Halo!

Munculnya Jit Cu Kiong - Chapter 02

Memuat...
Munculnya Jit Cu Kiong

Chapter 02

Namun, pemandangan yang cerah ini dipecahkan oleh berkelebatnya bayangan seorang pemuda yang memondong dua orang gadis muda berwajah sangat cantik dan bertubuh indah menggiurkan. Apalagi dengan baju merah dan putih yang mereka kenakan, mereka bagaikan bidadari yang turun dari kahyangan.

Pemuda tersebut berwajah tampan dengan alis mata yang gagah seperti golok.

Sinar matanya tampak biasa, namun halus dan tajam, menandakan ia menyimpan rahasia kekuatan dahsyat yang tiada tara.

Siapakah pemuda ini? Dan siapakah kedua gadis tersebut? Pemuda itu tidak lain adalah Sian Lee, sedangkan kedua gadis yang dibawanya itu adalah Im Hong Sian Li (Bidadari Angin Dingin), Hong Er Yong, dan Lian Giok Hui.

Mereka berdua masih dalam pengaruh hawa keji dari Sepasang Golok Iblis.

"Jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) dari mana berani memasuki puncak terlarang ini tanpa izin?" Tiba-tiba terdengar suara yang tenang dan berwibawa menyambut kedatangan Sian Lee. Tak lama kemudian, tampak enam bayangan berkerudung hitam berkelebat mengurungnya.

Sian Lee terkejut dan mengerutkan kening melihat para penghadang ini. Segera dia menurunkan kedua gadis dari gendongannya. "Hemm, Lo-enghiong, kita tidak pernah bertemu. Seharusnya akulah yang bertanya siapa kalian yang berani menghalangiku, karena aku adalah pemilik tempat ini?" Seorang yang berada di tengah segera menyahut dengan suara penuh teguran, "Hohoho, bocah lancang, kami adalah enam dewa pelindung puncak Sian-Thian-san ini! Sedangkan engkau, mau apa engkau datang kemari sambil membawa dua orang gadis yang tertotok? Hemmm, pasti engkau mau melampiaskan nafsu bejatmu, bukan? Sayangnya engkau bertemu dengan kami, dan kalau kau tidak melepaskan kedua gadis itu, kami akan memberimu hukuman!" Sian Lee mengerutkan keningnya dan berpikir dalam hati, "Terlalu!"

"Masa dia dituduh penjahat pemetik bunga? Enam dewa? Apa-apaan ini? Hem, apakah Lo-jin yang mengirim mereka kemari? Ada baiknya kucoba mereka?" Hatinya jadi gembira dan mulutnya tersenyum aneh.

Tanpa banyak bicara, tangan kanannya bergerak menjadi sembilan bayangan dengan dua jari menotok tanpa mengeluarkan suara ke arah dada orang berkerudung hitam yang berbicara dengannya, sementara tangan kirinya bergerak ke arah kerudung yang dipakai lawan.

Sengaja dia mengerahkan setengah tenaganya dan menyerang dengan salah satu jurus dari ilmu Tarian Jari Sembilan Dewa, karena dia melihat tatapan orang berkerudung tersebut sangat lembut, menandakan memiliki tenaga dalam yang sempurna.

Orang berkerudung itu terkejut melihat serangan yang aneh dan dahsyat ini. Dia tidak mendengarkan suara, namun dirinya seperti ditindih oleh kekuatan yang sangat dahsyat, tetapi tidak menjadi gugup.

Dalam sekejap, tubuhnya berputar setengah lingkaran ke kiri dan tangan kanannya dengan jari terbuka tiba-tiba mengeluarkan ledakan keras seperti petir, menciptakan perisai seluas dua jengkal menyambut totokan pemuda itu sekaligus menghadang serangan tangan kiri yang mencoba menarik kerudungnya. Sementara itu, tangan kirinya berubah seperti ribuan bayangan banyaknya, menyerang dengan cepat ke tiga puluh dua titik penting di tubuh lawan.

Sian Lee kagum bukan main.

Itulah jurus pertama dari ilmu Seng Hip Lui Sian Ciang (Telapak Dewa Petir Pemutar Bintang) yang amat dahsyat. Kakek ini memainkannya hampir sama baik dengannya, tampaknya tingkat yang dimiliki kakek ini masih di atas kepandaian Ketua Siauw Lim Pai, Khong Bhok Hwesio.

Tangan kirinya tidak berhenti mengarah ke kerudung lawan, sementara tangan kanannya, dengan gerakan memutar setengah lingkaran yang aneh, tahu-tahu sudah menotok kaku tangan kiri kakek itu yang sedang menyerang tiga puluh dua titik penting di tubuhnya.

"Aiiiiiihhhhh?" "Tak mungkin... bagaimana engkau bisa mematahkan jurus ini?" Terdengar seruan kaget dari kakek itu yang segera meloncat mundur, bahkan juga dari kelima orang berkerudung yang menonton dari samping.

Serentak mereka bergerak dan mengurung pemuda tersebut.

"Lo-cianpwe, tentu saja aku bisa mematahkannya karena aku juga memiliki ilmu tersebut, lihat ini?" Berkata demikian, Sian Lee mulai memainkan jurus-jurus dari ilmu Seng Hip Lui Sian Ciang dengan dahsyat dan sempurna. Bahkan keenam kakek tersebut sangat terkejut saat Sian Lee memainkan secara lengkap jurus kesatu sampai ketujuh dari Pat Sian Giam Lie Ciang (Tarian Maut Delapan Dewa).

Saat pemuda itu selesai memainkan ilmu tersebut, serentak keenam orang itu melepaskan kerudung mereka masing-masing dan berlutut di depan pemuda itu.

Tampaklah wajah tiap orang yang rata-rata berusia empat puluh sampai lima puluh tahun di hadapannya.

"Selamanya Ilmu Pat Sian Giam Lie Ciang hanya memiliki satu pewaris yang menguasai secara lengkap. Maafkan kami yang tidak mengenal It-Thian-Sian, kami sudah lama menanti di sini." Sahut yang paling tua. Namun, sebelum dia melanjutkan, Sian Lee sudah memotongnya, "Eh, Paman, apakah kalian semua dikirim oleh Lo-jin?" Keenam orang itu serentak mengangguk.

"Paman-paman sekalian, aku masih harus menyembuhkan kedua gadis itu yang terkena hawa Iblis Sepasang Golok Iblis. Harap Paman-paman sekalian bersabar, setelah ini nanti kita bicara lagi."

Tanpa menanti jawaban mereka, Sian Lee sudah melangkah dan kembali memondong kedua gadis itu yang dalam keadaan lemah.

Tak lama kemudian, tubuhnya berkelebat lenyap ke dalam bangunan Sian Thian San tersebut.

Pemuda tersebut meletakkan kedua gadis ini di atas dua tempat tidur batu pualam dingin yang berdekatan.

Sejenak dia termenung memandangi kedua gadis itu tanpa tahu harus berbuat apa.

Kedua gadis itu terkena pengaruh aneh dari sepasang senjata aneh yang datang dari tanah seberang.

Pendekar dari tanah seberang yang bernama Paksi Pamungkas pun hanya mengatakan bahwa dialah yang bisa menyembuhkan kedua gadis itu, tetapi tidak mengatakan bagaimana caranya.

Ada setengah jam dia termenung. Tanpa disadarinya, kedua gadis itu telah siuman dan memandangnya tanpa bersuara.

Tiba-tiba suara Giok Hui yang merdu memecahkan keheningan, "Lee-ko, mengapa engkau diam saja, apakah yang menggundahkan hatimu...?" "Eh... oh... kalian berdua sudah sadar?" Mukanya jadi merah saat didapatinya kedua gadis itu memandanginya. "Bagaimana dengan kondisi kalian? Apa yang kalian rasakan?" "Kami baik-baik saja meskipun kami tidak bisa mengerahkan tenaga. Agaknya kami telah kehilangan tenaga murni dan tidak bisa bersilat lagi," seru gadis itu sedih, sehingga matanya berkaca-kaca. Hal itu membuat Sian Lee terharu dan tidak tega. "Kau tenanglah, Hui-moi. Nanti kalau sudah sembuh, aku akan mintakan Lo-jin untuk mengambil kalian sebagai murid." "Ada satu cara?" Tiba-tiba Er Yong menyahut pelan, setengah berbisik. "Eh, benarkah, Yong-moi? Apakah engkau tahu?" Sian Lee dan Giok Hui memandang ke arah Er Yong dengan penuh tanda tanya.

Apalagi Giok Hui, mengetahui kalau ada obat yang bisa menyembuhkannya, segera dia mendesak Er Yong yang menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan ragu.

Mukanya yang cantik itu tampak merah karena jengah, sehingga dia berpaling ke kanan.

"Lee-ko, rahasia penyembuhan ini terkait dengan rahasia kami para wanita. Bisakah engkau keluar sebentar? Ada yang perlu kurundingkan dengan Giok Hui-cici. Tetapi kumohon engkau jangan mendengar pembicaraan kami...." Tatap gadis itu dengan suara penuh permohonan.

"Baiklah, aku akan keluar sebentar. Sepuluh menit lagi aku akan kembali." Berkata demikian, pemuda itu melangkah keluar dari kamar batu pualam tersebut.

Sian Lee berdiri di luar kamar sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Beberapa saat kemudian terdengar suara panggilan dari dalam kamar batu. Segera dia masuk ke dalam.

"Lee-ko, sebelum engkau menyembuhkan kami, cobalah engkau jawab dengan jujur pertanyaan kami. Apakah ada di antara kami yang kau sukai?" Er Yong bertanya perlahan sambil menatap tajam pemuda itu, demikian juga Giok Hui.

"Eh, ini... ini..." "Me... mengapa kalian bertanya begitu, apa hubungannya dengan kesembuhan kalian?" Tanya Sian Lee gagap.

Bagaimanapun juga, hatinya benar-benar kaget.

Kalau dia harus menjawab kedua gadis itu di dua tempat berbeda, lain lagi ceritanya. Tetapi ini di hadapan keduanya sekaligus, bagaimana dia tidak kikuk!

"Kami dalam keadaan sekarat, tentu saja jawabanmu sangat penting artinya untuk kesembuhan kami. Sekarang kau jawablah dengan jujur, bagaimanakah perasaanmu terhadap kami?" Kembali Er Yong menimpali.

Setelah termenung sebentar, sambil menarik napas panjang, Sian Lee menjawab perlahan, "Sesungguhnya memang harus kuakui, bahwa aku suka pada Yong-moi, tetapi juga sayang pada Hui-moi. Kalian semua sangat berarti di hatiku sehingga sukar bagiku untuk memilih. Lagipula, aku belum ingin menikah karena ada tugas yang harus diselesaikan." Dia terdiam sejenak mengambil napas. "Nah, sudah kukatakan dengan terus terang, terserah apa pendapat kalian." Sian Lee merasa lega di hatinya.

Rasanya semua beban yang ditahan dalam dada telah bebas.

Tetapi dia mengerutkan kening saat melihat Er Yong memalingkan wajahnya yang memerah sambil berkata pada Giok Hui, "Hui-cici, engkau sudah dengar, bukan? Pemuda mata keranjang ini ingin sekali mendapatkan dua ekor burung dara. Sekarang terserah padamu!" "Oh, Yong-moi, bukan begitu maksudnya?" Sian Lee jadi tidak enak dan pucat, dan kepalanya menunduk, tidak tahu harus bilang apa.

"Lee-koko, tahukah kau kalau kami berdua juga tidak menolakmu? Cuma kami masih ragu apakah engkau mau dan sanggup menjaga kami berdua? Kalau bisa berbagi adil dengan kami, maka tidak ada masalah lagi, begitu juga dengan penyakit kami ini." Kepala yang tadinya tertunduk malu, tiba-tiba terangkat dengan wajah yang penuh tanda tanya.

Mulutnya hendak bertanya, tetapi hakikatnya tidak perlu lagi, karena tatapan kedua gadis itu sudah menjawab semuanya.

Meskipun Sian Lee adalah seorang yang bodoh, tetapi mana mungkin dia tidak mengerti arti perkataan wanita-wanita itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment