Chapter 61
Tiba-tiba wajah Bu-beng-cu terbayang di depan matanya. Wajah seorang laki-laki yang matang dan dewasa. Usia Bu-beng-cu tentu sudah sekitar empat puluh empat tahun. Wajahnya lembut penuh pengertian, sinar matanya mengandung kebijaksanaan, dan senyumnya penuh kesabaran.
Kepada Bu-beng-cu ia menaruh kepercayaan besar sekali. Bahkan, Bu-beng-cu merupakan satu-satunya orang di samping Kui Li Ai yang telah ia ceritakan tentang dirinya yang sudah dinodai orang. Dan apa kata Bu-beng-cu? Bahwa kalau bisa, ia harus memaafkan pemerkosanya, atau kalau tidak dapat mengampuninya, bunuh saja!
Siang Lan terkenang akan pengalamannya yang aneh. Ketika ia ditangkap Hoat Hwa Cin-jin dan nyaris diperkosa lagi, muncul Bu-beng-cu yang menyelamatkannya; bahkan ia berhasil membunuh Hoat Hwa Cin-jin. Pada saat itu, karena rasa haru dan lega telah terhindar dari nasib buruk, ia merangkul gurunya dan merasa betapa perasaan hatinya dekat sekali dengan Bu-beng-cu.
Baru ia menyadari bahwa tanpa disadari, ia telah jatuh cinta kepada Bu-beng-cu. Sungguh aneh dan mengherankan hatinya. Mengapa saat bertemu dengan pemuda-pemuda yang tampan dan gagah perkasa ia tidak jatuh cinta? Bahkan cintanya kepada Sim Tek Kun dahulu tidaklah sedalam apa yang ia rasakan terhadap Bu-beng-cu. Apakah karena laki-laki itu teramat baik kepadanya, berkali-kali membela dan menolongnya, melindunginya, bahkan dengan sungguh-sungguh menurunkan ilmu-ilmunya agar kelak dapat membalas dendam kepada Thian-te Mo-ong?
Ia sendiri tidak tahu. Akan tetapi, awan gelap menyelimuti hati gadis itu ketika ia teringat betapa sikap Bu-beng-cu seolah tidak menyambut cintanya. Hal ini memang dapat diterimanya karena bagaimana mungkin seorang gadis yang sudah ternoda seperti dirinya pantas menjadi pasangan hidup seorang pendekar besar yang bijaksana seperti Bu-beng-cu?
Siang Lan teringat lagi kepada Chang Hong Bu. Tidak, ia tidak akan membiarkan dirinya terjerat cinta dengan pemuda itu! Tidak mungkin! Kalau ia menerima dan membalas cinta pemuda itu, ia harus bersikap jujur, harus berani mengaku bahwa dirinya bukan perawan lagi, bahwa ia telah diperkosa seorang penjahat.
Ia sudah dapat membayangkan bibir pemuda yang murah senyum itu akan mengejeknya, sedangkan matanya yang bersinar tajam dan berwibawa itu tentu akan memandang rendah. Ah, kalau sampai demikian, ia tentu akan berbalik membenci pemuda itu. Tidak! Lebih baik ia tidak melibatkan diri dalam cinta dengan seorang laki-laki. Ia sudah tidak layak menjadi istri orang karena tidak akan tahan melihat suaminya kelak memandang rendah dan hina kepadanya.
Ia lalu teringat akan Siauw Kim. Gadis itu jauh lebih layak menjadi jodoh Chang Hong Bu. Biarpun gadis itu seorang gadis dusun, ia memiliki watak gagah seorang pendekar yang tabah dan berani menjaga kehormatannya yang lebih dihargai daripada nyawa. Ia melihat sinar mata penuh kekaguman dari sepasang mata gadis itu kepada Chang Hong Bu.
Lebih baik ia segera kembali ke Lembah Selaksa Bunga. Mendadak saja hatinya merasa rindu kepada gurunya. Bu-beng-cu pernah mengatakan bahwa setahun lagi belajar dengan tekun, ia pasti akan mampu menandingi Thian-te Mo-ong.
Baru sekarang ia merasa betapa setelah berada di kota raja, jauh dari Bu-beng-cu, ia merasa kehilangan dan hidupnya terasa tidak lengkap. Dengan pikiran mengambil keputusan ini, akhirnya Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan dapat tidur pulas. Malam hari itu terjadi peristiwa yang penting di istana Pangeran Bouw Ji Kong. Pangeran itu telah menyuruh para datuk yang membantunya, yaitu Hongbacu tokoh Mancu, Tarmalan tokoh suku bangsa Hui, dan Hwa Hwa Hoat-su datuk Pek-lian-kauw, untuk sementara keluar dari kota raja dan bersembunyi.
Sejak malam itu, Pangeran Bouw Ji Kong lebih banyak termenung dalam kamarnya dengan keadaan murung. Ia melihat betapa perkembangan usahanya untuk merebut takhta kerajaan tidak berjalan mulus. Pihak pemerintah terlampau kuat; bukan saja di sana ada Jenderal Chang Ku Cing yang gagah perkasa dan pandai, juga masih ada Menteri Yang Ting Ho yang bijaksana, yang merupakan pembantu terpercaya dari Kaisar Wan Li, serta dihormati dan disegani para pejabat tinggi.
Bukan kenyataan ini saja yang membuat hati Pangeran Bouw Ji Kong menjadi risau, tetapi juga melihat betapa para sekutunya dari Mancu dan Pek-lian-kauw, terutama para pendukungnya, merupakan orang-orang yang memerasnya. Banyak sekali permintaan mereka berupa uang dan harta benda lain sehingga ia sudah mengeluarkan banyak harta simpanannya untuk menyenangkan hati mereka agar tetap mendukungnya.
Adapun hal yang paling menyakitkan hatinya adalah lenyapnya putra tunggalnya, Bouw Cu An. Putranya hanya seorang itu; anak-anaknya yang lain adalah perempuan. Tentu saja ia merasa amat sayang kepada putranya yang sejak kecil sudah dipanggilkan ahli sastra dan tata negara, disiapkan agar kelak pantas menjadi seorang pangeran mahkota calon kaisar. Bahkan, putranya telah dilatih ilmu silat yang cukup memadai.
Biarpun akhirnya Bouw Cu An memperlihatkan sikap menentang dalam urusan melaksanakan rencananya merebut takhta kerajaan, kemarahannya kepada putranya hanyalah di luarnya saja agar terlihat oleh para pendukungnya. Di dalam hatinya, tetap saja ayah ini amat sayang kepada putranya. Maka, mendengar laporan Hongbacu bahwa putranya telah diculik Ouw-yang Sianjin dan sampai sekarang belum juga ditemukan, hati Pangeran Bouw Ji Kong menjadi gelisah sekali. Ia melihat rencana pemberontakannya, selain kurang maju perkembangannya, juga amat merugikannya.
Kalau tindakannya itu menguntungkan, hal ini memperkuat semangatnya untuk melanjutkan apa yang ia perjuangkan. Akan tetapi, kalau kenyataannya merugikan, ia kehilangan semangat dan mulai memikirkan tindakan apa yang harus dilakukan untuk menghindarkan dirinya dari kerugian. Pemimpin seperti ini, dan sebagian besar seperti yang tercatat dalam sejarah memang demikian, selalu akan mabuk kemenangan dan menyelam ke dalam lautan kesenangan kalau usahanya berhasil, melupakan rakyat yang tadinya dijadikan tulang punggung untuk mendukung “perjuangannya”.
Malam yang dingin itu, Pangeran Bouw Ji Kong duduk termenung seorang diri di dalam kamarnya, tidak dapat tidur memikirkan kegagalannya, terutama sekali dengan hati rindu dan sedih memikirkan puteranya yang hilang. Semua penghiburan yang diberikan istri dan para selir ditolaknya. Malam itu ia tidak mau diganggu, duduk termenung seorang diri dalam kamarnya yang besar. Angin malam yang berembus memasuki kamar melalui celah-celah dinding bagian atas membawa hawa dingin yang menyusup tulang.
Tiba-tiba daun jendela kamar itu terkuak dari luar, menimbulkan suara berderit. Pangeran Bouw Ji Kong terkejut dari lamunannya, menoleh ke arah jendela, dan cepat ia melompat berdiri sambil menyambar pedang yang diletakkan di atas mejanya. Pangeran ini memang memiliki ilmu silat yang cukup tangguh, dan ilmu silatnya itulah yang pernah ia ajarkan pula kepada Bouw Cu An, putra tunggalnya. Jendela itu terbuka dan sesosok tubuh melayang memasuki kamar.
Pangeran Bouw Ji Kong siap untuk menyerang, akan tetapi pemuda yang telah berada di depannya itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan kaki sang pangeran.
“Ayah!”
Pedang yang sudah diangkatnya itu turun kembali dan bahkan dilemparkan ke atas meja. Dalam suaranya terkandung kemarahan, kerinduan, serta kegembiraan sekaligus.
“Cu An! Ke mana saja selama ini engkau pergi?”
“Maafkan saya, Ayah. Selama ini saya memperdalam ilmu silat saya. Maafkan saya yang pergi tanpa pamit kepada Ayah.”
“Tidak perlu minta maaf, Anakku. Bangkit dan duduklah, dan ceritakan apa yang terjadi! Apakah pendeta jahanam itu yang telah menculikmu, tidak mengganggumu?”
Bouw Cu An bangkit, duduk di depan ayahnya, dan memandang dengan mata terbelalak heran. “Pendeta jahanam yang menculik saya, Ayah? Apa dan siapa yang Ayah maksudkan?”
“Siapa lagi kalau bukan pendeta jahat Ouw-yang Sianjin yang telah menculikmu!”
Cu An menjadi semakin heran. “Ayah, dari mana Ayah mendengar bahwa saya diculik oleh Ouw-yang Sianjin?”
“Ketika malam itu engkau pergi, Hongbacu datuk Mancu itu mengejarmu dan dialah yang melaporkan bahwa engkau diculik Ouw-yang Sianjin dan dia tidak berhasil menolongmu.”
“Aduh! Makin ketahuan sekarang betapa Ayah telah bekerja sama dengan orang-orang jahat. Hongbacu menolong saya? Ayah telah dibohongi dan ditipu. Hongbacu bukan menolong saya, melainkan mencoba untuk membunuh saya!”
“Hah?” Pangeran Bouw Ji Kong terbelalak. “Benarkah? Apa... apa yang terjadi, Cu An?”
“Ayah agaknya telah mendengarkan fakta yang diputarbalikkan. Begini kejadiannya, Ayah. Malam itu saya merasa kesal dan terus terang saya tidak dapat menyetujui rencana Ayah hendak merebut takhta kerajaan, apalagi Ayah bersekutu dengan orang-orang Mancu dan perkumpulan-perkumpulan pemberontak jahat seperti Pek-lian-kauw, Ngo-lian-kauw, dan lain-lain. Karena hati saya kesal dan tidak setuju, maka malam itu saya meninggalkan rumah ini dengan hati sedih.”