Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 09

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 09

Dia adalah seorang lelaki kekar yang berpunggung kekar dan bertubuh penuh otot. Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, sekulum senyum dingin yang amat sadis segera menghiasi ujung bibirnya.

Ucapan itu dengan cepat menggusarkan seseorang yang lain, dia adalah seorang lelaki kekar bergolok emas. Sambil berdiri dan mendekati orang itu, ia menegur, "Siapa kau? Siapa yang mengundangmu kemari?" Lelaki jumawa itu tak mau mengalah, dia melompat bangun sambil menyahut, "Huuuh, sudah pernah kau dengar nama Tui Huu Liu Seng (Bintang Lewat Pengejar Sukma) Ang To, Ang Toaya?" Lelaki bergolok itu tertawa dingin.

"Heeeh... heeeh... heeeh... pernah sih pernah, tapi dalam pandanganku, Tin Hay Kim To (Golok Emas Penenang Samudra) Kang Toaya, namamu masih belum seberapa!"

"Jadi mau apa kau?" seru Ang To melotot.

Tin Hay Kim To Kang Wi segera mencabut goloknya, serta-merta menjawab, "Aku hendak menggunakan golok emasku ini untuk memberimu pelajaran yang setimpal." Ang To mendengus dingin, tiba-tiba dia menjejak meja yang berada di hadapannya lalu melejit mundur sejauh empat-lima depa. Kemudian, dengan menggetarkan sepasang tombak berantainya, dia melepaskan sebuah serangan dengan jurus Liang Hong Koan Oh (Sepasang Angin Menembusi Telinga).

Tin Hay Kim To Kang Wi tidak tinggal diam, golok emasnya diputar lantas membacok ke depan.

Ang To menggetarkan lagi senjata tombak berantai di tangan kanannya ke atas. "Trang!" Dengan cepat terjadilah suara benturan yang amat nyaring.

Suatu pertarungan sengit pun segera berlangsung dengan serunya...

Mendadak terdengar seseorang mengumpat lagi, "Sialan, anak monyet dari mana yang telah mengganggu pertemuan? Pakaianku tadi basah, berlubang-lubang lagi... Kau harus mengganti pakaianku ini..." Berbarengan dengan ucapan itu, sebuah ruyung lemas segera dilontarkan dari kejauhan, menghajar tangan kiri Tui Huu Liu Seng.

Terpojok oleh keadaan, mau tak mau Ang To harus mundur ke belakang. Apa mau dikata, kakinya terpijak di atas kaki seseorang.

Bentakan nyaring segera bergema lagi di udara, "Sialan, manusia bermata buta! Kau berani mengusik Nyonya Besarmu? Jangan kabur, tinggalkan dulu sebelah kakimu!" Serentetan cahaya pedang tahu-tahu sudah membabat ke arah tiga bagian penting di tubuh Ang To...

"Bagus sekali!" bentakan nyaring kembali bergema. "Mau main keroyok? Jangan lupakan Toaya!" Sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, seorang kakek cebol berbaju hijau telah terjun pula ke dalam arena.

Gerakan tubuh orang ini amat cepat, ilmu meringankan tubuhnya juga sempurna. Dengan suatu gerakan yang lincah, dia sudah menyelinap dari bawah ruyung lemas itu dan langsung mencengkeram pedang yang sedang melancarkan bacokan.

Orang yang menyerang dengan pedang itu adalah seorang nyonya muda berbaju putih. Menyaksikan gelagat tidak baik, tangan kirinya segera diayunkan ke depan...

Sekilas cahaya tajam segera menyambar ke atas lengan kanan kakek berbaju hijau itu dan bersarang secara telak.

Merasakan lengannya kesemutan, dia segera menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan. Buru-buru dia kabur lewat bawah ketiak Kang Wi.

"Perempuan busuk!" dengusnya kemudian, "Kau berani melukai lohu dengan senjata rahasia!" Belum habis dia berkata, mendadak terdengar seseorang membentak pula dengan suara melengking, "Mengapa? Kalau tidak puas, kalian Pang Ci Jit Hi (Tujuh Ikan dari Pang Ci) boleh maju bersama-sama! Cobalah kepandaian dari kami Tong Teng Ngo Yan (Ilmu Walet dari Tong Ting), kita buktikan nama siapa yang hanya kosong belaka!"

Dalam waktu singkat, para jago sudah berlompatan ke tengah arena, suasana menjadi kalut, bahkan tidak sedikit orang telah menghunuskan senjatanya, bersiap sedia melangsungkan pertarungan massal.

"Tahan!" Suatu bentakan menggeledek menggelegar memecahkan seluruh arena.

Bentakan ini ibaratnya guntur yang membelah bumi di siang hari bolong, membuat semua orang merasakan pendengarannya bergetar keras sekali.

Dengan cepat semua orang dapat mengenali kalau orang yang barusan membentak adalah penyelenggara pertemuan Enghiong Hwee hari ini, Ngo Oh Pangcu (Ketua Lima Telaga) Bun Si Khi.

Pohon punya bayangan, manusia punya nama, apalagi kedudukan Bun Si Khi di dalam dunia persilatan memang amat tinggi. Seketika itu juga, suasana yang semula kalut kini menjadi tenang kembali.

Sik Tiong Giok segera berbisik, "Nona, siapa sih orang ini? Nyaring amat suaranya!" Nona berbaju hijau itu segera tertawa, "Dia adalah Ngo Oh Pangcu, orang menyebutnya Seng Jiu Mo (Tangan Sakti Menggosok Awan) Bun Si Khi, dialah ayahku!" "Ooh... kalau mendengar suara teriakannya tadi, sudah pasti dia berilmu silat sangat tinggi!" Nona itu hanya tersenyum dan tidak berbicara, sementara sorot matanya telah dialihkan kembali ke tengah arena.

Sementara itu, Ngo Oh Pangcu, si Tangan Sakti Menggosok Awan Bun Si Khi, telah berkata dengan lantang, "Dewasa ini, dunia persilatan sedang dilanda kekalutan. Banyak jago kenamaan yang hilang atau terbunuh, hingga kini jejak mereka belum ditemukan, siapa pembunuhnya juga tidak diketahui. Hal ini membuktikan betapa gawatnya suasana dalam dunia persilatan sekarang."

"Bukankah menurut kabar Si Kakek Serigala Langit telah muncul kembali?" mendadak seseorang menyela. "Aku duga, sudah pasti dialah yang telah melakukan perbuatan ini." Sik Tiong Giok yang mendengar perkataan itu segera mendengus dingin.

Bun Si Khi kembali berseru, "Mustahil kalau perbuatan ini dilakukan sendiri oleh Kakek Serigala Langit. Kendatipun dia belum mati, namun sepasang kakinya sudah putus. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan perbuatan seperti ini? Menurut berita yang baru saja kuperoleh, konon perbuatan ini dilakukan oleh seseorang bernama Utusan Manusia Serigala."

"Seperti apakah Utusan Manusia Serigala itu?" kembali seseorang bertanya.

Bun Si Khi tertawa getir.

"Justru tidak seorang manusia pun yang pernah menyaksikan raut wajah aslinya, juga tidak diketahui di manakah sarang mereka. Maka dari itu, sengaja aku undang kehadiran Saudara sekalian untuk membicarakan bersama masalah ini."

"Apakah Bun Pangcu memiliki suatu usul?" sela kakek berbaju hijau yang disebut Pang Ci Jit Hi.

"Kawan-kawan persilatan yang berada di daratan telah dipimpin oleh Tianzhu Shaolin Pai Hong Yi Siansu untuk menyebar surat undangan Bu Lim Hiap dan mengundang para jagonya untuk berkumpul di Shaolin Si, sedangkan sobat-sobat dari air berkumpul di sini..." Berbicara sampai di situ, dia berhenti sejenak sambil memandang sekejap ke arah para tamunya, kemudian meneruskan, "Untuk melenyapkan ancaman mara bahaya ini, aku rasa kecuali kita bersatu padu, tiada jalan lain yang bisa ditempuh lagi. Namun, kita membutuhkan seseorang menjadi pemimpin kita untuk bersama-sama menghadapi gembong iblis tersebut."

Tempik sorak segera menyambut ucapan tersebut.

Sekulum senyum mulai muncul dan menghiasi wajah Bun Si Khi. Kembali dia melanjutkan, "Adapun tujuan dari diselenggarakannya pertemuan pada hari ini adalah untuk mencari seorang Bengcu di antara kita yang bisa memimpin kita semua untuk bersama-sama menghadapi ancaman musuh yang teramat tangguh itu."

"Tapi bagaimana cara kita memilihnya?" kembali ada orang berteriak, "Bun Pangcu, dapatkah kau memberikan pendapatmu?" Bun Si Khi tersenyum.

"Bila dibicarakan dari situasi yang terbentang di depan mata sekarang, paling baik jika kita jangan memperebutkan dengan ilmu silat. Meskipun musuh kita memiliki ilmu silat yang lihai, namun dia pun memiliki kecerdasan yang luar biasa pula. Oleh sebab itu, kita harus bisa memilih seorang pemimpin yang selain pemberani, juga berotak cerdik."

Baru berbicara sampai di situ, di bawah sana telah terjadi kegaduhan lagi.

Dalam waktu singkat, suara orang berunding, suara umpatan dan caci maki bergema memenuhi angkasa. Jelas, semua orang tidak menyetujui usulnya ini.

Mendadak seorang melompat bangun, kemudian berseru dengan suara lantang, "Kalau hendak memilih dengan cara begini, sampai seratus tahun pun jangan harap bisa berhasil memilih pemimpin, sebab kita semuanya adalah orang-orang yang hidup di ujung golok. Cara yang terbaik adalah beradu kepandaian silat, siapa yang tangguh, dialah yang berhak menjadi pemimpin kita!"

"Betul," orang yang lain menyambung, "kita adalah orang dunia persilatan. Kalau tidak dilakukan adu kepandaian silat, siapa yang sudi memilih orang secara sembarangan?" Ucapan ini bernada aneh, lagipula berasal dari kejauhan. Tanpa terasa, semua orang berpaling ke arah mana suara itu berasal.

Tapi dengan cepat, jeritan kaget berkumandang memenuhi arena tersebut.

"Aaai... dia adalah Utusan Manusia Serigala! Mengapa dia... dia bisa datang?" Rupanya entah sejak kapan, di tepi telaga berlabuh sebuah perahu. Dari atas perahu itu, telah bermunculan belasan orang manusia aneh berkepala serigala.

"Siapa kau?" orang yang berbicara tadi segera menegur. Seorang manusia aneh berkepala serigala yang berada di tengah segera menyahut dingin, "Utusan Manusia Serigala! Tadi apakah kau tidak mendengar? Hmmm, hanya aku dapat mengenali dirimu, bukankah kau adalah Ngo Ci Kay San (Lima Jari Membuka Bukit) Sin Kong Ho?"

Mendengar perkataan ini, orang tersebut makin tertegun lagi, sebab ucapan lawan memang tepat sekali.

Dalam kejut bercampur tercengang, buru-buru dia berseru, "Benar, lohu adalah Sin Kong Ho, siapakah kau?" Manusia aneh berkepala serigala yang lain segera membentak dengan suara nyaring, "Bukankah sudah kuberitahukan kepadamu? Buat apa mesti bertanya lagi?"

Sekali lagi Sin Kong Ho dibikin tertegun oleh perkataan lawannya ini. Setelah termangu sejenak, akhirnya dia tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaaah... haaaah... Walaupun aku orang berjuluk Sin seringkali berkelana dalam dunia persilatan, namun berhubung namaku tidak cukup termasyhur, sedikit yang kenal denganku."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment