Chapter 74
Cu An menghela napas panjang. Ia lalu dengan terus terang menceritakan tentang pemberontakan ayahnya sampai akhirnya sang ayah berhasil ia bujuk untuk berbalik menjebak para sekutunya sehingga pemberontakan itu dapat dihancurkan.
“Aku merasa malu sekali, Moi-moi. Mengapa Ayah sampai melakukan pengkhianatan dan pemberontakan, padahal ia sudah mendapatkan kedudukan tinggi sebagai penasihat Kaisar dalam hubungan pemerintah dengan suku-suku asing dan luar negeri?”
Suasana menjadi hening setelah Cu An menceritakan keadaan ayahnya dengan panjang lebar. Ketika Li Ai memandang wajah pemuda itu yang kini tampak sedih sekali, ia merasa terharu dan berkata untuk menghibur.
“An-ko, sudahlah, jangan terlalu bersedih. Setidaknya ayahmu telah menyesal dan menyadari kesalahannya, bahkan memperlihatkan penyesalannya dengan membantu pemerintah menjebak para sekutu pemberontak sehingga dapat dihancurkan. Hal itu merupakan hiburan besar bagimu, Koko.”
“Benar memang, Moi-moi. Akan tetapi, apa artinya perbuatan Ayah kalau dibandingkan dengan dosa-dosanya? Dialah yang mendalangi terbunuhnya enam orang pembesar yang baik dan setia kepada Sri Baginda Kaisar. Ah, aku malu sekali, Moi-moi.”
“Sudahlah, An-ko. Setelah ayahmu berhasil membantu pemerintah menumpas pemberontak dan seperti yang kauceritakan tadi, engkau dan gurumu, Ouw-yang Sian-jin, membantu pula, mengapa sekarang engkau meninggalkan kota raja dan datang ke sini? Bukan aku tidak senang engkau datang berkunjung, akan tetapi kenapa Enci Siang Lan belum pulang?”
“Hwe-thian Mo-li tentu masih banyak urusan di sana dan aku sengaja datang ke sini untuk menemuimu, Ai-moi. Aku ingin menceritakan semua ini kepadamu dan sekalian mengucapkan selamat tinggal dan selamat berpisah untuk selamanya,” suaranya gemetar.
Mendengar ini, saking kagetnya, wajah Li Ai menjadi pucat dan tanpa disadarinya ia memegang lengan pemuda itu erat-erat sambil menatap wajahnya.
“Koko, mengapa engkau mengucapkan selamat tinggal? Apa maksudmu?” Gadis itu memandang dengan khawatir sekali.
Bouw Cu An diam sejenak, agaknya seperti mengumpulkan kekuatannya karena ia tenggelam dalam kesedihan. Kemudian dengan suara lirih dan gemetar ia berkata, “Moi-moi, aku sungguh malu sekali kepadamu. Engkau putri seorang pahlawan yang patriotik, sedangkan aku hanya anak seorang pengkhianat, seorang pemberontak.” Cu An bangkit berdiri dan memutar tubuhnya untuk menyembunyikan air matanya yang menitik turun ke atas pipi. “Aku tidak pantas berdekatan denganmu, tidak pantas menjadi sahabatmu, apalagi menjadi... ah, aku tidak boleh mencintaimu.”
Li Ai merasa terharu sekali. Ia maklum bahwa pemuda itu menangis dan hendak menyembunyikan tangisnya. Hal itu dapat ia ketahui dari suaranya dan pemuda itu mengangkat tangan ke muka, tentu untuk menghapus air matanya. Li Ai merasa terharu dan tanpa terasa ia pun mencucurkan air mata.
“Tidak, Koko. Mendiang Ayahku juga melakukan kesalahan! Ayahku juga pernah membebaskan tawanan.”
“Akan tetapi, beliau melakukannya untuk menyelamatkanmu dan telah ditebusnya dengan nyawanya. Sedangkan Ayahku, dia memberontak untuk mencari kedudukan dan untuk dirinya sendiri.”
“Akan tetapi, ayahmu juga sudah insaf dan membantu pemerintah membasmi para pemberontak.”
“Jangan membela Ayahku, Moi-moi. Aku merasa rendah dan hina sebagai anak pengkhianat yang akan selalu dikutuk. Aku tidak berhak dan tidak boleh mendekatimu. Engkau akan ikut tercemar, aku tidak layak menjadi...” Cu An tidak dapat melanjutkan, lalu menjatuhkan diri duduk di atas bangku dengan tubuh lemas dan menggunakan kedua tangannya untuk menutupi muka.
Li Ai tidak dapat menahan keharuan dan kesedihannya mendengar ucapan itu. Ia memegang lengan pemuda itu dan memaksanya berputar sehingga mereka saling berhadapan. Dengan air mata membasahi sepasang matanya dan mengalir menuruni pipinya yang agak pucat, Li Ai berkata, “Koko, jangan berkata begitu. Aku tetap menghormatimu karena engkau memang layak dihormati. Jangan bilang engkau tidak pantas. Akulah yang tidak pantas mendekatimu. Akulah gadis yang hina. Aku bukan perawan lagi!”
“Moi-moi!” Cu An berseru kaget.
“Benar, Koko. Dengarlah baik-baik, akulah yang tidak layak mendapat cintamu, tidak pantas mencintaimu. Aku sama sekali tidak berharga untuk menjadi sisihanmu. Aku adalah seorang gadis yang sudah ternoda. Aku telah diperkosa orang.”
Tiba-tiba Cu An bangkit berdiri, mukanya merah karena marah sehingga Li Ai merasa hancur hatinya karena ia mengira bahwa seperti juga Bong Kim dahulu, pemuda itu pun akan memandang rendah dan menghinanya. Maka, ia menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu.
“Siapa dia? Katakan, Ai-moi, siapa laki-laki yang melakukan perbuatan biadab itu? Cepat katakan, sekarang juga akan kuhancurkan kepalanya si jahanam terkutuk itu!”
Mendengar betapa pemuda itu marah kepada si pemerkosa dan tidak memandang rendah atau menghinanya, Li Ai menahan tangisnya dan berani memandang muka pemuda itu dengan muka pucat yang basah air mata, lalu berkata lirih diseling isak, “Mereka adalah dua orang Pek-lian-kauw, akan tetapi mereka sudah dibunuh oleh Enci Siang Lan.”
Cu An menarik napas panjang, tampak lega mendengar ini. “Aah, kalau begitu, dendam sakit hatimu telah terbalas impas, Ai-moi. Mengapa engkau masih juga bersedih?”
“Akan tetapi, aku sudah ternoda, terlalu hina untukmu, An-ko.”
“Uhh, siapa bilang? Engkau sama sekali tidak bersalah. Engkau dipaksa dan engkau sama sekali tidak hina bagiku!”
“Tapi, aku bukan perawan lagi,” Li Ai menangis.
Cu An bergerak maju dan merangkul gadis itu. Meledaklah tangis gadis itu sehingga terisak-isak dan ia tidak mampu bicara lagi. Cu An mendekap muka gadis itu ke dadanya sehingga air mata Li Ai membasahi dada bajunya, menembus baju, bahkan seolah menembus kulit dadanya dan menyejukkan hatinya.
“Li Ai, kaukira aku ini laki-laki macam apa? Aku bukan hanya mencintai keperawananmu. Aku sayang kamu, aku cinta kamu lahir batin, bukan hanya mencintai badanmu melainkan engkau seluruhnya. Engkau sama sekali tidak hina bagiku, engkau tetap bersih, tetap murni dan aku bahkan semakin mencintaimu. Li Ai, jawablah, maukah engkau menjadi teman hidupku selamanya, menjadi istriku, istri seorang anak pangeran pemberontak?”
“Koko Bouw Cu An!” Saking bahagia dan terharunya mendengar ucapan itu, Li Ai tiba-tiba terkulai dan cepat ia merangkul pinggang pemuda itu. Kalau Cu An tidak memeluknya erat, mungkin ia akan jatuh terguling. Ia hampir pingsan dan menjadi lemas dalam pelukan Cu An.
“Moi-moi, jangan khawatir, aku akan melindungimu dan menyayangimu selamanya,” bisik Cu An sambil mendekap kepala itu erat-erat seolah hendak memasukkan gadis itu ke dalam dirinya sehingga mereka tidak akan dapat saling berpisah lagi.
Cinta sejati memang indah karena cinta seperti ini merupakan kasih sayang yang murni, sebagai pijar dari api kasih yang datang dari Tuhan. Cinta kasih seperti ini bebas dari keinginan untuk menyenangkan diri sendiri. Semua diperuntukkan orang yang dikasihi, demi kebahagiaan orang yang dikasihi, dan cinta seperti ini baru dapat dirasakan kalau diri sendiri tidak diperbudak oleh nafsu dan kepentingan pribadi. Sebaliknya, cinta yang sepenuhnya didorong oleh nafsu hanya mementingkan diri sendiri. Kalau diri sendiri tidak lagi mendapat kesenangan dari orang yang dicintai, maka cinta itu akan berubah, lenyap, atau bahkan berbalik menjadi benci.