Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 01

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 01

Sungai Tiangkang yang lebar membentang jauh ke ujung langit sana, riak air yang mengalir memantulkan cahaya keperakan yang menyilaukan mata.

Senja telah menjelang, matahari sudah tenggelam di langit di barat dan membiarkan sinar kemerahan yang sangat indah.

"Haoookk, kaookk!" pekikan burung di kejauhan terdengar tajam dan melengking, membuat bulu kuduk orang bangun berdiri.

Setitik bayangan perahu pelan-pelan meluncur mendekat dan membelah ombak sungai yang segera memecah ke tepian.

Di atas perahu itu sepi, tak nampak sesosok bayangan manusia pun.

Perahu itu pun tidak melaju dengan lurus, sebentar oleng ke kiri, sebentar lagi oleng ke kanan, kadang-kadang berputar mengikuti arus.

Mungkinkah tiada orang yang mengemudikan perahu itu? Sebuah angin kencang berhembus lewat, membuat perahu itu berputar kencang dan hampir saja menumbuk di atas sebuah perahu nelayan.

Kejadian ini tentu saja mengejutkan nelayan di atas sampan tersebut, sambil menjerit keras, dia buru-buru menggerakkan galahnya dan mendayung sampan itu ke samping.

Mendadak nelayan itu menjerit lagi: "Aaaah, darah!" Benar, dari sisi perahu besar itu nampak darah bercucuran dengan deras dan mengalir ke dalam air, di atas air sungai nan hijau, segera muncullah sebuah jalur panjang yang meliuk-liuk berwarna merah.

Jeritan kaget ini dengan cepat mengejutkan nelayan dan tukang rakit lainnya di sekitar sana, dengan suara riuh mereka bersama-sama mendekati perahu itu.

"Blaaamm...!" Perahu yang melaju tanpa kemudi dan tanpa arah tujuan itu akhirnya menumbuk tepi pantai hingga menimbulkan suara benturan keras.

Menyusul goncangan yang keras, perahu itu segera berhenti, sementara darah yang mengucur ke bawah semakin banyak.

Para nelayan itu betul sering melihat darah, namun mereka pun tahu tentang pembalasan dendam atau pembunuhan ngeri yang sering terjadi dalam dunia persilatan, dengan wajah memucat semuanya memandang dari kejauhan saja, tak seorang pun yang berani mendekat.

Tetapi di atas rakit-rakit di sekitar sana pun banyak terdapat jago-jago silat, sebab daerah kekuasaan dari Pay Kau, suatu perkumpulan air yang amat kuat.

Beberapa orang di antaranya segera berlompatan naik ke atas perahu tersebut.

Tujuh delapan sosok mayat dengan cepat ditemukan bergelimpangan di seluruh dak perahu, seluruhnya tewas dengan tubuh melingkar dan dalam keadaan yang amat mengerikan, terutama batok kepala mereka, hampir semuanya merekah karena robekan besar.

Darah, ada yang telah menggumpal, tapi ada pula yang meleleh turun ke air.

Mendadak terdengar seseorang menjerit kaget: "Aaah! Bukankah orang ini adalah Sin Jiu Hui Hiau (tangan sakti piau terbang) Wi Jian, Wi Tayhiap? Mengapa dia mati terbunuh di sini?" Teriakan ini dengan cepat menarik perhatian rekan-rekan lainnya, serentak mereka datang mengerubung.

Mayat yang tergelepar di tengah genangan darah itu adalah seorang kakek setengah tua, namun secara lamat-lamat masih dapat dilihat raut wajah aslinya.

Seseorang segera menghela napas panjang, katanya: "Benar, dia memang Wi Tayhiap, tahun berselang aku masih menyaksikan bagaimana dia mengemparkan seluruh umat persilatan dengan senjata rahasianya dalam pertemuan Bu Lim, mengapa dia bisa terbunuh di atas perahu sekarang?" Mendadak terdengar lagi seseorang menjerit kaget: "Hei, apakah itu?" Semua orang berpaling ke arah tempat yang dituju, ternyata di atas pintu perahu itu tertancap sebuah panji kecil berwarna kuning, panji itu persegi tiga dan berukuran tujuh delapan inci besarnya, di tengah panji tadi tertera telapak kaki binatang yang berjari lima.

Seorang lelaki setengah umur yang menyaksikan panji kecil itu, buru-buru berseru kepada semua orang: "Saudara sekalian, mari kita turun dari perahu dan usah mencampuri urusan ini lagi!"

"Hei, Lao Toaka, bukankah kau termashur dalam dunia persilatan karena bernyali besar? Hari ini, mengapa kau jadi takut urusan?" seorang lelaki muda menegur sambil tertawa.

"Aaai, saudaraku, bukannya hari ini nyali ku menjadi kecil, tahukah kau benda apakah itu?" "Benda apa? Tak lebih hanya sebuah panji kecil, aku tidak percaya kalau panji itu jauh lebih lihay daripada firman Sri Baginda!"

"Betul, benda ini lebih lihay daripada firman Sri Baginda! Terus terang saja kuberitahukan, inilah panji Thian Long Leng (panji serigala langit) yang amat menggetarkan dunia persilatan...!"

Begitu mendengar tentang panji serigala langit, kontan paras muka semua orang berubah hebat, siapa pun tak berani berdiam lebih lama lagi di sana, buru-buru mereka melompat turun dari perahu itu dan kembali ke sampan dan rakit masing-masing untuk menjauhi tempat kejadian tersebut.

Belum lama orang-orang itu berlalu, dari atas perahu tadi muncul kembali seorang nelayan muda yang berusia empat lima belas tahunan, berwajah bersih, tampan, lembut tapi gagah perkasa.

Walaupun dia hanya berdandan sebagai seorang nelayan, namun tidak menutupi kegantengan serta kegagahan-nya.

Entah sedari kapan dia naik ke atas perahu, memandang orang-orang yang mati mengenaskan itu, dia menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang.

Dicabutnya panji kecil itu, lalu gumamnya: "Panji serigala langit... Masa hanya panji sekecil inipun bisa mendatangkan kemampuan sebesar itu?" Setelah bergumam, dia masukkan panji kecil itu ke dalam saku dan melompat turun ke atas sebuah perahu nelayan lalu mendayungnya menjauhi tempat itu.

Tak selang berapa saat kemudian, bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Tak selang berapa hari sejak peristiwa pembunuhan di tengah sungai Tiangkang ini sudah menggemparkan seluruh dunia persilatan dan mengejutkan segenap jagoan di dunia.

Peristiwa ini dengan cepatnya mendatangkan perasaan kalut, panik, dan tegang di dalam dunia persilatan yang sudah banyak tahun terang ini.

Banyak orang merasa murung dan kaget oleh kemunculan panji Serigala Langit ini.

Dua puluh tahun berselang, ketika panji serigala langit baru muncul untuk pertama kalinya, banjir darah yang mengerikan telah melanda seluruh kolong langit!

Pembunuhan-pembunuhan yang keji dan brutal membuat seluruh dunia persilatan menjadi kacau dan tak pernah tenang, tapi karena peristiwa itu pula, seluruh partai dan perguruan yang ada dalam dunia persilatan telah bersatu padu.

Dalam suatu gerakan yang dilakukan serentak, mereka berhasil menghancurkan bukit serigala dan menangkap biang keladi dari peristiwa pembunuhan itu, yakni Thian Long Siu (kakek serigala langit) Sik Thian Kun, mengutungi sepasang kakinya lalu melemparkan tubuhnya ke dalam jurang yang dalam sekali.

Mungkinkah si kakek serigala langit yang dulu belum mati?

Di bawah bukit Kau Kiong San, di tepi telaga Yang Sik Tham, berdirilah sebuah benteng kokoh yang disebut Lo Cing Poo.

Waktu itu, ada dua puluh jago lihay dunia persilatan sedang berkumpul di ruang tengah benteng tersebut sambil membicarakan peristiwa berdarah tersebut.

Lo Pocu Ki Leng Sin Ciang (Raksasa bertelapak tangan sakti) Pit It Hong menggebrak meja sambil berseru dengan gusar: "Aku tidak percaya kalau kakek serigala langit belum mampus..."

Belum habis dia berteriak, mendadak dari kejauhan berkumandang datang suara lolongan yang aneh sekali.

"Nguuu... nguuu..." Suara itu seperti tangisan setan, mirip pula dengan lolongan serigala, tinggi melengking dan amat tak sedap didengar, membuat seluruh hadirin merasa terkejut dan berubah muka.

Setelah tertegun beberapa saat dengan suasana tegang, seseorang lantas berseru: "Pit Loako, mungkin gembong iblis tersebut benar-benar belum mampus! Coba kau dengar suara aneh itu. Mirip sekali dengan lolongan serigala, mungkin mungkin ia telah datang ke mari mencari kita?"

Pit It Hong mendengus dingin. "Hhmm, sekalipun Sik Thian Kun belum mampus, toh sepasang kakinya sudah di kutungi, masa ia bisa melakukan aksinya dengan begini leluasa?"

"Konon ilmu silat yang di miliki gembong iblis itu telah mencapai puncak kesempurnaan, aku rasa, lebih baik kita jangan bertindak kelewat gegabah!"

Tiba-tiba Pit It Hong tertawa terbahak-bahak. "Haaah... haaahh... haaah... apa yang mesti ditakuti? Kita semua toh utuh dan sehat wal'afiat, masa kalah dengan seorang tua bangka yang cacad?"

Belum habis dia berkata, mendadak terlihat seseorang berlarian masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah cepat, kemudian roboh terkapar di tengah ruangan, tapi orang itu segera merangkak bangun dan maju lagi beberapa langkah sambil mendongakkan kepala, teriaknya parau: "Poocu... tolong...!"

Diiringi jeritan keras, orang itu roboh terguling ke atas tanah dan tak sadarkan diri.

Semua orang serentak bangkit dengan wajah kaget bercampur keheranan, mereka mengenali orang ini sebagai pengurus rumah tangga benteng Lo Cing-Poo yang bernama Pit Seng.

Mendadak terdengar seseorang menjerit kaget: "Aaaaaaaa! Inilah Cap Ji Jian Jiu (dua belas serigala cacad) dari kakek serigala langit! Mungkin... mungkin ia benar-benar sudah mendatangi kita!"

Baru selesai dia berkata, mendadak suara lolongan aneh tadi sudah berkumandang lagi dari depan ruangan.

"Nguu... nguuu..." Lolongan itu amat nyaring dan memekikkan telinga, seakan-akan disertai dengan kekuatan dahsyat, hingga seluruh bangunan rumah itu bergoncang keras.

Kejadian ini makin mencekam perasaan semua jago persilatan yang hadir dalam ruangan itu, paras muka mereka rata-rata berubah menjadi pucat pias seperti mayat, bulu kuduk pun pada bangun berdiri...

Mendadak terdengar seseorang berseru kepada Pit It Hong: "Maaf Lo Pocu, siaute aku masih ada urusan lain sehingga harus mohon diri lebih dahulu."

Menyaksian jiwa pengecut orang itu, Pit It Hong hanya bisa mengela napas menutupi rasa mendongkolnya, ia berseru ketus: "Baiklah, maaf aku tidak menghantar, bila ada di antara kalian yang ingin pergi, silahkan saja berlalu dari sini, aku tak ingin menyusahkan saudara sekalian gara-gara urusan diri aku orang She Pu ini."

Begitu ucapan tersebut diutarakan, empat lima orang di antaranya segera bangkit berdiri dan buru-buru melarikan diri keluar ruangan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment