Halo!

Maling Budiman Berpedang Perak - Chapter 11

Memuat...
Maling Budiman Berpedang Perak

Chapter 11

Melihat kenekatan mereka, Tan Hong merasa marah. "Baik, kalian mencari celaka sendiri!"

Tiba-tiba, terlihat sinar berkilauan. Pemuda itu telah memegang sebilah pedang berwarna putih seluruhnya. Sekali putaran pedangnya, ketiga senjata musuhnya berhasil ditangkis.

"Kau... kau Gin-kiam Gi-to?" ujar Ban Kok setelah melihat pedang itu.

"Matamu awas juga, orang marga Ban!" jawab Tan Hong sambil memutar pedangnya untuk menyerang balik. Mendengar nama itu, ketiga Seng-koan Sam-eng mendadak gentar. Permainan pedang mereka menjadi kacau balau. Apalagi ketika Tan Hong mengubah gerakannya dari bertahan menjadi menyerang ganas dengan tipuan berbahaya, ketiga pengeroyok itu terdesak dan terkurung oleh sinar pedang Tan Hong.

Pada saat yang tepat, Tan Hong berseru, "Lepaskan pedangmu!" Terdengar jerit kesakitan dari ketiga pengeroyok, disusul terlepasnya pedang mereka dari genggaman. Lengan kanan mereka terluka oleh goresan pedang yang memanjang dari siku hingga tangan. Luka ini, meskipun tidak berbahaya, mengiris kulit hingga darah mengalir banyak.

"Seng-koan Sam-eng, biarlah ini menjadi pelajaran bagi kalian bertiga! Lain kali jika kalian bertiga masih menggunakan kepandaian untuk memeras dan korupsi berkedok panitia, akan kutujukan pedangku ini ke lehermu!" Setelah memberi peringatan kepada ketiga jagoan yang kini tak berdaya, Tan Hong beralih menghadapi para hartawan yang duduk dengan mata terbelalak heran. Ia lalu berkata kepada seluruh penonton, "Saudara-saudara sekalian! Daerahmu ini sedang dilanda banjir yang menyebabkan bahaya kelaparan di kalangan penduduk miskin. Sepatutnyalah jika kalian mengulurkan tangan membantu meringankan penderitaan mereka. Kalian harus sadar bahwa gandum dan beras yang tiap hari masuk ke perut kita, yang membuat kita tetap hidup, adalah hasil jerih payah dan keringat para petani yang justru kini menjadi korban banjir! Bayangkan, kita di sini makan enak sekenyang-kenyangnya, gandum dan beras kita bertumpuk-tumpuk di gudang hingga membusuk, sedangkan mereka yang menanamnya kini menderita kelaparan! Apakah ini adil? Memang kalian berhak atas semua bahan makanan itu yang telah dibeli, tetapi ingatlah, andaikata para petani mati kelaparan hingga tak ada lagi yang akan menggarap sawah ladang, apa yang harus kita lakukan kelak? Apakah kalian, terutama para hartawan, bisa menggarap sawah ladang itu? Maka, pergunakanlah kesempatan ini untuk membalas jasa para petani. Ayo, siapa yang hendak menyumbang lagi?"

Orang-orang menyambut ucapan ini dengan riuh gembira. Banyak yang menyumbang dengan sukarela. Tan Hong mengumpulkan semua sumbangan itu. Jumlah gandum yang terkumpul menjadi lebih dari tiga ribu karung. Semua bahan makanan dan uang kemudian diangkut dengan gerobak yang ada di kota, yang dikerahkan khusus untuk pengangkutan ini.

Gerobak-gerobak itu berangkat menuju daerah banjir, diikuti oleh Tan Hong dan orang-orang yang berminat, kebanyakan dari mereka yang telah menyumbang. Seng-koan Sam-eng, dengan lengan terbalut, juga ikut mengantar.

Para korban banjir yang tinggal berkelompok di gubuk-gubuk kecil pinggir sawah menerima kedatangan para penolong dengan sangat girang. Gandum dibagi rata, dan semua korban banjir menerima sumbangan gandum dan uang. Orang-orang terharu melihat wajah para korban banjir yang menerima sumbangan itu dengan air mata berlinang. Bahan makanan yang mereka terima hari itu benar-benar menjadi penyelamat keluarga mereka. Mereka pun heran, karena sumbangan ini diberikan dengan sukarela, tanpa syarat seperti yang biasa berlaku dari orang kaya kepada mereka. Akhirnya, para korban banjir mengetahui bahwa semua ini berkat sepak terjang Gin-kiam Gi-to. Bersama-sama, mereka lalu berlutut di depan Tan Hong.

Akan tetapi, Tan Hong menolak kehormatan itu. Ia berkata, "Saudara-saudara sekalian! Jangan berterima kasih kepadaku, karena aku tidak memberi apa-apa kepada kalian. Berterima kasihlah kepada para dermawan dari Seng-koan, dan juga kepada Seng-koan Sam-eng, karena semenjak hari ini ketiga orang ini akan benar-benar menolong saudara sekalian dengan jujur dan adil!" Mendengar ucapan pemuda yang tahu diri ini, semua orang dari Seng-koan terharu. Seng-koan Sam-eng sendiri merasa seolah wajah mereka ditampar hebat, dan mereka insyaf akan kekeliruan mereka. Mereka telah menyombongkan diri sebagai jagoan tak terkalahkan, sama sekali tidak ingat bahwa di dunia ini tidak ada yang terpandai dan segala kepandaian pasti ada yang melebihi. Diam-diam mereka berjanji dalam hati untuk mengubah tabiat mereka.

Pembagian gandum dan uang berlangsung sehari penuh, mengingat luasnya daerah yang dilanda banjir. Setelah semua tempat dikunjungi dan gandum serta uang telah habis dibagikan, Tan Hong berkata kepada semua orang, "Saudara sekalian. Sekarang, setelah kalian melihat sendiri cara pembagian yang adil, jujur, dan tanpa syarat, saya percaya bahwa lain kali Panitia Penolong Korban Banjir akan dapat bekerja lebih aktif dan jujur. Apabila terdapat kecurangan, saya akan kembali dan memberi pelajaran kepada yang bersalah! Akan tetapi, saya percaya penuh kepada Seng-koan Sam-eng yang tentu akan menjaga agar hal seperti ini tidak terjadi lagi, bukan?"

"Kami akan menjaga, Taihiap!" kata Ban Kok dengan terharu.

Setelah itu, Tan Hong meninggalkan Seng-koan, diiringi pandangan kagum seluruh penduduk.

***

Ketika Tan Hong melanjutkan perjalanannya memasuki sebuah rimba belantara, ia berjalan perlahan sambil termenung. Bayangan Nona Lo Siok Lan, yang selama ini tak pernah lepas dari benaknya, kini sangat mempengaruhi pikirannya. Kesunyian di dalam hutan yang luas itu membuatnya semakin teringat pada Siok Lan. Perasaannya seolah-olah melihat wajah Siok Lan yang sebenarnya muncul di mana-mana, di setiap tempat yang dilaluinya. Tiba-tiba, wajah jelita dan gagah itu terbayang di sela-sela daun hijau dan di antara bunga-bunga merah.

"Ah, aku sudah gila!" Tan Hong bergumam pada dirinya di bawah sebatang pohon untuk beristirahat. Akan tetapi, semakin celaka, setelah ia berhenti dan duduk, bayangan Siok Lan semakin jelas terlihat dan semakin hebat menggoda pikirannya. Ia pun melompat bangun dan melanjutkan perjalanannya.

Tiba-tiba kedua matanya terbelalak, hatinya berdebar kegirangan dan penuh harapan ketika ia menujukan pandangannya ke arah gerombolan pohon. Di sana muncul tubuh seorang wanita dengan pedang di tangan. Sesaat, wajah wanita itu dalam pandangan Tan Hong tampak seperti wajah Siok Lan, lalu berubah menjadi wajah seorang wanita berusia tiga puluh tahun lebih yang sedang berduka. Dari wajahnya yang muram, dapat ditebak bahwa ia dalam kesusahan.

Akan tetapi, ketika wanita itu melihat Tan Hong, wajahnya berubah menjadi bengis. Sekali melompat, ia telah berada di depan Tan Hong dan membentak, "Sobat, berhenti dulu!"

Tan Hong terperanjat. Melihat gerakan wanita itu, ia tahu bahwa wanita itu memiliki kepandaian yang cukup baik. Ia memandang wanita itu dengan kagum, lalu bertanya, "Apa perlu Nyonya menahan perjalananku?" Wanita itu memandang pakaian Tan Hong. Ketika melihat bahwa Tan Hong tidak membawa bungkusan pakaian atau barang lain, jelas terlihat perubahan pada mukanya yang menunjukkan kekecewaan. Kemudian, setelah ia melihat gagang pedang perak yang menyembul keluar di belakang punggung Tan Hong, ia berkata, "Anak muda, jika kau ingin melanjutkan perjalananmu dengan selamat, serahkan pedangmu kepadaku!"

"Eh, mengapa begitu? Pedang ini adalah senjata untuk melindungi diri jika aku diserang binatang buas di hutan. Kalau pedang ini kau minta, dengan apa aku bisa melindungi diri lagi?"

Mendengar jawaban ini, wanita itu memandang Tan Hong dengan tajam. "Jika kau perlu senjata, pakailah pedangku ini, dan sebagai gantinya pedangmu harus kau berikan kepadaku, mengerti!"

Tan Hong memandang pedang wanita itu. Ternyata pedang itu berkarat dan buruk sekali, seolah sering digunakan untuk membelah kayu. Tanpa disadarinya, Tan Hong tertawa geli.

"Eh, eh, Nyonya, kau sedang bermain-main atau benar-benar hendak merampok?"

"Jangan banyak bicara!" hardiknya. "Kau serahkan pedang itu atau tidak!" Sambil berkata demikian, wanita itu mengancam dengan ujung pedangnya yang tumpul.

"Bagaimana jika aku tidak mau memberikannya?"

"Akan kupaksa!" kata wanita itu, lalu maju menyerang dengan pedang tumpulnya. Akan tetapi, serangan ini membuat Tan Hong hampir berseru terkejut karena pedang tumpul itu menyerang tepat ke arah jalan darahnya! Ah, tak disangkanya bahwa wanita ini adalah ahli tiam-hwat (ilmu menotok jalan darah). Ia segera mengelak dengan cepat. Serangan kedua dan ketiga menyusul cepat, semuanya tertuju ke arah jalan darah yang berbahaya.

"Hebat benar!" Tan Hong memuji. Ia pun segera mencabut pedangnya untuk mempertahankan diri karena ternyata wanita ini sungguh tangguh. Segera mereka bertempur dengan seru. Tan Hong bersilat dengan hati-hati dan penuh cermat. Ia kagum melihat ilmu pedang wanita ini benar-benar hebat, lebih tinggi daripada ilmu kepandaian Seng-koan Sam-eng. Ia melawan dengan hati-hati dan waspada. Ia masih belum bisa menduga mengapa wanita ini sangat ingin memiliki pedangnya. Sebaliknya, ketika melihat bahwa pemuda ini bukan lawan yang mudah, wanita ini terlihat sangat kesal dan menyerang kembali dengan nekat. Seolah-olah ia telah terlanjur berbuat suatu kesalahan yang tak mungkin dimaafkan lagi.

Melihat kenekatan wanita ini, Tan Hong lalu menunjukkan kepandaiannya, berkelahi menggunakan ilmu pedang Ngo-heng Lian-hoan Kiam-hwat yang memiliki gerakan luar biasa. Sebentar saja wanita ini sudah sangat terdesak oleh serangan Tan Hong yang bertubi-tubi, hingga akhirnya pedang tumpulnya terlempar jauh dari genggamannya. Untung tubuh wanita ini tidak cedera atau terluka oleh pedang Tan Hong.

Anehnya, setelah menderita kekalahan, wanita itu tiba-tiba menjatuhkan diri duduk di atas tanah sambil menangis tersedu-sedu.

Tan Hong mengerutkan alisnya dan menyimpan pedangnya. "Nyonya, kau sangat aneh. Kepandaian dan kiam-hoat (ilmu pedang) mu cukup tinggi, akan tetapi mengapa kau ingin merampas pedangku? Apakah kau suka kepada pedangku ini?"

Mendengar suara Tan Hong yang sopan dan lemah lembut, wanita ini mengangkat mukanya lalu memandang. "Eng-hiong, aku... aku tadi memang sengaja hendak merampas pedangmu."

"Mengapa demikian?"

Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Bukan karena aku suka pedang orang lain, tetapi aku tertarik karena yang kau miliki adalah pedang berharga yang gagangnya terbuat dari perak!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment