Chapter 10
"Sekarang, kau bisa mengenali nama asliku. Ini menandakan bahwa kau adalah orang yang kukenal. Apakah kau tidak merasa bahwa caramu bermain sembunyi hanya akan meruntuhkan pamormu sendiri?" Rupanya ejekan ini mempan juga. Mendadak, manusia aneh berkepala serigala itu melepaskan topeng serigalanya sehingga muncullah wajah seorang kakek berambut putih.
"Hmm, kau kenal dengan aku?" dengusnya dingin.
Seketika itu juga, Sin Kong Ho terperanjat hingga berdiri melongo, mulutnya ternganga lebar. Lama kemudian, ia baru berteriak keras, "Kakek Serigala Langit! Kau... kau adalah Kakek Serigala Langit!" Kakek itu segera tersenyum.
"Benar, aku adalah Kakek Serigala Langit, tapi sekarang telah berubah nama menjadi Utusan Manusia Serigala." Kakek Serigala Langit sudah pernah mengobrak-abrik dunia persilatan di masa lalu; hampir setiap tokoh persilatan mengetahui nama iblis tersebut.
Dan sekarang, gembong iblis yang disegani banyak orang itu sudah muncul di hadapan semua orang. Tak heran kalau para jagoan itu dibuat terkesiap hingga mereka hanya saling berpandangan belaka tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Si nona berbaju hijau yang melihat kejadian itu pun berseru dengan perasaan kaget.
"Aduh, celaka! Tujuan diselenggarakannya Enghiong Hwee ini adalah untuk menghadapi gembong iblis tersebut. Mengapa dia malah muncul pula di sini?" "Kau bilang, siapakah gembong iblis ini?" bisik Sik Tiong Giok dengan suara lirih.
"Apakah kau belum pernah mendengar? Dia adalah Kakek Serigala Langit yang nama besarnya pernah menggemparkan seluruh dunia persilatan...?" Sik Tiong Giok segera tertawa, "Aku rasa dia tidak mirip. Percayakah kau?" "Aku belum pernah bertemu dengannya, bagaimana mungkin bisa tahu mirip atau tidak?" seru nona itu cemas. "Apakah kau tidak mendengar perkataan mereka barusan? Aduh, celaka! Dia sedang berjalan mendekati ayahku!"
Sementara itu, Ngo Oh Pangcu Bun Sik Hi, meski merasa terperanjat, masih mampu mengendalikan diri. Dengan kesiapsiagaan penuh, dia mengawasi Utusan Manusia Serigala yang sedang berjalan mendekat itu lekat-lekat.
Utusan Manusia Serigala itu berhenti setibanya lima depa di hadapan Bun Sik Hi. Katanya lagi dengan suara dingin, "Apakah kau adalah penyelenggara pertemuan Enghiong Hwee yang diselenggarakan kali ini?" "Benar, aku adalah Ngo Oh Pangcu Bun..." "Haaaaah... haaah... haaaah..." Bun Sik Hi belum sempat menyebutkan namanya, tetapi Utusan Manusia Serigala telah tertawa terbahak-bahak. Begitu nyaring suaranya sehingga semua suara yang lain tergilas oleh gelak tertawanya.
Setelah berhenti tertawa, dia mendengus dingin dan berkata lebih jauh, "Mau apa kalian berkumpul di sini? Mau memilih Bengcu? Lebih baik tak usah membuang waktu dengan percuma. Anggap saja aku adalah Bengcu kalian semua!" Ucapan ini kelewat menghina dan pada hakikatnya tidak memandang orang lain sebelah mata pun. Serentak, semua jagoan naik darah. Hanya saja, mereka tak berani mengumbar hawa amarah mereka. Si Nona berbaju hijau yang berada di perahu itu pun menjadi sangat gelisah seperti semut di atas kuali panas.
Tiba-tiba Sik Tiong Giok bangkit berdiri, lalu katanya sambil tertawa, "Nona, kau tak usah takut. Biar aku saja yang menghadapi Utusan Manusia Serigala dan menyuruhnya pergi dari sini. Mungkin dia akan menyetujui untuk tidak mengganggu jalannya pertemuan Enghiong Hwee ini." "Kau?" seru nona berbaju hijau itu kaget.
Nona ini terperanjat sekali. Dia tidak menyangka kalau nelayan kecil yang berada di hadapannya ini adalah seorang jagoan yang berilmu sangat tinggi. Sepasang matanya segera terbelalak lebar.
"Kau mampu?" serunya setelah sepasang mata mereka saling bertemu satu sama lain.
Sik Tiong Giok tersenyum.
"Mungkin saja dapat. Akan kucoba." Dengan suatu gerakan yang aneh, tahu-tahu dia sudah melejit setinggi empat-lima kaki ke udara sementara perahu itu sama sekali tidak bergoncang.
Dilihat dari sini dapat diketahui bahwa ilmu silatnya memang sangat hebat.
Kemunculan si bocah yang amat tiba-tiba dan sama sekali tak terduga ini, sekali lagi membuat para jagoan yang hadir di sana merasa terperanjat sekali.
Dengan gerakan Giok Li Cuan Soh (Gadis Suci Memasukkan Jarum), dia meluncur ke udara lalu melesat ke depan Utusan Manusia Serigala tersebut.
Dengan demikian, bahkan si Utusan Manusia Serigala pun dibuat terkesiap sehingga sepasang matanya terbelalak lebar.
Sik Tiong Giok berjalan maju ke depan dengan tenang, kemudian sambil tertawa cekikikan dia menjura ke arah Manusia Serigala tersebut.
Tampaknya Utusan Manusia Serigala itu amat terkejut oleh gerakan lawan. Dikira pihak musuh hendak melancarkan serangan gelap, dengan tergopoh-gopoh dia segera melompat mundur sejauh beberapa kaki.
Kembali para jagoan dibuat terkejut. Mereka tak menyangka bahwa Utusan Manusia Serigala yang berilmu tinggi itu bisa dibuat mundur ketakutan oleh tindakan seorang nelayan kecil.
Si Nona berbaju hijau yang berada di atas perahu segera bertepuk tangan sambil berseru, "Ayo nelayan cilik, gasak saja si laknat serigala itu! Jangan biarkan dia kabur!" Sik Tiong Giok berpaling ke arah nona cilik itu lalu melemparkan seulas senyuman lebar.
Sebaliknya, Utusan Manusia Serigala itu menjadi naik pitam. Dia mendengus dingin, hawa nafsu membunuh dengan cepat menyelimuti seluruh wajahnya, sementara sepasang matanya melotot besar.
"Hei, tadi kau bilang siapakah dirimu?" Sik Tiong Giok segera menegur dengan suara dingin.
"Aku adalah Utusan Manusia Serigala. Memangnya kau sudah tuli dan tidak mendengar suaraku?" "Tadi aku dengar kau mengaku sebagai Kakek Serigala Langit, tapi kalau kulihat tampangmu sedikit pun tidak mirip Kakek Serigala Langit. Mana mungkin kau adalah Kakek Serigala Langit?"
Utusan Manusia Serigala mendengus dingin.
"Hmm, sebutan itu merupakan sebutan lamaku. Ketika dua puluh tahun berselang aku masih berkelana dalam dunia persilatan, sekarang aku telah mengganti nama sebutanku menjadi Utusan Manusia Serigala. Mengerti?"
"Benar-benar sangat aneh!" Kembali Sik Tiong Giok mengejek sambil tertawa cekikikan, "Tak kusangka kalau dalam dunia ini terdapat manusia tak tahu malu, apalagi kau! Bukan saja kau mengaku sebagai Utusan Manusia Serigala, mencatut nama Kakek Serigala Langit lagi! Hei monyet, mengapa kau tidak mengaku sebagai Kaisar Giok Tee dari Kerajaan Langit saja? Kan lebih hebat?"
Ucapan ini segera menimbulkan kecurigaan pula di dalam hati para jagoan persilatan itu.
Seperti yang diketahui, setiap orang tahu bahwa sepasang kaki Kakek Serigala Langit sudah buntung. Tubuhnya yang cacat juga dibuang ke dalam jurang. Sekalipun ia ditolong dewa, mana mungkin kaki yang sudah buntung bisa tumbuh kembali...?
Karena berpikir begitu, ada beberapa orang di antaranya segera tertawa terbahak-bahak. Seru mereka dengan suara riuh, "Betul! Kalau Kaisar Giok Tee turun dari Kerajaan Langitnya, dunia persilatan pasti aman dan tenteram!" Kembali Sik Tiong Giok tertawa cekikikan.
"Bila Giok Hong Tay Tee sampai membantu serigala ini berbuat kejahatan, wah, dunia bisa kiamat!" Ejekan demi ejekan, cemoohan demi cemoohan tersebut dengan cepat mengobarkan amarah Utusan Manusia Serigala. Setelah tertawa dingin, bentaknya dengan keras, "Bocah keparat, siapakah kau?" Sambil menegur, dia mengayunkan tangannya dengan cepat.
Delapan orang manusia aneh berkepala serigala itu segera memencar dan mengurung Sik Tiong Giok rapat-rapat.
Sik Tiong Giok tetap tenang, bahkan bersikap acuh tak acuh dan seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apa pun. Sambil tersenyum, sahutnya pelan, "Aku? Wah!... Rupanya kau sendiri yang matanya sudah buta. Aku, kan, seorang nelayan cilik?"
"Keparat cilik, apa yang kau andalkan? Berani benar membuat keonaran di sini?"
"Kepandaianku banyak sekali: menangkap ikan, mencari udang, apalagi menangkap kepiting! Kau tahu, jika kepiting yang jumawa dan mau malang melintang seenaknya bertemu denganku, sudah pasti dia akan keok dan tak akan kabur lagi!"
Habis sudah kesabaran Utusan Manusia Serigala itu. Ia segera memberi tanda kepada seorang manusia aneh berkepala serigala yang berdiri di sisinya.
Mendapat kode tersebut, manusia aneh berkepala serigala itu membentak keras, kemudian mengayunkan kepalannya menghantam ke atas tubuh Sik Tiong Giok.
Menghadapi serangan tersebut, dengan cekatan Sik Tiong Giok memiringkan tubuhnya ke samping lalu melancarkan sebuah cengkeraman ke arah manusia aneh berkepala serigala tersebut.
Cengkeraman ini kelihatannya biasa dan tiada sesuatu yang aneh. Namun, kekuatan yang terpancar keluar justru mengancam lima jalur darah penting di tubuh bagian atas lawan.
Sedemikian ketat dan rapatnya ancaman itu membuat siapa pun merasa kesulitan untuk menghindarkan diri.
Ternyata ilmu silat yang dimiliki manusia aneh berkepala serigala itu hebat sekali. Menghadapi ancaman bahaya maut, dengan cepat dia mengubah serangan kepalannya menjadi serangan telapak tangan. Dari kiri membacok ke arah kanan, dia menyambut datangnya ancaman.
Dalam waktu singkat, terdengar suara desingan angin tajam menyambar lewat. Lalu tampak dua sosok bayangan manusia saling berpisah. Salah satu di antaranya mencelat sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.
"Aaah, Cap Ji Jian Jit! Siapakah kau?" Dengan sikap terperanjat, Utusan Manusia Serigala menjerit kaget.
Menyusul kemudian, para jagoan yang hadir di situ pun sama-sama menjerit kaget.
"Liau It Taysu.... Aah, rupanya manusia aneh berkepala serigala ini adalah Liau It Taysu. Mengapa dia pun sudah takluk kepada Utusan Manusia Serigala?" Untuk sesaat lamanya, semua orang dibuat tertegun dan tak tahu apa yang harus diperbuat.
Rupanya topeng kepala serigala yang dikenakan manusia aneh berkepala serigala itu sudah disambar oleh Sik Tiong Giok sehingga muncullah wajah aslinya yang berkepala gundul. Dia tak lain adalah Liau It Taysu dari Siaulim Pay.
Perlu diketahui, Liau It Taysu sudah termasyhur di dalam dunia persilatan sebagai manusia yang berhati keras. Dia amat membenci kaum penjahat.