Chapter 79 (Tamat)
"Kalau kita menjadi suami istri, maka tidak ada masalah lagi. Apalagi aku tidak dapat menyalahkanmu karena apa yang kaulakukan itu terjadi di luar kesadaranmu."
"Siang Lan, benarkah engkau bersedia menjadi jodohku?"
"Sudah lama aku mengharapkannya, Paman."
"Paman? Bagaimana mungkin seorang paman berjodoh dengan keponakannya? Jangan menyebutku paman, Lan-moi!"
"Kanda Sie Bun Liong, Liong-ko!"
Bu-beng-cu atau Sie Bun Liong mengangkat kedua lengannya merangkul. Siang Lan membalas dan kedua orang itu berangkulan. Mata mereka basah karena haru dan bahagia.
Cukup lama Siang Lan merebahkan kepalanya di dada Sie Bun Liong. Mereka tidak bicara karena kata-kata pada saat yang asyik masyuk seperti itu tidak ada gunanya lagi. Detak jantung masing-masing seolah telah bicara dalam seribu bahasa.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar. Mendengar ini, keduanya seperti tersentak sadar dari pesona yang membahagiakan hingga membuat mereka lupa segala hal. Siang Lan bangkit duduk dan ia cepat mencegah Sie Bun Liong yang hendak bangkit pula.
"Kau rebahlah saja di sini, Liong-ko. Biar aku yang melihat apa yang terjadi di luar." Setelah berkata demikian, dengan gerakan ringan dan cepat—seringan hatinya yang penuh bahagia—Siang Lan berkelebat keluar dari dalam kamarnya.
Setibanya di luar, Bwe Kiok Hwa menyambutnya sambil menyerahkan Lui-kong-kiam dengan sarung pedangnya. "Pang-cu, di luar ada seorang kakek mengamuk dan menantang Pang-cu!"
Siang Lan menerima pedangnya dan segera berkelebat keluar dari rumahnya. Di halaman rumah itu, ia melihat seorang kakek sedang dikeroyok puluhan orang anak buahnya. Kakek itu membawa sebatang tongkat ular, akan tetapi ia hanya mengebut-ngebutkan tangan kirinya ke sekeliling. Para anggota Ban-hwa-pang yang mengepung dan mengeroyoknya roboh berpelantingan seperti sekumpulan daun kering dihempas angin badai.
"Berhenti berkelahi! Kalian semua mundurlah!" Siang Lan memerintahkan anak buahnya.
Para wanita Ban-hwa-pang itu pun menjauhkan diri, saling menolong dengan mereka yang tadi terbanting roboh. Melihat tidak ada di antara mereka yang tewas atau terluka parah, dapat diketahui bahwa kakek itu bukan seorang yang ganas dan kejam. Siang Lan cepat melompat dan berdiri berhadapan dengan kakek itu.
Kakek itu tentu sudah sekitar tujuh puluh tahun usianya. Rambut, jenggot, dan kumisnya sudah putih semua. Rambutnya digelung ke atas dan diikat kain. Baju di dadanya bergambar simbol Im-Yang. Pakaiannya gaun panjang berwarna putih dengan sabuk merah dan berlengan panjang. Di bagian luarnya, ia memakai jubah kebiruan dengan renda kuning emas di tepinya. Pakaian yang cukup mewah bagi seorang pertapa atau pendeta. Matanya mencorong tajam dan tangan kanannya memegang sebuah tongkat ular kering.
Kakek itu pun memandang dengan penuh perhatian. Gadis yang muncul di depannya sungguh cantik. Wajahnya kemerahan dan sepasang matanya masih agak sembab oleh tangis.
Hidungnya kecil mancung dan bibirnya merah sekali, juga sebagai akibat tangisnya tadi. Kedua pipinya kemerahan. Rambut hitam panjang itu digelung ke atas dan diikat dengan pita sutra merah. Baju dan celananya dari sutra putih, serta jubahnya berwarna biru dengan ikat pinggang kuning. Gadis cantik jelita itu memegang sebuah pedang bersarung di tangan kirinya dan memandang kepadanya dengan alis berkerut.
"Hemm, kulihat engkau orang tua berpakaian sebagai seorang pendeta. Mengapa seorang pendeta yang sepatutnya hidup bersih kini datang membuat kekacauan di perkumpulan wanita Ban-hwa-pang? Siapakah engkau?" tanya Siang Lan, tidak begitu galak karena ia melihat bahwa tidak ada anak buahnya yang terluka parah atau tewas.
Kakek itu tersenyum lebar. "Heh-heh, pinto adalah Im Yang Hoat-su. Pinto datang hendak mencari Hwe-thian Mo-li, akan tetapi anak-anak perempuan tadi menghalangi pinto!"
"Akulah Hwe-thian Mo-li! Im Yang Hoat-su, ada keperluan apakah engkau mencariku?"
"Bagus! Kiranya Hwe-thian Mo-li adalah seorang gadis cantik yang masih muda. Sungguh mengherankan bagaimana sahabatku Cui-beng Kui-ong dapat terbunuh oleh seorang anak perempuan sepertimu?"
"Hemm, kiranya engkau sahabat Si Jahat Cui-beng Kui-ong? Jadi kedatanganmu ini hendak membalaskan kematiannya?" Siang Lan bertanya dengan suara menantang.
"Hemm, kiranya tidak pantas kalau pinto seorang tua menantang engkau yang sepatutnya menjadi cucuku. Akan tetapi karena pinto adalah sahabat baik Cui-beng Kui-ong dan karena engkau telah membunuhnya, pinto tentu akan dikecam dunia kang-ouw kalau tidak membela kematian sahabatku yang tewas di tangan seorang gadis muda."
"Im Yang Hoat-su, sahabat dari Cui-beng Kui-ong yang jahat sudah tentu bukan manusia baik-baik. Sambut pedangku!" Siang Lan mencabut Lui-kong-kiam dengan tangan kanannya, lalu ia maju menyerang kakek itu dengan sarung pedang di tangan kiri dan pedang Lui-kong-kiam di tangan kanan. Serangannya hebat sekali karena sarung pedang itu pun bukan benda lemah, apalagi digerakkan dengan tangan kiri yang mengandung tenaga sakti.
Ketika sarung pedang itu menyambar ke arah dadanya, kakek itu mundur dan memiringkan tubuhnya sambil mengangkat tongkat ular kering lurus di belakang lengan kanannya ke atas.
"Trakk!" Tongkat ular kering itu menangkis sarung pedang. Akan tetapi, Siang Lan dengan cepat menusukkan Lui-kong-kiam ke lambung kanan lawan.
"Wuuutt... tranggg!" Kembali tongkat ular menangkis pedang. Tangkisan itu membuat tangan Siang Lan tergetar dan dari pertemuan tongkat dan pedang tampak bunga api berpijar.
Mereka segera bertanding, saling serang dengan dahsyat. Kakek itu ternyata lihai bukan main. Sebetulnya Siang Lan tidak kalah lihai, akan tetapi karena gadis itu baru saja menghamburkan banyak tenaga sakti untuk mengobati Sie Bun Liong, maka ia menjadi jauh lebih lemah daripada biasanya. Ia segera terdesak ketika Im Yang Hoat-su memainkan tongkatnya secara dahsyat.
Pada saat itu terdengar bentakan dari depan rumah yang menggelegar dan menggetarkan tempat itu.
"Im Yang Hoat-su! Apa yang kaulakukan di sini?"
Kakek itu terkejut dan cepat melompat ke belakang. Siang Lan juga kaget dan khawatir melihat Sie Bun Liong yang ia tahu masih lemah itu telah keluar dari rumah. Im Yang Hoat-su kini memandang kepada Sie Bun Liong dan ia terbelalak.
"Thai-lek-sian Sie Bun Liong! Engkau di sini? Aku... aku menantang bertanding Hwe-thian Mo-li karena ia telah membunuh sahabatku Cui-beng Kui-ong!"
"Kalau engkau membela Cui-beng Kui-ong, berarti engkau membela penjahat besar!"
"Dia bukan penjahat. Dia hanya berusaha untuk membebaskan para sahabatnya yang ditawan di kota raja."
"Ya, dan dia menculik Sri Baginda Kaisar, bahkan hendak membunuh beliau!"
"Ahh!" Im Yang Hoat-su terkejut sekali mendengar ini.
"Pula, bukan Hwe-thian Mo-li yang membunuhnya, melainkan aku! Akulah yang membunuh Cui-beng Kui-ong untuk melindungi Sri Baginda Kaisar! Nah, engkau hendak menuntut balas? Tuntutlah aku!"
Hati Im Yang Hoat-su menjadi gentar. Ia sudah mengenal Thai-lek-sian dan tahu benar akan kelihaian pendekar ini. Tadi, melawan Hwe-thian Mo-li saja ia sudah menemukan lawan seimbang. Kalau kini Thai-lek-sian maju, berarti ia mencari penyakit atau bahkan kematiannya sendiri. Apalagi ia tadi mendengar bahwa Cui-beng Kui-ong menculik dan hendak membunuh Kaisar; ini merupakan dosa tak berampun, dan yang membunuhnya adalah Thai-lek-sian.
"Aih, kalau begitu persoalannya, sudahlah, pinto tidak akan menimbulkan permusuhan. Akan tetapi, Thai-lek-sian, mengapa engkau mati-matian membela Hwe-thian Mo-li? Apamu gadis ini?"
Sie Bun Liong tersenyum. "Engkau ingin mengetahui, Im Yang Hoat-su? Perkenalkan, ini adalah Nyo Siang Lan, calon istriku!"
Sambil berkata demikian, dengan tangan kirinya Sie Bun Liong merangkul pundak Siang Lan yang berdiri di sebelah kirinya. Siang Lan juga tersenyum penuh kebahagiaan.
"Ah, begitukah? Kalau begitu, kiong-hi untuk kalian berdua! Pinto mohon pamit!" Tosu itu lalu berlari cepat menuruni puncak Bukit Selaksa Bunga. Dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan, Nyo Siang Lan dan Sie Bun Liong bergandeng tangan memasuki rumah induk, tempat Sie Bun Liong tinggal selama beberapa hari dalam perawatan Siang Lan sampai ia sembuh benar dan tenaganya pulih kembali.
Beberapa bulan kemudian, sepasang kekasih ini melangsungkan pernikahannya di Lembah Selaksa Bunga dengan mengundang semua kenalan para pendekar. Bahkan Panglima Chang sendiri menghadiri perayaan pernikahan itu. Selama perayaan, semua jebakan yang menghalangi orang naik ke puncak bukit disingkirkan.
Ban-hwa-kok yang indah dan penuh bunga itu dikagumi semua tamu, dan nama Ban-hwa-pang menjadi semakin terkenal. Apalagi setelah menjadi suami istri, Sie Bun Liong dan Nyo Siang Lan memperbesar Ban-hwa-pang yang menjadi perkumpulan besar; bukan hanya mempunyai anak buah kaum wanita, tetapi juga kaum pria. Ban-hwa-pang menjadi sebuah perkumpulan besar dan terkenal karena para anggotanya mendapat pendidikan silat yang khas dari suami istri itu.