Halo!

Maling Budiman Berpedang Perak - Chapter 04

Memuat...
Maling Budiman Berpedang Perak

Chapter 04

Malam itu, Tan Hong kembali berhasil mendapatkan dua kantong penuh uang perak yang langsung dibagikan secara diam-diam kepada orang-orang miskin yang tinggal di gubuk tua. Untuk kesekian kalinya, satu orang merasa marah dan menyesal karena kehilangan banyak uang, sementara puluhan lainnya mengucap syukur kepada Tuhan karena mendapat rezeki tak terduga.

Setelah menyelesaikan tugasnya, Tan Hong kembali ke kuil tempat persembunyiannya untuk beristirahat. Ia tidak menyangka tempat itu telah diketahui para penyelidik. Seperti biasa, setelah membuka kedoknya, ia tidur nyenyak di atas lantai.

Matahari telah meninggi, sinarnya masuk dari jendela dan perlahan naik hingga mengenai wajah Tan Hong. Panas matahari menyengat kulitnya hingga pemuda itu terjaga dari tidur. Ia membuka mata perlahan dan terkejut melihat orang-orang lain berdiri mengelilinginya dengan pandangan tajam. Mereka adalah To Tek Hosiang, Lim-piauwsu, dan para pembesar kota Wi-ciu lainnya.

Mereka telah mengurung kuil rusak itu sejak tadi, namun karena Tan Hong tidak muncul, mereka mendekat dan menemukannya sedang tertidur pulas di lantai.

Para penjaga kota hendak maju menangkap, tetapi To Tek Hosiang dan Lim-piauwsu mencegah mereka. Keduanya merasa heran dan terharu melihat keadaan Tan Hong. Di luar dugaan, maling besar yang setiap malam membawa pulang dua kantong uang perak seberat lebih dari lima ratus tail, kini terbaring tidur di lantai dengan sangat sederhana, bahkan menyedihkan. Ia tidak memiliki bantal. Pakaian hitamnya sudah usang dan banyak tambalan. Maling Budiman ini tidak memiliki bungkusan pakaian atau barang lain, kecuali pedangnya yang terselip di pinggang. Keadaannya mirip pengemis atau orang terlantar. Tubuhnya kurus, dan wajahnya yang tampan dihiasi garis-garis yang menunjukkan penderitaan hidup.

Keadaan ini meragukan hati To Tek Hosiang. Sebenarnya, mudah baginya dan kawan-kawan untuk menangkap dan mengikat maling yang tertidur itu. Namun, tiba-tiba muncul rasa kasihan di hatinya dan ia merasa malu untuk menyerang seseorang yang sedang tidur nyenyak.

Sebaliknya, melihat dirinya terkepung, Tan Hong tidak gugup atau bingung. Ia menggeliat, menguap, lalu menatap wajah To Tek Hosiang dengan tajam sambil tersenyum. Namun, senyumnya seperti biasa, tidak menunjukkan kegembiraan.

“Hwesio, mengapa kau tidak segera menangkapku saat aku masih tidur tadi? Sekarang setelah aku bangun, belum tentu kalian bisa menawanku. Bukankah itu sayang sekali?” Tiba-tiba ia menyambar pedangnya, melompat berdiri, dan menghadapi mereka dengan wajah tenang dan tabah.

“Anak muda, kau masih begitu muda dan memiliki kepandaian lumayan. Mengapa kau tersesat dan menjadi seorang siauw-jin (orang rendah)? Dan mengapa kau tadi malam begitu pengecut, tidak sesuai dengan sikapmu yang pemberani sekarang?”

“Hwesio, dengarlah. Aku tidak tahu apa arti siauw-jin dan apa arti kuncu (orang budiman) di zaman seburuk ini! Jika kau dan semua orang ingin menyebutku siauw-jin, biarlah, aku tidak merasa dirugikan. Dan kau menganggapku pengecut karena tadi malam aku tidak berani menghadapimu dan tidak melawan, bahkan terus melarikan diri? Inilah sebabnya; pertama-tama, aku memegang teguh dan memenuhi peraturan yang telah ada sejak dunia berkembang, bahwa seorang maling atau pencuri adalah pengambil barang orang lain tanpa diketahui oleh orang itu. Seorang pencuri bukanlah perampok yang menggunakan kekerasan. Pencuri hanya membela diri dan selalu mencari kesempatan pertama untuk melarikan diri, karena keperluanku hanya mengambil barang, bukan bertempur. Ini sebab pertama. Dan sebab kedua adalah karena kalian bukan musuh-musuhku dan tidak pernah bermusuhan denganku, maka aku tidak ingin bertempur dengan kalian!”

To Tek Hosiang menggeleng-gelengkan kepala. “Kau bicara seenaknya saja. Bukankah kau yang disebut Gin-kiam Gi-to?”

Tan Hong mengangguk. “Itulah gelar yang diberikan orang kepadaku.”

“Nah, sekarang dengarkanlah nasehatku dan turutlah demi kebaikanmu sendiri. Kami tidak akan mengganggumu dan akan melupakan segala perbuatanmu yang telah mengacau kota kami, asal saja kau berjanji mulai hari ini kau tidak akan mencuri lagi.”

Tiba-tiba sepasang mata Tan Hong, yang biasanya memancarkan pandangan acuh tak acuh, berkedip tajam penuh amarah. “Hwesio! Siapakah kau berani melarang dan menentukan jalan hidupku? Hak apa yang kau miliki sehingga berani melarangku mencuri?”

“Pinceng bukan orang luar biasa, hanya seorang hwesio sederhana bernama To Tek Hosiang yang mengepalai kuil di Wi-ciu. Namun, pinceng berhak memberi nasihat kepada setiap orang yang tersesat, sesuai dengan kedudukan pinceng sebagai seorang pemeluk agama. Berjanjilah, dan kami semua akan mengampunimu. Jika tidak, terpaksa kami akan menangkapmu dan menyerahkan kepada yang berwajib.”

“To Tek Hosiang berkata benar, dan sudah sepantasnya jika kau mendengar nasihatnya,” kata Lim-piauwsu dengan suara halus. “Aku adalah seorang piauwsu yang telah banyak bertemu dan berkenalan dengan tokoh-tokoh liok-lim, maka aku merasa sangat sayang jika seorang muda sepertimu menjadi seorang maling.”

Tan Hong mendengus ejekan. “Hm, hm, kata-kata usang membosankan! Kalian semua mengasihaniku, tanpa sebab tertentu menaruh perhatian besar pada nasibku, tetapi lihatlah!” Jari telunjuknya menuding ke arah jauh. “Lihatlah mereka itu, rakyat miskin yang mati kelaparan, yang telanjang kedinginan! Mengapa kalian tidak menggunakan rasa kasihan yang kalian tunjukkan kepadaku itu kepada mereka? Kalian berpura-pura baik dengan memberi nasihat indah kepadaku, tetapi pernahkah kalian memikirkan nasib mereka yang terlantar, nasib para jembel yang berkeliaran ke sana kemari tanpa makan dan tanpa pakaian di luar kulit? Siapa yang sudi menerima nasihatmu? Aku tetap hendak menjadi pencuri, apa yang bisa kalian lakukan?”

Mendengar ucapan sombong ini, semua penjaga keamanan menjadi marah. Tiga orang muda dengan pedang di tangan maju menyerbu, tetapi hanya dengan menggerakkan kedua tangan dan kaki kirinya saja, sudah cukup membuat ketiganya terlempar!

“Mundur semua, biar aku menangkap Gin-kiam Gi-to!” teriak To Tek Hosiang.

“Tunggu dulu, losuhu, biar aku mencoba kepandaiannya dulu,” kata Lim-piauwsu yang merasa kagum melihat gerakan Tan Hong dan timbul keinginannya untuk menguji.

“Boleh, boleh, majulah!” Tan Hong menantang. “Siapa saja yang hendak menangkapku, majulah! Tapi ingat dan camkanlah bahwa bukan aku yang menghendaki permusuhan. Aku Tan Hong hanya bertempur melawan kalian! Ayo, siapa yang hendak menonjolkan kepandaian, majulah!”

Melihat sikap dan ucapan anak muda yang gagah dan berani itu, semua orang tertegun dan ragu. Hanya Lim-piauwsu dan To Tek Hosiang yang memiliki keinginan untuk mencoba kepandaian Maling Budiman ini dan kalau mungkin menangkapnya.

Lim-piauwsu melangkah maju. Mengingat pekerjaannya sebagai pengantar dan pengawal barang berharga yang dipercayakan di bawah penjagaannya, ia selalu berhati-hati dalam menghadapi tokoh dari golongan perampok maupun pencuri, dan tidak ingin menanam bibit permusuhan yang hanya akan menimbulkan kesukaran dan rintangan bagi perusahaannya. Oleh karena itu, dalam menghadapi Tan Hong, ia sengaja tidak mengeluarkan senjatanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment