Chapter 02
Siapa tahu, di saat mereka hendak melangkah keluar dari pintu ruangan itulah, tiba-tiba berembuslah angin pukulan yang amat keras membuat tubuh mereka terpental ke belakang dan bergelimpangan ke sana kemari.
Terdengar seseorang mengejek dingin: "Kalian sudah menjadi tamu kehormatan alam akhirat, jangan harap bisa kabur dari sini!" Saat ucapan itu, tampak sesosok bayangan manusia berkelebat, menyusul jeritan ngeri bergema bersahutan. Dalam waktu singkat, lima orang yang bermaksud menyelamatkan diri itu sudah terkapar di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa, darah kental berceceran di mana-mana.
Kini, di ruangan tersebut masih ada lebih dari belasan orang. Sesungguhnya, mereka masih termasuk jagoan kelas satu dalam dunia persilatan, tetapi sekarang mereka sudah dibuat terkesiap oleh kelihaian orang itu sehingga tertegun dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Mereka ingin turun tangan, namun sadar bahwa mereka bukan tandingan. Mereka ingin pergi, namun tidak ada jalan yang bisa dilewati, sehingga sesaat mereka maju mundur dengan bingung.
Pada saat itulah, mendadak seorang jago melirik sekejap ke arah pintu ruang belakang. Kemudian, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia tiba-tiba melompat ke arah pintu itu.
Dalam anggapannya, musuh berada di halaman depan, berarti pintu belakang merupakan tempat terbaik untuk melarikan diri.
Siapa tahu, baru saja dia melompat ke arah pintu belakang, mendadak terdengar seseorang membentak nyaring: "Kembali!" Mengikuti bentakan nyaring itu, angin pukulan yang dahsyat segera meluncur ke depan dan menghantam tubuhnya.
"Aduh!" Jeritan ngeri yang menyayat hati bergema memecahkan keheningan. Tubuh orang itu terpelanting ke belakang oleh dorongan angin serangan tadi sehingga terpental dan menumbuk di atas sebuah pilar batu.
"Blaaamm!" Di tengah getaran yang amat keras, pilar besar itu patah menjadi dua dan roboh ke tanah. Atap dan pasir pun berhamburan ke seluruh permukaan tanah.
Pasir dan debu yang berterbangan membuat suasana menjadi kabur. Tidak seorang pun berhasil melihat jelas siapakah pendatang itu, tetapi jeritan ngeri bergema bersahutan....
Dalam waktu singkat, mayat-mayat berserakan di mana-mana, darah segar berceceran membasahi seluruh permukaan lantai.
Hanya Pit It Hong, Ki Teng Sinciang, seorang diri yang sedang melangsungkan pertarungannya melawan sesosok manusia aneh.
Ia dapat melihat jelas bahwa manusia aneh itu mempunyai empat anggota tubuh yang utuh dengan kepalanya mengenakan topeng kepala serigala dan tangan bersarung kulit. Dandanan semacam ini sudah pasti bukan Kakek Serigala Langit yang dihebohkan.
Sebab menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, sepasang kaki Kakek Serigala Langit sudah putus dan tubuhnya yang cacat sudah dibuang ke dalam jurang. Mustahil kalau kaki yang sudah terpotong dapat tumbuh lagi.
Dengan perasaan curiga, ia lantas membentak: "Sobat, siapakah kau... Dendam sakit hati apakah yang sebenarnya terjalin dengan kami marga Pit?" Manusia aneh berkepala serigala itu segera mendengus dingin.
"Hmm, agar kau mampus dengan perasaan tenang, aku akan memberitahukan kepadamu. Aku adalah Thian Long Cun Cu (Utusan Manusia Serigala), aku sengaja datang kemari untuk membalaskan dendam sakit hati guruku!" "Dalam pertempuran berdarah di Bukit Serigala tempo dulu, kami marga Pit tidak turut serta. Dendam apa yang kau maksudkan?" Utusan Manusia Serigala segera tertawa terbahak-bahak.
"Haah... haah... haah... Justru karena kau tidak turut serta, maka aku pun tidak berencana untuk merenggut nyawamu. Jika tahu diri, mari ikut aku pergi. Menjual tenaga untuk Utusan Manusia Serigala merupakan suatu kehormatan bagimu, mengerti?" Pit It Hong turut tertawa seram.
"Heeh... heeh... heeh, kau salah memilih orang. Bagi kami marga Pit, kepala boleh putus, darah boleh mengalir, namun aku tidak akan menyerah kepada musuh!" "Hmmm, kau anggap bisa memilih sekehendak hatimu sendiri...?" Bersamaan dengan gerakan itu, tiba-tiba bayangan tubuhnya berkelebat dan lenyaplah bayangan orang itu dari depan mata.
Pit It Hong jadi tertegun. Segera pikirnya: "Cepat benar gerakan tubuh orang ini, tapi heran, sebelum habis bertarung mengapa dia sudah kabur?" Belum habis ingatan tersebut melintas, mendadak punggungnya sudah dihantam orang keras-keras...
"Blaaamm...!" Dalam waktu singkat, dunia serasa berputar, pandangannya menjadi gelap, dan robohlah dia tidak sadarkan diri.
Setelah hujan badai berlalu, benteng Lo Cing Poo telah pulih kembali ke dalam ketenangan semula, hanya pemandangannya saja yang sama sekali berbeda.
Ruang tengah sudah roboh separuh. Di luar dan di dalam ruangan, terkapar lebih dari dua puluh sosok mayat. Semuanya tewas dalam keadaan mengenaskan, sehingga darah kental berceceran di mana-mana.
Tetapi, Lo Poocu Pit It Hong telah lenyap tak berbekas, entah ke mana dia pergi. Peristiwa ini dengan cepat tersebar di seluruh dunia persilatan. Semua orang kembali menjadi panik, semua orang merasa risau, apalagi bila mendengar suara lolongan serigala. Hampir semuanya lari ketakutan.
Berita buruk satu demi satu muncul dalam dunia persilatan.
Huan Yang Sam Hiong, tiga jagoan dari kota Huan, ditemukan tewas bersama-sama. Semalam menyusul kemudian Tong Ting Jit Kiat, tujuh orang gagah dari telaga Tong Ting, semuanya lenyap tak berbekas, entah pergi ke mana.
Tidak berselang berapa hari, bayangan iblis muncul lagi di Bukit Heng San...
Tampaknya, si Utusan Manusia Serigala berniat untuk menyapu seluruh jagoan persilatan yang berada di wilayah Kang Lam, sebelum berhijrah ke wilayah utara sungai besar.
Maka, para jago yang berada di utara sungai besar pun mulai berkumpul, berunding, dan melakukan rencana sedia payung sebelum hujan.
Perkumpulan Oh Im San Ceng, yang selalu berada dalam keadaan tenang, tiba-tiba berubah menjadi ramai, ramai dikunjungi berbagai jagoan dari berbagai daerah.
Kepala perkumpulan Oh Im San Ceng, Ki Thian Bin, disebut orang sebagai Seng Jiu Bun Un Hua (tangan suci penolong jagat). Bukan hanya ilmu silatnya terhitung kelas satu dalam dunia persilatan, kecerdasan otaknya juga melampaui siapa pun. Oleh sebab itu, semua orang berbondong-bondong datang ke sana untuk mengajaknya berunding.
Namun, sudah sekian lama para jago duduk menanti di ruang tengah, tuan rumah Ki Thian Bin belum juga tampak. Hanya dua orang muridnya yang ditugaskan untuk menemani para tamu.
Lama-kelamaan Liau It Taysu dari Siau Lim Pay mulai habis kesabarannya. Ia segera bangkit berdiri dan menegurnya kepada Caee Oh, murid tertua dari Ki Thian Bin: "Sesungguhnya Ki Lo Sian ada di rumah atau tidak? Begitu banyak sahabat telah berkunjung kemari, mengapa dia sama sekali tidak menampilkan diri...?"
Buru-buru Caee Oh menjura, sahutnya: "Maaf, Taysu, Suhu sedang bersemedi di ruang semedi. Sebentar lagi beliau pasti akan muncul." "Hmm! Ilmu apa yang sedang dilatih gurumu? Sejak kapan mulai bersemedi?" dengus Liau It Taysu lagi.
"Sebelum jam tujuh kemarin pagi. Tentang ilmu apakah yang sedang dipelajari, tecu sama sekali tidak tahu." "Tolong tanya, sejak suhumu mulai bersemedi, sampai berapa jam dia baru bangun?" tanya Sian Jie Kim Kiau (Rajawali Hijau Bertangan Sakti) Kok Im menyahut dari samping.
"Biasanya Suhu bersemedi selama delapan jam." "Sekarang sudah jam berapa?" "Sekarang sudah lewat jam sepuluh!" "Wah, aneh kalau begitu," seru Kok Im terkejut bercampur keheranan, "masa gurumu bersemedi begitu lama? Dua puluh enam jam sudah lewat, aku lihat sudah pasti di balik kejadian ini ada yang tidak beres...."
Mendengar perkataan itu, Liau It Taysu segera menggebrakkan tongkatnya keras-keras ke lantai, kemudian berseru pula: "Benar, aku pun merasa agak keheranan, biar aku yang masuk untuk melihat keadaan!"
Selesai berkata, ia membawa toyanya dan beranjak menuju ruangan dalam.
Ketika ia hendak melangkah keluar dari ruangan inilah, seseorang melompat keluar dari samping dan menghadang jalan perginya.
"Tunggu dulu, Locianpwe, Ayah belum selesai bersemedi!" serunya dengan lantang.
Liau It Taysu terkejut besar. Ia segera mengenali orang itu sebagai putra Ki Thian Bin yang bernama Ki Beng.
Ia lantas mendehem beberapa kali, kemudian menegurnya: "Apakah Siau Sicu bermaksud menghalangi jalan pergi lolap?"
"Boanpwe tidak berani," buru-buru Ki Beng membungkukkan badannya memberi hormat, "tetapi berhubung ayahku belum selesai bersemedi, sedang Ki Beng bertugas melindunginya, terpaksa niat Taysu harus kutampik. Toh bila Ayah telah selesai bersemedi nanti, dia akan keluar untuk menjumpai kalian."
Liau It Taysu segera melototkan sepasang matanya bulat-bulat, serunya lagi: "Omong kosong! Sekalipun ayahmu sedang berlatih ilmu Tay Boan Yok Sinkang, pun tidak mungkin dia duduk bersemedi selama 26 jam. Aku tebak, di balik semua itu pasti ada hal-hal yang tidak beres!"
"Boanpwe memang merasa agak kurang beres, tapi aku tidak berani mengusiknya. Jika tidak, ayahku bisa mengalami nasib jalan api menuju neraka!"
"Lolap sudah puluhan tahun berhubungan dengan ayahmu, masa aku bakal mencelakainya? Aku hanya ingin menengok keadaannya yang sebenarnya." Sambil berkata, ia melanjutkan kembali langkahnya menerjang masuk ke dalam.
Sementara itu, di belakang tubuhnya, mengikuti pula tujuh atau delapan orang jago persilatan.
Ki Beng yang menyaksikan orang-orang itu merupakan sahabat karib ayahnya, tentu saja tidak dapat menghalangi niat mereka. Saking gelisahnya, ia sampai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Dalam pada itu, suara ribut di luar telah mengejutkan pula Ki Hujin, Biau Jiu Hui Cha (Tangan Sakti Tusuk Konde Terbang) Ki Siu Liong, bersama putrinya Li Soat Ji, muncul di sana.