Halo!

Maling Budiman Berpedang Perak - Chapter 02

Memuat...
Maling Budiman Berpedang Perak

Chapter 02

Amukan alam yang memperlihatkan kekuasaannya ini sangat dirasakan oleh penduduk dusun Giam-hok-ceng. Meskipun dusun itu terletak agak tinggi sehingga rumah-rumah mereka tidak sampai terbawa hanyut, semua sawah ladang telah habis tergenang air, membentuk danau yang lebar dan luas mengerikan. Persediaan makanan telah habis dan setiap hari pasti ada orang yang mati kelaparan. Jerit tangis terdengar di mana-mana dan keluh kesah menjulang setinggi langit, membawa rasa kecewa, membuat manusia-manusia mulai menuduh bahwa Tuhan tidak adil!

Di dalam sebuah gubuk yang tidak pantas lagi disebut rumah, lebih cocok disebut kandang manusia, dua tubuh laki-laki dan wanita yang hanya berupa kerangka terbungkus kulit belaka, terbaring bersisian di atas tikar buruk. Keduanya adalah suami istri bermarga Tan yang telah menjadi mayat, korban kelaparan! Di dekat kedua mayat itu, seorang anak laki-laki berusia lima tahun menangis terisak-isak. Suara tangisnya sudah hampir habis, tenggorokannya kering dan sakit karena sejak pagi ia menangis tanpa henti. Berkali-kali anak itu memanggil-manggil ayah dan ibunya, tetapi ayah-bundanya diam tak bergerak seakan-akan sama sekali tidak memedulikan nasib putra tunggal mereka yang bernama Tan Hong.

“Ayah ... ibu ... bangunlah ... aku lapar, minta makan. Ibuuu ... !” suara Tan Hong parau dan hanya keluar sebagai bisikan belaka, sedangkan matanya tak dapat mengeluarkan air mata lagi. Ia masih terlalu kecil sehingga kematian baginya masih merupakan teka-teki.

Telah berhari-hari ia hanya mengisi perutnya dengan sedikit gandum kering, dan ayah ibunya bahkan sama sekali tidak makan karena makanan yang sedikit mereka dapatkan selalu diberikan kepadanya. Akhirnya kedua orang tuanya tertidur dan tidak mau bangun lagi, sedangkan di dalam gubuk itu tidak terdapat sedikit pun makanan lagi dan sejak kemarin perutnya belum terisi apa-apa! Karena rasa lapar yang membuat perutnya terasa perih dan tubuhnya lemas itu tak tertahankan lagi, Tan Hong lalu bangun berdiri dan mencari-cari di dalam gubuk, kalau-kalau masih ada sisa-sisa makanan yang dapat dimakannya. Segala kaleng dan kertas dibuka dan dibolak-balikkan, akan tetapi usahanya sia-sia. Tan Hong menjadi bingung, ia mulai mengeluh dan menangis lagi sambil memeluki tubuh ibunya.

Kemudian timbul pikirannya untuk meminta makanan kepada tetangga, seperti yang telah dilakukan beberapa kali oleh ibunya. Ia bangun dan berdiri lagi, dan tiba-tiba kepalanya terasa pening, tanah yang dipijaknya seolah-olah berputar-putar dan bergoyang-goyang.

“Aduh ... ibu ... aduh ... !” Ia terhuyung-huyung, rasa perih di perutnya ditahan dengan tangan kiri yang ditekankannya ke perutnya yang kempis itu. Tangan kanan meraba-raba ke depan agar ia tidak menabrak sesuatu, kedua kakinya terhuyung-huyung maju, dan dengan mata kabur ia mencari pintu untuk keluar.

Ketika ia tiba di pintu gubuk tetangganya yang terdekat, ia disambut dengan suara tangis riuh rendah yang keluar dari pintu itu. Ia membelalakkan kedua matanya dan menjenguk ke dalam. Ternyata seluruh keluarga tetangga itu sedang menangisi mayat-mayat yang membujur di atas balai-balai. Mereka pun mati karena kelaparan!

Tan Hong mundur ketakutan. Tubuhnya yang hanya tulang terbungkus kulit dan dibalut sisa-sisa kain lapuk yang menutupi sebagian badannya, terseok-seok melangkah maju lagi dengan segala daya upayanya. Kini ia menuju ke sebuah rumah besar. Ia tahu bahwa rumah itu adalah milik Thio-chungcu (Pak Lurah Thio) yang memiliki banyak beras dan gandum. Sebetulnya sejak kecil ia sangat takut kepada kepala kampung ini, bahkan baru mendengar namanya saja ia sudah menggigil. Dulu setiap kali ia menangis, cukup ibunya menyebut nama Thio-chungcu, ia menjadi ketakutan dan tak berani menangis lagi!

Akan tetapi, rasa lapar melenyapkan rasa takutnya. Ia pernah mendengar ibunya bercerita bahwa Thio-chungcu adalah seorang yang memiliki gandum terbanyak di dusun itu. Maka, selain meminta kepada Thio-chungcu, kepada siapa lagi ia dapat meminta makanan? Tubuh kecil kurus itu terhuyung-huyung di atas jalan yang sepi sekali itu, dan di sepanjang perjalanan menuju ke rumah Thio-chungcu, ia mendengar suara tangis di kanan kiri jalan, tangis anak-anak sebaya dengannya keluar dari dalam rumah-rumah gubuk. Jelas terdengar olehnya suara mereka mengeluh dan merengek-rengek, “Ayah ... perutku lapar ...” “Ibu ... makan, perutku perih sekali ...”

Suara-suara ini menusuk-nusuk hati dan telinga Tan Hong, menikam ulu hatinya dan terukir dalam-dalam di sanubarinya. Suara-suara itu merupakan suara maut yang mengejar-ngejarnya, maka tiba-tiba Tan Hong memaksa kedua kakinya yang lemas untuk berlari. Berlari pergi dari suara-suara itu, menuju ke rumah gedung Thio-chungcu!

Rumah gedung Thio-chungcu itu dikelilingi dinding tebal dan tinggi, dan di depannya terdapat pintu gerbang berjeruji besi. Tan Hong mendorong-dorong pintu yang berat itu dan akhirnya ia berhasil juga membukanya setelah menggeser dan melepaskan palangnya dari luar dengan cara memasukkan lengannya yang kecil kurus di sela-sela jeruji besi itu.

Akan tetapi, baru saja ia melangkahkan kaki memasuki ambang pintu, tiba-tiba dari dalam terdengar salakan anjing yang menyeramkan dan tidak lama kemudian, dua ekor anjing yang gemuk-gemuk dan tinggi besar berlari keluar sambil menggonggong keras. Tan Hong menjadi pucat sekali dan tubuhnya menggigil. Cepat-cepat ia mundur dan berlari keluar kembali dari pintu gerbang itu. Kedua anjing yang galak itu masih tetap menggonggong dan memperlihatkan gigi, akan tetapi setelah mereka melihat bahwa Tan Hong telah keluar dari pintu gerbang, mereka tidak menggonggong lagi dan lari kembali sambil mengibas-ngibaskan ekornya.

Thio-chungcu yang bertubuh gemuk seperti anjing-anjingnya itu keluar dari dalam gedungnya. Mendengar suara gonggongan anjing, sambil tertawa senang ia berkata, “Bagus, bagus! Kalau ada maling masuk, serbu dan gigitlah sampai mampus! Hah, menyebalkan benar! Begini kecil sudah belajar menjadi pencuri!” Kepala kampung itu lalu masuk kembali ke dalam rumahnya, diikuti oleh dua anjingnya yang menggerak-gerakkan ekornya.

Tan Hong memperhatikan kepala kampung itu dengan mata terbelalak dan dada berdebar. Entah bagaimana, ketika mendengar kata-kata kepala kampung itu, timbullah hawa panas yang membuat seluruh tubuhnya serasa terbakar! Kepalanya berdenyut-denyut dan kedua tangannya dikepalkan.

Baru setelah kepala kampung dan kedua anjingnya masuk kembali ke dalam rumah, Tan Hong merasakan kembali keletihan dan keperihan perutnya. Ia berjalan terhuyung-huyung meninggalkan tempat itu dan kepalanya mulai terasa pening lagi. Pandangan matanya kabur sehingga terpaksa ia memejamkan matanya sambil berjalan terus sebisa mungkin. Akhirnya, tubuh yang kecil itu tidak kuat lagi berjalan dan ia terguling roboh di pinggir jalan. Ia menahan keperihan perutnya dengan mengangkat kedua lutut ke dada sehingga perutnya seperti dilipat dan ditekan oleh lutut. Ia meringkuk dalam keadaan demikian di pinggir jalan, dan merasa betapa nyamannya merebahkan diri di situ! Lenyaplah rasa pusing di kepalanya, bahkan rasa lapar yang tadinya menyebabkan rasa sakit dan perih di perutnya, kini lenyap dan yang terasa hanyalah kekosongan belaka. Kosong dan lemah...

Dan ketika nyawa anak kecil itu mulai bosan tinggal di tubuh yang tidak mendapat perawatan sebagaimana mestinya ini, nyawa yang telah siap untuk meninggalkan tubuh kurus kering yang menggeletak melingkar di pinggir jalan, tiba-tiba tampak seorang kakek yang memegang tongkat berdiri di dekatnya sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Ya Tuhan, kesenangan apa yang pernah Kau berikan kepada anak ini hingga sekarang ia harus menderita sehebat ini?”

Kemudian, kakek tua yang berambut panjang dan diikat ke atas kepala dengan sehelai pita putih, membungkuk dan mengangkat tubuh Tan Hong ke pundaknya. Setelah itu, ia lalu berjalan cepat meninggalkan dusun Giam-hok-ceng.

Kemudian ternyata kakek ini adalah Cin Cin Tojin, seorang tosu pengembara yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Seorang tosu yang sangat terkenal karena ketinggian ilmu silatnya, hingga di dunia kang-ouw ia mendapat julukan Sin-kiam atau Pedang Sakti.

Cin Cin Tojin belum pernah memiliki murid, akan tetapi ketika melihat keadaan Tan Hong yang sangat menyedihkan ini, ia menjadi kasihan dan menolongnya. Kemudian ia melihat bahwa sebenarnya anak itu memiliki bakat yang sangat baik, maka ia lalu mengambil anak itu sebagai murid tunggalnya.

Bertahun-tahun lamanya Tan Hong mengikuti suhunya berkelana. Ia mempelajari ilmu silat dari suhunya itu hingga setelah dewasa, sebagian besar kepandaian Cin Cin Tojin telah dapat diwarisinya. Di sepanjang perantauannya, Tan Hong melihat kesengsaraan rakyat jelata, hingga timbul perasaan kasihan di dalam hatinya. Pengalaman dan penderitaannya ketika masih kecil menggores dalam-dalam di kalbunya, terutama peristiwa ketika ia berdiri di depan pintu gerbang rumah Thio-chungcu, tak dapat ia lupakan. Kini setelah ia dewasa dan merantau bersama suhunya, di mana-mana ia banyak melihat hartawan-hartawan dan pembesar-pembesar seperti Thio-chungcu ini. Orang-orang yang menumpuk harta benda sampai berlebihan di dalam gudang mereka, tanpa memedulikan sedikit pun kepada rakyat kecil yang mati kelaparan. Ia merasa marah dan sangat gemas kepada mereka ini. Memang benar bahwa banyak pula terdapat hartawan yang berhati dermawan dan memiliki rasa perikemanusiaan sehingga sering kali mengulurkan tangan menolong dan memberi sumbangan kepada orang-orang yang menderita kesengsaraan, akan tetapi dibandingkan dengan jumlah mereka yang kikir dan kedekut, maka hanya beberapa orang dermawan saja yang tidak berarti.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment