Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 06

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 06

Dari balik hutan gelaga, segera berlompatan keluar tujuh delapan orang manusia aneh berkepala serigala. Dengan gerakan cepat, mereka membopong orang-orang itu ke atas rakit yang telah tersedia.

Nona berbaju merah itu, berdiri di atas sampan kecilnya, hanya termangu-mangu ketakutan oleh kejadian yang baru saja berlangsung di hadapannya.

Utusan manusia serigala segera melompat naik ke atas perahunya. Sambil menepuk bahu dan menggenggam tangan nona itu, ia bertanya sambil tertawa lembut, "Hong Ji, kau ketakutan?"

Nona berbaju merah itu menggelengkan kepalanya dan tertawa hambar. Ia berkata, "Hong Ji tidak takut, aku hanya khawatir apabila ayah tak mampu merobohkan mereka."

Mendengar ucapan tersebut, utusan serigala segera tertawa. "Omong kosong! Ilmu silatku sudah mencapai tiada tandingannya di dunia ini, siapa yang tak mampu kurubuhkan! Jangan bicara seperti anak bodoh, mari, jalankan perahumu!"

Nona berbaju merah itu tersenyum. Ia segera mendayung perahunya dan melaju ke tengah sungai.

Suatu pertempuran sengit telah berakhir. Suasana di tepi sungai pun pulih kembali dalam keheningan.

Jilid: 2. Angin berembus lewat, mendatangkan bunyi gemerisik yang gaduh dalam hutan telaga.

Rakit yang besar itu telah berlalu pula dari sana dan mengikuti di belakang sampan kecil. Utusan manusia serigala menuju ke tengah sungai, kemudian mengikuti arus, pelan-pelan bergerak menjauh dan akhirnya lenyap dari pandangan.

Kini, di dalam hutan gelaga, tinggal sebuah sampan nelayan kecil. Ketika nelayan kecil itu menyaksikan orang-orang tersebut sudah lenyap dari pandangan mata, ia baru muncul dari tempat persembunyiannya dan berlayar ke arah mulut selat Say Leng Sia.

Nun jauh dalam selat tersebut, terdapat sebidang tanah datar. Di atas tanah itu berdiri sebuah rumah gubuk. Sebuah selokan kecil mengelilingi depan rumah.

Fajar telah menyingsing. Bunyi binatang di kejauhan sana terdengar amat nyaring.

Dalam rumah gubuk itu, tampak seorang kakek yang rambutnya telah beruban semua sedang duduk bersila sambil mengatur napas. Mendadak terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, semakin lama semakin mendekat.

Sambil membuka matanya, kakek itu menegur dengan suara dalam, "Giok Ji, kah yang telah pulang?"

"Aku, Ayah!" orang di luar menyahut.

Kemudian, muncul seseorang dari balik pintu. Ia adalah si nelayan kecil yang menyaksikan pertarungan di tepi sungai tadi. Begitu masuk ke dalam ruangan, ia lantas melepaskan pakaian luarnya. Kemudian, sambil bersandar dalam rangkulan kakek itu, ia berkata, "Ayah, aku telah menyaksikan semuanya. Utusan manusia serigala itu nampaknya halus dan terpelajar, kenapa hatinya begitu buas dan tak berperikemanusiaan?"

Kakek itu segera tersenyum. "Dahulu, dia disebut orang sebagai Giok Bin To Jiang (si jagal berwajah kemala). Tentu saja hatinya buas dan kejam."

"Tapi mengapa dia dapat pula menggunakan ilmu Cap Ji Jian Jiu tersebut? Bahkan mempergunakan pula Panji Serigala Langit yang pernah Ayah gunakan untuk menggetarkan dunia persilatan dulu? Aku sungguh tidak habis mengerti."

Kakek itu menghela napas panjang. "Aaaai... Dulu, dia termasuk salah seorang di antara delapan orang muridku. Tujuh sisanya telah tewas di Bukit Serigala demi menyelamatkan jiwaku. Hanya dia seorang yang berhasil lolos dari ancaman maut tersebut. Aaaai, tidak kusangka kalau ia berani membuat keonaran dalam dunia persilatan...!"

Setelah berhenti sejenak, seperti merasa sedih akan sesuatu, lama kemudian ia baru melanjutkan, "Ya, bibit bencana ini muncul dariku. Seterusnya akulah yang bertanggung jawab untuk membereskan dia. Apa mau dikata...." Berbicara sampai di sini, kembali ia menghela napas panjang.

Tiba-tiba, nelayan kecil itu berkata, "Ayah, kau bilang utusan manusia serigala adalah muridmu?"

"Yaa, benar," kakek itu mengangguk-angguk.

"Kalau begitu, kau adalah Si Kakek Serigala Langit yang dibicarakan orang selama ini?" tanya si nelayan kecil itu lebih jauh.

Untuk kesekian kalinya, kakek itu menghela napas panjang. "Aaiii... Sekarang aku hanya seorang kakek tanpa nama. Aku sudah bukan Kakek Serigala Langit yang dulu lagi..."

Kemudian, setelah berpaling dan mengawasi wajah bocah itu, pelan-pelan ia teruskan, "Giok Ji, apakah kau membenci Kakek Serigala Langit itu?"

"Tidak!" nelayan kecil itu menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku pikir, apabila aku mempunyai seorang guru seperti ini, sudah pasti dia akan mewariskan ilmu silat yang amat lihai kepadaku."

Sekulum senyuman segera menghiasi wajah kakek itu. "Meski kau bukan muridnya, tapi dia telah menjadi ayah angkatmu," sambungnya dengan cepat.

Nelayan kecil itu segera terbelalak dengan wajah kaget bercampur tercengang. "Ayah... jadi kau benar-benar adalah Kakek Serigala Langit yang bernama besar itu?"

Ci Hui Lojin, atau si kakek itu, menghela napas lagi dengan sedih. "Aaai, bila kubayangkan kembali perbuatan perbuatanku yang lampau, kini aku baru sadar kalau aku telah melakukan banyak kesalahan. Pembunuhan yang kulakukan waktu itu terlampau banyak. Meski sekarang sudah Ci Hu (tahu salah), namun aku belum dapat meloloskan diri dari bencana tersebut..."

Belum selesai ia berkata, mendadak sorot matanya yang tajam beralih ke luar pintu, kemudian ia bentak dengan suara dingin, "Siapa yang berada di luar pintu?"

Bersamaan dengan bentakan itu, tangan kanannya diayunkan ke arah depan melakukan suatu gerakan menyodok. Segulung desingan angin tajam segera meluncur ke depan. Dengusan tertahan bergema. Seorang lelaki bersenjata golok tahu-tahu sudah roboh terjungkal ke atas tanah.

Dengan cekatan, nelayan kecil itu melompat keluar dan berputar satu lingkaran di luar ruangan. Ketika tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, ia balik kembali ke tempat semula, menyeret lelaki itu, dan membantingnya dalam ruangan.

"Hmmm, dengan kepandaian macam begini pun ingin menjadi seorang pencuri!" dengusnya.

Ci Hui Lojin segera tertawa. "Orang ini bukan datang untuk mencuri, dia hanya seorang mata-mata yang bertugas mencari berita." Sambil berkata, ia lantas menepuk bebas jalan darah orang itu.

Ia adalah seorang lelaki berusia empat puluhan tahun yang bertubuh tinggi besar. Mukanya penuh dengan bekas bacokan. Sekilas pandangan saja dapat diketahui kalau ia bukan manusia baik-baik. Setelah jalan darahnya ditepuk bebas, lelaki itu menghembuskan napas panjang dan duduk. Kemudian, dengan berkerut kening ia melesat bangun, tiba-tiba saja sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke tubuh nelayan kecil itu.

Menyaksikan datangnya serangan yang begitu dahsyat, nelayan kecil itu segera berkelit ke samping. Tiba-tiba dari sisi tubuhnya muncul sebuah serangan lain yang langsung menumbuk serangan kepalan dari lelaki tersebut.

Begitu sepasang tangan saling membentur, tiba-tiba saja lelaki itu menjerit aneh lalu roboh terjungkal ke belakang dan berguling-guling di tanah sambil mengerang kesakitan.

Nelayan kecil itu segera mengejek sambil tertawa celiikan, "Hei, bukankah kau berlagak sok buas? Sekarang mengapa tampang macam monyet kegerahan?"

Sementara itu, Ci Hui Lojin telah menegur dengan suara dingin, "Siapakah kau? Mau apa mendatangi lembah Im Toy Kok ini? Cepat jawab kalau hari ini membohongi aku, jangan salahkan bila aku akan bertindak keji kepadamu!"

Setelah bergulingan sekian lama di atas tanah, rasa sakit yang menyerang tubuh lelaki itu makin berkurang, namun kepalan kanannya yang terluka tadi, kini sudah merah membengkak. Sambil memegang kepalan-nya ia bangun dan duduk, namun mulutnya tetap membungkam, sementara matanya memandang sekejap sekeliling tempat itu.

Sambil tertawa dingin, Ci Hui Lojin berkata lagi, "Apa yang sedang kau lihat? Rupanya kau punya keinginan agar aku untuk menebas tangan kirimu?"

Lelaki itu tetap membungkam dalam seribu bahasa. Mendadak ia melompat bangun lalu menerjang keluar melalui jendela bagian belakang.

Ci Hui Lojin yang menyaksikan kejadian tersebut segera tertawa terbahak-bahak. "Haaah...haah...haaaah... Kalau toh sudah datang, mengapa buru-buru ingin pergi?"

Di tengah gelak tertawanya itu, sebuah pukulan dilontarkan kembali ke arah depan. Serangan yang maha dahsyat itu tepat menghajar pada tekukan lutut lelaki tersebut. Diiringi dengusan tertahan, sepasang lututnya patah jadi dua. Tak ampun lagi, tubuhnya terjerembab ke depan, lalu merangkak di atas tanah. Dalam keadaan begini, bagaimana mungkin ia bisa merangkak pergi? Sakit yang melilit tangan serta lututnya membuat lelaki itu berguling-guling makin mengenaskan. Peluh dingin bercucuran dengan derasnya membasahi seluruh wajahnya...

"Haaah...haaah.... bagaimana rasanya, bila sepasang tulang lututmu patah secara tiba-tiba?" ejek Ci Hui Lojin sambil tertawa tergelak.

Saking sakitnya, air mata telah jatuh bercucuran membasahi wajah lelaki itu. Napasnya ngos-ngosan seperti kerbau, ia semakin tak mampu lagi untuk menjawab...

Ci Hui Lojin segera mengulapkan tangannya kepada nelayan kecil itu sambil berseru, "Giok Ji, sambungkan tulang lututnya itu, lalu coba kau periksa orang itu dengan seksama!"

Dengan langkah lebar, nelayan kecil itu menghampiri orang itu. Sepasang tangannya dengan cekatan mencengkeram sepasang kaki lelaki tadi, kemudian ditarik dan didorong ke belakang. Terdengar lelaki itu menjerit kesakitan, dan berguling-guling lagi ke atas tanah sambil menjerit-jerit. Tak lama kemudian ia sudah jatuh tak sadarkan diri.

"Giok Ji," Ci Hui Lojin segera berkata kepada nelayan kecil itu, "sudahkah kau lihat jelas? Itulah jurus ketujuh dari ilmu Cap Ji Jian Jiu yang disebut Hui Ciang Jui-ku (Tangan terbang kering melayu)..."

"Jurus itu sudah ku kuasai, hanya sayang tenaganya masih kurang," sahut si bocah sambil tertawa.

Sementara pembicaraan berlangsung, lelaki itu telah sadar kembali dari pingsannya. Namun, rasa sakit yang dideritanya juga turut lenyap tak berbekas. Ia menatap Ci Hui Lojin, kemudian dengan wajah termangu-mangu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment