Chapter 30
Memang betul apa yang dituturkan oleh Cin Cin Tojin. Bangsa Tartar yang selalu menggunakan segala kesempatan untuk memasuki tapal batas Tiongkok, merampok, dan menculik orang-orang dari dusun-dusun pinggir tapal batas untuk dijadikan pekerja paksa, kini mulai mengacau lagi setelah mereka dipukul mundur pada beberapa tahun yang lalu. Mereka sengaja mempergunakan kesempatan pada waktu Tiongkok mengalami kesukaran dan kekalutan berhubung dengan datangnya bencana alam itu. Pada masa itu, Kaisar Tiongkok memang kurang memperhatikan keadaan negerinya, terutama sekali karena datangnya bencana alam yang melemahkan semangat rakyat, sehingga pertahanan menjadi lemah dan tentara kerajaan yang dikirim ke perbatasan barat itu tidak kuat menghadapi pengacau bangsa Tartar yang selain berjumlah besar, juga memiliki banyak sekali orang kuat yang berkepandaian tinggi.
Biarpun para ksatria di masa itu tidak senang melihat kelaliman kaisar, namun kini melihat sepak terjang para pengacau yang merampok dan menculik bangsanya, timbullah semangat perlawanan dan kebencian mereka. Serentak dari segenap penjuru daratan Tiongkok, para enghiong ini menuju ke perbatasan barat dan membantu rakyat secara sukarela untuk mengusir pengacau-pengacau Tartar.
Pada waktu itu, kaum pengacau yang membanjir dari utara dan barat berpusat di sekitar See-ip, sebuah dusun besar di dekat tapal batas Tiongkok. Di daerah inilah pertempuran-pertempuran besar terjadi dan setiap hari banyak pendekar datang ke tempat ini untuk menyumbangkan tenaganya.
Ketika Tan Hong dan Ong Kai tiba di dusun ini, yang menjadi pemimpin para enghiong adalah Lee Kun, seorang pendekar yang tersohor gagah perkasa dari selatan. Lee Kun adalah seorang tokoh persilatan yang paham akan segala macam ilmu silat, terutama ilmu silat Siauw-lim-pai dan Butong-pai. Usianya empat puluh tahun lebih dan walaupun tubuhnya tak seberapa besar, namun alis matanya yang tebal dan hitam itu membuat wajahnya tampak gagah dan menakutkan.
Lee Kun menyambut kedatangan Tan Hong dan Ong Kai dengan gembira, apalagi ketika ia mendengar bahwa keduanya adalah murid-murid Cin Cin Tojin dan Lio Cin Ki si Garuda Sakti yang telah terkenal itu. Ketika ia mendengar kenyataan bahwa Tan Hong adalah Gin-kiam Gi-to, ia membelalakkan matanya dengan kagum dan berkata, "Ah, Tan Hiante, tak kusangka bahwa Gin-kiam Gi-to yang tersohor di kalangan kang-ouw itu adalah seorang yang masih begini muda seperti engkau!"
Tan Hong menjawab dengan ucapan merendah, "Lee Tai-hiap, aku yang muda dan bodoh tak pantas dikagumi."
Lee Kun tertawa dan merasa senang melihat kesopanan anak muda ini. Ia pun kagum melihat sikap Ong Kai yang gagah seperti Thio Hwi (seorang tokoh besar dalam cerita sejarah Sam Kok).
"Lalu mengapa kedua suhu kalian tidak datang?" tanyanya.
"Suhu sedang melanjutkan perjalanan mencari kawan-kawan pembantu yang hendak dibawa ke sini untuk membantu pula," jawab Ong Kai sehingga Lee Kun menjadi makin girang.
"Ah, kalau semua orang seperti kedua suhumu dan kalian berdua saudara muda ini turut membantu, sebentar saja para pengacau itu tentu dapat terbasmi habis!" katanya sambil menghela napas. "Sayang, sebagian besar para ksatria pada waktu ini hanya mengingat kepentingan sendiri saja dan sama sekali tidak mau memedulikan keadaan negara dan rakyat. Sungguh sayang!"
Para pendekar yang telah datang dan membantu di tempat itu berjumlah empat puluh orang lebih, yang dipencar-pencar ke sepanjang batas negeri untuk memperkuat penjagaan tentara kerajaan dan membantu para perwira kerajaan. Tan Hong dan Ong Kai lalu mendapat tugas dari Lee Kun untuk membantu pertahanan di Pegunungan Kim-ke-san, karena di situ sering kali terjadi serbuan para pengacau yang dipimpin oleh orang-orang pandai. Lee Kun yang menduga akan ketinggian ilmu silat kedua pemuda ini tidak ragu-ragu lagi mengirim mereka ke tempat yang paling berbahaya, di mana kedudukan musuh paling kuat.
Kedatangan Tan Hong dan Ong Kai di Kim-ke-san mendapat sambutan riang gembira dari para petugas di situ, karena mereka telah berkali-kali mendapat gangguan serangan para pengacau yang sangat kuat hingga menderita banyak kerugian. Dalam keadaan seperti itu, makin banyak datangnya bala bantuan, makin menggirangkan mereka. Pada saat itu, yang memimpin penjagaan di Kim-ke-san adalah seorang perwira bernama Bu Sam Kwi. Perwira ini masih muda dan lagaknya sombong sekali karena ia merasa bahwa dirinya sudah sangat pandai dan gagah perkasa. Memang ia memiliki ilmu silat cabang Kun-lun yang cukup tinggi. Ia terkenal keras memegang peraturan hingga ditakuti oleh anak buahnya, sedangkan beberapa orang enghiong yang datang sebagai pembantu sukarela tidak dapat bergaul dengannya.
Biarpun Bu Sam Kwi tidak berani menolak bantuan para enghiong ini dan tidak berani terang-terangan mencela atau memandang rendah kepada mereka, namun sikapnya terhadap mereka acuh tak acuh. Padahal lima orang enghiong yang dikirim Lee Kun untuk membantunya bukanlah orang sembarangan, karena mereka adalah Biciu Ngo-eng (Lima Pendekar dari Biciu) yang cukup terkenal. Baru setelah tempat penjagaan yang berada di bawah pengawasannya itu diserang berkali-kali oleh pengacau Tartar dan ia menderita banyak kekalahan, serta berkat bantuan kelima pendekar itu saja tempat penjagaan tak sampai jatuh ke tangan musuh, ia mulai bersikap lebih ramah dan hormat.
Tan Hong dan Ong Kai disambut dengan hangat oleh Biciu Ngo-eng dan setelah penyambutan resmi dilakukan oleh Bu Sam Kwi, kelima pendekar yang sudah lanjut usia itu lalu mengajak Tan Hong dan Ong Kai untuk bicara di tenda mereka. Biciu Ngo-eng lalu menuturkan keadaan di situ dan berpesan agar mereka berdua melakukan pekerjaan menurut pendapat dan kebijaksanaan sendiri saja, karena kalau hanya menurut perintah Bu Sam Kwi yang sombong tapi sebenarnya tidak pandai apa-apa itu, maka bantuan mereka akan sia-sia belaka.
"Telah berkali-kali kami berlima mengusulkan supaya mengejar dan memukul pengacau di tempat pemberhentian mereka, karena kami menganggap menanti datangnya serbuan mereka bukanlah taktik yang sempurna. Kita menjadi lelah karena melakukan penjagaan saja tanpa mengetahui bila mereka akan datang menyerbu, sedangkan para pengacau itu dengan enaknya dapat mempermainkan kita. Kalau kita mengantuk karena terlalu lama menjaga, mereka tiba-tiba datang menyerbu!"
Tan Hong dan Ong Kai tidak banyak mengerti tentang taktik peperangan, akan tetapi mereka dapat memahami pendapat pendekar tua itu.
"Bagaimana mereka itu bisa mengetahui keadaan kita?" tanya Ong Kai, dan mereka berdua mendapat jawaban yang membuat keduanya tertegun karena heran.
"Ketahuilah, Jiwi Hiante, agaknya pihak pengacau mempunyai banyak kaki tangan yang terdiri dari bangsa kita sendiri di sini dan di mana-mana, bahkan setiap tempat penjagaan kami rasa terdapat pula mata-matanya!" Kata-kata ini diucapkan dalam bisikan.
"Bangsat benar!" Tan Hong memaki marah. "Kalau aku dapat menangkap pengkhianat macam itu, tentu takkan kuberi ampun! Dan sudah tahukah Lee Enghiong akan hal ini?"
Kelima jago dari Biciu itu mengangguk. "Kami semua sudah tahu dan bahkan sudah banyak yang kami tangkap dan kami bunuh. Akan tetapi, agaknya ada seorang pemimpinnya di daerah ini yang mengatur semua langkah mereka sehingga pihak pengacau telah mengetahui semua rencana kita. Karena inilah, tiap kali Lee Enghiong mengadakan sergapan, sarang pengacau itu selalu didapati kosong!"
Tan Hong dan Ong Kai merasa gemas sekali. Mereka berjanji di dalam hati untuk membasmi pengkhianat-pengkhianat ini!
Penuturan Biciu Ngo-eng memang betul terjadi dan hal ini sebenarnya tidak aneh. Para perwira yang membantu dan mendatangi daerah barat di mana terjadi pergolakan ini terdiri dari bermacam-macam orang. Ada piauwsu, guru silat, pendeta, perampok, dan siapa saja yang memiliki kepandaian serta kesanggupan bertempur. Hal ini pun diketahui oleh pihak pengacau yang merasa betapa beratnya menghadapi sekalian orang pintar ini, lebih berat daripada menghadapi tentara kerajaan yang banyak jumlahnya akan tetapi tidak becus bertempur. Maka mereka lalu mencari akal. Diam-diam mereka mengutus kaki tangannya untuk menghubungi para pembantu sukarela ini dan memilih mereka yang memang berbatin rendah. Dengan pengaruh emas, mereka akhirnya dapat memengaruhi beberapa tokoh liok-lim untuk diam-diam membantu pihak mereka dan bekerja sebagai mata-mata serta penyelidik. Bahkan tidak sedikit tentara kerajaan yang kena suap hingga mereka pun menjadi pengkhianat bangsa!