Chapter 12
Tan Hong tercengang dan memandang penuh perhatian. Pakaian wanita itu compang-camping dan penuh tambalan, menandakan bahwa ia seorang miskin, sedangkan wajahnya yang kurus pucat menandakan pula bahwa wanita ini tentu terkena penyakit kelaparan. Tiba-tiba, Tan Hong merasa terharu.
"Toanio... kau hanya ingin mendapat sedikit perak ini? Sampai demikian besar minat kau untuk memiliki perak?" pertanyaan ini dikeluarkan dengan perlahan dan ragu-ragu.
Wajah wanita itu memerah karena malu. "Bukan untukku sendiri taihiap, sungguh mati, bukan untukku sendiri, tapi untuk anak-anakku!"
Tan Hong makin tertarik dan kasihan. Melihat pandangan pemuda itu, wanita tadi lalu menuturkan keadaannya dengan suara pilu, "Aku adalah seorang janda she Yo dan ditinggal mati suamiku dengan tiga orang anak masih kecil-kecil. Rumah dan sawah kami habis dilanda air bah. Tidak ada orang yang suka menolong kami, karena mereka yang merasa kasihan kepada kami itu adalah para pengungsi yang senasib dengan kami, sedangkan untuk mengisi perut mereka sendiripun mereka tak mampu. Sebaliknya para kaum mampu, hanya mau menolong kami dengan syarat-syarat kejinya!"
Tan Hong mengangguk-angguk mengerti.
"Apakah yang bisa dilakukan oleh seorang janda seperti aku? Justeru karena anak-anakku menderita kelaparan dan aku tidak bisa mencarikan makannya dengan cara yang wajar, maka terpaksalah aku mencoba merampok. Akan tetapi dasar nasibku malang dan nasib anak-anakku yang harus mati kelaparan, karena pertama-tama aku mencoba merampok, aku langsung berhadapan dengan kau, dengan orang yang jauh lebih tinggi ilmu silatnya dariku dan yang memiliki pedang perak ajaib, dengan gampang mengalahkanku! Taihiap, bunuh sajalah aku agar tamat riwayatku yang penuh derita ini. Aku tidak sanggup pulang ke rumah dengan tangan kosong dan melihat anak-anakku mati kelaparan!" Nyonya janda Yo itu lalu menangis terisak-isak.
Tan Hong menghela napas dalam-dalam. Lagi-lagi seorang korban bencana banjir! Tiba-tiba ia mendapat sebuah pikiran baik. Nyonya ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi, apa sukarnya mencarikan pekerjaan untuknya?
"Toanio, jangan kau bersedih. Selama nyawa masih dikandung badan, tak boleh sekali-kali kita berputus asa. Aku mempunyai kenalan baik di kota Seng-koan, marilah kau dan anak-anakmu kuantarkan ke sana agar kau dapat tertolong."
Nyonya Yo hendak berlutut menghaturkan terima kasih, akan tetapi Tan Hong segera mencegahnya. Kemudian ia lalu ikut nyonya Yo mengambil ketiga orang anaknya yang kecil-kecil dan kurus kering itu, lalu diantarkannya nyonya itu ke Seng-koan. Di kota ini Tan Hong menyerahkan nyonya Yo bersama ketiga orang anaknya kepada Panitia yang dipimpin oleh Seng-koan Sam-eng, dan setelah menuturkan keadaan nyonya janda itu serta menyatakan bahwa kepandaian silat nyonya ini cukup tinggi, akhirnya nyonya Yo diperbantukan kepada Panitia itu dan mendapat jaminan hidup yang lumayan.
Seselesainya pemuda yang menolong jiwanya dan ketiga orang anaknya menyerahkan kepada panitia korban banjir itu di Seng-koan ia segera berlalu meninggalkan kota itu untuk melanjutkan perjalanannya.
Tan Hong teringat akan janjinya kepada To Tek Hosiang, tokoh persilatan Houw-sanpai yang pernah dikalahkannya dulu dan yang menantangnya agar ia suka datang berpibu di kelentengnya, yakni kuil Kim-ci-tang di kota Wi-ciu. Kebetulan sekali hari itu adalah tepat pada hari perjanjiannya, maka ia lalu cepat-cepat menuju ke kota Wi-ciu.
Di dalam hati Tan Hong tidak suka sekali-kali mencari