Chapter 05
Anak itu ternyata masih beradat keras. "Kalau terjadi kesalahpahaman dengan Ciangbunjin Thai San Pai, bukankah akan repot? Aku harus memberi pelajaran pada anak itu," katanya dengan suara kesal.
Sian Lee hanya diam.
"Maaf, Nona Cui. Apa maksud Anda kesalahpahaman? Dan kalau tidak salah, tadi Anda mengatakan sudah mengenal saya. Dari mana Anda mengetahui?" Gadis itu tersenyum simpul.
Manis sekali.
"Anda adalah pendekar muda yang baru muncul dengan julukan Pengelana Tangan Sakti dari Sian Thian San. Sampai saat ini tidak seorang pun tahu sampai di mana kehebatan Anda, dan Anda sangat susah ditemui. Bahkan Anda dikabarkan sama seperti dewa yang berdiam di antara manusia untuk menolong mereka. Benar tebakan saya?"
"Ah, mengenai nama julukan saya, memang orang menyebut demikian. Tapi soal kehebatan, kurasa Nona terlalu melebih-lebihkan. Saya hanyalah pemuda biasa."
"Ya, pemuda biasa yang namanya sudah menggetarkan seluruh penjuru persilatan. Bahkan Pelindung Kanan dari Jit Cu Kiong pun tak berani memperpanjang masalah dengan Anda?" Gadis itu terus mendesak sambil tersenyum.
Sian Lee menarik napas panjang. Ia tidak habis mengerti siapa yang menyebarkan isu-isu seperti itu di dunia persilatan. Namun, ia kemudian bertanya, "Siapakah pemuda yang bertarung dengan Anda tadi?"
"Bangsat yang tadi bertarung dengan saya itu adalah Po Tee Giok. Dia masuk ke dalam partai kami tiga bulan lalu dan menjadi orang kepercayaan kakek. Tapi ternyata dia adalah seorang pengkhianat karena dialah Pelindung Kanan dari Jit Cu Kiong. Sepuluh hari lalu, dia melarikan pusaka ilmu rahasia Kian Kun Sin Kang kami. Syukur dia belum menguasai ilmu tersebut dengan baik. Kalau sudah, tentu akan sulit bagi kami untuk menandinginya. Tapi, saya harus tetap mengejarnya."
"Mengapa kakek Anda tidak mengejar sendiri dan merebut kembali kitab pusaka tersebut serta menghukum murid murtad itu?" kata Sian Lee sedikit penasaran.
"Puluhan tahun lalu, kakek saya dikalahkan oleh seorang sakti dari Sian Thian San dan dipaksa kembali ke Persia. Tadinya beliau ingin membalas setelah memperdalam ilmunya, namun dia mengurungkan niat tersebut saat usianya terus bertambah dan saat dia mengetahui suatu peristiwa besar akan terjadi di Tiongkok. Sepuluh hari lalu, dia terluka parah oleh pengkhianatnya yang licik dari Po Tee Giok. Kekuatan kami berkurang, sehingga kami sulit untuk menempurnya. Kedatangan kami kembali ke Tiongkok ini sebenarnya disebabkan adanya berita rahasia dari mata-mata kami tentang adanya pergerakan rahasia yang bergerak untuk menguasai wilayah Tiongkok ini. Kami belum berhasil mengetahui dengan jelas siapa mereka, tapi satu-satunya yang kami tahu ialah bahwa mereka memiliki bantuan kuat dari tokoh-tokoh silat dari suatu negeri di seberang lautan yang disebut Jawadwipa. Bahkan mereka telah memiliki orang-orang yang telah diselundupkan di semua partai besar dan perkumpulan yang ada di tanah sentral ini."
Sian Lee terkejut sekali. Dalam hati dia berpikir, ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak diduganya. Dia tahu bagaimana kehebatan orang-orang dari negeri seberang itu karena salah satu dari lo-cianpwe yang mengajarinya ilmu silat berasal dari sana. Apakah ini yang dimaksud orang tua itu saat mengatakan bahwa dirinya akan memikul tugas yang berat?
"Saat mendatangi partai-partai besar yang ada, kami hanya bermaksud menyelidiki keberadaan orang-orang yang disusupkan oleh Jit Cu Kiong saja dan tidak ada maksud lain. Hanya saja kami tidak bisa terang-terangan mengatakan pada para ciangbunjin partai-partai tersebut tentang keadaan yang sedang terjadi karena mereka takkan percaya pada Mo-Kauw," kembali gadis itu menjelaskan.
Tak terasa mereka telah berjalan cukup jauh hingga sampailah mereka berdua di sebuah hutan yang lebat. Saat itu langkah mereka berdua terhenti. Di sekeliling mereka tampak bermunculan bayangan-bayangan yang segera mengepung tempat itu dengan senjata terhunus. Jumlah mereka tidak kurang dari lima orang.
Sian Lee mengernyitkan keningnya. Kemunculan mereka ini sebenarnya tidak mengagetkan bagi Sian Lee karena dengan kepandaiannya yang sangat tinggi, bila dia berkonsentrasi, tiada satu gerakan pun yang bisa lolos darinya dalam jarak tiga puluh li. Yang mengagetkannya ialah karena orang-orang itu sangat dikenalnya dan mereka bukanlah orang-orang sembarangan. Di tambah lagi keadaan mereka tampak aneh sekali dengan pakaian serta jubah yang awut-awutan dan mata merah. Mereka adalah Ketua Siauw Lim Pai, Khong Bok Hwesio; Ketua Kun Kun Pai, Pek I Cinjin; Ketua Bu Tong Pai, Thian In Kiam Ong; Ketua Cing Ling Pai, Bu Eng Sianjin; serta Ketua Kai Pang Sian Tung Sin Kai.
Namun, demi melihat adanya Khong Bok Hwesio, Sian Lee coba tersenyum dan segera menyapanya, "Apa kabar, Khong Bok Losuhu? Baik-baiklah selama ini?"
Hwesio itu tersenyum aneh dengan mata mencorong kemerahan. "Sangat baik, Sian-sicu. Cuma ada banyak kejadian aneh yang menuntut pertanggungjawaban sicu. Hanya itu saja." Tiada yang lain. Siapapun tahu itu tidaklah cukup dipakai sebagai alasan untuk suatu pertempuran yang membuang nyawa, namun siapa yang mau peduli?
Meski Sian Lee mau jawaban yang lebih, ia terpaksa hanya bisa tersenyum masam. Karena tubuh kelima orang itu sudah bergerak menyerangnya dengan dahsyat. Anehnya, hanya Sian Lee yang mereka serang. Sedikit pun mereka tidak berusaha menyentuh Cui Im Yan, bahkan melirik pun tidak. Begitu bayangan kelima orang itu bergerak, kilat sinar senjata yang dahsyat pun bergerak. Sian Lee-pun bergerak. Entah siapa yang lebih cepat, tapi semua berakhir begitu saja. Tak ada suara keluhan maupun teriakan kesakitan. Hakikatnya Cui Im Yan yang menyaksikan pun dibuat tertegun dan berdecak kagum. Tak habis pikir membayangkan kalau ada manusia yang mampu bergerak sebegitu cepat seperti itu, tapi dia tidak bisa berpikir banyak karena kenyataan sudah terpampang di hadapannya.
Pemuda itu berjalan perlahan menuju ke arahnya. "Mereka menyerangku hanya mengandalkan kecepatan tanpa jurus silat. Serangan yang sangat berbahaya karena entah aku menghindar atau tidak, mereka tetap akan menjadi korban senjata kawan yang tidak bisa dikendalikan. Tampaknya pikiran mereka dikuasai oleh ilmu I Hun To Hoat tingkat tinggi dan racun perampas ingatan. Itu sebabnya mereka bertindak liar sehingga mudah bagiku untuk menotok mereka."
"Apa yang akan Anda lakukan pada mereka?" tanya gadis itu sambil memandang pemuda di hadapannya. Terbersit rasa kagum yang tidak bisa disembunyikan dari tatapan matanya.
Sian Lee tersenyum. "Apa nona punya sebuah mangkuk?"
"Ada?" Cui Im Yan lalu mengeluarkan sebuah mangkuk dari buntelan pakaiannya dan menyerahkannya pada pemuda tersebut.
Sian Lee mengambil mangkuk yang disodorkan lalu menggigit ujung jari dan mengeluarkan darahnya di atas mangkuk tersebut sampai setengah. Cui Im Yan hanya memandanginya dengan heran. Setelah itu, Sian Lee bergerak cepat meminumkan darahnya kepada kelima ciangbunjin tersebut. Selang lima menit, saat khasiat darah gaib itu mulai bekerja, dia membebaskan totokan mereka. Kelimanya segera duduk bersila mengatur jalan darah untuk menetralisir hawa di tubuh mereka yang menjadi panas seperti bara api.
Melihat keadaan telah tenang, Sian Lee melepas pengawasan terhadap keadaan di sekelilingnya. Namun, tanpa disadari olehnya, dua pasang mata yang bersinar lembut dan luas saling pandang sambil menatap tak berkedip ke arah mereka. Saat itu terjadi pembicaraan rahasia di antara keduanya.
"Anak itu menguasai Ajian Cakra Pancasona dan Tapak Begawan Pamungkas! Apakah kakek usil itu juga sudah sampai di tempat ini?" bisik yang seorang ke pada rekannya dengan ilmu mengirim suara.
"Tampaknya demikian, tapi apalah artinya, dia toh masih sangat muda?" jawab yang satu, juga menggunakan ilmu mengirim suara jarak jauh.
"Benar masih muda, tapi tidakkah kau lihat getaran tenaga yang dipancarkan oleh matanya? Kekuatannya jauh lebih hebat dari Po Tee Giok, bahkan tidaklah di bawah kita berdua. Kemungkinan dia setara dengan guru kita Ki Reksa Sadewa?"
"Kau benar, Kakang. Hebat, walau kita sudah berlatih sekian tahun dengan menggunakan berbagai benda-benda mujizat untuk meningkatkan tenaga dalam, tak nyana masih ada juga tokoh yang bisa menandingi, dan lagi masih sangat muda?"
000
Di tempat yang lain, Puncak Bu Tong Pai. Mayat berserakan di mana-mana. Pertempuran yang besar tampaknya baru saja terjadi, bahkan pertarungan yang lain masih sementara berlangsung antara empat orang. Di undakan tangga aula bangunan Bu Tong Pai, tampak lima orang sedang duduk bersila karena luka dalam. Mereka adalah para pengurus utama Bu Tong Pai yang telah terluka dalam.
Di sisi sebelah sini, tampak seorang pemuda berpakaian siucai dengan sepasang senjata Poan-koan-pitnya yang hebat masih sedang menempur dua orang aneh yang sakti. Mereka adalah Siluman Elang Sakti dan Siluman Ular Sungai Kuning.
Sedangkan di sisi yang lain, seorang pemuda berpakaian putih yang lain, bergerak dengan jurus-jurus dahsyat bagaikan rajawali menyambar, dengan sepasang trisula pendek, juga sedang menempur hebat dua orang manusia aneh, yaitu Sepasang Siluman Tengkorak Biru. Pemuda yang pertama bukan lain adalah Kai Ong yang bersenjatakan sepasang pit dengan ilmu Hong In Sian Pit Ciang yang sakti. Sedangkan pemuda yang kedua adalah Liem Kun, murid Hoa San Pai yang mewarisi Kim Tiauw Sian Kang yang dahsyat.
Pertarungan itu masih terus berlangsung dengan seimbang dan dahsyat, tiba-tiba terdengar suara mengguntur yang dahsyat di keempat penjuru. "Hohoho! Empat siluman yang terkenal tidak sanggup menyingkirkan dua orang pemuda yang tidak ternama. Sungguh mengherankan." Suara tersebut menyerang dengan hebat ke arah Kai Ong dan Liem Kum. Otomatis konsentrasi mereka terganggu.
Di tempat itu tampak dua orang kakek tua bersorban yang berperawakan aneh, logatnya waktu berbicara, tampak seperti bukan penduduk asli Tiongkok. Kai Ong dan Liem Kun bersiaga meningkatkan kewaspadaan.