Halo!

Munculnya Jit Cu Kiong - Chapter 06

Memuat...
Munculnya Jit Cu Kiong

Chapter 06

Saat itu tiga bayangan berkelebat tiba dari bawah bukit.

Tampak dua orang gadis yang amat cantik serta seorang anak berusia sebelas tahun telah berdiri dekat dengan tempat pertempuran tersebut sambil memandang ke arah kedua kakek bersorban tersebut.

"Hui-Cici, tampaknya kedua kakek ini sekomplotan dengan kedua nenek bersorban biru dan hijau tadi. Apa perlu kita lumpuhkan mereka sekalian?" Suara gadis itu perlahan dan lembut, namun anehnya suara itu dapat terdengar jelas oleh keempat orang yang sedang bertarung tersebut.

Dua orang kakek aneh tersebut terkejut dan melirik sekilas ke arah gadis-gadis yang baru datang itu. Tentu saja mereka mengerti apa arti perkataan gadis berbaju putih itu karena nenek bersorban biru dan hijau yang dimaksud pastilah Nini Naga Hijau dan Nini Racun Hitam, rekan mereka yang membantu penyerbuan ke Cing Ling Pai. Dan tampaknya kedua orang itu telah tertawan musuh.

"Yong-Moi, mari kita bantu mereka. Tawan saja hidup-hidup?" seru si gadis yang dipanggil Hui-Cici itu yang langsung menyerbu ke dalam gelanggang pertempuran diikuti oleh gadis yang satu lagi.

Pertempuran antara kedua kakek bersorban tersebut melawan Hui Giok dan Er Yong berlangsung dengan sangat ramai. Apalagi saat Er Yong meningkatkan ilmunya dengan menggabungkan permainan Hok Mo Cap Sha Kiam Sut dengan Jurus Titisan Dewa Angin serta diselingi Ajian Cakra Bayu yang merampas semangat lawan. Lawannya si kakek bersorban merah keteteran dan terkejut. Ini sama sekali tidak disangkanya ada orang yang dapat memainkan ilmu dari para penguasa Kerajaan Atas Angin yang dahsyat tersebut.

Selang sepuluh jurus kemudian, terpaksa si kakek bersorban merah itu harus mengakui keunggulan Er Yong. Pada jurus ketiga puluh delapan, Ajian Cakra Bayu bersarang telak di dada kakek bersorban merah itu yang langsung terlempar dengan dada hangus dan tenaga musnah.

Sementara itu, di saat yang sama, Giok Hui juga telah meningkatkan permainan silatnya sampai pada kekuatan puncak dari Ajian Gelap Sewu-nya yang sakti, meski demikian ternyata kakek bersorban kuning yang menjadi lawannya itu masih mampu menahan pukulannya. Segera dia meloncat ke atas. Dari atas tangannya bergerak-gerak melancarkan Ajian Lebur Samudra, tangannya bersinar biru seketika itu juga.

Si kakek bersorban kuning sama sekali tak menyangka akan adanya pukulan yang ditakuti rimba hitam ini, namun terlambat. Baru saja kakek itu berseru kaget, tubuhnya sudah dilingkupi cahaya kebiruan yang menyerap habis seluruh tenaganya dalam sekejap.

Melihat akan hal ini, empat siluman yang dilayani oleh Kai Ong dan Liem Kun jadi surut nyali mereka. Segera mereka membanting sesuatu ke tanah yang menimbulkan asap tebal. Sesaat kemudian, mereka telah lenyap sambil membawa tubuh kedua kakek aneh bersorban itu.

Segera Kai Ong dan Liem Kun mendekati kedua gadis itu sambil tersenyum. Sedangkan kelima wakil dari Bu Tong Pai itu pun mendekati dan mengucapkan terima kasih pada mereka. Berlima.

Kai Ong yang sudah pernah bertemu dengan Hui Giok sebelumnya, sangat gembira ketika melihat gadis itu lagi. Segera dia menyapa sang gadis, "Ahh, selamat bertemu lagi, Nona Lian Giok Hui, apa kabar selama ini?"

"Baik, Saudara Kai Ong. Eh, bagaimana kalian berdua bisa sampai di tempat ini?" balas Giok Hui sambil tersenyum simpul.

"Saya kebetulan bertemu dengan Saudara Liem Kun ini dalam perjalanan. Beliau inilah yang memberitahuku mengenai adanya penyerbuan rahasia dari para tokoh golongan sesat tersebut." Semua mata kini diarahkan pada Liem Kun.

Merasa dirinya dipandangi, mau tak mau Liem Kun akhirnya angkat suara juga, "Kemarin aku sedang beristirahat di Kelenteng Kwan Im Bio. Saat aku terbaring di atas palang atap, bayangan keempat siluman ini muncul dan membuat rencana mereka. Bahkan menyebut-nyebut nama Jit Cu Kiong (Istana Mustika Matahari) dan juga nama Sian Thian San."

"Eh, apa yang mereka katakan tentang Sian Thian San?" Tiba-tiba Er Yong bertanya lebih lanjut dengan nada penasaran.

"Entahlah, Nona, mereka tidak menyebutkan banyak, hanya katanya, "Sian Thian kosong, segera selesaikan?""

"Aiiiih, Saudara Liem, informasi Anda sangat berharga sekali. Sayang kami tidak bisa menemani lebih lama. Jika ada waktu, datanglah ke Sian Thian San." "Permisi," Lian Giok Hui berseru sambil bersoja ke arah mereka semua diikuti oleh Er Yong dan Beng Sian. Sesaat kemudian mereka telah membalikkan tubuh tanpa banyak bicara dan melesat meninggalkan tempat itu.

Sian Lee memandangi gadis cantik bermata biru di depannya itu sambil berdecak kagum. Belum pernah dia melihat seorang gadis yang memiliki mata yang bersinar biru seperti samudra lepas itu. Tadinya, setelah menyelamatkan para ciangbunjin partai-partai besar yang ada, dia terpisah dengan Cui Im Yan yang membawa darahnya untuk diminumkan pada ayahnya. Dalam perjalanan, Sian Lee bertemu dengan gadis bermata kebiruan ini yang sedang dikeroyok oleh orang-orang Jit Cu Kiong. Segera dia turun tangan membantu mengusir enam panglima Jit Cu Kiong dan semua pengikutnya.

"Nona, mengapakah engkau berurusan dengan Jit Cu Kiong?" Gadis itu terdiam. Hanya memandang kepadanya dengan sinar mata yang aneh. Sekian lama tanpa suara. Tiba-tiba dia menarik napas panjang.

"Maukah engkau berteman denganku?" Pertanyaan yang aneh. Hakikatnya, jawaban ini tidak berhubungan dengan pertanyaan yang ditanyakan oleh Sian Lee. Namun demikian, Sian Lee melihat sesuatu yang lain di mata itu. Sesuatu yang sangat menyedihkan dan tidak dapat diobati oleh yang lain selain seorang sahabat. Gadis itu sedang kesepian.

"Tentu saja mau, aku mempunyai banyak kawan dan sahabat. Bila ditambah dengan kau, bukankah sangat bagus sekali?" "Apakah kau sungguh-sungguh?" Kembali pertanyaan itu diucapkan. Kali ini dengan mata yang tajam yang coba menjenguk isi hatinya yang terdalam.

Sian Lee diam. Dia tidak menjawab dengan jawaban seperti pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan. Hakikatnya, dia pun hanya tersenyum, suatu senyuman yang sederhana, yang keluar dari hatinya yang paling dalam, tapi tanpa diketahuinya telah mengubah hati seorang iblis wanita mahasakti yang menjadi tangan kiri dari Jit Cu Kiong, Lo Thian Sian Li (Bidadari Pengacau Langit).

"Tapi jika aku adalah musuhmu, masih maukah engkau berkawan denganku?" Kembali mata itu mencoba menyelidiki kedalaman hatinya.

"Nona, kalau seorang mau berkawan denganku, tidak peduli siapa dia, asalkan dia baik padaku dan tidak merugikanku, maka tiada alasan bagiku untuk menjauhinya." Gadis itu termenung beberapa saat. Kepalanya tertunduk tanpa berkata apa pun. Ketika dia mengangkat wajahnya, dilihatnya pemuda itu sedang memandangnya dengan penuh kasih.

Segera dia akan mengatakan sesuatu, namun saat itulah seseorang melayang mendekat ke arah mereka, "Sumoi, apa yang kau lakukan? Apakah kau sudah lupa akan sumpahmu?"

"KAU?!" Sian Lee terkejut melihat pemuda ini. Karena pemuda ini bukan lain adalah Po Tee Giok. Pemuda itu memandangnya sambil tersenyum-senyum. Saat wajahnya dialihkan ke arah gadis itu, tampak raut wajah yang cantik itu membesi dengan tatapan dingin.

"Akhh, ternyata tadi kau hanya bersandiwara untuk menipuku?" kata Sian Lee dengan suara yang penuh penyesalan. "Sekarang kau tahu siapa aku? Aku adalah Lie Fu Lan, Pelindung Kiri Jit Cu Kiong, Lo Thian Sian Li?" tanyanya dengan sinar mata mencorong.

Sian Lee melihat ini, tapi tatapan itu masih sama seperti tadi, tatapan menyelidik, walaupun sekarang penuh bertenaga. Segera dia mengerahkan tenaganya untuk mengirimkan suara jarak jauh ke telinga gadis itu, "Lan-Moi, kau tetap sahabatku, dan itu tidak akan berubah." Sekilas tampak seulas senyum cerah di wajah gadis itu. Tapi tidak lama. Namun itu cukup bagi Sian Lee untuk memahami hati gadis itu.

Saat itulah terdengar bentakan dari Po Tee Giok yang memberi aba-aba kepada sumoinya untuk mulai menyerang Sian Lee dengan ilmu gabungan mereka.

"Kau pergilah, Sian Thian San akan diserbu, jangan habiskan waktu di sini. Kau harus melukai aku supaya aku pun tidak perlu menyerbu ke sana." Tiba-tiba suara halus itu terdengar di telinga Sian Lee.

Sian Lee berkonsentrasi melihat serangan mereka yang menebarkan hawa mukjizat. Si gadis menyerang dari atas, sedangkan sang pria menyerang dari bawah. Hebatnya, hawa yang dikeluarkan dari tangan mereka bagaikan kabut tipis yang menyerang atas bawah, sehingga menghambat pergerakan tangan maupun kakinya. Diam-diam dia terkejut karena ini mengingatkan dia terhadap salah satu ilmu dari Sembilan Pusaka Dewa yang sedang dicari-nya, Thian Tee Kek Sian Ciang (Pukulan Dewa Kutub Langit dan Bumi). Ternyata ilmu ini jatuh pada mereka berdua.

Sian Lee tidak mau mengambil risiko. Segera dia mengerahkan tenaganya dan tubuhnya melesat ke depan melancarkan pukulan dengan jurus Kwi Jian Pian Tee Sian Ciang (Telapak Dewa Bumi Merantai Ribuan Iblis) yang dahsyat. Ribuan bayangan telapak dengan hawa mukjizat saling tindih di udara, saat pukulan dan tapak mereka bertiga saling beradu.

Sian Lee kagum bukan main. Di antara semua yang menguasai ilmu-ilmu dari Sembilan Pusaka Dewa, inilah yang terhebat yang pernah dia hadapi. Namun Sian Lee bukanlah anak kemarin sore yang baru belajar silat. Benar kata Cui Im Yan bahwa tidak ada yang mengetahui kedalaman ilmu silatnya. Ini pun terbukti. Tiga puluh jurus mereka bertarung, tapi tak satu pun tanda bahwa Sian Lee kewalahan. Akhirnya dia mengerahkan Tarian Jari Sembilan Dewa yang dahsyat untuk mencecar lawan.

Tanpa disadari keduanya, tiba-tiba Lie Fu Lan terlempar ke belakang dan memuntahkan darah segar dan pingsan. Sedangkan Po Tee Giok jatuh terduduk dengan kedua tangan tergantung lemas di kanan kiri. Segera dia menggerakkan kakinya dengan ilmu meringankan tubuh. Dia lari dari tempat itu sambil matanya melirik sekejap ke arah sumoinya sambil berkata dalam hati, "Aku akan membalaskan dendammu, Sumoi."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment