Halo!

Munculnya Jit Cu Kiong - Chapter 04

Memuat...
Munculnya Jit Cu Kiong

Chapter 04

Hatinya sangat gembira karena akhirnya dia menemukan jejak ilmu tersebut, namun pada saat itu juga dia mendengar suara sang gadis: "Suheng, berhenti bermain-main, segera selesaikan pemuda goblok itu?" "Baik, Niocu." Saat itu juga pedangnya berkelebat sangat cepat.

Pemuda yang disebut suheng oleh gadis itu telah mengerahkan jurus terakhir dari PakThian Hui Sian Kiam yang dahsyat.

Sian Lee memperhatikan, ternyata pemuda itu baru menguasai PakThian Hui Sian Kiam belum sampai separuhnya.

Namun demikian, pemuda yang menjadi lawannya itu hampir tidak sanggup lagi melawan dan tampaknya akan segera kalah dalam dua jurus berikutnya.

Segera Sian Lee berbisik dengan ilmu "mengirim suara jarak jauh" ke telinga pemuda itu.

Saat itu semua orang melihat pemuda yang telah terdesak itu tiba-tiba memejamkan mata sambil menggigit bibirnya.

Hasilnya sangat hebat, keadaan pertarungan berubah, karena secara aneh pemuda itu dapat menangkis dan meloloskan diri dari setiap serangan mematikan yang dahsyat dari PakThian Hui Sian Kiam.

Padahal pemuda itu hanya memainkan gerakan-gerakan dasar dari Thai Kek Kiam Sut yang sederhana, ternyata dapat dipakai membendung ilmu pedang lawan yang sangat hebat.

Hal itu membuat si gadis penasaran, namun tidak bisa berbuat apa-apa.

Bahkan Thai Yang Siansu serta Thai Kek Siansu juga heran.

Pertarungan kembali berlangsung dengan keadaan yang amat aneh itu hingga tiga puluh jurus, sampai akhirnya sang gadis membentak sengit: "Hentikan pertarungan, kita pulang!" Saat itu sang Suheng memperhebat serangan dan kemudian melompat mundur dengan wajah penasaran.

Namun pemuda itu tetap bergerak memainkan ilmu Thai Kek Kiam Sut itu seorang diri tanpa memedulikan lawannya lagi.

"Thai Kek Siansu, masalah ini belum selesai, bila tiba waktunya ayahku dan Toa-ciciku yang sakti pasti akan meluruk kemari untuk menyelesaikan utang lama ini." Dalam sekejap rombongan itu telah berlalu.

Pemuda itu masih terus bersilat dengan mata yang tertutup rapat.

Thai Yang Siansu memburu ke arahnya dengan penasaran dan hendak berkata sesuatu untuk menghentikannya, namun Thai Kek Siansu segera menepuk pundaknya dari belakang.

"Biarkan dia, jangan diganggu!

Dia sedang mengalami penyempurnaan dari seorang sakti." Thai Yang Siansu terdiam sambil memandang ke sekeliling.

Namun dia tidak menemukan siapa-siapa.

Saat dia melihat ke arah susioknya, dilihatnya mata sang susiok tertuju pada kumpulan pohon bambu di sebelah kanan.

Segera dia melesat ke sana untuk melihat, tapi dia tidak menemukan siapa-siapa selain dua buah benda yang melayang perlahan ke arahnya.

Yang sebuah adalah daun sebesar telapak tangan bertuliskan sesuatu, dan yang lain adalah sebuah kitab.

Segera dia menangkap kedua benda tersebut, namun dia terkejut karena tangannya bergetar keras.

Pada sampul kitab itu tertulis dengan tulisan yang gagah "Cui Beng Sian Kiam Ciang" (Pukulan Pedang Dewa Pengejar Roh), ini adalah salah satu kitab pusaka persilatan.

Thai Kek Siansu juga sangat terkejut melihat kitab ini.

Sedangkan pada daun tersebut tertulis beberapa kata: "Maaf atas ketidaksopananku, Thai Yang Ciangbunjin. Lain waktu saya pasti akan mampir mengantar salam dari Lo-jin.

Kitab ini telah memilih sobat muda itu.

Tertanda: Sian Thian San." Thai Yang Siansu terpaksa kembali ke tempat susioknya dengan langkah lesu.

Sementara si pemuda telah berhenti dan membuka mata.

Segera dia berseru: "Ah, susiok, sayang wajahnya tidak sempat kulihat," dia bergerak seperti angin. "Orang muda yang luar biasa, entah siapa dia?" Hakikatnya dia tidak bergerak seperti angin, melainkan telah mencapai tingkatan "mendahului angin dan bayangan," satu tingkat di bawah "menjejak cahaya" yang mungkin hanya dimiliki oleh para dewa saja?" desah Thai Kek Siansu perlahan.

"Susiok, pada daun ini tertanda "Sian Thian San," apakah pemuda yang Susiok lihat itu mengenakan rompi kulit harimau putih?" "Benar, tahukah kau siapa dia?" Tanya Thai Kek Siansu.

"Dia pendekar yang baru muncul dengan julukan "Pengelana Tangan Sakti." Tidak ada yang tahu sejauh mana ketinggian ilmu silatnya. Hemm, kalau benar dia, mungkin saja kekacauan dunia persilatan ini akan dapat diatasi?" Sehabis berucap, Thai Yang Siansu menghela napas panjang sambil memandang kepada pemuda tampan di hadapannya.

"Kang-ji, terimalah kitab ini dan mohon Susiok memberi petunjuk. Ilmu ini adalah salah satu dari sembilan ilmu pilihan dunia persilatan, kau sangat beruntung!" Sian Lee berlari menuruni puncak Thai San Pai dengan penuh tanda tanya.

Siapakah sebenarnya gadis remaja dan pemuda yang mengerti ilmu PakThian Hui Sian Kiam tersebut.

Dia mengerahkan tenaganya ke seluruh tubuh dan kemudian dia telah mengerahkan ilmu "Menjejak Angin, Mengejar Cahaya," tubuhnya melesat bagaikan asap ke arah Timur.

Sekian lama dia berlari, namun belum juga dia menemukan di mana keberadaan gadis remaja dan rombongannya tadi.

Akhirnya dia berhenti di pinggir sebuah sungai Yang Cu Kiang yang cukup lebar.

Tiga perahu besar berhenti di tengah sungai tersebut.

Dari bendera yang berkibar, dia membaca tulisan "Jit Cu Kiong" atau "Istana Mustika Matahari."

Perhatiannya segera beralih ke tempat lain.

Sekitar lima puluh tombak dari tempatnya berdiri, matanya menangkap suasana yang tidak mengenakkan.

Segera tubuhnya melesat ke sana.

Dilihatnya puluhan mayat bergelimpangan di mana-mana.

Hatinya sedih melihat kekejaman ini.

Tubuhnya melesat ke depan.

Tidak berapa lama kemudian dia mendengar suara desingan senjata tajam dan hawa pukulan yang dahsyat saling beradu.

Dia terkejut!

Ini bukan pertandingan biasa, tetapi pertandingan antara dua orang ahli silat tingkat tinggi, dan tingkat mereka jauh di atas rata-rata para Ciangbunjin sembilan partai besar.

Pedang terbang yang menyambar-nyambar bagaikan kilat mengurung lawan itu digerakkan oleh seorang gadis muda berusia sembilan belas tahun yang sangat cantik dan berperawakan bukan seperti orang Tionghoa.

Sedangkan lawan yang dihadapinya ternyata tidak kalah hebatnya.

Tubuhnya bergerak seperti orang menari dengan ratusan hawa panas-dingin yang tajam dan mengerikan keluar dari sekeliling tubuhnya, menangkis dan bahkan balas menyerang lawan dengan dahsyat.

"Hahaha, Nona Im, kau sungguh sangat hebat. Aih, sebenarnya pertempuran ini tidak perlu diteruskan. Jika saja engkau mau bergabung dengan kami, tentu kita akan menjadi lebih kuat untuk menaklukkan musuh kita. Bagaimana?" "Huh, engkau mengkhianati kami dan membawa lari pusaka perguruan, serta membunuhi para pengikutku, sekarang seenaknya engkau mengajukan penawaran... Makan pedangku!" Tampak gadis itu sangat marah.

Pada saat itu pedangnya bergerak lebih cepat lagi.

Namun pemuda itu pun tidak tinggal diam.

Dia pun segera meningkatkan pengerahan ilmunya sampai tingkat yang lebih tinggi.

Melihat hal ini, Sian Lee terkejut.

Kedua orang itu memiliki tingkat kekuatan maupun penguasaan ilmu yang sama, jika mereka tidak dipisahkan sekarang, dikhawatirkan hanya akan berakhir dengan parah antara keduanya.

Segera tubuhnya melesat dengan cepat ke arah pertarungan.

Dengan mengerahkan Thian Kin Hong Sian Ciang (Telapak Dewa Angin Pelentur Langit) dan Bu Eng In Sian Ciang (Telapak Dewa Awan Tanpa Bayangan), tubuhnya menyusup bagaikan awan di antara kedua orang tersebut.

Kedua orang ini terkejut bukan main karena tiba-tiba saja suatu kekuatan yang sangat dahsyat menangkis semua serangan mereka dan mendorong mereka untuk mundur.

Sambil berseru keras mereka menarik tenaganya dan melompat mundur.

"KAU!!!" Si pemuda sangat terkejut saat melihat pemuda yang memisahkan mereka.

Tubuhnya bergetar sesaat.

"Yah, aku. Apakah kita pernah bertemu?" Tanya Sian Lee heran dengan keterkejutan lawan.

"Hemm, engkau tidak mengenalku, tetapi aku sangat mengetahui dirimu." Belum selesai perkataannya, tubuhnya sudah melesat ke arah perahunya.

Sian Lee terkejut.

Namun saat dia hendak bertanya kepada si gadis, tiba-tiba dilihatnya si gadis juga telah membalikkan tubuhnya untuk berlalu dari situ.

"Hei, Nona, tunggu!" Terpaksa Sian Lee melompat mengejar.

Si gadis terkejut karena tiba-tiba pemuda itu sudah menghadang di depannya.

"Apa maumu? Mengapa engkau menghadangku?" Suara si gadis terdengar halus dan lembut meskipun tampak menyembunyikan perasaannya.

"Maaf, Nona, aku tidak bermaksud buruk. Namaku Sian Lee, aku kebetulan lewat di tempat ini dan melihat kalian sehingga menghentikan pertarungan hidup mati kalian. Apakah tidak keberatan jika aku mendapat penjelasan?" Si gadis tersenyum.

Hanya sebuah senyum saja, namun hakikatnya tidak ada pria normal mana pun yang bisa tahan dengan senyum seperti itu.

Tak terkecuali Sian Lee.

Matanya terbeliak terpesona saat memandangi kecantikan gadis itu.

"Baiklah, namaku Cui Im Yan, aku sudah tahu siapa engkau. Asal kau tidak ceriwis seperti pemuda tadi, aku pun suka meladenimu." Berkata demikian, gadis itu kemudian melanjutkan perjalanannya dengan berlari cepat.

Sian Lee terkejut mendengarnya.

Segera dia mengikuti dan menyejajarkan langkahnya.

"Nona Cui, apakah hubunganmu dengan Mo-Kauw Kaucu Cui Ho Meng?" "Beliau adalah kakekku." Jawabnya singkat.

Namun ini saja sudah cukup membuat Sian Lee mengerti semua keadaan.

Ternyata gadis ini adalah orang Mo-Kauw yang telah diusir oleh Lo-jin puluhan tahun lalu.

Banyak pertanyaannya, tetapi dia pun segera paham keadaan dan menyimpannya dalam hati dulu.

Segera dia mengalihkan pertanyaannya ke hal lain: "Baru saja aku bertemu dengan serombongan gadis remaja dan pemuda yang memainkan ilmu pedang yang sama seperti yang Nona Cui mainkan. Apakah kau mengenalnya?" "Ah... ternyata kau sudah bertemu dengan adikku Cui Im Cu. Di manakah mereka?" Gadis itu terkejut dan balik bertanya.

"Aku melihat dia mengacau di Thai San Pai, jadi aku memberi pelajaran kepadanya. Sayangnya aku tidak tahu di mana dia sekarang." Maka Sian Lee menceritakan peristiwa yang baru saja dia saksikan di puncak Thai San Pai.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment