Chapter 70
Tiba-tiba, sehelai kain merah menyambar dari depan ke arah mata Siang Lan. Sinar merah yang meluncur cepat itu membuat pandangannya silau. Namun, gadis itu tidak gugup. Berkat bimbingan Bu-beng-cu, ilmu meringankan tubuhnya telah mencapai tingkat tinggi. Dengan gerakan ringan, ia berhasil menghindar lewat lompatan ke belakang.
Tanpa membuang waktu, tubuhnya berkelebat ke depan. Pedangnya melesat dengan jurus Liugoat (Bintang Cemara Mengejar Bulan), sebuah serangan beruntun enam kali yang dahsyat dan susul-menyusul.
Akan tetapi, kakek itu benar-benar sakti. Selain menangkis dengan bunyi gemerincing tasbehnya, sabuk merahnya pun bergerak lincah mencoba membelit pedang Lui-kong-kiam. Siang Lan tidak membiarkan pedangnya terampas; ia memukul sabuk merah itu dengan telapak tangannya hingga kain tersebut terhempas.
Pertarungan sengit terjadi di dalam kamar tidur Pangeran Bouw yang luas. Meja dan kursi terlempar akibat tendangan mereka. Keduanya memiliki tingkat ilmu silat yang seimbang. Siang Lan unggul dalam kecepatan, namun kalah dalam tenaga dalam. Terlebih lagi, kakek itu memadukan tenaga dalam dengan sihir, membuat Siang Lan kerap terhuyung setiap kali mendengar bentakannya.
Kakek itu merasa penasaran. Sebagai datuk nomor satu di Pek-lian-kauw, ia merasa terhina karena tidak mampu mengalahkan seorang gadis. Setelah bertarung lebih dari tiga puluh jurus, tiba-tiba kakek itu berteriak nyaring seperti suara burung gagak. Kain merah di tangan kanannya melayang, ujungnya menyambar ke arah ubun-ubun Siang Lan. Sadar akan bahaya, gadis itu mengelak ke kiri sambil menyabetkan pedang.
"Prat!" Ujung kain merah itu putus, namun tiba-tiba mengeluarkan uap berwarna merah yang mengenai wajah Siang Lan. Sebelum sempat menahan napas, gadis itu terlanjur menghirup uap tersebut. Seketika kepalanya pening, pandangannya kabur, dan ia terhuyung jatuh ke arah pintu rahasia yang terbuka.
Cui-beng Kui-ong, sang kakek, tertawa terbahak-bahak. Ia menyambar tubuh Siang Lan yang pingsan dan membawanya ke ruangan bawah tanah. Sambil memaki Nyonya Bouw yang dianggapnya sebagai pembocor rahasia, ia melemparkan tubuh Siang Lan ke lantai, mengabaikan pedang Lui-kong-kiam yang ikut terlempar, serta tidak memedulikan Kaisar dan Pangeran Bouw yang telah terlepas dari ikatan.
Merasa terlalu jemawa, ia melompat keluar dari ruangan bawah tanah dan menutup kembali pintu rahasia tersebut dengan memutar arca singa. Kakek itu kemudian mencari Nyonya Bouw. Karena tidak menemukannya, ia mengamuk bagaikan orang gila dan membantai tujuh orang pelayan yang masih bertahan di sana. Dengan tangan berlumuran darah, ia kembali menuju kamar tidur Pangeran Bouw Ji Kong.
Sementara itu, Pangeran Bouw Ji Kong segera memeriksa Siang Lan yang tidak berdaya. Ia membasahi wajah gadis itu dengan air, hingga Siang Lan siuman meskipun tubuhnya tetap lumpuh akibat totokan. Pangeran Bouw gagal membuka totokan tersebut, dan Siang Lan mengakui bahwa totokan itu terasa aneh dan tidak biasa.
Tak lama, terdengar suara geraman kakek A-kui yang menuruni tangga. Pangeran Bouw segera memungut pedang Lui-kong-kiam untuk melindungi Kaisar. Dengan berani, ia menghadang dan bertanya, "Kakek A-kui, siapakah sebenarnya engkau dan mengapa engkau menculik Sribaginda Kaisar?"
"Heh-heh-heh, aku adalah Cui-beng Kui-ong, datuk dari Pek-lian-kauw! Aku diselundupkan menjadi pelayanmu untuk berjaga jika pemberontakanmu gagal. Siapa sangka engkau justru berkhianat hingga Hwa Hwa Hoat-su tertawan. Kalian semua akan kubunuh!"
Tiba-tiba, sebuah suara melengking memenuhi ruangan bawah tanah melalui tenaga dalam yang kuat: "Cui-beng Kui-ong! Rumah ini sudah dikepung ratusan prajurit! Menyerahlah dan bebaskan Sribaginda Kaisar!"
Kakek itu terkejut dan melompat keluar, lalu menjawab dengan suara nyaring: "Bebaskan dulu Hwa Hwa Hoat-su dan kawan-kawanku, baru Kaisar akan kubebaskan!"
Setelah berunding sejenak, suara dari luar kembali terdengar: "Dengar, Cui-beng Kui-ong! Jika engkau membebaskan Sribaginda Kaisar sekarang, kami berjanji akan melepaskan Hwa Hwa Hoat-su dan teman-temannya."
"Tidak! Harus kalian yang lebih dulu membebaskan mereka!" balas kakek itu.
"Syarat kami tidak dapat ditawar! Jika engkau mengganggu Sribaginda Kaisar, kami akan menyiksa semua temanmu sampai mati dan engkau akan kami hukum mati!"
"Ha-ha-ha! Aku akan membawa Kaisar keluar. Siapa yang berani menentang, akan kusaksikan sendiri Kaisar tewas di depan hidung kalian!"
Cui-beng Kui-ong kembali memasuki pintu rahasia untuk mengambil Kaisar sebagai sandera. Namun, saat ia menuruni tangga, Pangeran Bouw Ji Kong menghadangnya dengan pedang. Siang Lan, yang masih keracunan uap merah dan terluka akibat totokan beracun, hanya bisa menonton dengan perasaan khawatir.
"Jangan engkau berani menyentuh Sribaginda Kaisar! Aku siap membelanya dengan nyawaku untuk menebus dosa-dosaku!" seru Pangeran Bouw tegas.
"Pangeran tolol, engkau akan mampus lebih dulu!"
"Hyaaatt!" Pangeran Bouw menyerang dengan jurus Kankiam-hoat. Namun, ilmu pedangnya masih jauh di bawah sang datuk. Cui-beng Kui-ong dengan mudah mengelak dan menangkis. Tiba-tiba, kakek itu melontarkan tasbehnya. Benda itu berputar melayang di udara, menyerang kepala Pangeran Bouw. Saat sang Pangeran teralihkan, kakek itu meluncurkan sabuk merahnya hingga tepat mengenai tenggorokan Pangeran Bouw.
Pangeran Bouw roboh dan tewas seketika akibat totokan yang disertai hawa beracun. Sementara itu, Kaisar tetap duduk bersila dengan tenang, tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun. Siang Lan yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menahan napas, dadanya kian sesak oleh rasa nyeri yang hebat.