Halo!

Lembah Selaksa Bunga - Chapter 65

Memuat...
Lembah Selaksa Bunga

Chapter 65

"Cring!" Bouw Cu An menangkis golok gergaji itu dengan pedangnya.

Tokoh Mancu bernama Hongbacu ini memang lihai. Sekali menangkis, Bouw Cu An sudah terhuyung ke belakang. Ketika Hongbacu melompat dan menerjangnya kembali, tiba-tiba berkelebat bayangan kuning.

"Trak!" Golok gergaji di tangan Hongbacu terpental saat bertemu dengan pedang bambu milik Ouw-yang Sianjin yang sedang melindungi muridnya.

Sementara itu, saat Pangeran Bouw Ji Kong terdesak, tiba-tiba tampak sinar kilat menyambar dan menangkis pedang tokoh Pek-lian-kauw tersebut.

"Cring!" Hwa Hwa Hoat-su terkejut luar biasa. Ia melihat bahwa yang membuat pedangnya terpental adalah tangkisan Lui-kong-kiam (Pedang Halilintar) di tangan Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan. Ia terkesiap dan melangkah mundur untuk bersiaga menghadapi lawan tangguh itu.

Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring, "Tahan senjata!" Muncul seorang panglima berusia sekitar lima puluh dua tahun dengan tubuh tegap, kumis dan jenggot pendek yang rapi, serta pakaian yang menunjukkan bahwa ia seorang panglima besar. Semua panglima dan pejabat di sana terkejut saat mengenali Panglima Besar Chang Ku Cing. Bersamanya tampak pula Sim Tek Kun, Ong Lian Hong, Chang Hong Bu, serta ratusan prajurit dengan belasan perwira tinggi di belakang mereka.

"Para pemberontak, kalian sudah terkepung rapat! Menyerahlah, atau terpaksa kami akan membasmi kalian semua!"

Para panglima dan pejabat tinggi yang tadinya mendukung pemberontakan segera melepas senjata mereka sebagai tanda takluk karena mereka tahu perlawanan akan percuma. Apalagi, mereka telah mendengar ucapan Pangeran Bouw Ji Kong yang secara tegas menghentikan pemberontakannya dan menentang para wakil dari Mancu, Hui, dan Pek-lian-kauw.

Sementara itu, Hwa Hwa Hoat-su, Hongbacu, dan Tarmalan menyadari bahwa tempat itu telah dikepung ratusan prajurit. Ditambah lagi dengan kehadiran pendekar-pendekar muda yang mahir, terutama Hwe-thian Mo-li, mereka merasa melawan sama saja dengan bunuh diri.

Hwa Hwa Hoat-su yang tampak tenang, berbeda dengan wakil suku Hui dan Mancu yang pucat, segera membuang senjata sebagai tanda menyerah. Ia bahkan tersenyum karena yakin Pek-lian-kauw tidak akan membiarkan dirinya dihukum mati. Melihat Hwa Hwa Hoat-su menyerah, Tarmalan dan Hongbacu pun melakukan hal yang sama karena merasa percuma jika tetap melawan.

Demikianlah, para gembong pemberontak itu menyerah tanpa perlawanan. Mereka semua digiring sebagai tawanan dan dijebloskan ke penjara. Jika para panglima dan pejabat tinggi menjadi tawanan biasa, tiga orang pemimpin itu—Hwa Hwa Hoat-su, Hongbacu, dan Tarmalan—dimasukkan ke dalam tempat tahanan istimewa.

Pangeran Bouw Ji Kong yang sebelumnya telah menghentikan pemberontakannya, atas jaminan putranya, Bouw Cu An, dan Ouw-yang Sianjin, diperbolehkan pulang oleh Panglima Besar Chang Ku Cing. Namun, bukan berarti ia bebas dari tuntutan. Panglima besar yang tegas dan adil itu tetap akan menuntutnya di pengadilan kelak agar ia mempertanggungjawabkan kesalahannya.

Malam itu gelap dan sunyi. Seminggu telah berlalu sejak para pemberontak ditangkap dan ditahan oleh Panglima Besar Chang Ku Cing dengan bantuan yang diatur oleh Pangeran Bouw Ji Kong yang telah disadarkan oleh putranya sendiri, Bouw Cu An.

Penduduk kota raja, terutama para pejabat pemerintah, dapat bernapas lega setelah sebelumnya dicekam ketakutan akibat banyaknya pembunuhan terhadap pejabat tinggi. Para pejabat dan penduduk seolah berpesta merayakan keberhasilan membasmi pemberontak. Selama seminggu mereka berpesta dan bergembira, dapat tidur nyenyak di malam hari.

Malam ini, semua orang tidur setelah sepekan bersenang-senang. Bahkan para prajurit yang bertugas jaga di istana malam itu lengah karena yakin bahwa setelah semua pimpinan pemberontak ditangkap, tidak ada lagi bahaya yang mengancam.

Malam yang gelap dan sunyi. Setelah lewat tengah malam, tidak ada lagi suara orang di istana. Para petugas jaga duduk mengantuk dan malas meronda.

Apalagi malam itu mendung tebal menutupi langit. Tidak ada satu pun bintang yang tampak dan udara terasa sangat dingin. Tiba-tiba, teriakan pecah di lingkungan istana.

"Kebakaran! Kebakaran!"

Teriakan itu berulang-ulang dan segera disambut oleh banyak orang. Anehnya, api yang berkobar dengan asap tebal bukan terjadi di satu tempat saja, melainkan di empat penjuru sekeliling bangunan induk istana! Berkobarnya api susul-menyusul dan membuat seisi istana gempar. Semua orang terbangun dan berlarian; ada yang panik, namun sebagian besar menuju lokasi kebakaran untuk membantu memadamkan api dengan air atau tongkat panjang.

Sesungguhnya empat titik kebakaran itu tidaklah terlalu besar, namun kepanikan yang ditimbulkan membuat suasana menjadi kacau. Semua prajurit pengawal dikerahkan untuk memadamkan api. Tiga titik kebakaran berhasil dipadamkan dengan cepat, namun gudang dekat istal yang berisi banyak jerami kering dan tumpukan kayu berkobar hebat dan sulit dipadamkan.

Sebelum api padam sepenuhnya, Panglima Chang Ku Cing yang menerima laporan telah tiba di istana. Sim Tek Kun, Ong Lian Hong, Nyo Siang Lan, dan Chang Hong Bu juga bermunculan setelah mendengar berita kebakaran tersebut. Ouw-yang Sianjin tidak tampak karena setelah pemberontakan diatasi, ia segera meninggalkan kota raja.

Melihat bahwa empat titik kebakaran itu hampir padam, Panglima Besar Chang Ku Cing memerintahkan para pendekar muda dan perwira untuk tenang. "Hati-hati, mungkin ini siasat orang jahat. Mari kita segera memeriksa ke dalam istana!"

Ketika mereka memasuki istana, mereka terkejut bukan main. Tidak kurang dari dua puluh prajurit pengawal yang bertugas di dalam istana, juga para Thai-kam (sida-sida), tergeletak tewas! Ada yang tewas tanpa luka—ternyata mereka menghirup racun semacam gas—ada yang terluka dalam karena pukulan sakti, dan ada yang retak tengkoraknya. Singkatnya, mereka tewas di tangan orang-orang yang memiliki kesaktian tinggi.

Didahului oleh Hwe-thian Mo-li, para pendekar muda berlari ke bagian paling dalam, ke tempat kamar pribadi kaisar dan keluarganya. Panglima Chang Ku Cing yang berlari di samping Siang Lan kembali menemukan beberapa Thai-kam penjaga yang telah tewas. Padahal, para Thai-kam ini memiliki ilmu silat yang cukup baik. Jelas, pembunuhan dilakukan oleh pihak yang sangat lihai.

Mereka memasuki kamar tidur kaisar dan melihat beberapa dayang serta pelayan wanita tergeletak, namun mereka ternyata hanya ditotok, tidak dibunuh seperti para penjaga. Ketika Siang Lan membebaskan totokan mereka, mereka menangis dan mengatakan bahwa Kaisar telah diculik!

"Cepat katakan, apa yang telah terjadi!" bentak Panglima Chang Ku Cing, terkejut dan murka.

Dengan tubuh dan suara gemetar, seorang pelayan wanita setengah tua berlutut dan memberi laporan. "Tadi hamba dan para dayang terbangun karena mendengar keributan dan teriakan kebakaran. Tiba-tiba hamba melihat para Thai-kam berkelahi melawan seorang bertubuh kurus yang berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup kain. Para Thai-kam itu roboh satu demi satu."

"Orang bertopeng itu lalu memasuki kamar tidur Sri Baginda Kaisar dan keluar lagi sambil membopong Baginda. Kami berteriak, tetapi penjahat itu menepuk kami satu demi satu hingga kami tak mampu bergerak. Dia lalu melompat keluar dengan amat cepat seperti terbang."

Panglima Besar Chang Ku Cing segera memerintahkan para komandan pasukan untuk menutup empat penjuru kota raja, memeriksa setiap orang yang keluar-masuk pintu gerbang, dan menggeledah setiap rumah di kota raja. Ia juga meminta bantuan para pendekar muda untuk mencari jejak penculik.

Putra Bouw Ji Kong, pangeran yang sempat memberontak namun telah sadar, tidak ikut karena merasa terpukul dan malu atas perbuatan ayahnya. Setelah pemberontakan gagal, ia nekat meninggalkan kota raja dan ikut dengan gurunya, Ouw-yang Sianjin.

Bagi Bouw Cu An, situasi ini serba salah. Tidak mungkin ia membela ayahnya setelah kesalahan besar yang dilakukan. Ia memilih pergi dan hanya mengharapkan kebijaksanaan Panglima Chang Ku Cing untuk meringankan hukuman bagi ayahnya yang telah menyesal dan membantu pemerintah menjebak para pemberontak.

Penjagaan oleh para komandan dan pasukan dilakukan sangat ketat. Bukan hanya di pintu gerbang, tetapi juga di sekeliling tembok kota raja diadakan perondaan ketat sehingga agaknya mustahil ada orang yang dapat membawa Kaisar keluar dari kota raja.

Para pendekar muda juga mencari dengan teliti, namun selama beberapa hari tidak ada jejak yang ditinggalkan penculik. Penculik dan kaisar seolah lenyap ditelan bumi.

Ketika Panglima Chang Ku Cing, ditemani Nyo Siang Lan, mengunjungi kediaman Pangeran Bouw Ji Kong untuk bertanya kepada sang pangeran, mereka disambut wajah duka oleh Nyonya Bouw.

"Thai-ciangkun, kami sekeluarga sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan Sri Baginda Kaisar karena suami saya sendiri juga menghilang dan kami tidak tahu ke mana perginya."

Panglima Chang Ku Cing mengerutkan alisnya. "Pangeran Bouw Ji Kong menghilang? Sejak kapan?"

"Sudah tiga hari."

"Tiga hari? Begitu bersamaan dengan diculiknya Sri Baginda Kaisar?"

"Begitulah, Thai-ciangkun. Kami sangat khawatir."

Panglima Chang Ku Cing menjadi curiga dan menduga bahwa penculikan Kaisar mungkin perbuatan pangeran itu pula.

Nyonya Bouw menangis sambil berkata, "Thai-ciangkun, mohon jangan curigai suami saya. Saya berani bersumpah dia tidak terlibat! Suami saya sudah benar-benar menyadari kesalahannya. Ah, saya bingung sekali, Thai-ciangkun. Kalau saja Cu An berada di sini."

Tiga pelayan wanita yang berada di sana ikut menangis melihat nyonya mereka sedih. Terdengar suara batuk, dan ketika Panglima Chang Ku Cing serta Siang Lan menoleh, mereka melihat seorang kakek berusia sekitar tujuh puluh tahun sedang membersihkan perabot ruangan. Melihat panglima menoleh, kakek itu segera membungkuk.

"Mohon maaf, Thai-ciangkun, hamba sekalian para pelayan merasa ikut berduka dengan Hu-jin..." Kakek itu kembali terbatuk kecil.

Panglima Chang Ku Cing memandang kakek itu penuh perhatian, begitu pula Siang Lan. Kakek itu bertubuh kurus dan lemah, namun bekerja dengan teliti dan sikapnya sangat hormat.

"Bouw Hujin, siapakah dia?" tanya Panglima Chang kepada nyonya rumah sambil menunjuk kakek itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment