Chapter 75
Bukan berarti cinta sejati tidak mengenal nafsu berahi. Seperti nafsu-nafsu lain, nafsu berahi sudah ada pada setiap manusia yang sehat dan wajar. Bedanya, dalam cinta kasih sejati, nafsu berahi menjadi pelayan kita. Sebaliknya, dalam cinta nafsu, nafsu berahi menjadi majikan kita.
Cinta kasih yang ada dalam diri Bouw Cu An dan Kui Li Ai adalah contoh cinta sejati. Cinta seperti ini hanya dilandasi keinginan untuk saling membahagiakan.
Untuk waktu yang lama, mereka saling merangkul erat seolah telah menjadi satu, lupa akan tempat, waktu, bahkan diri sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara batuk seorang wanita. Suara itu cukup untuk menarik kedua orang yang sedang asyik-masyuk itu kembali sadar. Mereka menoleh dan melihat seorang wanita berdiri dengan sikap hormat dan ragu. Wanita itu adalah Bwe Kiok Hwa, kepala pembantu sekaligus murid tertua di Ban-hwa-kok yang berusia tiga puluh satu tahun.
Melihat Bwe Kiok Hwa, kedua orang muda itu saling melepaskan rangkulan, dan wajah keduanya memerah.
“Eh, Enci Bwe Kiok Hwa,” kata Li Ai.
Bwe Kiok Hwa tampak ragu dan sungkan. “Nona Kui Li Ai, saya kira engkau sudah tahu peraturannya.”
Li Ai mengangguk. “Aku tahu dan mengerti, Enci Kiok Hwa. Jangan khawatir, aku yang akan melaporkan kepada Enci Nyo Siang Lan kalau ia pulang.”
Bwe Kiok Hwa mengangguk. “Maaf, bukan maksud saya mengganggu.” Setelah memberi hormat kepada sepasang muda-mudi itu, ia pun pergi.
“Ai-moi, apa maksud ucapanmu tadi?” tanya Bouw Cu An.
“Begini, An-ko. Setelah Enci Siang Lan menjadi pemimpin Ban-hwa-pang yang anggotanya semua wanita dan tidak menikah, ia mengadakan peraturan bahwa siapa pun yang menikah harus keluar dari Ban-hwa-kok. Setiap anggota Ban-hwa-pang tidak boleh bergaul dengan pria jika bukan suami istri, dan pria yang berani mempermainkan anggota Ban-hwa-pang akan dibunuh. Tadi Enci Bwe Kiok Hwa memperingatkanku tentang peraturan itu. Akan tetapi, kita tidak perlu khawatir, bukan, An-ko?”
Cu An tersenyum dan memegang tangan kekasihnya. “Tentu saja tidak, Moi-moi. Kita berdua tidak main-main, dan aku akan memberitahu orang tuaku agar mengajukan pinangan secara resmi. Akan tetapi, karena ayah dan ibu kandungmu telah tiada, kepada siapakah orang tuaku harus mengajukan lamaran? Menurut ceritamu, tentu engkau tidak ingin orang tuaku melamar kepada ibu tirimu, bukan?”
“Aih, jangan! Aku tidak sudi dinikahkan oleh wanita berengsek itu! Kalau orang tuamu datang melamar, kuminta agar melamar kepada Enci Nyo Siang Lan, karena ialah yang kini menjadi waliku, kakak angkatku, sekaligus guruku.”
“Bagus, kalau begitu, aku akan menanti di sini sampai ia datang. Bolehkah aku bermalam di sini, Ai-moi?”
“Tentu saja boleh, An-ko, akan tetapi di kamar tersendiri, yaitu kamar tamu.”
“Tentu saja! Aku belum gila untuk minta sekamar denganmu, Moi-moi!”
“Aih, bukan begitu maksudku.” Li Ai tertawa senang karena kelakar itu menunjukkan penghormatan yang tersembunyi. “Sebetulnya ini melanggar peraturan, tetapi...”
“Kalau begitu, biar aku bermalam di kaki bukit saja, Ai-moi. Jangan sampai engkau dimarahi oleh Hwe-thian Mo-li!”
“Tidak, An-ko. Kalau aku membiarkanmu bermalam di kaki bukit, di tempat terbuka, aku malah pasti akan ditegur Enci Siang Lan. Engkau boleh bermalam di sini atas tanggunganku. Hanya saja, engkau tidak boleh keluar dari rumah induk; paling jauh engkau hanya boleh memasuki tempat ini.”
Cu An tersenyum. “Baiklah, aku akan menaati peraturan Ban-hwa-pang. Tidak apa dikurung dalam rumah asal setiap hari dapat melihatmu!”
Demikianlah, dengan hati berbunga-bunga, sepasang kekasih itu memasuki rumah induk dan Li Ai menyiapkan kamar tamu di bagian belakang untuk Bouw Cu An. Kepada Bwe Kiok Hwa dan para anggota Ban-hwa-pang lainnya, Li Ai mengaku terus terang bahwa pemuda itu adalah calon suaminya yang menanti kembalinya ketua mereka. Ia yang akan bertanggung jawab jika ketua mereka marah. Karena baik Li Ai maupun Cu An bersikap wajar, sopan, dan tidak memperlihatkan kemesraan secara mencolok, para anggota Ban-hwa-pang merasa tenang dan tetap menghormati mereka.
Kasih yang didasari satu keinginan, yaitu membahagiakan orang yang dikasihi, sungguh mendatangkan perasaan yang luar biasa. Melihat kebahagiaan terpancar pada sinar mata dan senyum di wajah kekasihnya membuat mereka merasa luar biasa senang. Karena itu, dengan hanya saling pandang tanpa sentuhan atau kata-kata mesra demi menjaga kesopanan, bagi mereka berdua itu sudah lebih dari cukup. Senyum di bibir sang kekasih seolah menambah keindahan segala sesuatu, menambah hangat sinar matahari, menambah harum bunga-bunga di taman, dan membuat hati mereka diliputi kebahagiaan yang tak terlukiskan.
Dua minggu kemudian, Siang Lan pulang. Ketika para anggota Ban-hwa-pang menyambut di lereng bukit, tak seorang pun berani memberitahu kehadiran Cu An yang sudah dua minggu menjadi tamu di rumah induk tersebut.
Ketika Siang Lan tiba di rumah dan disambut oleh Li Ai dan Cu An, ia terkejut karena mengenal pemuda itu sebagai murid Ouw-yang Sianjin dan putra Pangeran Bouw Ji Kong.
“Hei, bukankah engkau Bouw Cu An, putra Pangeran Bouw Ji Kong? Setelah pemberontakan padam berkat bantuan ayahmu, mengapa engkau menghilang dan kini tahu-tahu berada di sini?” Siang Lan bertanya dengan nada menegur, karena pemuda itu menjauhkan diri sehingga tidak mengetahui malapetaka yang menimpa keluarga ayahnya.
“Aku... aku ikut dengan Suhu Ouw-yang Sianjin,” kata Cu An, agak canggung mendengar teguran Hwe-thian Mo-li.
“Enci Siang Lan, sebelum engkau marah kepada Koko Bouw Cu An, sebaiknya aku mengaku bahwa ia sudah tinggal di sini selama dua minggu untuk menunggumu. Akulah yang bertanggung jawab dan memintanya tinggal di sini. Aku telah melanggar peraturan dan siap menerima hukuman.”
“Aih-aih, mengapa engkau senekat ini, Li Ai?” Siang Lan bertanya heran, karena setelah mengalami perkosaan dan dihina oleh Bong Kim, Li Ai seolah menjadi pembenci laki-laki.
“Karena... karena kami berdua, ah...” sukar bagi Li Ai untuk mengaku saling mencinta.
Melihat kekasihnya kebingungan, Cu An segera membantu. “Pang-cu,”
Siang Lan tidak merasa aneh dipanggil Pang-cu karena ia memang ketua Ban-hwa-pang.
“Terus terang saja, Adik Kui Li Ai dan aku saling mencinta dan merencanakan perjodohan. Karena menurut pengakuan Adik Li Ai, walinya adalah engkau, maka aku sengaja menanti engkau pulang agar setelah engkau setuju, aku akan meminta orang tuaku mengirim lamaran resmi.”
Siang Lan membelalakkan matanya, bukan karena marah, melainkan heran dan ragu. Ia memandang Li Ai yang menundukkan muka sambil tersenyum malu-malu.