Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 102

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 102

Tidak heran jika Raja Setan Kepala Botak menjadi panik setelah melihat batok kepala yang mewakili wajahnya diambil oleh Sik Tiong Giok. Itulah sebabnya ia tidak segan-segan menyerang pemuda tersebut dengan segala kemampuan yang dimilikinya.

Lima gulung angin puyuh yang mahadahsyat seperti sambaran petir langsung menyambar Sik Tiong Giok. Serangan yang begitu hebat ini segera mengejutkan semua jagoan yang hadir di arena. Terutama dua manusia jelek dan kakek cebol; dengan memusatkan segenap perhatian dan melototkan mata bulat-bulat, mereka terus mengawasi keadaan Sik Tiong Giok.

Sik Tiong Giok sendiri sempat bergidik menghadapi lima serangan dahsyat dari lawannya. Namun, saat itulah ia mendengar manusia aneh itu berbisik lagi, "Bocah muda, hadapi dengan saksama. Bukankah kau pernah mempelajari jurus 'Gigi Serigala Hati Budha'? Sekaranglah saatnya bagimu untuk menggunakannya." Tampaknya Sik Tiong Giok menaruh kepercayaan penuh terhadap manusia aneh berbaju hitam itu. Tanpa ragu, ia segera memutar tangan kanannya dan menyambut serangan itu dengan kekerasan.

Ketika sepasang tangan saling beradu, terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga. Begitu keras suara benturan itu hingga seluruh Lembah Lu Hua Kok seolah-olah turut berguncang. Akibat bentrokan ini, tubuh Sik Tiong Giok hanya tergetar sedikit; wajahnya tetap tenang dan santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sebaliknya, Raja Setan Kepala Botak tergetar mundur sejauh empat sampai lima langkah sebelum dapat berdiri tegak. Rasa kaget dan terkesiap menghiasi wajahnya.

Wajar jika Raja Setan Kepala Botak merasa amat terkejut. Sebab, dengan mengandalkan kepandaian tersebut, ia sudah bertahun-tahun menjagoi dunia persilatan dan belum pernah ada jagoan lihai yang mampu menyambut dua pukulannya sekaligus. Namun, kenyataannya sekarang, Sik Tiong Giok yang masih muda berhasil menyambut lima pukulannya sekaligus.

Bukan hanya dia, bahkan Pat Huang Sin Mo, Ban Biau Sian Koh, dua manusia jelek, serta kakek cebol pun ikut terbelalak dengan mulut melongo saking kagetnya. Keadaan tersebut hanya dipahami oleh dua orang, yaitu Sik Tiong Giok serta Huan Li Ji. Mereka tahu pastilah manusia aneh berbaju hitam yang telah membantu secara diam-diam.

Sikap buas dan ganas Raja Setan Kepala Botak segera hilang lenyap tak berbekas. Namun, ia tak malu disebut seorang jagoan kenamaan; biarpun kalah, ia mengacungkan ibu jari sambil memuji, "Sungguh hebat ilmu silatmu, aku rela mengaku kalah."

Mendadak Huan Li Ji berkata, "Mulai saat ini, Lencana Tujuh Iblis akan kusimpan untuk sementara waktu. Setahun kemudian pasti akan kukembalikan kepada kalian."

"Lencana itu adalah benda milik Istana Iblis dari Loa Ci Sia, masa kau yang menyimpan?" tiba-tiba Pat Huang Sin Mo menyela.

"Apakah kau tidak terima?" ucap Huan Li Ji sambil tersenyum. Pat Huang Sin Mo mendengus dingin. "Kecuali kau mampu menerima tiga buah pukulanku!"

Huan Li Ji segera tertawa terkekeh-kekeh. "Bila tidak kuperlihatkan keampuhanku, rasanya kau memang tak mau tahu. Engkoh Giok, tolong pegangkan dahulu lencana tujuh iblis ini."

Sambil tersenyum, Sik Tiong Giok mengangguk dan segera maju mendekat, lalu menyambut Lencana Tujuh Iblis dari tangan Huan Li Ji. Bahkan, ia menggantungkan kembali batok kepala milik Raja Setan Kepala Botak itu di tempat semula. Tak terlukiskan rasa terima kasih Raja Setan Kepala Botak setelah menyaksikan kejadian itu, hanya saja perasaan terima kasihnya tidak diperlihatkan di wajahnya. Sik Tiong Giok pun hanya tersenyum sambil mengangguk, lalu mundur kembali ke belakang.

Menantu bermuka jelek, Huan Sim, cukup mengetahui taraf kemampuan putrinya. Dengan penuh rasa khawatir, ia segera berseru, "Anak Li, kau harus berhati-hati. Kiu Yu Tok Ciang dari Pat Huang Sin Mo adalah pukulan yang mahadahsyat..."

"Kau tak usah khawatir," sahut Huan Li Ji sambil tersenyum, "bila tidak diberi pelajaran yang setimpal, dia tak akan takluk dengan hati puas."

Pat Huang Sin Mo tidak membiarkan Huan Li Ji menyelesaikan perkataannya. Mendadak ia memutar telapak tangannya dan melontarkan sepasang tangannya ke depan. Segulung tenaga pukulan yang dahsyat, disertai bau racun yang menusuk penciuman, langsung menuju nona cilik itu.

Sebenarnya, Huan Li Ji berbicara demikian karena menuruti perintah orang lain. Dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang, tentu saja ia masih bukan tandingan gembong iblis tua tersebut. Melihat Pat Huang Sin Mo melancarkan serangan, ia menjadi gugup dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Saat itulah suara manusia aneh berbaju hitam itu bergema lagi, "Tak usah takut, Nak. Hadapi dengan tenang, pukulanmu nanti segera akan menggemparkan Istana Iblis." Pada dasarnya Huan Li Ji memang gadis yang pintar. Ia segera memahami maksud orang itu, serta-merta hawa murninya dihimpun, lalu telapak tangan kirinya didorong ke depan.

Dua gulung angin pukulan yang sangat kuat saling beradu. Akibat benturan ini, tubuh Pat Huang Sin Mo terdorong mundur sejauh dua langkah; tubuh bagian atasnya bahkan bergoncang terus seperti lonceng. Sebaliknya, Huan Li Ji berhasil memutar badannya dengan indah, tubuhnya tetap berdiri tegak pada posisi semula. Peristiwa ini kontan saja mencengkeram semua orang sampai lama sekali mereka baru dapat mengembuskan napas panjang.

Perlu diketahui, Pat Huang Sin Mo bukan manusia sembarangan di dunia persilatan. Bahkan sewaktu terjadi pertarungan melawan tiga kakek dari Im Thian pun, kekuatan mereka ternyata berimbang. Terutama ilmu pukulan beracun Kiu Yu Tok Ciang miliknya; bukan saja memiliki daya pukulan yang dahsyat, tetapi juga termasyhur karena kekejiannya. Tak sedikit jago silat yang terjungkal di tangannya; yang parah kebanyakan tewas, sedang yang ringan pun harus menderita luka dalam yang amat parah.

Namun sekarang, Huan Li Ji, seorang nona berusia enam atau tujuh belas tahun, ternyata mampu mengunggulinya dengan sebuah ayunan tangan belaka. Kemampuan semacam ini boleh dibilang belum pernah dijumpai sebelumnya.

"Daya pukulan yang hebat... kepandaian yang mahadahsyat." Saking gembiranya, si Menantu bermuka jelek Huan Sim sampai lupa diri dan bersorak-sorai. Kakek cebol ikut berteriak memberi pujian, tak ketinggalan sorak-sorai dari anggota Lembah Lu Hua Kok yang tersebar di sekitar sana, membuat suasana menjadi ramai.

Peristiwa tersebut pada hakikatnya telah menghancurkan nama baik Pat Huang Sin Mo. Tak heran kalau iblis tua itu menjadi kaget bercampur gusar. Tiba-tiba ia membentak lagi, "Sambutlah sebuah pukulanku ini, budak sialan!" Di tengah bentakan, segenap kekuatan yang dimilikinya segera dihimpun ke dalam telapak tangannya dan perlahan didorong ke depan.

Huan Sim amat terperanjat melihat keadaan ini. Diam-diam ia berpikir, "Celaka, iblis ini telah mengerahkan segenap kekuatannya untuk beradu jiwa dengan Li Ji." Agaknya Huan Li Ji tidak tahu akan bahaya itu; ia mengira daya kemampuan Pat Huang Sin Mo hanya begitu-begitu saja. Apalagi ia tidak perlu khawatir karena ada dukungan besar di belakang tubuhnya.

Segera semua tenaga dalamnya dihimpun. Ilmu Siau Kiu Heng Sin Kang yang baru dipelajari pun dikeluarkan. Saat itu pula terdengar manusia aneh berbaju hitam itu berbisik lagi, "Nak, kau memang nakal, inilah saatnya bagimu untuk mencoba ilmu Siau Kiu Heng Sing Kang-mu. Hati-hati, aku akan membantu keberhasilanmu."

Perlahan, Huan Li Ji menggerakkan sepasang telapak tangannya ke muka; sepuluh jari tangannya yang lentik diayunkan menyongsong kedatangan serangan lawan. Kali ini, gerakan dari kedua belah pihak sama sekali tidak menimbulkan suara; masing-masing pihak menggerakkan tangannya dengan sangat lamban. Kalau di satu pihak seperti emas, maka telapak tangan di pihak lain seperti kumala putih. Yang satu mirip cakar burung, yang lain seperti sutra halus. Ketika jaraknya tinggal dua sampai tiga inci, mendadak kedua belah pihak menghentikan gerakannya.

Lebih kurang setengah seperminum teh kemudian, segulung angin berpusing muncul secara tiba-tiba dan berputar di sekitar sana; makin berputar, semakin bertambah tinggi. Lalu, "Blam!" Terjadi ledakan keras yang memekakkan telinga, menyusul kemudian terasa pusaran angin puyuh yang memancar ke mana-mana. Sedemikian hebat bentrokan ini hingga membuat setiap orang yang hadir di situ merasakan hatinya berdebar keras.

Waktu itu, Huan Li Ji hanya berputar tiga lingkaran, lalu berdiri tegak kembali di tempat semula. Sebaliknya, keadaan Pat Huang Sin Mo amat mengenaskan; dengan sempoyongan ia mundur terus sejauh beberapa puluh langkah sebelum akhirnya dapat berdiri tegak. Untuk sesaat, ia hanya tertegun di tempat, bagaikan ayam jago kalah bertarung; mukanya berubah menjadi pucat pasi dan hatinya amat kecewa.

"Bagaimana?" ejek Huan Li Ji kemudian sambil tertawa, "apakah kau mempunyai sisa tenaga untuk melepaskan serangan yang ketiga?"

Pat Huang Sin Mo mengembuskan napas panjang, lalu katanya, "Baiklah, Lencana Tujuh Iblis itu kau simpan untuk sementara waktu."

Sambil tertawa, Huan Li Ji segera berpaling ke arah Lu Yong Poo dan mengejeknya pula, "Apakah kau masih mempunyai pendapat?"

"Nah..." bisik Lu Yong Poo lirih. Mendadak Huan Li Ji menukas sambil mendelik besar, "Jangan memanggil terlalu mesra."

Dengan rasa kaget, Lu Yong Poo mundur selangkah ke belakang, kemudian katanya, "Apakah kau benar-benar berniat menguasai Istana Iblis?"

"Soal ini tak usah kau tanyakan. Meski aku tidak berniat menguasai Istana Iblis, aku berhasrat untuk menguasai semua iblis agar mau tunduk pada perintahku."

"Kalau begitu, mengapa kau tidak menjabat sebagai Lengcu dari Tujuh Iblis?" sela Raja Setan Kepala Botak secara tiba-tiba.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment