Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 100

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 100

Kakek botak itu sama sekali tidak memedulikan keadaan orang-orang itu, ia kembali berkata, "Bila orang yang membawa lencana tersebut tak sanggup melindunginya, ia harus menebus dosa dengan kematian, sedangkan pelindungnya harus memotong satu lengannya sendiri, mengerti?"

Dari ketiga orang itu, rupanya Si Ule adalah pemimpinnya. Dengan badan gemetar, ia segera menjawab, "Tecu tahu!"

Sik Tiong Giok yang menyaksikan kejadian ini mendadak tidak tega. Dengan wajah sedingin es, ia menyela, "Hei, tua bangka botak, barusan pun kau tidak berhasil merebut lencana tersebut, apakah kegagalanmu tidak ditebus pula dengan kematian?"

Si kakek botak mendengus, "Omong kosong, aku adalah murid tertua Tujuh Iblis. Soal lencana yang hilang atau tidak adalah urusan rumah tanggaku sendiri, lebih baik kau tidak usah banyak bicara."

Sik Tiong Giok segera tertawa dingin, "Hmm, sudah jelas kau pun kehilangan lencana Tujuh Iblis, mengapa orang lain yang disalahkan? Kau tidak tahu diri, percuma kau menjadi murid tertua dari Tujuh Iblis."

Wajah kakek botak itu berubah, namun ia tidak menggubris sindiran Sik Tiong Giok. Perlahan sorot matanya diarahkan ke wajah ketiga utusan pencabut nyawa, lalu ia membentak, "Apalagi yang kalian nantikan? Apakah harus menunggu sampai aku yang melakukannya untuk kalian?" Beberapa kata itu diucapkan dengan suara dingin, kaku, dan tidak berperasaan.

Ketiga utusan pencabut nyawa itu tidak berani membantah lagi. Mereka segera menyembah ketiga orang iblis tersebut, lalu mengayunkan tangan kanan untuk menghajar batok kepala sendiri.

Blaammmm!

Ubun-ubun mereka hancur berantakan, isi kepala bersama darah segar berhamburan ke tanah, sementara jiwa mereka melayang meninggalkan raga. Menyusul kemudian, utusan lencana tembaga dan utusan lencana baja meloloskan senjata dan mengayunkannya ke lengan sendiri. Diiringi percikan darah, kedua orang itu kehilangan sebelah lengan. Saking sakitnya, sekujur badan mereka gemetar hebat, namun tak seorang pun berani merintih apalagi mengeluh.

Sik Tiong Giok benar-benar murka melihat kebuasan lawan. Ia membentak, "Tak heran kalian menyebut diri sebagai iblis, nyatanya sedikit pun tak punya peri kemanusiaan!"

Kakek botak itu tidak menggubris. Dengan suara dingin ia berkata, "Aku pikir kau tentulah putra angkat dari Kakek Serigala Langit yang bernama Sik Tiong Giok."

"Kalau benar, memangnya kenapa? Aku memang Pangeran Serigala Langit, Sik Tiong Giok."

"Apakah kotak mustika Gio Hap Gi Ciau masih berada di sakumu? Ayo, cepat serahkan kepadaku, kalau tidak... hmm! Jangan harap bisa lolos dalam keadaan hidup."

Sik Tiong Giok mencibir sinis, "Kau ini manusia macam apa? Cepat sebutkan namamu, siapa tahu aku akan memberikan jenazah yang utuh untukmu."

"Heh, heh, heh, kau bocah benar-benar sombong. Berani betul bersikap kurang ajar kepadaku. Coba kalau tidak mengingat usiamu masih muda, aku pasti membinasakan dirimu sekarang juga."

Sik Tiong Giok kembali tertawa sinis, "Hati-hati kalau bicara, tua bangka botak. Angin di sini amat keras, jangan sampai lidahmu itu tersambar putus."

Saking mendongkolnya, kakek botak itu mendelik lebar, "Anak muda, apakah ayah angkatmu belum pernah memberitahumu kalau di dunia persilatan terdapat seseorang yang bernama Raja Setan Kepala Botak?"

Sambil tertawa, Sik Tiong Giok menggeleng, "Ayah angkatku tak pernah menyinggung manusia kelas tiga dari dunia persilatan denganku, tentu saja ia pun tak pernah menyinggung tentang dirimu."

Tak terkirakan rasa gusar sang Raja Setan Kepala Botak. Ia mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian berteriak, "Bocah keparat, seberapa besar kemampuan yang kau miliki sehingga berani memaki aku?"

Saat Raja Setan Kepala Botak berbicara, di sisi telinga terdengar seseorang berbisik dengan ilmu penyampaian suara, "Anak muda, bukankah ayahmu pernah mengajarkan dua belas ilmu cacat kepadamu? Cepat gunakan jurus 'Tombak Panjang Memanah Langit' untuk menunjukkan kelihaianmu di hadapan iblis tua ini."

Baru selesai bisikan itu bergema, kebetulan Raja Setan Kepala Botak hendak berbicara lagi. Diam-diam Sik Tiong Giok menghimpun tenaga dalam lalu berseru, "Seberapa besar kemampuanku, asal dicoba tentu akan diketahui dengan sendirinya!" Saat berbicara, ia menggerakkan tangan dan melepaskan totokan ke arah dada Raja Setan Kepala Botak.

Raja Setan Kepala Botak adalah gembong iblis yang sudah seratus tahun menjagoi dunia persilatan. Kepandaiannya telah mencapai puncak kesempurnaan, sehingga ia tidak memandang sebelah mata terhadap bocah muda. Sambil menghimpun tenaga dalam lima bagian, ia berpikir, "Dengan tenaga sebesar lima bagian, rasanya cukup untuk menandingi serangannya."

Siapa sangka, saat angin serangan dari Sik Tiong Giok tiba, tenaga lima bagian itu tidak mampu membendungnya. Ia terpaksa melipatgandakan kekuatannya, namun tetap tidak berhasil hingga tubuhnya terdorong mundur tiga langkah. Bukan itu saja, dadanya terasa amat sakit. Ketika ia mencoba menarik napas, hatinya terperanjat, isi perutnya sudah terluka.

Di tengah rasa kagetnya, watak buasnya muncul. Ia berseru kepada perempuan cantik berpakaian rahib, "Ngo Moay, kau cepat hukum anak jadah itu, aku pergi menghadapi tiga manusia jelek. Hari ini aku akan beradu jiwa dengan bocah keparat ini!"

Perempuan cantik berpakaian rahib serta Pat Huang Sin Mo segera menyahut dan bertindak bersama. Sementara itu, tiga manusia jelek dari Say Juan serta kakek cebol telah berhasil mengobrak-abrik tiga puluh enam Thian Kang Busa.

Ketika melihat sesosok bayangan manusia menerjang ke arah kamar tidur anaknya, Dewa Guntur bermuka jelek, Huan Siau, segera melompat ke depan dan menghadang.

"Siapa berani menghadangku, ia akan mampus!" bentak perempuan cantik berbaju rahib itu gusar.

Huan Siau segera mengenali lawannya dan membentak, "Lu Yong Poo, mau apa kau? Kau anggap aku takut mati?"

Ternyata tosu perempuan ini adalah Ban Biau Siau Kok Lu Yong Poo, yang berada di urutan lima dalam tujuh iblis. Bicara soal kekejaman, ia memegang rekor nomor satu; seorang perempuan cantik berhati iblis.

"Baik," ia membentak setelah Huan Siau menghadang jalannya, "segera akan kukirim kau ke neraka!" Dengan gerakan secepat sambaran kilat, tangan kanannya diayun melancarkan totokan.

Dengan cekatan Huan Siau berkelit, namun serangan lawan terlalu cepat. Belum sempat ia meloloskan senjata, Lu Yong Poo telah melancarkan tiga serangan berantai. Dalam keadaan begitu, Huan Siau terpaksa menghadapi serangan dengan tangan kosong.

Lu Yong Poo yang telah mendapatkan posisi menguntungkan segera menyerang lebih jauh. Telapak tangan dan jari tangannya digunakan dengan jurus yang semakin ganas. Huan Siau rugi karena gerakannya terlalu lamban sehingga ia terdesak. Meski ia berusaha sekuat tenaga, tubuhnya sudah tergulung bayangan telapak tangan Lu Yong Poo yang bagaikan amukan ombak samudra.

Dalam waktu singkat, mereka bertarung belasan jurus. Mendadak Lu Yong Poo membentak keras, "Roboh kau!" Menyusul bentakan itu, sebuah sentilan jari dilancarkan. Segulung desingan angin jari yang disertai bau busuk tajam meluncur ke depan. Huan Siau teregun setelah mengendus bau busuk tersebut. Saat ia tertegun, ujung jari lawan sudah menotok iganya. Seketika dunia serasa berputar kencang, dadanya terasa sakit bukan kepalang, lalu tubuhnya roboh terjungkal ke tanah.

Melihat musuhnya roboh, Lu Yong Poo tersenyum dan menerjang ke arah ruangan. Waktu itu kakek cebol dan dua manusia jelek lainnya sedang bertarung melawan Pat Huang Sin Mo. Pertarungan berlangsung seru dan seimbang.

Pada saat itulah terdengar seseorang membentak nyaring, "Keluar kau!" Disusul jeritan kaget, terlihat sesosok bayangan manusia terpental keluar dari ruangan.

Dengan kaget, semua orang berpaling. Ternyata orang yang terpental adalah Ban Biau Sian Koh Lu Yong Poo. Kejadian tersebut mencengangkan, hingga mereka berpikir, "Tidak disangka di dalam Lembah Lu Hoa Kok sekecil ini terdapat jago silat yang begitu tangguh."

Karena terpecah konsentrasinya, mereka kehilangan kesempatan baik. Sik Tiong Giok segera memanfaatkan peluang tersebut dan menyerang dengan dahsyat dari tengah udara.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment