Chapter 03
Keputusan ini mungkin luar biasa bagi kedua gadis itu, namun juga merupakan keberuntungan bagi mereka. Masih ada satu pertanyaan yang mengganjal dalam pikiran Sian Lee.
Namun, Eryong seolah mengerti, lalu menjawab, "Menurut suhu Paksi Pamungkas, pengaruh hawa iblis dalam darah kami hanya bisa ditawar oleh darah gaib dari pemilik Ajian Tapak Begawan Pamungkas dan Ajian Cakra Pancasona. Jika itu terjadi, berarti kami tidak mungkin bisa menikah dengan orang lain kecuali pemilik darah gaib tersebut, karena hanya orang itulah yang bisa memiliki serta menyentuh tubuh kami."
Sian Lee terkejut, ia tidak habis pikir ada kejadian seaneh itu. Namun, ia merasa kasihan pada kedua gadis itu. Jika ia menyanggupi permintaan tersebut, bukankah berarti ia telah membelenggu mereka?
"Lee-koko, engkau jangan khawatirkan kami. Jika engkau memang mencintai kami, kami pun rela bersama denganmu selamanya. Hanya janganlah kau permainkan ketulusan hati kami!" kembali Giok Hui menambahkan. Sian Lee terharu mendengar ini.
Ia tidak punya jalan lain, akhirnya dimulailah pengobatan terhadap kedua gadis itu dengan menggunakan darahnya. Pengobatan yang aneh, karena darah gaibnya itu bukan disalurkan melalui mulut atau bagian yang lain, melainkan hanya melalui bagian yang paling sensitif dan paling rahasia dari wanita.
Sian Lee berkelebat keluar, didapatinya keenam orang tadi masih berdiri di luar sambil menantinya. Segera ia bertanya pada kakek yang paling tua, "Baiklah paman, sekarang jelaskan kepadaku apa arti semua ini? Dan apa maksud kalian menyebutku It thian Sian?"
"Harap It thian Sian membaca surat dari Lo-jin ini!" Segera orang itu menyerahkan sesampul surat yang terbuat dari kulit beruang yang sudah diawetkan. Jelas di situ tulisan tangan Lo-jin yang amat dikenalnya. Dengan mengerutkan keningnya, ia membaca sampai habis, kemudian mengangguk-angguk.
"Baiklah, Lo-jin mengatakan bahwa kalian memang dipersiapkan untuk membantuku mempertahankan Sian Thian San dari serangan musuh yang amat tangguh, tapi beliau tidak menjelaskan musuh yang bagaimanakah itu?"
Kakek itu segera menjelaskan, "Lima puluh tahun yang lalu, Lo-jin pernah mengalahkan lima gembong dunia hitam yang merajalela. Yang empat orang pertama adalah Thian Tee Bong Su-kwi (Empat Iblis Kuburan Langit Bumi) yang akhirnya dibuang dan diasingkan sampai jauh ke pegunungan Himalaya, sedangkan yang satu lagi, adalah Mo-Kauw Kaucu, Kian Kun Mo Ong Cui Ho Meng, yang diusir ke Persia. Lo-jin baru mendapat tahu gerakan Thian Tee Bong Su-kwi selama tiga bulan ini yang berencana untuk mengambil alih Sian Thian San untuk dijadikan pusat kebangkitan dari partai mereka, sedangkan dari Mo-Kauw sendiri belum jelas. Itu sebabnya Lo-jin memanggil kami kembali untuk membantu kongcu?"
Setelah merenung sejenak, akhirnya ia berkata, "Baiklah, kalau begitu saya menerima tugas ini. Mulai sekarang, para paman ini akan memakai julukan Tujuh Dewa Bumi Pelindung Sian Thian San. Satu lagi yang perlu diingat, jangan menyebutku dengan sebutan kongcu. Para paman lebih tua dari saya, itulah sebabnya para paman harap menyebut saya Lee-ji (Anak Lee) saja."
"Bila itu kemauan ananda Sian Lee, kami setuju. Tapi bila di luar, kami tetap harus menyebutmu dengan gelar sebenarnya, untuk menegakkan wibawa Sian Thian San. Oh ya, kami hanya berenam, mengapa kongcu katakan bertujuh? Siapakah pewaris Hong Liong Hwee Sian Ciang?"
"Oh, dia adalah muridku, seorang anak kecil berusia sebelas tahun, namanya Beng Sian, tapi tenaga dan kepandaiannya hampir tidak selisih jauh dari paman berenam, hanya dia masih kurang pengalaman. Untuk saat ini dia akan ikut denganku terus sampai dia bisa mandiri."
"Satu lagi, harap paman mengutus orang ke bukit Pek In Kok san (bukit Awan Putih), untuk menjemput Beng Sian. Katakan bahwa aku memanggilnya ke mari. Selama tiga bulan ke depan ini kita perlu berbenah diri, tidak perlu melakukan pergerakan apapun. Aku akan tinggal untuk sementara, baru kemudian akan melanjutkan penyelidikan."
Demikianlah, sejak saat itu Sian Lee tinggal di Sian Thian San selama tiga bulan sambil menyempurnakan ilmu dari keenam pelindung tersebut. Di samping itu, ia menyuruh mereka mengumpulkan enam belas murid pilihan mereka, dan ia sendiri juga yang melatih mereka secara khusus dengan Ilmu Pat Sian Pek Kut Jiauw yang terdiri dari delapan jurus. Ilmu ini ia gubah dari Pat he Pek Kut Jiauwnya Siluman Bongkok. Ia merasa sayang jika ilmu yang aneh ini hilang begitu saja. Namun, ilmu ini sudah disempurnakan dan dihilangkan sifat-sifat kejinya, sehingga menjadi lebih dahsyat.
Tiga bulan berlalu dengan sangat cepat. Ternyata tidak sedikit juga kejadian-kejadian baru yang menghebohkan di dunia persilatan. Setelah dibasminya Thian Bu Tek atau Pangeran Ragakaca sang pemegang Sepasang Golok Iblis, dunia persilatan kembali digemparkan oleh kematian menggenaskan para murid-murid lima partai besar dari Siauw Lim Pai, Kun Lun Pai, Cing Ling Pai, Bu Tong Pai, dan Thai San Pai. Peristiwa yang menggeparkan ini sangat mengganggu ketenangan dunia persilatan dan meresahkan setiap orang.
Peristiwa kehancuran Khong Tong Pai, Cing San Pai, Go Bie Pai, dan Hoa San Pai di tangan Sepasang Golok Iblis dan begundalnya dulu sudah merupakan pukulan yang berat bagi golongan putih. Sekarang, ditambah lagi dengan peristiwa ini, benar-benar merupakan keresahan yang makin memperburuk wibawa golongan putih. Apalagi kematian para murid partai-partai ternama ini diikuti pula dengan hilangnya salah satu kitab pusaka pegangan perguruan mereka.
Tak pelak lagi, partai-partai tersebut yang tadinya tidak melibatkan diri dengan urusan-urusan di luar partai, sekarang turun gunung dan mulai mengadakan penyelidikan yang ketat, dan hasilnya sungguh mengejutkan. "Sian Thian San!" Nama ini bergema di berbagai penjuru sebagai penyebab semua kekacauan ini. Banyak bukti-bukti dan saksi mata yang menguatkannya sehingga tidak dapat menghindar. Hanya saja, nama Sian Thian San adalah suatu nama yang agung dan penuh misteri yang tersimpan selama ratusan tahun. Siapakah yang berani menyantroninya?
Tidak ada jalan lain, isu yang menghebohkan ini akhirnya memancing munculnya para tokoh-tokoh tua simpanan dari berbagai partai besar ini yang telah lama mengasingkan diri dari dunia persilatan untuk keluar mempertahankan wibawa mereka. Mereka harus mencari keadilan, tapi mereka juga sadar bahwa itu tidak mudah karena yang mereka akan hadapi adalah Sian Thian San. Cuma, benarkah Sian Thian San pelaku dan sumber dari semua malapetaka ini? Mereka masih belum yakin seratus persen.
Sudah satu bulan Sian Lee mengadakan penyelidikan. Namun, sampai sejauh ini ia belum menemukan titik terang siapa yang begitu kurang ajar berani menggunakan nama Sian Thian San untuk mengacau. Gerakan ini begitu rapi dan terorganisir dengan baik.
Sore itu, Sian Lee sendirian mendaki puncak Thai San Pai. Kedatangannya ke puncak itu adalah untuk menyelidiki adanya gerakan rahasia yang akhirnya menuntunnya sampai di bawah kaki. Dengan lenggang seenaknya ia berjalan dengan kepala tertunduk. Namun, tidak begitu lama, telinganya menangkap gerakan pertarungan dari arah depan, segera ia berkelebat menyembunyikan dirinya sambil terus mendekati sumber suara tersebut.
Dari persembunyiannya, ia melihat seorang gadis berusia lima belas tahun sedang duduk di atas sebuah tandu dengan sikap yang jumawa sekali. Jubahnya panjang dengan gambar Matahari dan Bulan bersilang di dadanya. Di sampingnya tampak dua orang pemuda yang berdiri tenang. Sementara, tak jauh dari situ, tampak dua orang kakek yang lain. Yang satu berusia enam puluh, sedangkan yang satu sebaya dengan yang pertama dan sedang duduk bersila di atas sebuah batu. Ia segera mengenal kakek yang berusia enam puluh itu sebagai Thai Yang Siansu, yaitu ketua Thai San Pai sendiri. Tapi yang sedang bersila itu ia tidak tahu.
Mereka tampaknya sedang mengamati pertarungan itu dengan wajah serius dan khawatir. Di hadapan mereka tampak dua orang pemuda yang sama usia, bertarung dengan sengit sekali. Sekejap Sian Lee mengamati pertarungan itu, ia terkejut karena salah satu dari pemuda itu menggerakkan sepasang pedang dengan cara yang amat aneh. Sinar pedangnya bergulung-gulung membentuk lingkaran-lingkaran tanpa akhir yang mengurung lawan dengan ketat sekali. Ia kagum karena tampaknya itulah Thai Kek Kiam Sut yang telah dikuasai dengan sangat mahir sekali.
Tapi setelah diamati, pemuda yang menjadi lawannya juga bukan lawan empuk karena ilmu pedangnya itu adalah PakThian Hui Sian Kiam (Pedang Dewa Terbang ke Langit Utara), salah satu dari sembilan pusaka wasiat dewa yang sedang ia cari. Tampak pertarungan itu, walaupun pemuda yang menggunakan Thai Kek Kiam Sut itu cukup hebat, namun lambat laun, setelah lewat delapan puluh jurus, mulailah daya serangnya berkurang.
"Hahaha! Thai Kek Siansu, sungguh hebat engkau bisa melatih pewarismu dengan ilmu Thai Kek kiam sut yang sudah lapuk itu, namun kau harus ingat! Di atas langit masih ada langit. Lihatlah ilmu pedang PakThian Hui Sian Kiam ciptaan ayahku itu akan menghancurkan kebesaran partaimu, kecuali engkau tunduk dan mengakui keberadaan kami, maka partaimu akan selamat..." Gadis di tandu itu mengejek dengan seenaknya.
"Huh, bocah tidak tahu adat, katakan pada ayahmu, mengapa dia begitu pengecut mengutus anak bau kencur sepertimu untuk membuat kekacauan?" Yang membalas ini adalah Thai Yang Siansu. Sian Lee mengerutkan keningnya. Tahulah ia apa yang terjadi, ternyata pemuda yang memainkan PakThian Hui Sian Kiam itu adalah rombongan dari si gadis yang jumawa tersebut, dan agaknya merupakan murid dari seorang tokoh yang telah berhasil mendapatkan salah satu dari Sembilan Pusaka Dewa.