Chapter 03
Setelah tiga belas tahun merantau dan belajar silat, Cin Cin Tojin menetap di puncak Bukit Kwihong-san karena merasa tua dan bosan. Ia mengizinkan muridnya untuk merantau sendiri, memberinya banyak nasihat, petuah, serta sebatang pedang bergagang perak yang berkilauan.
Sejak saat itu, pada usia delapan belas tahun, Tan Hong memulai perjalanannya seorang diri untuk mewujudkan cita-citanya: mencuri harta orang kaya dan membagikannya kepada penduduk miskin di dusun-dusun. Setiap kali berhasil mencuri dari gedung hartawan, ia selalu meninggalkan gambar pedangnya sebagai tanda. Dalam waktu singkat, ia menjadi terkenal karena tidak pernah tertangkap, berkat kepandaiannya yang tinggi. Ia pun mendapat julukan Gin-kiam Gi-to, si Maling Budiman Berpedang Perak.
Dua tahun berlalu dengan cepat. Selama itu, selain meraih nama besar, ia dibenci oleh pihak yang dirugikan dan dipuja oleh pihak yang ditolongnya.
Sebagaimana telah dituturkan di awal cerita, setelah berhasil mencuri sekantong besar uang perak dari gedung Thio Wan-gwe, seorang hartawan yang sangat kaya namun pelit, Tan Hong membagikan seluruh uang tersebut kepada penduduk miskin. Setelah "pekerjaannya" selesai, ia mencari tempat peristirahatan di sebuah kuil tua yang tidak berpenghuni.
Kota Wi-ciu, tempat tinggal Thio Wan-gwe yang menjadi korban Tan Hong, adalah kota besar yang cukup ramai dengan banyak hartawan.
Ketika Thio Wan-gwe didatangi si Maling Budiman, ia bukanlah korban pertama di kota itu. Sebelum Thio Wan-gwe, dua hartawan lainnya telah kehilangan hartanya. Namun, karena kedua hartawan itu memiliki hati dermawan dan tahu bahwa uang mereka yang dicuri akan dibagikan kepada orang miskin dari tanda gambar di dinding, mereka tidak membuat keributan.
Berbeda dengan mereka, Thio Wan-gwe sangat kikir. Setelah dua kantong uang peraknya yang sangat berharga dicuri, ia melaporkan kejadian itu kepada pejabat setempat. Ia bahkan mengumpulkan anak buah dan jagoannya untuk menyelidiki dan mencari maling tersebut.
Pejabat setempat, yang juga telah mendengar tentang sepak terjang Gin-kiam Gi-to, segera mengerahkan tenaga untuk menangkap maling terkenal itu demi mendapatkan pujian dari atasannya. Keesokan harinya setelah pencurian, ia mengumpulkan seluruh kepala penjaga dan jagoan di kota Wi-ciu untuk berunding. Ia tidak hanya memanggil petugas, tetapi juga mengundang para kauw-su (guru silat), piauwsu (pengantar barang) yang memiliki kepandaian tinggi, bahkan To Tek Hosiang, ketua kuil Kim-ci-tang, karena ia dikenal memiliki kepandaian tinggi.
"Cu-wi (tuan-tuan sekalian)," kata pejabat itu setelah semua berkumpul dan arak-arakan disajikan. "Kami mengumpulkan cu-wi di sini untuk bersama-sama merundingkan soal pencurian yang mulai merajalela di kota kita. Cu-wipun tentu maklum bahwa yang melakukan pencurian ini adalah Gin-kiam Gi-to yang terkenal itu. Karena dia sekarang berani mengacau dan mengganggu ketenteraman kota kita, sudah sewajarnya dan menjadi kewajiban kita untuk menangkapnya!"
Beberapa saat semua yang hadir terdiam. Beragam pikiran muncul di benak masing-masing. Ada yang ragu dan takut menghadapi Maling Budiman yang terkenal itu, ada yang setuju, dan ada pula yang kurang setuju. Akhirnya, To Tek Hosiang berkata sambil mengangguk, "Memang pendapat tai-jin ini benar. Dia harus ditangkap untuk membersihkan Wi-ciu dari kekacauan dan kejahatan."
"Maafkan, tai-jin," kata seorang pria tinggi kurus bernama Kwee Seng, ketua piauw-kiok (perusahaan pengawal barang) yang cukup terkenal di kota itu. "Menurut pendapatku, agak kurang sempurna jika kita mengganggu maling luar biasa ini. Siauwte (hamba) telah kenyang merantau dan bertemu orang-orang di dunia kangouw dan liok-lim (para perampok dan penjahat), dan karenanya siauwte mengerti bahwa di dunia liok-lim terdapat tiga macam atau tiga tingkat cara melakukan perampokan dan pencurian. Pertama, mencuri dan merampok bukan untuk diri pribadi, melainkan hasilnya diberikan kepada fakir miskin yang membutuhkan pertolongan. Kedua, mencuri dan merampok semata-mata berdasarkan pekerjaan, karena perbuatan itu mereka anggap sebagai tugas. Ketiga, mencuri untuk mengumpulkan kekayaan dan menyenangkan diri sendiri. Di antara ketiga tingkat ini, tingkat pertama dianggap sempurna, bahkan perbuatan terpuji dan selayaknya dilakukan oleh seorang pendekar! Demikianlah anggapan kalangan liok-lim. Maka karena Gin-kiam Gi-to ini, sepanjang yang siauwte dengar, selalu membagikan hasil pencuriannya kepada fakir miskin, ia termasuk golongan pertama yang dianggap oleh dunia kang-ouw sebagai pendekar bijaksana! Inilah sebabnya ia disebut Maling Budiman. Jika sekarang kita memusuhinya, apakah ini tidak akan mendatangkan musuh dari pihak liok-lim?"
Semua orang terdiam mendengar ucapan ini. Namun, To Tek Hosiang kemudian berdiri dan berkata dengan suara bernada tinggi, "Ucapan Lim-piauwsu memang ada benarnya, tetapi pandangan ini tidak adil. Mungkin karena pekerjaan Lim-piauwsu, ia mengajukan alasan seperti itu. Menurut pendapat pinceng (aku), bahkan sebaliknya. Biarpun Gin-kiam Gi-to seorang pendekar, ia tetap harus mengikuti aturan. Jika memang ia membutuhkan uang untuk menolong orang lain, mengapa ia harus mencuri di kota kita? Jika ia mengerti aturan kang-ouw, mengapa ia memandang rendah kepada kita dan berbuat sesuka hati, seolah-olah di kota ini tidak ada yang berani menentangnya? Ia punya kewajiban sebagai Maling Budiman, tetapi kita pun punya tugas sebagai penduduk Wi-ciu dan orang-orang yang diharapkan penduduk untuk menolak datangnya bahaya kekacauan!"
Semua orang setuju dengan pendapat ini. Setelah perdebatan dan perundingan yang cukup hangat, diputuskan untuk mengadakan penjagaan gotong royong pada malam hari. Karena di antara semua yang hadir, To Tek Hosiang dan Lim-piauwsu memiliki kepandaian tertinggi, keduanya diangkat menjadi kepala penjaga.
Pada siang hari itu juga, banyak penyelidik disebar di sekeliling kota Wi-ciu untuk mencari jejak Maling Budiman. Dan pada malam harinya, penjagaan diatur dengan diam-diam agar tidak kentara bahwa di atas wuwungan rumah para hartawan telah diadakan penjagaan ketat.
Menjelang tengah malam, Tan Hong kembali melakukan pekerjaannya. Tubuhnya bergerak ringan dan gesit menapaki genteng-genteng rumah, berhenti di atas genteng rumah Lie Wan-gwe yang tinggi. Setelah memandang ke sekeliling dan tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, si Maling Budiman ini lalu melompat turun dengan gerakan melayang yang indah dan cepat.
Para penjaga yang berada di atas genteng Lie Wan-gwe kebetulan adalah To Tek Hosiang sendiri beserta beberapa pembantunya. Mereka telah melihat kedatangan Maling Budiman, tetapi dari tempat persembunyiannya, To Tek Hosiang memberi isyarat agar kawan-kawannya tidak bergerak dulu. Ia ingin menunggu sampai maling itu selesai bekerja, lalu menghadangnya saat keluar dari rumah yang menjadi sasaran, agar mereka dapat menangkap basah maling tersebut.
Tak lama kemudian, Tan Hong berhasil mengambil dua kantong uang perak penuh dan dengan cepat melompat kembali ke atas genteng. Akan tetapi, alangkah terkejutnya ia ketika melihat di atas genteng berdiri seorang biksu gundul dan lima orang lainnya, yang semuanya memegang pedang. Biksu itu memegang sebuah toya panjang dan berat.
"Ha, maling sombong! Menyerahlah agar pinceng tidak perlu mengotori tangan. Dosamu sudah bertumpuk-tumpuk dan kini saatnya kau menebusnya." Tan Hong tersenyum dan menjawab, "Hwesio, mengurus dosamu sendiri saja kau tidak sanggup, apalagi mengurus dosa orang lain? Jika kau memang hendak menangkapku, lakukanlah jika kau berani."
Setelah berkata demikian, Tan Hong melompat tinggi melewati kepala dua orang pembantu To Tek Hosiang dan langsung melompat ke wuwungan lain! To Tek Hosiang terkejut dan kagum melihat kepandaian loncat yang hebat ini, lalu ia segera mengejar sambil berteriak, "Maling rendah, kau mau lari ke mana?"
To Tek Hosiang adalah seorang tokoh dari Houw-san dan memiliki ilmu silat tinggi. Maka, ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang dimilikinya sudah cukup sempurna. Sekali tubuhnya melayang, ia cepat mengejar Tan Hong dan mengirim serangan dari belakang dengan toyanya.
Tan Hong mendengar desiran angin pukulan toya menyambar, tetapi ia tidak gugup. Dengan memiringkan tubuh, ia berhasil mengelak serangan itu. Sebelum To Tek Hosiang sempat menyerang lagi, tubuh pemuda itu telah melayang jauh sekali dan menghilang dalam kegelapan.
To Tek Hosiang menghela napas dan memuji, "Sungguh hebat! Sayang orang sehebat dia menjadi maling!"