Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 63

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 63

“Kemudian yang kedua, andaikata pemberontakan berhasil dan dibentuk pemerintahan baru, apakah Paduka kira sudah pasti akan menemukan orang-orang bijaksana yang akan menduduki kursi jabatan? Bagaimana kalau mereka malah lebih berengsek daripada pejabat yang sekarang? Nah, dua segi baik dan untungnya itu masih amat diragukan.

“Sekarang segi buruk dan ruginya yang tidak dapat diragukan lagi pasti timbul. Pertama, kelak nama Paduka akan tercatat dalam sejarah sebagai seorang pemberontak dan anggota keluarga yang mengkhianati keluarga sendiri. Kedua, dalam perang pemberontakan sudah pasti akan jatuh banyak sekali korban orang-orang yang sama sekali tidak berdosa, prajurit-prajurit biasa yang kalau kalah mereka tewas, kalau menang pun mungkin hanya mendapat sekadar pujian kosong belaka.

“Ketiga, kalau terjadi perang maka kehidupan rakyat akan menjadi kacau, para penjahat akan bermunculan untuk mengail di air keruh, melakukan kejahatan tanpa ada yang merintangi karena semua petugas pemerintah sibuk dengan perang. Keempat, Paduka akan menanam bibit permusuhan, dendam-mendendam, dan balas-membalas yang tiada hentinya.

“Dan bukan hanya itu, sekarang orang-orang yang mendukung Paduka itu sudah bertindak keji, diam-diam hendak membunuh putra Paduka tanpa sepengetahuan Paduka. Nah, pikirkanlah baik-baik, Pangeran, sebelum mengambil keputusan apakah Paduka hendak melanjutkan langkah yang keliru atau tidak.”

“Ouw-yang Sianjin, ingin sekali kami mengetahui, bagaimana sikap para pendeta, pendekar, atau tokoh kang-ouw yang mengutamakan keadilan dan kebenaran bersikap kalau melihat para pimpinan pemerintahan, dari kaisar sampai pejabat tinggi dan rendah, bertindak sewenang-wenang, curang dan korup, tidak adil, dan hanya mementingkan kekayaan diri serta keluarganya sendiri? Bagaimana kalian akan bersikap?

“Memberontak tidak baik katamu, lalu apakah kita rakyat ini harus tinggal diam saja, menerima keadaan dengan segala penderitaannya, hanya mengeluh kepada Tuhan, dan sama sekali tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan? Coba jawab pertanyaanku itu dengan jelas, Totiang!” Suara Pangeran Bouw Ji Kong penuh teguran sekaligus tantangan.

Ouw-yang Sianjin tersenyum dan memandang kepada Bouw Cu An. “Cu An, kita sudah membicarakan urusan yang ditanyakan Ayahmu itu secara panjang lebar. Harap engkau saja yang menjawab pertanyaan Ayahmu itu.”

Pangeran Bouw Ji Kong kini menatap wajah putranya dengan alis berkerut. Dia merasa penasaran akan tetapi juga ingin sekali mengetahui pendapat putranya yang dianggapnya masih kanak-kanak dan kurang pengalaman.

“Ayah, harap Ayah memaafkan saya kalau jawaban saya dianggap tidak benar dan lancang, akan tetapi sesungguhnya pengertian akan hal ini telah saya bicarakan dengan semasak-masaknya dengan Suhu Ouw-yang Sianjin dan saya merasa yakin bahwa semua pendapatnya itu benar. Begini, Ayah, Suhu dan saya tentu tidak dapat membenarkan kalau para pejabat dari kaisar sampai bawahannya melakukan penindasan, bertindak sewenang-wenang, korup, dan bersaing memperkaya diri serta keluarganya sendiri. Juga adalah tidak benar kalau kami sebagai warga negara, terutama para pejabat yang menyadari akan ketidakbenaran itu, tinggal diam dan tidak ada usaha untuk mengubahnya.

“Tidak, kita memang harus bertindak! Akan tetapi bukan dengan cara memberontak!

“Kita dapat saja melakukan kritik dan protes sebagai wakil rakyat yang tidak berani bicara sendiri, dan kita himpun kekuatan suara kita melalui persatuan para pejabat pemerintah yang setia kepada bangsa dan negara. Kalau kita dapat memperlihatkan dengan bukti-bukti bahwa tindakan para pejabat tinggi, terutama Kaisar itu tidak benar, akhirnya Kaisar dan para pembantunya pasti lambat laun akan merasa malu dan sadar. Kita patut mencontoh sikap Menteri Yang Ting Ho dan Panglima Chang Ku Cing yang bijaksana, adil, dan jujur, yang tangannya bersih dari kotoran korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Siapakah yang meragukan kesetiaan dan kebijaksanaan mereka?

“Nama mereka kelak pasti akan tercatat dalam sejarah dengan tinta emas, akan menjadi pujaan bangsa sebagai patriot-patriot sejati yang berjuang benar-benar demi kesejahteraan rakyat, bukan untuk menumpuk harta bagi keluarga sendiri atau untuk mengangkat nama dan kekuasaan mereka sendiri. Kalau saja Ayah mau bertindak mencontoh kedua orang pejabat tinggi yang bijaksana itu, saya siap membantu Ayah dan rela berkorban nyawa sekalipun.”

Pangeran Bouw Ji Kong termenung, diam-diam dia terharu karena jalan pikiran putranya itu ternyata membayangkan budi pekerti yang luhur.

“Hemm, kau kira begitu mudahnya? Kurang bagaimana pemerintah mengadakan peraturan dan hukum untuk menjadikan para pembesar itu setia kepada negara dan bangsa, akan tetapi apa buktinya? Mereka bukan berlomba membuat jasa yang baik untuk negara dan bangsa, melainkan berlomba menumpuk kekayaan pribadi!”

“Suhu dan saya mengerti, Ayah. Akan tetapi apa artinya diadakan seribu satu macam peraturan dan hukum kalau semua itu tidak dilaksanakan dengan tertib, bahkan dilanggar sendiri oleh si pembuat hukum? Seolah hukum itu dibuat demi kepentingan mereka yang berkuasa dan diberlakukan kepada rakyat kecil.

“Suhu mengingatkan saya akan apa yang diajarkan Guru Besar Khong Cu dalam Kitab Tiong-yong Pasal 21 ayat 12:

Ada sembilan syarat untuk dapat memimpin negara dan bangsa, yaitu: 1. Memperbaiki diri sendiri lahir batin. 2. Menghargai orang-orang bijaksana dan pandai. 3. Mencintai sanak saudara dan keluarga. 4. Menghargai pejabat-pejabat tinggi. 5. Tenggang rasa terhadap para pejabat biasa. 6. Mencintai rakyat seperti anak sendiri. 7. Mengkaryakan sebanyak mungkin ahli pembangunan. 8. Ramah tamah terhadap para tamu negara. 9. Mengikat hubungan baik dengan negara lain.”

“Hemm, apakah semua itu akan menjamin para pejabat dari yang tinggi sampai yang rendah akan dapat menaati apa yang dikehendaki pemimpin besar mereka, yaitu Kaisar? Bicara memang mudah, akan tetapi pelaksanaannya tidaklah semudah itu!”

“Suhu dan saya menyadari akan hal itu, Ayah. Memang semua teori itu mudah dan sama sekali tidak ada gunanya kalau tidak dipraktikkan. Akan tetapi bila kita benar-benar jujur dan ingin menjadi hamba Tuhan, menjadi manusia yang utama, dan kita laksanakan semua teori itu, sudah pasti akan berhasil.

“Sekarang bukan zamannya lagi untuk menjejali rakyat dengan slogan-slogan, dengan pelajaran-pelajaran, dengan hukum-hukum kalau semua itu hanya omongan kosong belaka dan tidak dilaksanakan dengan tertib dari yang paling atas sampai yang paling bawah. Rakyat tidak butuh nasihat tentang kebaikan lagi, melainkan membutuhkan teladan, membutuhkan contoh dari mereka yang mengeluarkan slogan, pelajaran, dan nasihat itu.

“Para pimpinan negara merupakan bapak bagi rakyat dan menjadi suri teladan. Apa artinya sang bapak menasihati anak-anaknya untuk hidup sederhana dan hemat kalau si bapak sendiri hidupnya serba mewah, royal, dan menghamburkan uang? Akan tetapi kalau rakyat sebagai anak melihat pemimpinnya sebagai bapaknya hidup sederhana, tidak usah disuruh lagi mereka tentu akan hidup sederhana pula! Jadilah teladan, jangan hanya penasihat tanpa tanggung jawab.

“Kalau seorang pejabat tinggi bertangan bersih, para bawahannya otomatis tidak berani bertangan kotor karena atasannya yang bertangan bersih tentu akan menindaknya. Sang bawahan ini setelah dia sendiri mencontoh atasan bertangan bersih, tentu akan menjaga agar bawahannya sendiri juga bertangan bersih. Demikian pula seterusnya, terus dari atas memberi contoh dan menindak bawahan sehingga petugas yang paling bawah pun disegani rakyat karena bertangan bersih.

“Otomatis rakyat pun akan patuh dan taat karena semua yang dikerjakan pemerintah demi kesejahteraan rakyat, termasuk diri dan keluarga mereka sendiri yang juga sebagian dari rakyat. Akan tetapi kalau atasannya bertangan kotor, bagaimana mungkin dia dapat mencegah bawahannya bermain kotor pula? Bahkan dia akan dijadikan teladan, teladan berbuat buruk dan korupsi, oleh bawahannya tanpa dia berani menegur karena dia sendiri bertangan kotor. Kemudian bawahannya juga ‘bertoleransi’ kepada bawahannya lagi, demikian terus menurun menjadi budaya korupsi yang turun-temurun sampai rakyat menjadi terbiasa dengan keadaan semacam itu. Maafkan saya, Ayah, pandangan ini bukan sekadar teori, akan tetapi dapat dibuktikan dan dipraktikkan dalam kelompok yang paling kecil seperti sebuah keluarga dalam sebuah rumah tangga. Kalau sang ayah menghendaki anak-anaknya tidak menjadi penjudi, apa artinya kalau dia hanya menegur dan marah akan tetapi dia sendiri menjadi penjudi? Bukan teguran atau nasihat yang dibutuhkan sang anak dari orang tuanya, atau rakyat dan bawahan dari atasannya, melainkan teladan yang baik!

“Rakyat sudah kenyang bahkan muak dengan slogan-slogan dan petuah-petuah, akan tetapi rakyat rindu akan para pemimpin rakyat yang bersih dan patut dijadikan panutan. Kalau para pemimpin kerajaan bersih dan bijaksana, maka kekayaan negara tidak akan bocor dan digerogoti tikus-tikus berpakaian pembesar sehingga negara menjadi kaya dan kekayaan ini dapat dimanfaatkan demi kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya, di mana dicukupkan sandang, pangan, dan papan dari setiap warga negara kerajaan ini.

“Alat-alat negara yang bersih dapat bertindak tertib dan melaksanakan semua hukum tanpa pandang bulu, tidak dapat dipengaruhi suap dan hubungan sahabat atau keluarga. Kalau sudah begini, kami kira para pejabat akan kehilangan keberaniannya, apalagi karena mencari sandang, pangan, dan papan menjadi mudah. Rakyat akan menjadi senang dan taat kepada pemerintah, dan tidak mungkin lagi ada rakyat yang mau diajak memberontak terhadap pemerintah yang dicintai rakyat karena keadilan dan kebijaksanaannya.”

Mendengar ucapan yang panjang lebar penuh semangat dari putranya itu, Pangeran Bouw Ji Kong terkagum-kagum dan terheran-heran, akan tetapi dia mulai dapat menangkap intinya yang berlandaskan kepada kebenaran. Ucapan putranya itu sama sekali bukan didasari perasaan iri, dengki, ataupun benci, melainkan membuka kenyataan, bukan sekadar teori yang muluk-muluk. Melihat pangeran itu termenung, dengan harapan bahwa pangeran itu akan dapat menyadari kesalahannya, Ouw-yang Sianjin segera berkata dengan suaranya yang lembut penuh kesabaran.

“Pangeran, maafkan putramu kalau bicaranya terlampau tegas, akan tetapi di zaman seperti ini kita seluruh rakyat hanya menggantungkan harapan kepada kaum mudanya. Hanya para mudanya yang memiliki semangat dan keberanian, memiliki pandangan yang kritis, untuk membawa kita semua keluar dari kemelut keadaan yang tidak sehat ini. Kalau kita orang-orang tua masih berpegang kepada peraturan lama, menjadi lemah dan tidak berdaya, lalu para mudanya juga kehilangan semangat dan hanya mengejar kesenangan dan foya-foya belaka, apa akan jadinya dengan tanah air dan bangsa kita tercinta ini!

“Para arif bijaksana di zaman dahulu berkata bahwa pembangunan di atas segala bidang tidak akan berhasil kecuali kalau pembangunan dasar manusia, yaitu pembangunan jiwanya, dilaksanakan lebih dulu sampai berhasil. Manusia yang sudah terbangun jiwanya berarti manusia yang mengenal jati dirinya sebagai makhluk hamba Tuhan yang memiliki tugas di dunia ini, yaitu menyejahterakan dunia dan semua isinya. Jiwanya terbangun kalau seorang manusia selalu dekat dengan Tuhannya, taat dan cinta akan perbuatan bajik, serta takut dan pantang akan perbuatan jahat.

“Hanya manusia-manusia yang sudah terbangun jiwanya sajalah yang akan mampu menjadi pemimpin-pemimpin rakyat karena kebajikannya akan menjadi teladan bagi rakyat. Kalau sudah begitu, kemakmuran bagi suatu bangsa bukan hal yang langka lagi karena bangsa yang sudah terbangun jiwanya pasti dikasihi Tuhan dan apa yang dinamakan kemakmuran adalah suatu keadaan dan perasaan yang merupakan karunia dari Tuhan, tidak mungkin dibuat manusia.”

Mendengar semua ini, tanpa disadarinya kedua mata Pangeran Bouw Ji Kong menjadi kemerahan dan basah air mata. Teringat dia akan semua nafsu keinginan dan perbuatannya, betapa dia sudah bersekutu dengan para golongan sesat pemberontak seperti Pek-lian-kauw dan Ngo-lian-kauw, dengan suku ibunya, yaitu suku Hui, dan bahkan dengan bangsa Mancu yang jelas merupakan musuh dan ancaman bagi Kerajaan Beng.

Dia teringat pula betapa dia telah menyuruh bunuh enam orang pejabat tinggi yang sama sekali tidak bersalah, hanya karena mereka adalah orang-orang atau pejabat-pejabat yang setia kepada Kaisar! Dan yang lebih lagi, dia tidak tahu bahwa putranya sendiri nyaris dibunuh seorang sekutunya, yaitu Hongbacu, datuk Mancu.

Belum tercapai keinginannya, dalam keadaan masih berjuang saja sekutunya dari Mancu sudah tega untuk membohonginya dan hampir membunuh putranya! Apalagi kalau mereka sudah berhasil, dapat dia bayangkan betapa para sekutunya itu tak dapat diragukan lagi akan saling berebut hasil pemberontakan mereka! Teringat pula dia bahwa sekarang kedudukannya sudah terhormat sebagai penasihat Kaisar. Kalau perjuangannya memberontak yang penuh risiko itu gagal, bukan hanya dia yang celaka, melainkan seluruh keluarganya!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment