Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 07

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 07

Lama-kelamaan, tiba-tiba sekujur badannya bergetar keras. Sambil berlutut di tanah dan menyembah berulang kali di hadapan si kakek, ia berseru gemetar, "Lo... lo Pangcu... Tecu..."

"Wah, rupanya kau sudah dibuat kebingungan saking menahan rasa sakit tadi," kata Ci Hui Lojin tertawa. "Apa itu, Lo Pangcu? Ayo jawab, mau apa kau datang kemari?"

"Tecu mendapat perintah dari Pangcu baru untuk datang kemari melacak jejak Lo Pangcu. Ternyata jejak Lo Pangcu benar-benar berhasil Tecu temukan!"

Ci Hui Lojin mendengus dingin.

"Hmm, kau tidak usah mengoceh tak keruan. Siapakah Pangcu baru kalian?"

"Sayang sekali, sedikit orang persilatan yang mengetahui nama asli Pangcu baru kami. Orang-orang dalam perkumpulan hanya tahu kalau dia adalah murid Lo Pangcu. Dia sendiri menyebut dirinya sebagai Utusan Manusia Serigala."

"Kau pernah bertemu dengannya?"

"Pernah, pernah... cuma wajahnya selalu ditutupi dengan kulit kepala serigala, hingga sulit untuk dikenal raut wajah aslinya."

"Oh," untuk sesaat Ci Hui Lojin termenung sambil berpikir sejenak, kemudian ia berkata lagi, "Ada urusan apa kau memasuki Lembah Im Tuo Kok ini?"

"Hamba ditugaskan untuk menyambangi Lo Pangcu."

"Oh, setelah ketemu lantas kembali menyampaikan laporan, agar Cu Bu Si dengan membawa begundal-begundalnya datang menyerbu *lohu* dan melenyapkan *lohu* dari muka bumi. Hmm, bagus amat strateginya!"

Mendengar ucapan tersebut, lelaki itu menjadi ketakutan setengah mati. Buru-buru ia berseru agak tergagap, "Soal ini... soal ini..." Tiba-tiba Ci Hui Lojin mendongakkan kepalanya, lalu tertawa seram. Di tengah gelak tawa itulah, telapak tangan kanannya diayunkan ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Lelaki itu segera menjerit kesakitan. Tubuhnya terkapar di tanah, dengan otaknya berhamburan di mana-mana. Keadaannya mengerikan sekali.

Peristiwa yang sama sekali di luar dugaan ini kontan saja membuat bocah itu terperanjat. Dengan wajah memucat, ia berteriak kaget, "Ayah, mengapa... mengapa kau membunuhnya?"

Ci Hui Lojin menghela napas panjang. "Aduh... kalau kita tidak melenyapkan orang ini dari muka bumi, sudah pasti dia akan membocorkan rahasia Lembah Im Tuo Kok kita kepada pihak mereka. Bila hal ini sampai terjadi, berarti banyak kesulitan yang bakal kita jumpai di kemudian hari."

"Ayah, nampaknya kau takut sekali terhadap mereka...?" seru bocah itu tercengang.

"Haah... haah... haah... yang takut bukan aku, melainkan Utusan Manusia Serigala. Sebab, selama aku masih hidup, dia tak akan berani bertindak semena-mena dalam dunia persilatan. Mengerti?"

"Aku tidak mengerti, mengapa Ayah tidak keluar saja dari lembah ini dan membasminya dari muka bumi?"

"Aduh, siapa bilang aku tidak mempunyai hasrat untuk berbuat demikian? Apa daya, sepasang kakiku..."

"Tapi aku 'kan bisa membopong Ayah untuk keluar dari sini?"

Dengan cepat Ci Hui Lojin menggeleng.

"Tidak, cara itu akan melelahkan dirimu. Aku mempunyai rencana yang lain."

Bocah itu segera tertawa.

"Aku tahu Ayah pasti mempunyai cara lain yang bisa digunakan untuk melenyapkan Utusan Manusia Serigala."

"Kita harus mempunyai seorang Pangeran Serigala Langit yang akan menyapu seluruh jagat."

"Pangeran Serigala Langit!" bocah itu menjerit kaget, "Siapakah Pangeran Serigala Langit itu?"

"Kau! Kau adalah Pangeran Serigalaku, putraku Sik Tiong Giok tentu saja harus menjadi seorang Pangeran Serigala... haah... haah... haah..."

Bocah cilik itu membelalakkan sepasang matanya dengan perasaan kaget bercampur tercengang. Lalu setelah tertegun beberapa saat, dia berseru.

"Ayah! Kau... kau bilang aku... mampu... menjadi..."

Ci Hui Lojin manggut-manggut.

"Ya, kau pasti bisa, sebab Cu Bu Ki hanya mampu menggunakan lima gerakan dari dua belas jurus tangan cacat. Sebaliknya, kau menguasai *Cap Ji Jian Jiu* secara sempurna."

"Tapi tenaga dalamku masih jauh bila dibandingkan orang lain..."

"Aku akan menggunakan tenaga dalamku untuk menambah kekuatanmu, cuma..."

Tiba-tiba ia berhenti berbicara dan memandang ke arah nelayan cilik itu dengan termangu. Lama kemudian ia baru berkata lagi, "Nak, kau harus menyanggupi satu hal kepadaku..."

Sik Tiong Giok atau nelayan kecil itu segera membelalakkan matanya lebar-lebar.

"Ayah, entah persoalan apa pun permintaanmu itu, Giok Ji pasti akan mengabulkannya."

"Tahukah kau, disaat tenaga dalammu bertambah kuat, dengan ilmu *Cap Ji Jian Jiu* yang kau miliki itu, kau sudah mampu untuk menggetarkan seluruh dunia persilatan?"

"Aku tahu. Dua belas gerakan *Cap Ji Jian Jiu* merupakan ilmu yang mahasakti di dunia, tentu saja mampu untuk menggetarkan seluruh dunia persilatan!"

Ci Hui Lojin manggut-manggut.

"Asal kau sudah mengerti hal ini lebih baik lagi! Aku mengharapkan kau bisa membersihkan noda di atas namaku setelah kau berhasil memiliki kekuatan hebat nanti. Sanggupkah kau untuk melakukannya?"

Sik Tiong Giok manggut-manggut. Sinar tajam mencorong dari balik matanya!

"Ananda mengerti. Bukan saja akan kubersihkan nama Ayah dari noda, akan kuhidupkan pula nama Ayah sehingga makin termasyhur di seluruh dunia."

Mendengar perkataan itu, Ci Hui Lojin segera tertawa terbahak-bahak.

"Haah... haah... haah... Anak baik, aku memang tidak sia-sia menyayangimu selama ini. Semoga saja apa yang kau ucapkan sekarang, benar-benar muncul dari hatimu yang murni."

Berbicara sampai di situ, dia memandang sekejap ke arah mayat di lantai itu, kemudian mengulurkan tangannya.

Sik Tiong Giok segera maju ke depan dan menyingkirkan mayat tersebut. Selesai membersihkan lantai dari noda darah, dia pun duduk di samping kakek itu sambil mengatur napas.

Entah berapa lama sudah lewat, pelan-pelan Sik Tiong Liong sadar kembali dari semedinya. Mendadak dia merasa punggungnya seperti ditempeli sesuatu benda. Dengan perasaan kaget, dia akan berpaling.

Mendadak terdengar kakek itu berbisik, "Nak, jangan sembarangan bergerak. Aku sedang membantumu untuk menambah tenaga dalam yang kau miliki."

Benar juga, Sik Tiong Giok merasakan ada segulung aliran hawa panas yang menyusup masuk melalui saluran darah *Mia Bun Hiat*-nya dan menyusup ke dalam tubuh.

Aliran hawa panas tadi dengan cepat membawa hawa murni Sik Tiong Giok yang terhimpun dalam pusar itu, pelan-pelan mengalir ke empat penjuru.

Lambat laun, Sik Tiong Giok berada dalam keadaan lupa segala-galanya.

Sementara itu, wajah Ci Hui Lojin tampak berubah menjadi semakin layu. Rambutnya yang berubah juga turut mengering dan berubah menjadi abu-abu. Ketika segulung angin berembus lewat, rambut itu pun rontok dan tersebar ke mana-mana.

Entah berapa lama sudah lewat, menanti Sik Tiong Giok sadar kembali, matahari telah mencorong ke dalam ruangan. Sementara itu, ayah angkatnya Ci Hui Lojin sudah pergi entah ke mana.

Namun, dari atas meja ia berhasil menemukan secarik kertas yang tertulis begini: "Aku telah mengorbankan tenaga dalamku sebesar enam puluh tahun hasil latihan kepadamu. Bila ada musuh yang merembet kemari, sudah jelas aku tak akan mampu untuk menandinginya. Oleh sebab itu, aku telah pergi ke tempat rahasia lain untuk menyembunyikan diri. Kau pun harus meninggalkan Lembah Im Tuo Kok cepat-cepat. Tinggalkan rumah kosong ini biar mereka pikirkan sendiri dengan kebingungan. Ingat! Bersihkan namaku dari noda..."

Ketika sampai di sini, tiba-tiba tulisan tersebut terputus sampai di tengah jalan.

Namun Sik Tiong Giok bisa menduga maksudnya, maka dia lantas bergumam, "Yah, aku tahu, kata selanjutnya pasti berbunyi: Jangan kau rusak nama baikku." Walaupun dia hanya bergumam, namun dalam hati kecilnya seakan-akan merasa seperti kehilangan sesuatu.

Senja itu, dari mulut Selat Say Sia muncul sebuah perahu kecil. Di atas perahu itu duduk seorang nelayan kecil. Dia tak lain adalah Pangeran Serigala Sik Tiong Giok.

Memandang Sungai Tiangkang yang membentang jauh ke depan sana, untuk sesaat bocah itu tak tahu ke mana dia harus pergi. Dia mendayung sampannya pelan-pelan, membiarkan perahunya terbawa oleh arus menuju ke hilir.

Nguuu... Mendadak dari kejauhan sana, berkumandang suara pekikan yang sangat aneh.

Tergerak hati Sik Tiong Giok setelah mendengar suara itu, dia mempercepat dayungnya, melajukan perahunya menuju ke arah asal suara aneh tadi.

Baru saja sampannya memasuki sebuah alur sungai kecil, mendadak dari sisi kanan sungai, dari balik tumbuhan gelagah yang lebat, meluncur ke luar sebuah sampan yang melesat ke arahnya.

Dengan cepat Sik Tiong Giok berpaling. Dia menyaksikan seorang lelaki kekar bermata besar, beralis tebal, dan berwajah bengis sedang menjalankan sampannya menghampiri ke arahnya.

Sekilas pandang saja dapat diketahui kalau dia adalah seorang jagoan air.

Makin lama, jarak antara perahu mereka semakin mendekat.

Sik Tiong Giok sama sekali tidak menggubris. Ia tetap mendayung perahunya bergerak menuju ke depan.

Mendadak lelaki itu membentak keras, "Hei bocah muda, tempat ini bukan tempat untuk menangkap ikan! Ayo cepat kembali ke rumah dan beristirahat!"

Sik Tiong Giok tidak menggubris. Dia melanjutkan dayungnya, melajukan sang perahu ke depan.

Melihat bentakannya tidak digubris, dengan gusar dan mata melotot, lelaki itu membentak lagi, "Hei bocah keparat, sudah kau dengar perkataanku tadi?"

Sementara itu, perahu mereka sudah semakin mendekat, selisih jaraknya sekarang tinggal beberapa kaki.

Pelan-pelan Sik Tiong Giok mendongakkan kepalanya, lalu bertanya, "Hai, apa yang baru saja kau katakan?"

"Tempat ini bukan tempatmu untuk menangkap ikan. Lebih baik kau berpindah ke tempat lain saja! Monyet, memangnya kau tidak mengerti perkataanku?"

"Kalau omongan manusia, aku pasti mengerti, tapi ucapanmu rada membingungkan hatiku."

Lelaki yang lain dalam perahu itu segera tertawa setelah mendengar perkataan itu. Ia berseru cepat, "Hei Tio Tua, kurang ajar benar bocah keparat itu! Dia mengumpatmu bukan orang..."

Lelaki pertama tadi menjadi gusar. Dia segera meraih senjata trisula yang terselip di pinggangnya dan menghardik, "Bocah keparat, kau berani mengumpatku?"

"Eee..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment