Chapter 101
Raja setan kepala botak mengenali jurus serangan tersebut sebagai salah satu dari dua belas jurus ilmu cacat yang disebut "Harimau Melompat Elang Melayang". Sudah barang tentu ia tidak berani menyambutnya dengan kekerasan; ujung baju kanannya segera dikebaskan ke luar sementara tubuhnya bergeser beberapa depa ke sisi kiri.
Sik Tiong Giok yang berada di tengah udara cepat-cepat bertekuk pinggang dan berputar secara tiba-tiba. Secepat petir, ia mengejar si Raja setan kepala botak itu, bersamaan dengan waktu ia membacok bahu belakang lawan dengan jurus "Tombak Panjang Membidik Langit". Sebagaimana diketahui, si Raja setan kepala botak telah menderita kerugian karena serangan tersebut; ia semakin terperanjat, apalagi sewaktu tubuhnya belum sempat berdiri tegak, tahu-tahu serangan jari lawan sudah tiba di depan mata.
Cepat-cepat dia menjatuhkan diri ke depan, lalu sambil memutar tangan, ia melepaskan sebuah pukulan lagi ke atas. Jurus serangan ini boleh dibilang merupakan jurus serangan beradu jiwa. Rupanya dia tahu bahwa tidak ada harapan baginya untuk menghindarkan diri dari serangan Sik Tiong Giok yang maha dahsyat itu, sehingga timbul tekadnya untuk beradu jiwa. Tidak heran kalau serangan yang dilancarkan kali ini disertai pula dengan segenap tenaga dalam yang dimilikinya; angin pukulan yang maha dahsyat segera menyapu keluar dengan hebatnya.
Sekarang mereka berdua sama-sama mempunyai cukup waktu untuk menengok ke arah ruangan. Ternyata kedua orang perempuan yang tadi berdiri di sana adalah Ban Biau Sian Koh Lu Yong Poo serta si nona kecil Huan Li Ji. Mendadak saja suasana di seluruh arena menjadi sepi, hening, dan tidak terdengar sedikit suara pun. Setiap orang merasa terkejut bercampur keheranan.
Bagi si Raja setan kepala botak serta Pat Huang Sin Mo, mereka terkejut bercampur heran sebab kedua orang ini cukup tahu sampai di manakah kemampuan yang dimiliki Ban Biau Sian Koh Lu Yong Poo tersebut; mengapa dia justru dipaksa mundur oleh seorang nona cilik? Terutama sekali bagi Pat Huang Sin Mo, begitu bersua dengan Huan Li Ji, hampir saja ia berseru tertahan, "Nona Siau Hong!"
Kakek cebol dan dua manusia jelek itu segera menjadi panik. Mereka amat mengkhawatirkan keselamatan jiwa Huan Li Ji yang baru saja sembuh dari sakitnya. Sebaliknya, Sik Tiong Giok sudah dapat memahami apa yang terjadi. Ia tahu pasti manusia aneh berbaju hitam itu, "Api Bermain Setan", berada di balik kesemuanya itu.
"Li Ji, kau..." menantu bermuka jelek Huan Sim menjerit kaget secara tiba-tiba.
Menyusul kemudian terdengar si Duka Bermuka Jelek Huan Ki turut menjerit kaget pula, "Losam, mengapa kau?"
Huan Li Ji memandang sekejap sekeliling arena, kemudian berseru cepat, "Ji Siok, cepat angkut Sam Siok ke dalam kamar, ia sudah terkena bubuk racun penghancur tulang dari perempuan rendah ini."
Betapa terkejutnya si Duka Bermuka Jelek Huan Ki sesudah mendengar ucapan tersebut. Cepat-cepat ia menerjang ke depan, membopong tubuh si Dewa Guntur Bermuka Jelek Huan Siau dari atas tanah, dan kabur menuju ke dalam ruangan.
"Budak!" tiba-tiba terdengar Ban Biau Sian Koh Lu Yong Poo membentak keras, "Berani amat kau menjungkalkan diriku, tahukah kau bahwa aku adalah ibu kandungmu?"
"Cuih, manusia tak tahu malu, siapa sih yang menjadi putrimu?" bentak Huan Li Ji gusar.
"Tentu saja kau tidak teringat lagi, Nak, tapi kau toh bisa menanyakan persoalan ini kepada tiga manusia jelek itu."
Mendengar itu, Huan Li Ji segera berpaling dan memandang sekejap ke arah menantu bermuka jelek Huan Sim. Melihat ia mengangguk, gadis itu segera menggertak giginya kencang-kencang sambil berseru dengan ketus, "Aku tidak percaya, sekalipun betul, aku juga tak bakal percaya!"
"Mengapa kau bersikap demikian, Nak?"
"Tidak karena apa-apa, pokoknya aku benci kepadamu!"
Mendadak terdengar Raja setan kepala botak tertawa tergetar, "Ha... haaa... haa... budak cilik, tahukah kau benci kepada ibu kandungmu sendiri?"
Huan Li Ji mendengus dingin, "Melahirkan tanpa memelihara sudah memutuskan hubungan kasih sayang seorang anak terhadap ibunya, apalagi dia berniat membunuhku. Boleh dikata hubungan di antara kami sudah putus sama sekali. Mengingat kau pernah mengandung selama sepuluh bulan, pergilah sekarang juga, tapi ingat... jangan sampai bersua lagi di kemudian hari."
Perkataan tersebut diutarakan dengan suara yang lepas dan keras, membuat Ban Biau Sian Koh Lu Yong Poo menjadi bergidik sendiri. Baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba terdengar si Raja setan kepala botak menimbrung dari samping.
"Ngo Moay, mengapa kau tidak segera membunuhnya? Membiarkan anak jadah itu tetap hidup berarti mengekang kebebasanmu."
Lu Yong Poo segera berkerut kening setelah mendengar ucapan tersebut. Diam-diam ia merogoh ke dalam sakunya, mencomot bubuk racun penghancur tulang, dan siap disentilkan ke tubuh nona kecil tersebut.
Tiba-tiba Huan Li Ji mendengar seseorang berbisik di telinganya, "Nak, cepat keluarkan lencana tujuh iblis yang kuserahkan padamu tadi dan mendesak kawanan iblis itu agar mundur dari Lembah Lu Hoa Kok."
Berkedip sepasang mata Huan Li Ji. Ia segera mengeluarkan lencana tujuh iblis yang dimaksud dan membentak dengan keras, "Kalian kenal dengan benda ini? Barang siapa berani turun tangan, segera kuhancurkan benda ini. Hmm, akan kulihat dengan benda apa lagi kalian hendak membohongi orang."
Munculnya lencana tujuh iblis secara tiba-tiba sangat mengejutkan ketiga manusia iblis yang berada dalam arena. Untuk sesaat mereka jadi tertegun dan berdiri melongo. Mimpi pun mereka tidak menyangka kalau lencana tujuh iblis yang dirampas orang dengan hisapan tenaga dalam tadi, kini bisa terjatuh ke tangan nona tersebut.
Ban Biau Sian Koh Lu Yong Poo yang sebetulnya sudah siap menyentilkan bubuk racun penghancur tulang itu terpaksa mengurungkan niatnya untuk sementara waktu. Tiba-tiba Raja setan kepala botak maju beberapa langkah ke muka, lalu katanya dengan suara dingin menyeramkan, "Hei budak cilik, segera kembalikan lencana tujuh iblis itu kepadaku."
"Mengapa harus kuserahkan kepadamu?" jawab Huan Li Ji sambil tertawa.
"Lencana tujuh iblis adalah benda milik istana iblis kami, benda itu tak bermanfaat bagimu, jadi lebih baik kembalikan saja kepadaku."
Tiba-tiba Huan Li Ji mendengar lagi manusia aneh tersebut berbisik di sisi telinganya, "Segera kau petik kepala manusia yang pertama dan serahkan kepada tua bangka botak itu!"
Huan Li Ji penurut sekali. Dengan cepat dia petik batok kepala manusia yang pertama dan berseru sambil tertawa, "Baiklah, aku memang kasihan setelah mendengar rengekanmu tadi, nah ambillah sebutir batok kepala manusia ini!"
Berubah hebat paras muka si Raja setan kepala botak setelah menyaksikan kejadian tersebut. Cepat-cepat dia menghalangi, "Jangan, jangan! Jangan kau petik benda tersebut, budak cilik..."
Sayang seruan itu terlambat selangkah. Tahu-tahu Huan Li Ji telah memetiknya dan berseru lagi sambil tertawa, "Mengapa sih kau mesti gelisah? Bukankah kau menginginkan kembali benda itu? Nah, ambillah."
Diiringi gelak tertawa, dia melemparkan batok kepala manusia yang telah dipetiknya itu ke depan. Dengan gugup, Raja setan kepala botak segera menyongsong ke depan untuk menerimanya.
Pada saat itulah Sik Tiong Giok yang berada di samping mendengar pula suara bisikan dari manusia aneh itu, "Cepat kau rampas batok kepala manusia itu, Bocah. Dengan begitu kau baru bisa mendesak tujuh iblis untuk masuk perangkap. Hal ini akan membantu pula dalam usahamu membangun kekuatan di dunia persilatan pada masa mendatang, cepat bertindak!"
Tanpa berpikir panjang lagi, Sik Tiong Giok melompat ke depan mendahului Raja setan kepala botak dan menyambar batok kepala manusia itu, kemudian dengan suatu gerakan yang ringan dia melayang kembali ke atas tanah.
Berapi-api sepasang mata Raja setan kepala botak ketika melihat Sik Tiong Giok merampas kembali batok kepala manusia itu. Bentaknya dengan gusar, "Binatang cilik, apa maksudmu?"
Sik Tiong Giok tertawa, "Aku merasa amat tertarik dengan benda ini. Bila kuberi empat anggota badan, sudah pasti akan terwujud sebuah boneka kecil yang menawan hati."
"Bocah keparat, kau ingin mampus!" bentak Raja setan kepala botak tiba-tiba.
Dalam bentakan tersebut, telapak tangan kanannya segera diayunkan ke depan menghantam tubuh Sik Tiong Giok dengan jurus "Guntur Langit Menggelegar". Serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini benar-benar mengerikan. Bukan begitu saja, bahkan secara beruntun dia lancarkan lima buah pukulan berantai.
Jurus serangan ini merupakan jurus andalannya yang tidak pernah dipakai apabila jiwanya tidak terancam bahaya maut, tapi sekarang dia telah menggunakannya. Hal ini menunjukkan bahwa dia memandang tinggi lawannya yang masih muda itu.
Hal ini memang tidak bisa disalahkan. Ketika mereka bertujuh membentuk persekutuan tempo hari, ketujuh orang itu harus mengarungi empat penjuru untuk mencari seseorang yang berwajah mirip dengan mereka untuk dipancung kepalanya, lalu dikecilkan dengan air obat serta dipakai lencana tujuh iblis.
Bahkan waktu itu mereka telah bersumpah, selama lencana ada, orang tetap hidup; bila lencana lenyap, orangnya pun harus mati. Demi menemukan orang yang berwajah mirip dengan mereka, ada kalanya mereka tidak segan-segan untuk mengorbankan anak kandung sendiri. Dengan maksud inilah Ban Biau Sian Koh Lu Yong Poo datang mencari Huan Li Ji sekarang. Walaupun dia sudah mempunyai wakil bagi lambang lencana tujuh iblisnya, namun wajah tersebut tidak terlalu mirip dengan wajahnya. Itulah sebabnya dia berupaya untuk menemukan putri kandungnya, Huan Li Ji, dan akan diambil kepalanya untuk dijadikan lambang.