Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 64

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 64

Makin dikenang dan dipikir, makin jelas Pangeran Bouw Ji Kong dapat melihat isi hati, pikiran, serta segala hal yang mendorong perbuatannya. Kini, dia mulai menyadari bahwa apa yang dianggapnya sebagai “perjuangan” untuk menyejahterakan rakyat dengan mengambil alih takhta kerajaan sesungguhnya hanyalah ambisi pribadi belaka. Ada nafsu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih daripada apa yang dimilikinya sekarang, yakni kekuasaan, kemuliaan, dan harta kekayaan.

Semua ambisi pribadi itu tertutup oleh apa yang dianggapnya sebagai perjuangan suci demi kemakmuran rakyat. Kini, dia merasa dirinya seperti ditelanjangi oleh ucapan putranya sendiri dan Ouw-yang Sianjin. Maka, dia teringat akan seorang hwesio yang pernah mengajarkan ilmu silat serta budi pekerti kepada dia dan para murid lain.

“Pinceng tidak ingin melihat murid-muridku menjadi orang-orang pintar, berkuasa, atau kaya raya kalau kalian tidak memiliki kebenaran! Orang pintar yang jiwanya tersesat dan jahat hanya akan menggunakan kepintarannya untuk menipu orang-orang yang bodoh. Orang kuat berkuasa yang tidak benar hanya akan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya untuk menindas orang-orang yang lemah. Orang kaya raya yang jahat dan tidak benar hanya akan menggunakan kekayaannya untuk memuaskan nafsu-nafsunya mengejar kesenangan dan menghina orang yang miskin.”

“Pinceng hanya menginginkan murid-murid yang menjadi orang-orang benar! Orang-orang yang benar, berjiwa bersih, baik budi, hatinya penuh dengan rasa cinta sesama dan berbelas kasihan, baik dia itu miskin atau kaya, bodoh atau pintar, kuat kuasa atau lemah, orang yang begini adalah kekasih Yang Maha Kuasa. Semua perilaku dan tindakannya mendatangkan berkat bagi sesama dan dialah yang pantas menjadi pembantu dan penyalur berkat Tuhan. Hanya orang-orang begini yang berhasil sebagai manusia dan selalu disinari kebahagiaan.”

Demikianlah, antara lain, hwesio yang menjadi gurunya itu berkata. Dia telah membuktikan bahwa dirinya sama sekali tidak termasuk orang-orang yang seperti dikehendaki gurunya itu. Dia penuh keinginan, penuh ambisi, dan untuk mencapai keinginan tersebut, dia tidak pantang menggunakan cara apa pun, bahkan cara yang jahat.

Bouw Cu An diam saja dan hanya memandang ayahnya yang menutupi wajah dengan kedua tangan. Ayahnya menangis! Dia merasa terharu, akan tetapi juga lega. Tangis ayahnya itu mungkin sekali timbul dari penyesalan, dan mudah-mudahan ayahnya akan sadar bahwa pemberontakan itu adalah salah.

Ouw-yang Sianjin tersenyum dan duduk bersila di atas kursi sambil memejamkan kedua mata. Tosu ini melakukan samadi sambil menanti tuan rumah memulihkan gejolak hatinya.

Baru setelah menjelang pagi, Pangeran Bouw Ji Kong menurunkan kedua tangannya. Dia menggunakan ujung lengan baju untuk mengusap sisa air mata yang membasahi kedua pipinya, lalu menoleh dan memandang Bouw Cu An yang masih duduk menunggui ayahnya.

“Ayah!” pemuda itu memanggil dengan lirih. Mendengar ini, Ouw-yang Sianjin juga membuka matanya dan memandang kepada pangeran itu.

Pangeran Bouw Ji Kong kini berkata kepada mereka dengan suara serak dan lirih, “Ouw-yang Sianjin dan Cu An, sekarang aku menyadari akan semua kekeliruanku dan aku merasa menyesal sekali telah menuruti hati yang dipenuhi iri dan nafsu kemurkaan. Sekarang, beri tahu aku, apa yang seharusnya kulakukan?”

“Ayah, saya tidak berani memberi nasihat kepada Ayah. Sebaiknya Suhu Ouw-yang Sianjin yang menjawab pertanyaan Ayah itu,” kata pemuda itu dengan suara terharu karena dia merasa lega dan girang bahwa akhirnya ayahnya dapat menyadari kesalahannya.

“Siancai! Apa yang sepatutnya dilakukan oleh seorang yang telah menyadari kekeliruannya? Pinto kira hanya dua, yaitu pertama menghentikan perbuatan yang keliru itu dan bertaubat.”

“Bertaubat dengan cara bagaimana?” tanya Pangeran Bouw Ji Kong.

“Pangeran, Paduka bersalah terhadap Sri Baginda Kaisar, maka sewajarnyalah kalau Paduka bertaubat dengan pengakuan kesalahan di depan Sri Baginda dan memohon pengampunan,” kata pendeta itu.

Pangeran Bouw Ji Kong mengerutkan alisnya lalu menggelengkan kepala. “Tidak, Totiang, itu terlalu mudah bagiku, terlalu ringan bagi kesalahanku yang besar. Kalau aku hanya memohon pengampunan, andaikata Kaisar mengampuniku, namaku akan tetap tercoreng dalam sejarah dan rakyat akan mengutukku. Aku harus melakukan aksi balik yang tepat untuk menebus kesalahanku dan aku hanya dapat mengharapkan Totiang untuk membantu rencanaku sehingga berhasil baik.”

“Apa yang Paduka maksudkan, Pangeran?”

“Begini, Totiang. Kesesatanku telah mengakibatkan jatuhnya korban. Aku harus membalas semua kejahatan yang dilakukan para sekutuku itu atas rencanaku yang jahat. Maka, aku ingin menjebak mereka, mengundang mereka berkumpul, kemudian engkau dan Cu An mengatur dan mengumpulkan para pendekar, juga para panglima dan pasukannya. Tentu saja engkau dapat meminta bantuan Panglima Chang Ku Cing untuk keperluan itu.”

“Setelah aku berhasil membasmi mereka yang tadinya bersekutu denganku—para pengkhianat yang sama denganku, orang-orang Pek-lian-kauw, wakil Mancu, dan suku Hui—barulah aku akan menyerah dan menerima hukuman apa pun yang dijatuhkan Kaisar kepadaku. Dengan demikian, setidaknya aku telah melakukan sesuatu untuk menghancurkan mereka yang memusuhi kerajaan. Aku tidak takut namaku sendiri kotor karena memang apa yang kulakukan itu salah, akan tetapi aku merasa sedih kalau sampai nama keturunanku menjadi ternoda karenanya.”

Ouw-yang Sianjin mengangguk-angguk dan dapat menerima usul itu. Demikianlah, Pangeran Bouw Ji Kong mengajak Ouw-yang Sianjin berunding dan mengatur rencana untuk menjebak mereka yang tadinya mendukung pemberontakan. Setelah pagi, Ouw-yang Sianjin meninggalkan istana Pangeran Bouw Ji Kong. Cu An sendiri tetap berada di rumah orang tuanya karena dia akan membantu ayahnya dalam rencana menjebak dan membasmi para pemberontak.

Sepekan kemudian, di sebuah bukit kecil yang penuh hutan, berdatanganlah banyak orang. Karena bukit di sebelah timur kota raja itu berada di daerah yang tandus dan sunyi serta tidak terdapat dusun, kedatangan mereka tidak diketahui umum.

Sejak pagi, tokoh-tokoh besar yang berilmu tinggi berdatangan di tempat tersembunyi itu, di mana telah dibangun tenda-tenda besar yang disediakan oleh Pangeran Bouw Ji Kong. Di antara mereka yang datang, terdapat Hwa Hwa Hoat-su (datuk Pek-lian-kauw), Hongbacu (tokoh Mancu utusan istimewa Nurhacu, pemimpin besar Mancu), serta Tarmalan (datuk suku Hui yang ahli sihir).

Selain tiga orang sakti yang dulu melakukan pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi, tampak pula beberapa orang panglima yang sudah dipengaruhi Pangeran Bouw Ji Kong dan mendukung rencana pemberontakan dengan janji imbalan kedudukan yang lebih tinggi. Pangeran Bouw Ji Kong memang hanya mengundang para komandannya saja dan mereka diminta agar tidak mengerahkan pasukan.

Setelah semua undangan berkumpul, muncul Pangeran Bouw Ji Kong. Sekitar tiga puluh orang pendukung pemberontakan telah berkumpul di tenda besar, di mana telah dipersiapkan meja yang disambung-sambung memanjang dan kursi-kursi berhadapan. Pangeran Bouw Ji Kong menempati kursi kehormatan di ujung deretan meja.

Wajah Pangeran Bouw Ji Kong tidak cerah seperti biasa, melainkan tampak seperti orang marah. Semua orang yang hadir memandang heran, apalagi ketika sang Pangeran bangkit berdiri dan berkata nyaring, tangannya menuding ke arah Hongbacu, tokoh Mancu yang duduk di deretan terdepan.

“Saudara-saudara para panglima dan pejabat, kita telah dikhianati oleh orang-orang yang datang dari luar dan mengaku sebagai pendukung kita! Hongbacu, orang Mancu ini, telah berusaha hendak membunuh putraku! Kita telah disesatkan oleh golongan Mancu, suku Hui, dan golongan Pek-lian-kauw. Mereka itu masing-masing hendak menguasai kita dan kalau gerakan berhasil, mereka tentu akan berusaha menyingkirkan kita dan menguasai negara!”

Hongbacu terkejut dan marah, demikian pula Tarmalan dan Hwa Hwa Hoat-su. “Pangeran!” bentak mereka bertiga.

“Pangeran, bukan aku yang berkhianat, melainkan putramu sendiri! Dia menentang gerakan dan perjuangan kita, tentu saja seorang pengkhianat yang berada di antara kita amat berbahaya. Akan tetapi, dia melarikan diri dan diculik Ouw-yang Sianjin!”

“Bohong!” tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan muncul Bouw Cu An. “Hongbacu berusaha membunuhku, dan Suhu Ouw-yang Sianjin justru yang menyelamatkan aku dari tangan keji Hongbacu!”

“Nah, Saudara-saudara para panglima dan pejabat, kita selama ini telah bertindak keliru. Kita dipengaruhi oleh gerombolan bangsa Mancu, gerombolan Hui, dan gerombolan pemberontak Pek-lian-kauw. Padahal, mereka itu hanya akan memanfaatkan kita dan kalau pemberontakan berhasil, mereka pasti akan saling memperebutkan kekuasaan seperti tiga anjing kelaparan memperebutkan tulang. Dan kita yang menjadi korban berikutnya.”

“Cita-cita kita adalah untuk mendirikan pemerintahan yang sehat, adil, dan demi kesejahteraan rakyat. Untuk itu, kalau ada pejabat tinggi yang bertindak sewenang-wenang, kita dapat mengajukan protes keras, bukan dengan cara memberontak, karena kalau begitu kita tidak ada bedanya dengan tiga gerombolan itu!”

Tempat itu menjadi gaduh karena semua orang, terutama para panglima dan pejabat, terkejut bukan main mendengar ucapan Pangeran Bouw Ji Kong.

“Pangeran Bouw Ji Kong sudah menjadi gila!” teriak Hwa Hwa Hoat-su. “Saudara-saudara, kita maju terus! Tanpa Pangeran Bouw Ji Kong, kita masih dapat merebut takhta kerajaan ini. Pangeran pengkhianat ini dan putranya sudah sepatutnya dihukum mati!” Setelah berkata demikian, Hwa Hwa Hoat-su maju menyerang Pangeran Bouw Ji Kong dengan pedang di tangan kanan dan kebutan di tangan kiri.

Hongbacu, tokoh Mancu, juga sudah menggunakan golok gergajinya untuk menyerang Bouw Cu An.

“Trang!” Pangeran Bouw Ji Kong menangkis serangan pedang Hwa Hwa Hoat-su dan cepat mengelak dari sambaran kebutan. Akan tetapi, Hwa Hwa Hoat-su terus mendesaknya dengan serangan yang gencar dan dahsyat. Sebentar saja pangeran itu terdesak karena memang tingkat kepandaian dan tenaganya masih kalah jauh dibandingkan lawannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment