Chapter 77
"Semoga kali ini engkau akan menang dan dapat membalas dendam kepada musuh besarmu, Siang Lan. Akan tetapi, apakah engkau tidak bisa memaafkan perbuatannya kepadamu itu?"
"Tidak mungkin, Paman! Jahanam itu telah merusak hidupku dan hanya kematiannya yang dapat mencuci bersih aib yang dijatuhkan kepadaku. Noda itu harus dicuci dengan darahnya!"
"Terserah kepadamu, Siang Lan. Sekarang, aku hendak mengucapkan selamat berpisah."
"Selamat berpisah?" Siang Lan terkejut dan menatap wajah Bubengcu dengan pandangan penuh selidik. "Apa maksudmu, Paman? Engkau hendak pergi ke mana?"
"Aku berada di sini hanya untuk memenuhi janjiku mengajarkan ilmu silat kepadamu, Siang Lan. Sekarang, semua ilmuku sudah kuajarkan, maka aku hendak pergi merantau."
"Ke manakah engkau hendak pergi, Paman?" tanya Siang Lan dengan gelisah.
"Ke mana?" Bubengcu menerawang ke arah langit. "Ke mana saja nasib membawa diriku."
Hening sejenak. Siang Lan merasa jantungnya berdebar. Ia ingin sekali menahan Bubengcu dan mengatakan apa yang berada di dalam hatinya, apa yang dirasakannya terhadap pria itu. Akan tetapi, ia menahan diri. Ia sudah mengambil keputusan untuk tidak membicarakan urusan itu sebelum ia dapat membunuh musuh besarnya, yaitu Tiante Moong.
Kalau hal itu belum terlaksana, dendamnya akan selalu menjadi penghalang kebahagiaannya. Tidak mungkin ia dapat hidup tenang dan bahagia apabila masih dihimpit dendam sakit hati yang teramat besar itu. Ia akan membunuh dulu musuh besarnya, barulah ia akan memikirkan hidup selanjutnya dan kebahagiaannya.
"Paman Bubengcu."
"Ya?"
"Paman, kuharap engkau jangan meninggalkan tempat ini dulu. Tunggu sampai tiga hari lagi! Berjanjilah padaku bahwa engkau tidak akan pergi sebelum aku bertemu dan bertanding melawan musuh besarku. Aku ingin Paman melihat hasil pertandingan itu, baik kalau aku menang dan berhasil membunuhnya atau sebaliknya aku mati di tangannya. Biarlah kalau aku sampai kalah, aku yang mengucapkan selamat tinggal padamu, Paman, bukan engkau yang meninggalkan aku." Ucapan itu keluar dari mulut Siang Lan dengan suara gemetar, mengandung keharuan dan kesedihan. Bubengcu dapat merasakan ini, ia pun menundukkan kepala, menghela napas panjang, dan menjawab.
"Baiklah, Siang Lan. Aku akan menunggu sampai engkau berhasil membalas dendammu."
Setelah meninggalkan Bubengcu, Siang Lan membuat persiapan di Banhuakok. Setiap hari ia tekun berlatih menghimpun tenaga saktinya untuk menjaga agar tubuhnya tetap dalam keadaan sehat dan siap. Ia yakin bahwa Tiante Moong pasti akan muncul.
Jahanam itu amat sakti sehingga jebakan-jebakan yang menghalangi orang luar naik ke puncak Banhuasan tidak akan mampu mengganggunya. Jahanam itu pasti akan muncul di Banhuakok seperti tahun-tahun yang lalu. Maka ia pun selalu siap siaga dan pedang Luikongkiam tidak pernah terpisah darinya.
Ia pun sudah berpesan kepada semua anggota Banhuapang agar jangan ada yang menyerang apabila musuh besar yang bertopeng itu muncul. Selain itu, ia tahu bahwa para anggota Banhuakok sama sekali bukan lawan Tiante Moong; menyerangnya sama dengan bunuh diri karena jahanam itu tentu dengan mudah akan mampu membunuh mereka semua. Lagi pula, ia memang tidak ingin orang lain mencampuri urusannya.
Bahkan kepada Bubengcu saja ia tidak mau minta bantuan untuk menghadapi musuh besar itu. Urusannya dengan Tiante Moong adalah urusan pribadi; orang lain tidak boleh mencampuri.
Para anggota Banhuapang juga mengetahui kesaktian musuh ketua mereka. Mereka tahu bahwa beberapa kali ketua mereka kalah melawan orang bertopeng itu. Maka, mereka maklum bahwa sewaktu-waktu musuh besar itu akan muncul; hati mereka semua diliputi ketegangan dan kekhawatiran. Apalagi ketika pagi hari tadi ketua mereka mengumpulkan mereka semua dan berkata dengan suara tegas.
"Dengarkan baik-baik kalian semua! Sekali lagi kutegaskan, kalau terjadi perkelahian antara aku dan musuh besarku, jangan ada di antara kalian yang mencampuri. Syukurlah kalau aku mampu merobohkan dan membunuh musuh besarku. Akan tetapi, seandainya terjadi sebaliknya, aku yang kalah dan tewas, maka Banhuapang harus dibubarkan. Kalian boleh membagi-bagi semua harta milik kita di antara kalian dan boleh hidup dan tinggal di mana pun sesuka kalian."
Demikianlah pesan ketua mereka dan tentu saja mereka menjadi gelisah karena pesan itu seolah merupakan pesan terakhir seseorang yang akan mati.
Malam itu, bulan purnama bersinar dengan indahnya karena udara bersih dan langit tidak tertutup awan. Siang Lan menanti sampai tengah malam, namun musuh besarnya tidak muncul. Ia lalu tidur untuk menyimpan tenaga karena merasa yakin bahwa besok pagi musuhnya tentu akan muncul.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi ia sudah mandi dan bertukar pakaian. Hari itu merupakan hari yang amat penting baginya, maka ia mengenakan pakaian baru yang indah walaupun ringkas dan ketat membungkus badannya agar ia dapat bergerak dengan leluasa. Rambutnya yang telah dicuci bersih itu disisir dan digelung rapi. Pedang Luikongkiam tergantung di punggungnya.
Ia tampak cantik jelita. Setelah rambutnya yang panjang ikal mayang itu digelung, anak rambut yang halus lembut melingkar dan berjuntai di kedua pelipis serta dahinya. Matanya bersinar-sinar penuh semangat. Tak seorang pun akan menyangka bahwa gadis ini sedang menghadapi perkelahian mati-matian menyabung nyawa melawan musuh yang amat sakti. Jika melihatnya seperti itu, ia lebih pantas sebagai seorang gadis yang menyongsong kedatangan kekasihnya; begitu cantik, rapi, dan penuh semangat.
Suasana di Banhuapang sunyi sekali. Padahal hari itu, tidak ada seorang pun anggota Banhuapang yang keluar dari perkampungan. Tidak ada yang bekerja seperti biasa. Mereka semua berkumpul, duduk di lapangan tempat berlatih tak jauh dari rumah induk, memandang ke arah halaman depan rumah itu dengan hati tegang.
Tak seorang pun mengeluarkan suara sehingga suasana menjadi sunyi. Bunyi yang ada hanya gemercik air di belakang perkampungan, desah angin membelai daun-daun pohon, dan ayam biang berkotek memanggil anak-anaknya. Bahkan burung-burung tidak berbunyi lagi karena mereka semua telah pergi menuju sawah ladang mencari makan.
Setelah sinar matahari mulai mengusir sisa kabut di puncak Banhuasan itu, sinarnya yang hangat seakan membangunkan bumi yang tidur semalam, menggugah ribuan bunga di lembah itu, datanglah orang yang dinanti-nanti oleh Siang Lan dan para anggota Banhuapang. Kedatangannya membuat para anggota Banhuapang merasa ngeri. Mula-mula berhembus angin, lalu disusul suara yang menggelegar.
"Hwethian Moli, aku datang!"
Sesosok bayangan berkelebat dan Tiante Moong sudah tampak di pekarangan depan rumah induk yang menjadi tempat tinggal Siang Lan. Pakaiannya yang dari kain kasar dan agak terlalu besar itu membuat tubuhnya tampak besar menyeramkan. Mukanya tertutup sebuah topeng dari kulit batang pohon, bentuknya seperti muka setan. Muka itu sama sekali tertutup dan yang tampak hanya sepasang mata mencorong yang sinarnya keluar dari lubang topeng tersebut.
Mendengar suara itu, Siang Lan melompat dari dalam rumah. Hanya tampak bayangan berkelebat dan gadis itu sudah berhadapan dengan musuh besarnya. Sepasang mata yang indah itu seolah menyinarkan api ketika ia menatap wajah bertopeng itu; topeng yang selalu muncul mengganggu dalam mimpi, topeng yang amat dibencinya.
"Tiante Moong, hari ini kalau tidak engkau, akulah yang menggeletak kehilangan nyawa. Aku tidak akan berhenti berkelahi sebelum salah seorang di antara kita mati!" Setelah berkata demikian, Siang Lan mengerahkan seluruh tenaga saktinya, menekuk kedua lututnya, dan mendorongkan ke arah lawan.
"Hyaaaattt!" Pukulan ini hebat sekali. Angin dahsyat menyambar ke arah Tiante Moong. Orang bertopeng itu menyambut dengan dorongan kedua tangannya pula.
"Wuuuuttt... Blaarrr!" Keduanya terpental ke belakang sejauh tiga langkah.
Ternyata tenaga mereka seimbang dan Siang Lan merasa girang sekali. Timbul semangatnya karena kini ia sudah mampu mengimbangi sinkang lawan yang dulu membuatnya kewalahan. Ia lalu mencabut Luikongkiam dan jiwa kependekarannya membuat ia menahan serangannya melihat lawan bertangan kosong.
"Cabut senjatamu! Aku tidak mau menyerang orang yang tak memegang senjata, tidak sudi menjadi pengecut macam engkau!" Siang Lan memaki, teringat betapa orang ini dulu memperkosanya selagi ia tidak berdaya.
Tiante Moong tidak menjawab, hanya tertawa bergelak, lalu tubuhnya melompat ke atas pohon. Terdengar suara dahan patah dan ketika dia turun, tangannya sudah memegang sebatang ranting pohon sebesar lengan dan panjangnya seperti sebatang pedang. Sekali dia menggetarkan ranting itu, daun-daunnya terlepas dan meluncur jauh. Hal ini saja sudah menunjukkan betapa dia mampu menyalurkan tenaga saktinya ke ranting itu sehingga daun-daun yang menempel terlepas dan bahkan terpental kuat.
Akan tetapi, Siang Lan tidak menjadi gentar. Setelah kini musuh besarnya memegang tongkat ranting pohon, ia mengeluarkan pekik melengking dan menyerang dengan dahsyatnya. Pedang Luikongkiam berubah menjadi sinar kilat menyambar ke arah dada lawan. Tiante Moong menggerakkan ranting itu menangkis.
"Trangg!" Pertemuan antara pedang pusaka dan pedang kayu itu menimbulkan suara nyaring seolah Luikongkiam bertemu dengan pedang lain yang sama ampuhnya. Kemudian terjadi perkelahian ilmu silat pedang yang amat hebat. Gerakan mereka sama gesitnya dan dalam ginkang (ilmu meringankan tubuh), mereka memiliki tingkat yang seimbang.
Juga agaknya sinkang (tenaga sakti) mereka tidak berselisih jauh; mungkin tenaga Tiante Moong lebih kuat sedikit, namun hampir tidak terasa oleh Siang Lan. Kini mereka mengadu ilmu silat dan dalam hal ini ternyata Siang Lan lebih untung.
Perlu diingat bahwa Hwethian Moli Nyo Siang Lan adalah murid terkasih dari Patjiu Kiamong (Dewa Pedang Lengan Delapan) Ong Hancu, dan Dewa Pedang yang kini telah tiada itu telah menurunkan semua ilmu pedangnya kepada Siang Lan yang amat dikasihinya. Maka, setelah kini Siang Lan mendapat gemblengan dari Bubengcu sehingga ginkang dan sinkangnya maju pesat, ilmu pedangnya menjadi semakin dahsyat.
Para anggota Banhuapang hanya berani menonton. Biarpun mereka merasa gelisah sekali dan tegang, mereka tidak berani mendekat, apalagi membantu ketua mereka. Kalau saja Siang Lan tidak memesan kepada mereka, tentu mereka sudah maju mengeroyok; mereka tidak takut kalau sampai roboh dan tewas. Mereka rela berkorban nyawa demi ketua yang mereka sayang dan hormati. Akan tetapi, Siang Lan telah melarang mereka sehingga kini mereka hanya berani menonton dari jauh dengan jantung berdebar-debar.
Perkelahian itu sudah berlangsung delapan puluh jurus lebih, akan tetapi belum juga ada yang terdesak. Mereka masih saling serang dan matahari mulai naik tinggi sehingga panasnya mulai menyengat; tubuh kedua orang yang bertanding mati-matian itu mulai basah oleh keringat.