Chapter 16
Saat itu Ong Kai sedang berada di luar kota karena menjalankan tugas mengawal barang. Keesokan harinya, ketika kembali ke rumah dan mendengar tunangannya diculik orang, kemarahan dan kegeraman luar biasa melanda dirinya. Pemuda ini segera melakukan penyelidikan di rumah tunangannya. Di sana, ia mendapati calon ibu mertuanya sedang menangis sedih dan berkali-kali jatuh pingsan memikirkan nasib putrinya. Karena tidak melihat tanda-tanda mencurigakan di dalam kamar tunangannya, Ong Kai menduga bahwa penculiknya pastilah seorang penjahat berilmu tinggi. Ia pun terus melanjutkan penyelidikan.
Kebetulan, saat tiga hwesio biadab itu membawa lari Kiu Hwa yang meronta-ronta, seorang petani di luar kota sempat melihat mereka. Namun, karena ketakutan, petani itu menyembunyikan diri di balik pohon. Dari keterangan petani inilah Ong Kai mengetahui bahwa penculik tunangannya adalah tiga orang hwesio gemuk. Ia segera melakukan pengejaran hingga ke kuil tua itu. Betapa hancur hatinya saat menemukan tunangannya terbaring di lantai kuil dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Di balik kesedihannya, Ong Kai merasa bangga dan lega menyadari bahwa tunangan yang dicintainya itu memilih mengakhiri hidup dengan tusuk konde demi menjaga kehormatan. Sambil menangisi jenazah Kiu Hwa, Ong Kai memuji kesucian gadis itu dalam hati dan bersumpah akan membalas dendam serta mencari ketiga hwesio gemuk tersebut.
Ong Kai yang cerdik kemudian melakukan pengejaran dan penyelidikan. Beruntung baginya, Pek-hoa Sam-sian adalah tokoh-tokoh persilatan yang sombong dan menganggap tidak ada orang di dunia ini yang berani melawan mereka. Karena kesombongan itulah, ketiga hwesio gemuk ini sama sekali tidak berniat menyembunyikan diri atau menghilangkan jejak. Mereka terang-terangan berjalan di jalan umum hingga akhirnya sampai di Wi-ciu.
Ong Kai dengan mudah mengikuti jejak mereka. Begitu melihat mereka memasuki kota Wi-ciu, ia segera menuju ke rumah suhunya yang berada tidak jauh dari kota tersebut.
Lo Cin Ki dan Lo Siok Lan sangat marah mendengar musibah yang menimpa Kiu Hwa. Ayah dan anak ini segera melakukan penyelidikan ke Wi-ciu untuk membalas dendam. Inilah sebabnya Tan Hong melihat Siok Lan dan ayahnya berkunjung ke Kelenteng Kim-ci-tang untuk menyelidiki keadaan di sana. Hal ini pula yang menyebabkan Tan Hong bertemu dengan Ong Kai yang awalnya sempat mencurigainya.
Setelah mendengar penuturan Ong Kai yang bercerita sambil menitikkan air mata karena teringat tunangannya, Tan Hong merasa sangat terharu.
"Saudara Ong Kai, jangan khawatir. Biarpun aku bodoh, aku bersumpah akan membantumu mencari dan membinasakan dua iblis yang masih hidup itu!"
To Tek Hosiang juga menyatakan penyesalannya. Ia merasa seolah matanya buta karena tidak mampu membedakan orang jahat dan orang baik. Berkali-kali hwesio ini menyebut nama dewata karena heran dan terkejut mendengar kekejian tiga hwesio berilmu tinggi yang selama ini dikenal sebagai tokoh persilatan tersebut. Ketika mereka menengok kembali keadaan Lo Cin Ki, orang tua itu berkata dengan nada menyesal kepada Ong Kai, "Ong Kai! Aku sungguh menyesal karena kurang berhati-hati hingga terluka oleh Kim Kong Hwesio. Menurut pemeriksaanku, luka ini membutuhkan waktu setidaknya satu bulan untuk sembuh dan pulih seperti sediakala. Aku juga menyesal, Ong Kai, karena luka ini menghalangiku membantumu menangkap dan menewaskan musuh-musuh besar kita." Lo Cin Ki menarik napas panjang.
"Tidak apa-apa, Suhu. Biarlah Teecu sendiri yang akan pergi menghadapi mereka!" kata Ong Kai dengan geram sambil menggertakkan gigi.
"Ong-suheng, mengapa bicara begitu? Jangan khawatir, aku akan mewakili Ayah untuk membantumu!" kata Siok Lan dengan berani.
"Dan aku pun bersedia menjadi pembantumu setiap saat, Saudara Ong!" kata Tan Hong dengan wajah berseri.
"Bagus sekali, kalian anak-anak muda memiliki semangat yang besar," kata Lo Cin Ki dengan gembira. "Memang sudah seharusnya ksatria memiliki watak dan sikap pantang mundur menghadapi bahaya demi membela kebenaran. Dengan kalian bertiga maju bersama, kurasa tidak akan terlalu berat untuk menghadapi dua hwesio iblis itu."
Ong Kai tidak berani membantah, namun ia memandang wajah Tan Hong dengan ragu. Mengapa pemuda yang dianggapnya maling ini dilibatkan? Bukankah pemuda ini menjalani hidup dengan cara yang tidak layak? Lo Cin Ki seolah dapat menduga pikiran muridnya, lalu berkata, "Ong Kai, ketahuilah, Tan Hong ini adalah Gin-kiam Gi-to. Biarpun dia mencuri, itu bukan untuk kepentingan diri sendiri. Mengenai cara seseorang melakukan kebajikan, itu adalah pilihan masing-masing. Selama berlandaskan kebenaran dan kebaikan, jalan tersebut bisa dianggap baik. Lagipula, kau mungkin belum tahu bahwa Tan Hong ini sebenarnya adalah suheng-mu sendiri!"
Mata Ong Kai terbelalak memandang gurunya yang kemudian tersenyum. "Bukankah kau pernah mendengar ceritaku tentang suheng-ku yang bernama Cin Cin Tojin? Nah, pemuda ini adalah murid tunggal Cin Cin Tojin!"
Ong Kai yang berwatak jujur merasa sangat gembira mendengar hal itu. "Ah! Pantas saja ilmu kepandaianmu lebih tinggi dariku! Ternyata kau adalah murid Cin Cin Supek. Pantas, pantas! Tan-suheng, jika demikian, kita masih satu keluarga dan tentu saja kau harus membantumu!"
Tan Hong tersenyum senang melihat kejujuran pemuda bermuka hitam yang tengah berduka itu. Diam-diam, ia bertekad untuk membalas sakit hati sahabatnya.
Setelah mendapat doa restu dari Lo Cin Ki, ketiga anak muda itu—Ong Kai, Tan Hong, dan Siok Lan—berangkat untuk mengejar Bhok Kong Hwesio dan Kim Kong Hwesio.
***
Kali ini, karena menyadari musuh mereka sangat hebat dan tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja, Bhok Kong dan Kim Kong Hwesio melarikan diri secara sembunyi-sembunyi. Keduanya juga merasa sangat sakit hati. Setelah mengubur jenazah Beng Kong Hwesio di sebuah hutan, mereka berjanji akan membalas dendam atas kematian sute mereka. Namun, kedua hwesio ini sadar bahwa mereka tidak akan mampu melawan Lo Cin Ki beserta pembantunya yang cekatan. Maka, mereka memutuskan untuk kembali ke Pek-hoa-san dan mencari cara untuk menghadapi sekaligus membasmi musuh-musuh mereka.
Mereka mengambil jalan memutar untuk menemui kawan mereka yang bernama Ti Bong Hosiang, seorang hwesio perantau berilmu tinggi yang jauh lebih lihai daripada mereka sendiri. Mereka bermaksud mengajak kawan ini beserta beberapa orang lainnya ke Pek-hoa-san guna memperkuat kedudukan mereka sambil menunggu kedatangan Lo Cin Ki dan rombongannya.
Sementara itu, Tan Hong, Ong Kai, dan Siok Lan terus mencari jejak mereka sambil bertanya di sepanjang jalan. Setiap kali mendengar cerita tentang dua hwesio gemuk, mereka segera menyelidik dan mengejar. Namun hasilnya nihil karena kedua musuh besar itu sangat berhati-hati dan melarikan diri secara sembunyi-sembunyi. Tak lama kemudian, ketiga anak muda itu kehilangan jejak, sehingga Ong Kai semakin sakit hati. Pemuda bermuka hitam ini menjadi tidak sabar dan ingin segera bertemu serta bertaruh nyawa dengan pembunuh tunangannya.
Melihat kemurungan Ong Kai, Siok Lan menghibur, "Ong-suheng! Sudahlah, jangan bersedih terus. Ingat, kesedihan yang berlarut-larut bisa merusak kesehatan. Saat ini kau harus menjaga kesehatan agar bisa menunaikan tugas membalas dendam!" Kata-kata Siok Lan membangkitkan kembali semangat Ong Kai.
"Aku telah bersumpah untuk membunuh kedua iblis itu!" katanya dengan geram.
"Ucapan Sumoi benar, Ong-sute. Kau tidak perlu terlalu berduka. Sebaliknya, hal terpenting adalah kita bersama-sama mencari cara untuk menemukan tempat persembunyian mereka," kata Tan Hong.
"Tak disangka, selain kejam dan jahat, mereka juga pengecut. Tidak tahu malu, padahal nama mereka besar sebagai tokoh Pek-hoa-san, tetapi saat menghadapi musuh malah lari dan bersembunyi!" seru Ong Kai dengan geram.
Mendengar nama bukit itu, wajah Tan Hong tiba-tiba berseri. "Ah! Benar juga! Tentu mereka lari kembali ke Pek-hoa-san! Mari kita kejar ke sana! Apakah kalian tahu di mana letak Pek-hoa-san?"
Kedua kawannya mengaku tidak tahu, sehingga mereka mulai mencari keterangan mengenai letak bukit tersebut. Dari penduduk yang sering merantau, mereka mendapat informasi bahwa Pek-hoa-san adalah sebuah bukit di barat yang letaknya cukup jauh. Setelah mendapatkan petunjuk, hari itu juga mereka memulai perjalanan ke arah barat untuk mencari musuh di sarang mereka.
Malam itu mereka menginap di sebuah rumah penginapan. Tan Hong sekamar dengan Ong Kai, sedangkan Siok Lan mengambil kamar terpisah. Karena dampak kerusakan akibat banjir masih sangat terasa, Tan Hong tidak melupakan pekerjaannya. Ia berpamitan kepada Siok Lan dan Ong Kai untuk pergi sejenak mencuri uang dari rumah para hartawan, lalu membagikannya kepada para korban banjir.
Ong Kai berkata, "Ah, aku tidak peduli dengan urusan mencuri itu! Jika memang itu tugasmu untuk menolong sesama yang menderita, silakan pergi, Tan-suheng. Namun, berhati-hatilah."