Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 03

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 03

Begitu Nyonya Ki datang, ia segera menegur, "Taysu, sudah sekian tahun berlatih diri, mengapa sikapmu yang berangasan belum juga hilang?"

"Omintohud!" seru Liau It Taysu sambil merangkap tangan di dada. "Ki Hujin, ini namanya kalut dan panik karena urusan. Terus terang, pinceng amat mengkhawatirkan keselamatan jiwa Ki Sicu."

Tampaknya Ki Hujin juga merasakan hal yang sama. Ia berkata setelah menghela napas panjang, "Aku sendiri pun punya perasaan demikian, hanya saja tak berani bertindak gegabah. Biasanya Thian Bin tak pernah duduk bersemedi melebihi delapan jam. Entah mengapa, sudah hampir dua puluh delapan jam ia duduk mengurung diri, namun belum juga terlihat."

Liau It Taysu termenung sejenak. Setelah itu, ia bertanya, "Belakangan ini, apakah di perkampungan kalian pernah terjadi peristiwa aneh?"

"Tolong tanyakan apa yang Taysu maksud?"

"Misalnya, ada lolongan serigala atau..."

"Ya, betul," sela Ki Soat Ji tiba-tiba. "Dua hari lalu aku mendengar lolongan serigala. Di atas bukit juga ditemukan telapak kaki serigala. Tapi kejadian semacam ini kan lumrah. Di sekitar perkampungan kami memang sering ada serigala berkeliaran."

Begitu mendengar nona kecil itu pernah mendengar lolongan serigala, wajah Liau It Taysu segera berubah hebat. Ia menjerit kaget, "Aduh celaka, kemungkinan besar Ki Sicu sudah mengalami musibah!"

Selesai berseru, tanpa menggubris kedua orang itu lagi, ia segera berlari menuju kamar pertapaan. Belum sampai, ia sudah berteriak keras, "Ki Sicu, Ki Sicu, lolap telah datang!" Suara teriakan pendeta itu seharusnya cukup nyaring, namun suasana dalam ruangan pertapaan masih tetap sunyi senyap, tak terdengar sedikit pun suara.

Liau It Taysu adalah seorang hwesio yang berangasan. Meski usianya sudah lanjut, wataknya belum pernah berubah, apalagi jika menghadapi suatu peristiwa. Sifat berangasannya tetap menghantuinya.

Ketika teriakannya tak mendapat tanggapan, dengan cepat ia mengayunkan toya bajanya menghantam pintu ruangan.

"Blaamm!" diiringi suara benturan nyaring, pintu bersama dinding ruangan segera ambrol dan rontok ke tanah.

Belum sempat Nyonya Ki menegur kesembronoan hwesio tersebut, mendadak terdengar Liau It Taysu menjerit kaget, "Heeeii... mana orangnya?"

Beberapa orang segera menyerbu ke dalam ruangan pertapaan, namun ruangan itu kosong melompong, tak tampak sesosok bayangan manusia pun di sana. Menyusul kemudian, Nyonya Ki beserta putra-putrinya ikut menerjang masuk. Namun, mereka segera terpaku oleh pemandangan yang tertera di depan mata.

"Hujin, benarkah Thato sedang bersemedi di dalam ruangan ini?" Kok Im kembali bertanya.

"Meskipun di perkampungan Oh Im San Ceng terdapat banyak ruangan, ruangan semedi hanya satu. Apalagi Beng Ji sendiri yang bertindak sebagai pelindungnya, masa dia tidak melihat ada orang mendekati tempat ini!" Sembari berbicara, sorot matanya segera dialihkan ke wajah putranya, Ki Thian Bin.

Dengan wajah terkejut bercampur tercengang, Ki Beng segera berkata agak tergagap, "Ananda memang bertugas melindungi ayah. Selama ini pun tak pernah meninggalkan pintu ruangan barang selangkah pun. Bagaimana mungkin ayah bisa lenyap tak berbekas?"

Mendadak terdengar seseorang menjerit kaget, "Coba lihat, benda apakah itu?" Mendengar seruan itu, semua orang segera berpaling. Di atas tiang pengari rumah tertancap sebuah panji kecil segitiga berwarna kuning. Di atas panji itu tersulam sebuah telapak kaki binatang berwarna merah.

"Panji serigala langit!" Kok Im segera menjerit kaget.

Sedangkan Liau It Taysu segera menggebrakkan toyanya keras-keras ke tanah, lalu berseru, "Benar-benar cepat sekali gerak-gerik gembong iblis itu. Entah sejak kapan dia sudah datang ke utara?"

Biau Jiu Hui Cha Ki Siu Ling turut merasa terkejut setelah mendengar tentang panji serigala langit. Untuk beberapa saat lamanya ia termangu-mangu dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Beberapa saat kemudian, pelan-pelan ia berkata, "Konon, orang yang memunculkan diri itu bernama Utusan Manusia Serigala. Bisa jadi dia merupakan ahli waris dari Kakek Serigala Langit," sela Kok Im cepat.

"Sekarang Thian Bin sudah mereka tawan, aai... bagaimana nasibnya...?"

"Nasib apa lagi?" kata Liau It Taysu. "Pihak serigala langit sudah termasyhur akan kekejaman dan kebuasannya. Aku lihat nasibnya lebih banyak celaka daripada kemujuran!"

Air mata bercucuran deras membasahi wajah Ki Hujin. Tiba-tiba ia berseru kepada putra-putrinya yang berada di situ, "Beng Ji, kalian segera membereskan buntalan. Sekarang juga kita lakukan pengejaran." Ki Beng Ji dan Soat Ji segera mengiakan, buru-buru mereka mengundurkan diri dari situ untuk mempersiapkan diri.

"Hujin, apakah kau hendak terjun kembali ke dunia persilatan?" Kok Im segera bertanya. "Ingatkah sumpahmu ketika mencuci tangan dengan ember emas?"

Nyonya Ki menghela napas panjang. "Demi toakomu, soal apapun tidak aku urusi lagi, apalagi hanya sumpah tersebut..."

"Perkataan enco memang betul," sela seorang sastrawan setengah umur. "Sumpah hanya merupakan suatu ikatan untuk tingkah laku sendiri bila diperlukan untuk menyelamatkan jiwa seseorang. Hal seperti ini pun tak usah dipikirkan." Karena ucapan tersebut dirasa benar, maka semua orang pun membungkam dalam seribu bahasa. Tidak selang berapa saat kemudian, mereka sudah berangkat meninggalkan perkampungan Oh Im San Ceng.

***

Sebuah perahu nelayan baru saja muncul dari mulut selat Say Leng Sia sebelah barat. Di belakang buritan duduk seorang nelayan muda berusia empat lima tahunan, berwajah bersih dan gagah perkasa. Tiba-tiba sampannya menukik ke sisi sungai dan menyusup ke dalam tumbuhan gelaga di sepanjang alur sungai.

Baru saja perahu kecil itu menyembunyikan diri di balik tumbuhan gelaga yang lebat, di atas daratan tepi sungai telah berkumandang suara roda kereta yang berputar. Tak selang berapa saat kemudian, tampaklah seekor kereta kuda meluncur mendekat dengan kecepatan tinggi. Kereta itu tidak memiliki sesuatu yang aneh, namun sang kusir benar-benar amat menyolok mata. Sebab, bukan kusir kuda yang duduk di sana, melainkan manusia aneh berkepala serigala.

Di belakang kereta itu mengikuti empat orang lelaki berbaju hitam yang semuanya berwajah seram dan keji. Golok tersarung di pinggang dan mereka mengikuti di belakang kereta dengan langkah lebar. Tatkala kereta itu tiba di tepi sungai, manusia aneh berkepala serigala itu menarik tali kekang kudanya lalu berpekik panjang, "Nguuu... nguuu..."

Tiba-tiba dari tengah tumbuhan telaga muncul sebuah sampan kecil. Di ujung sampan duduk seorang nona berbaju merah, tampak ia mendayung sampannya dengan cekatan menuju tepi pantai. "Ayah," nona itu berseru merdu.

"Hong Ji kah di situ? Apakah semuanya sudah datang?" seru manusia aneh berkepala serigala itu. Sambil berkata, ia melepaskan sarung tangan dan topengnya sehingga terlihat raut wajah aslinya. Orang itu merupakan seorang lelaki kekar berusia empat puluhan, berwajah tampan dan memelihara kumis kecil di atas bibirnya. Sekilas pandang, orang ini sama sekali tak berwajah bengis atau kejam, tapi mungkinkah ia seorang gembong iblis? Si bocah nelayan yang bersembunyi di balik tumbuhan gelaga itu menjadi keheranan dan tidak habis mengerti.

Mendadak terdengar suara si nona yang merdu itu kembali berkumandang, "Ayah, mereka sudah datang semua." Lelaki setengah umur itu segera berseru kepada lelaki berbaju hitam yang berada di belakangnya, "Cepat gotong kereta itu naik ke atas perahu!"

Pada saat itulah, dari arah sungai telah muncul kembali sebuah rakit yang amat besar. Empat orang lelaki kekar berbaju hitam mendayung rakit itu menuju ke pantai. Empat orang yang berada di atas pantai segera bekerja cepat. Seorang menerima tali kekang dari tangan lelaki kekar berusia pertengahan itu, sedangkan tiga yang lain mendorong kereta tersebut dari belakang. Tak selang berapa saat kemudian, kereta kuda itu sudah berada di atas rakit.

Baru saja lelaki setengah umur itu hendak melangkah turun ke atas rakit, mendadak ia membalikkan badan sambil mengenakan kembali topeng kepala serigala serta sarung tangannya hingga pulih kembali menjadi dandanan seorang manusia aneh berkepala serigala. Sesudah itu, bentaknya keras-keras, "Siapa yang bersembunyi di situ?"

Bentakan ini mengejutkan si nelayan kecil itu, segera ia berpikir, "Jangan-jangan jejakku ketahuan." Kalau toh sudah ketahuan, lebih baik aku munculkan diri saja.... Tapi sebelum ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya itu, seseorang telah menyahut dengan suara nyaring, "Omintohud, lolap bukan seseorang yang suka bermain sembunyi."

Dari belakang sebuah gundukan tanah segera muncul seorang hwesio bertubuh tinggi kekar. Ia membawa sebuah toya baja yang amat besar. Ternyata ia tak lain adalah Liau It Taysu. Manusia aneh berkepala serigala itu segera mendengus dingin. "Hmm, rupanya kau si keledai gundul!"

Dengan langkah lebar, Liau It Taysu maju ke depan. Setelah menatap wajah manusia aneh berkepala serigala itu lekat-lekat, serunya sambil mendengus, "Hmm, aku masih mengira si Kakek Serigala Langit benar-benar sudah hidup. Rupanya kau yang sedang bermain gila. Siapakah kau?"

"Utusan Manusia Serigala!"

"Hmm, siapa yang memberi julukan Utusan Manusia Serigala itu kepadamu? Ayo jawab, kau telah melarikan Seng Jiu Bun Un Hua Ki Thian Bin ke mana?"

Utusan Manusia Serigala tertawa dingin. "Heeeh... heeeh... heeeh, kuanjurkan kepadamu lebih baik jangan mencampuri urusan ini."

"Omintohud, lolap berani menegur, berarti aku akan mencampuri urusan ini, mau apa kau?"

"Heeeh... haeeh... heeeh... takutnya kau si keledai gundul tak mampu untuk mencampurinya."

"Asal kau bersedia melepaskan Ki Thian Bin, lolap akan segera membalikkan badan dan pergi." Utusan Manusia Serigala segera tertawa terbahak-bahak. "Haah... haah... haah..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment