Halo!

Maling Budiman Berpedang Perak - Chapter 07

Memuat...
Maling Budiman Berpedang Perak

Chapter 07

Tan Hong terkejut karena gerakan pedang gadis itu memiliki dasar yang sama dengan ilmu pedangnya sendiri, yaitu Bok-san Kiamhwat. Ia menunduk hormat dan berkata, “Benar, saya adalah murid Cin Cin Tojin. Mohon maaf, saya tidak mengenal Anda.”

“Ha, ha, ha, anak muda. Memang, jika belum bertempur, takkan mengenal orangnya sendiri. Cin Cin Tojin adalah kakak seperguruan saya.”

Tan Hong sangat terkejut mendengar bahwa gurunya adalah kakak seperguruan orang tua ini. Ia teringat ucapan gurunya bahwa ia memiliki seorang adik seperguruan yang berilmu tinggi, bahkan konon melebihi ilmu gurunya sendiri. Segera Tan Hong berlutut, “Ampuni saya, bukankah Anda adalah Lo Cin Ki yang terkenal dengan nama Jianeng (Garuda Sakti Berkuku Seribu)?”

Kakek itu tertawa, “Benar, saya orang she Lo. Bagaimana dengan gurumu? Dan siapa namamu, anak muda?”

“Nama saya Tan Hong.” Ia kemudian menceritakan keadaan gurunya yang telah berhenti merantau dan menetap di puncak Bukit Kwi-hong-san untuk bertapa.

Si Garuda Sakti menghela napas. “Pekerjaanmu baik, tetapi berbahaya. Aku takkan ikut campur dengan pilihanmu. Bagiku, segala perbuatan baik saja asalkan ditujukan untuk kebaikan. Kau telah mengambil obat yang keliru. Jika kau menghendaki obat untuk menolong penduduk Cin-tong, pergunakanlah ini!”

Lo Cin Ki mengeluarkan sebungkus obat bubuk dan memberikannya kepada Tan Hong. Dengan muka merah karena malu, Tan Hong menerimanya. Namun, susioknya mengambil kembali jin-som yang tidak perlu dibawa itu, menambahkan obat, dan seratus tail uang. “Terus terang, kami bukan orang kaya. Akan tetapi, biarlah dengan sedikit uang ini aku dapat membantu melancarkan pekerjaanmu!”

Tan Hong merasa sangat malu karena susioknya berkata dengan tulus. Ia menerima pemberian itu, menghaturkan terima kasih, lalu berdiri dan memberi hormat kepada gadis itu, “Mohon maaf atas kekasaranku.”

Gadis itu memandang dengan marah, tetapi ayahnya berkata, “Siok Lan, kau harus memberi hormat kepada kakak seperguruanmu ini!” Siok Lan terpaksa menjura, tetapi tidak berkata apa-apa. Hatinya masih dongkol dan panas, ia merasa malu memiliki seorang kakak seperguruan yang dianggapnya pemaling.

Tan Hong memahami perasaan gadis itu. Dengan hati berat dan menyesal, ia melompat pergi untuk menjalankan kebiasaannya membagi-bagikan uang dan obat yang didapatnya dari susioknya itu.

Seperti biasa, setelah membagi-bagikan hasil curiannya, Tan Hong pergi ke tempat yang sunyi untuk beristirahat. Namun kali ini, ia tidak bisa tidur. Ia duduk di bawah sebatang pohon besar, melamun. Bayangan Nona Lo Siok Lan yang cantik jelita dan gagah tak pernah meninggalkan matanya. Ia sangat tertarik dan mengagumi gadis itu. Namun, ia masih merasa sakit hati ketika teringat ucapan dan pandangan gadis itu yang sangat menghina. Siok Lan yang menarik hati itu memandangnya amat rendah!

Tan Hong lalu teringat keadaan dirinya sendiri. Siapa yang tidak akan memandang rendah dan menghinanya? Lihat saja tubuhnya yang kurus kering tak terawat, pakaiannya yang kotor lagi usang dan penuh tambalan. Ia adalah seorang maling. Takkan ada orang yang tidak akan menghina dan memandang rendah padanya, meskipun ia maling budiman. Tan Hong teringat orang tuanya yang meninggal dalam keadaan menyedihkan. Hatinya terharu. Ah, betapapun juga, ia tak bisa melepaskan diri dari pekerjaan yang menjadi idaman hatinya, yaitu menolong mereka yang kelaparan. Ia tak bisa melupakan keadaan keluarganya, kesengsaraan dan penderitaannya ketika ia kelaparan dulu! Ia tak bisa melupakan kekejaman dan kekikiran kepala kampung she Thio dulu. Orang-orang hartawan yang menumpuk makanan dan uang enggan membantu fakir miskin. Baik, ia akan mengambil makanan dan uang itu dengan mencuri, lalu membagikannya kepada mereka yang kelaparan! Biarlah, ia tidak memperdulikan keadaannya sendiri asal ia bisa menolong orang-orang yang kini menderita sebagaimana yang ia alami dulu, mereka yang terancam bahaya maut kelaparan, maut yang merenggut kedua orang tuanya!

Akan tetapi, kembali bayangan Siok Lan yang manis dengan pandangan mata menghina terbayang di depan matanya. Tiba-tiba Tan Hong merasa lemah dan bersedih hati. Ia menundukkan muka dan menyembunyikan kepalanya dalam pelukan kedua tangannya yang memeluk lutut. Disandarkannya punggungnya pada batang pohon besar itu, dan akhirnya ia tertidur dalam keadaan duduk.

Tiongkok selatan masih dilanda banjir, persediaan bahan makanan rakyat makin menipis, dan kesengsaraan makin memuncak. Di mana-mana bahaya kelaparan mengamuk, jumlah korban tewas akibat kelaparan makin banyak.

Bahkan, banyak kota besar mendirikan panitia penolong korban banjir yang terdiri dari orang-orang kaya dan pembesar-pembesar. Mereka mencari sumbangan dari hartawan yang ingin “mendapatkan nama”, menuliskan nama para hartawan pada papan di depan gedung panitia agar diketahui umum. Kepalsuan yang menjemukan ini belum seberapa hebat. Yang lebih celaka adalah pendapatan hasil sumbangan, berupa uang dan bahan makanan, sebagian besar “tersesat” dan “salah jalan” masuk ke dalam kantong para pengurusnya! Bagian yang sangat kecil barulah diberikan kepada korban banjir sesuai pilihan para pengurus panitia yang tentu saja memilih sesuka hati mereka, berdasarkan sesuatu yang menguntungkan mereka pula! Maka, bukan hal yang dilebih-lebihkan apabila diceritakan bahwa dalam masa sukar itu, banyak anak perempuan “ditukarkan” dengan beberapa kati bahan makanan!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment