandung penuh kekaguman dan terima kasih!

“Sebelum meninggal dunia, Suhu berpesan kepada saya, karena saya sudah tidak mempunyai keluarga lain kecuali kakek, Suhu memerintahkan saya untuk pergi ke kota raja. Kami orang miskin, Suhu juga tidak mempunyai apa-apa. Setiap hari kami hanya makan dari tanaman di lereng bukit. Maka ketika kami berangkat, kami tidak membawa bekal uang, hanya membawa bahan makanan.

“Akan tetapi setelah bahan makanan habis, terpaksa kami meminta sumbangan, dan untuk balas jasa, saya memperlihatkan ilmu silat yang pernah saya pelajari dari Suhu selama tiga tahun ini. Saya dan kakek tidak tahu bagaimana harus mencari uang untuk sekadar makan, kami hanya mengharapkan belas kasihan dan kedermawanan orang.

“Setiba kami di sini, kami kehabisan uang dan terpaksa tadi saya dan kakek meminta sumbangan sekadarnya. Sama sekali tidak kami sangka akan muncul tiga orang jahat itu. Ah, kalau saja tidak ada In-kong (Tuan Penolong) ini... tentu kami kakek dan cucu telah menjadi korban.”

“Nanti dulu, Siauw Kim. Kenapa gurumu menyuruh engkau dan kakekmu pergi ke kota raja? Apa tujuan kalian datang ke kota raja ini?” tanya Siang Lan.

“Suhu berpesan agar kami mencari seorang murid keponakan Suhu yang berada di kota raja, dan Suhu mengharapkan agar murid keponakannya itu dapat membantu dan memberi jalan demi kebaikan hidup kami kakek dan cucu.”

“Siapakah murid keponakan gurumu itu, Siauw Kim?” tanya Siang Lan sambil mengerling kepada Sim Tek Kun.

Sim Tek Kun dan istrinya juga memandang Siauw Kim dengan hati tegang karena mereka berdua sudah menduga siapa yang dimaksudkan Siauw Kim sebagai murid keponakan Kim-gan-liong itu.

“Kata Suhu, murid keponakannya itu adalah putra seorang pangeran dan bernama Sim Tek Kun,” kata Siauw Kim yang sama sekali tidak pernah mengira bahwa orang yang disebut namanya itu berada di depannya.

“Hemm, Siauw Kim, apakah engkau pernah bertemu dengan murid keponakan gurumu itu?” desak Siang Lan.

Siauw Kim menggelengkan kepalanya dan lagi-lagi ia mengerling kepada Chang Hong Bu yang ikut mendengarkan.

“Nah, kalau begitu kuperkenalkan. Dia inilah putra pangeran yang bernama Sim Tek Kun, dan ini adalah istrinya, Ong Lian Hong, adikku,” kata Siang Lan sambil menudingkan telunjuknya kepada Tek Kun.

Tentu saja Siauw Kim terkejut bukan main dan ia pun cepat menjura dengan hormat kepada Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong.

“Ah... kiranya Paduka...”

“Hush, jangan menyebut Paduka kepada suamiku, Siauw Kim,” kata Lian Hong. “Bagaimanapun juga, engkau masih merupakan adik misan seperguruan dari suamiku. Engkau dan suamiku satu perguruan, sama-sama murid Kun-lun-pai, maka engkau adalah Sumoinya, dan suamiku adalah Suhengmu.”

“Ah, mana saya pantas menjadi adik seperguruan beliau?” bantah Siauw Kim dengan sungkan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment