Chapter 08
"Siapa yang mengumpatmu? Tadi kau bilang tempat ini bukan tempat menangkap ikan dan aku tak boleh mencari ikan di sini."
"Sekarang, aku tidak menangkap ikan."
"Lantas mau apa datang kemari?" tegur lelaki itu marah.
Sik Tiong giok segera tertawa.
"Aku datang kemari untuk menangkap kepiting, alur sungai di sini paling banyak kepitingnya."
"Kepiting juga tidak boleh dicari, ayo cepat menjauh, kalau tidak..."
"Hmm! Memangnya kau ingin mencari penyakit untuk diri sendiri...?" Lelaki itu pada dasarnya berwajah bengis dan suaranya kasar. Jika orang lain menghadapi kejadian ini, pasti mereka akan ketakutan setengah mati. Tapi Sik Tiong giok sama sekali tidak takut. Ia justru membantah, "Aku sering menangkap kepiting di sini, tidak pernah ada orang yang berani melarangku. Atas dasar apa kau melarangku menangkap kepiting di sini? Sungai Tiangkang bukan milik nenek moyangmu?"
Lelaki itu segera berkerut kening dan siap mengumbar hawa amarahnya. Mendadak terdengar suara air memecah tepian, lalu dari balik hutan gelaga muncul sebuah sampan kecil.
"Siapa yang sedang ribut di sana?" teguran merdu bergema memecah keheningan. Sik Tiong giok segera berpaling dan melihat ada seorang nona berbaju hijau berparas cantik sedang bergerak mendekatinya. Lelaki itu seperti merasa takut sekali terhadap si nona berbaju hijau itu. Cepat-cepat ia menundukkan kepalanya rendah-rendah setelah mendengar ucapan tersebut.
"Nona, katanya nelayan kecil ini memaksa akan memasuki daerah ini."
Nona berbaju hijau itu mendengus dingin. Dengan matanya yang jeli, ia mengerling sekejap ke arah Sik Tiong giok, kemudian berseru, "Apakah kalian sudah menerangkan kalau malam ini tidak ada orang yang boleh melewati daerah ini?"
"Hamba sudah menerangkan, tapi ia bilang Sungai Tiangkang bukan milik nenek moyang kami..."
Kembali nona berbaju hijau itu mendengus dingin. Sekali lagi ia mengerling sekejap ke arah Sik Tiong giok. Sementara itu, sang pemuda masih tetap duduk tenang di perahunya. Bukan saja tidak tampak gugup atau ketakutan, malah ia balas menatap wajah si nona dengan matanya yang jeli.
Sejak dilahirkan, belum pernah nona berbaju hijau itu menjumpai ada orang yang berani menatapnya seperti ini. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangan ke arah lain sambil menegur, "Siapakah kau? Ada urusan apa datang kemari?"
Sik Tiong giok tersenyum. "Aku datang untuk menangkap kepiting, kenapa? Tidak boleh?"
Setitik amarah mulai menghiasi raut wajah si nona berbaju hijau itu. "Hari ini tidak boleh. Selewatnya hari ini terserah kau hendak kemari atau tidak, pokoknya hari ini kau harus pergi."
"Kenapa? Kau harus memberikan alasan yang kuat."
"Sekalipun kuterangkan, belum tentu kau akan memahaminya."
"Tanpa alasan aku tetap akan mencari kepiting. Kalau tidak, besok aku akan makan apa?"
Mendengar perkataan itu, si nona segera merogoh sakunya dan mengambil sekeping uang perak. Sambil melemparkannya ke depan, ia berseru, "Ambillah uang perak itu, nilai tersebut cukup bagimu untuk hidup selama tiga hari. Bagaimana? Sudah cukup belum? Kalau sudah, ayo cepat pergi!"
Sik Tiong giok menggelengkan kepalanya berulang kali. Ia mengambil uang itu lalu melemparkannya kembali ke arah si nona. "Aku tidak sudi menerima belas kasihan orang lain, apalagi tahu uang ini tidak jelas asal usulnya. Aku bisa masuk bui!"
Paras muka si nona segera berubah hebat. "Kau tahu," teriaknya dingin, "pada malam ini akan berkumpul semua jago persilatan di tempat ini. Bisa jadi suatu pertarungan sengit akan berlangsung. Kau tidak takut?"
"Aah, masa benar? Aku memang ingin menonton keramaian seperti itu. Wah, kalau begitu sangat kebetulan," kata Sik Tiong giok sambil tertawa lebar.
"Kau bisa bersilat?"
Pemuda itu menggeleng. "Tidak, tapi aku ingin belajar. Aku ingin melihat apakah di antara jago-jago itu ada yang berilmu tinggi. Bila ada, aku ingin mencari seorang suhu."
Selesai mendengar ucapan itu, nona berbaju hijau itu segera tertawa. Ia membereskan rambutnya yang kusut, kemudian berkata, "Jadi kau ingin menonton keramaian?"
"Yaa, tentu saja. Bila kau tidak berkeberatan, bolehkah aku masuk ke dalam?"
Nona itu mengangguk-angguk. "Boleh, cuma kau harus duduk membungkam dan jangan banyak bicara..."
"Baik, aku pasti tidak akan berteriak-teriak," pemuda itu berjanji.
Nona berbaju hijau itu termenung lagi sejenak, kemudian berkata lagi, "Bila kau benar-benar ingin menonton keramaian, pindahlah ke atas perahu ini. Kalau kau bisa membungkam diri lebih baik lagi."
Mendengar ucapan itu, Sik Tiong giok menjadi amat gembira. "Oooh, kau memang baik sekali. Tapi, bagaimana dengan perahu kecilku ini?"
"Tautkan saja di belakang perahuku, jangan banyak bicara, jangan sembarangan bergerak, duduk saja mematung di situ, mengerti?"
Sik Tiong giok segera menautkan perahunya di belakang perahu si nona itu, kemudian melompat naik ke perahu orang dan duduk berdiam diri di sana. Gadis itu mengulurkan tangan dan segera berangkat meninggalkan tempat itu.
Dua jam kemudian, dari kejauhan sana tampak sebuah pulau kecil di tengah sungai. Empat penjuru dikelilingi air yang deras arusnya. Banyak orang telah berkumpul di atas pulau itu, bahkan cahaya lentera menerangi empat penjuru.
"Wah, banyak sekali orang yang berkumpul di situ," bisik Sik Tiong giok, "peristiwa ini tentu amat ramai."
Gadis itu mengerling sejenak ke arahnya, lalu tertawa ringan. "Hari ini adalah diselenggarakannya pertemuan puncak para enghiong, tentu saja suasananya sangat ramai."
Sik Tiong giok segera pura-pura merasa kaget, buru-buru bertanya lagi, "Pertemuan macam apakah itu? Apakah mengundang juga para tosu untuk membacakan doa?"
Nona berbaju hijau itu segera tertawa geli, katanya, "Kau benar-benar tolol, masa pertemuan seperti ini pun didahului dengan pembacaan doa."
"Oooh, kalau begitu para hwesio yang diminta menyelenggarakan pembacaan doa itu?" Sik Tiong giok lagi-lagi berlagak bodoh.
"Juga tidak. Pokoknya kau tidak akan mengerti kalau diterangkan. Tunggu saja nanti, kau toh akan mengetahui dengan sendirinya."
"Lebih baik lagi kalau kau bersedia menerangkan kepadaku. Kalau aku sudah mengerti, maka kalau menonton nanti pasti akan lebih sip!"
Si nona termenung beberapa saat, kemudian katanya, "Hari ini adalah pertemuan besar yang diselenggarakan oleh para jago air. Mereka sedang mencari seorang Bengcu baru, mengerti?"
"Oooh, kalau begitu pasti akan diadakan panggung Lui tay kalau ada yang beradu kepandaian?"
"Kalau begitu ilmu silat ayahmu pasti sangat hebat?"
"Tentu saja," nona itu tertawa, "kepandaiannya sekarang boleh dibilang tiada tandingannya." Berbicara sampai di situ, ia melirik sejenak ke arah Sik Tiong giok lalu menambahkan, "Bila bertemu ayah nanti, aku akan mintakan kesediaannya untuk menerima kau sebagai muridnya, mau bukan?"
"Tentu saja, cuma... takutnya ayahmu yang tidak mau!"
Begitulah, tak selang berapa saat kemudian perahu mereka sudah mendekati pantai pasir itu. Di atas daratan telah tersedia puluhan tenda besar, ratusan meja perjamuan telah disiapkan, malah banyak di antara mereka yang sedang berbincang-bincang di situ amat ramai...
"Rupanya ada orang sedang mengadakan perjamuan?" bisik Sik Tiong giok lagi.
"Orang-orang itu semua merupakan jagoan termasyhur di dalam dunia persilatan. Suatu pertarungan pasti akan terjadi, tunggu saja tanggal mainnya!"
"Nona, nanti siapa yang akan bertarung dengan siapa? Bagaimana dengan kita?"
Nona berbaju hijau itu kembali tertawa cekikikan oleh pertanyaan yang bodoh. "Tentu saja di sana sambil menonton, bukankah enak?" katanya kemudian.
Sementara mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar suara gembrengan dibunyikan bertalu-talu, kemudian terjadilah kegaduhan di antara para jago yang hadir di sana. Seorang berseru secara tiba-tiba, "Hidangkan sayur..."
Dari balik tenda bermunculan dua tiga puluh orang gadis berbaju putih yang masing-masing membawa sebuah baki berisi hidangan. Tak lama kemudian sayur dan arak telah dihidangkan semua. Saat inilah tampak seorang kakek berbaju hitam bertepuk tangan beberapa kali, lalu berseru dengan lantang, "Silakan saudara sekalian menikmati hidangan lebih dulu, dengan cepat pangcu kami akan tiba..."
"Lagak apa sih yang sedang dibawakan oleh Bun su Khi?" tiba-tiba seseorang menyahut dengan suara dingin, "semua tamu telah hadir namun tuan rumahnya masih bersembunyi, benar-benar kurang ajar."
Kakek berbaju hitam itu buru-buru tertawa paksa, "Maaf, berhubung barusan pangcu mendengar suara aneh dan merasa tidak tenteram, beliau sedang melakukan pemeriksaan sekarang."
"Suara apa? Apakah mirip dengan suara lolongan serigala?" teriak orang yang lain dengan wajah kaget.
Kakek berbaju hitam itu mengangguk-angguk. "Yaa, agak mirip, tapi moga-moga saja bukan suara dari gembong iblis tersebut..."
Belum habis ia berkata, mendadak dari kejauhan sana muncul sebuah lentera merah yang bergerak mendekat dengan cepat. Buru-buru kakek berbaju hitam itu berseru, "Itu dia, pangcu kami telah kembali!"
Sementara berbicara, perahu cepat berlentera merah itu sudah merapat di pantai. Terlihat seseorang melompat naik ke atas daratan, lalu menjura kepada para jago sambil berseru, "Bila kedatangan Bun su Khi agak terlambat, harap enghiong sekalian jangan marah."
Sambil berkata ia menjura tiada hentinya dan menuju ke tengah lapangan, setelah berdehem beberapa kali, ia berkata lebih lanjut dengan suara lantang, "Aku sungguh menyesal karena tidak bisa menjadi seorang tuan rumah yang baik untuk menjamu saudara sekalian yang telah datang dari kejauhan. Untung saja kita sebagai sesama umat persilatan dan kalian tidak terlalu mengacuhkan adat dan kesopanan..."
"Bila ingin mengucapkan sesuatu, katakan saja dengan cepat," sela seseorang secara tiba-tiba, "apa gunanya ngoceh melulu dengan perkataan yang tidak ada gunanya!"
Perkataan itu muncul amat mendadak dan nadanya kasar sekali, sehingga tanpa terasa semua orang mengalihkan sorot mata mereka ke arah orang itu.