Chapter 103
"Betul, aku memang berniat menjadi Ji-mo Lengcu," kata Huan Li-ji tertawa. "Selama lencana ini berada di tanganku dalam tiga tahun ini, kalian harus menuruti perkataanku. Barang siapa tidak tunduk, segera akan kumusnahkan batok kepalanya lebih dulu, kemudian baru menjatuhkan hukuman sesuai dengan peraturan."
"Apa yang hendak Lengcu perintahkan sekarang?" tanya Raja Setan Kepala Botak segera.
"Mundur dulu dari Lembah Lu-hoa-kok ini untuk sementara waktu. Tujuh hari kemudian, temui aku di tepi Sungai Ci-sui-hoo." Raja Setan Kepala Botak segera mengiakan. Dia memberi tanda kepada dua orang rekan lainnya dan beranjak pergi lebih dulu dari situ.
Pat-huang Sin-mo dan Ban-biau Sian-koh tidak berani berayal lagi. Cepat-cepat mereka mengikuti di belakang Raja Setan dan berlalu dari tempat itu.
Suasana yang semula tegang pun menjadi tenang kembali. Tiga iblis yang semula datang dengan gaya yang luar biasa, sekarang harus pulang dengan kecewa.
Menantu Bermuka Jelek Huan Sim betul-betul merasa amat gembira. Dia tertawa berulang kali dengan wajah berseri; mimpi pun dia tak mengira kalau putri kesayangannya memiliki daya kemampuan sehebat ini.
Belum sempat dia memuji kehebatan putrinya, Huan Li-ji telah berkata lebih jauh, "Ayah, kau jangan keburu gembira dulu. Ayolah kita tangani dulu keadaan luka dari Sam-siok. Aku rasa lukanya agak parah."
"Betul," seru Sik Tiong Giok pula setelah tiba-tiba teringat akan sesuatu. "Kita harus menengok dulu keadaan sobat tua kita." Sambil berkata, ia menyerahkan lencana tujuh iblis itu ke tangan Huan Li-ji, kemudian dengan langkah cepat masuk ke dalam ruangan.
Menantu Bermuka Jelek Huan Sim, si Duka Bermuka Jelek Huan Ki, serta Kakek Cebol segera mengikuti pula di belakangnya.
Waktu itu rembulan bersinar terang menyorot ruangan tersebut. Suasana dan pemandangan di sana tampak amat jelas.
Dewa Guntur Bermuka Jelek Huan Siau berbaring di atas pembaringan, sedangkan di sudut ruangan duduk bersila seorang manusia berbaju hitam yang berambut panjang.
Dengan wajah tertegun, Sik Tiong Giok segera memburu ke depan sambil menyapa, "Sobat tua... mengapa kau?"
Perlahan-lahan manusia berbaju hitam itu mendongakkan kepalanya sambil memperlihatkan wajahnya, lalu sambil tertawa getir berkata, "Sobat kecil, coba kau lihat apakah aku adalah Kakek Serigala Langit?"
Kakek Cebol yang baru masuk ke dalam ruangan segera menjerit kaget, serunya tertahan, "Kau... kau adalah Pek-lian..."
Mendadak manusia aneh berbaju hitam itu bangkit berdiri dan menggoyangkan tangannya berulang kali mencegah Kakek Cebol berkata lebih lanjut. Ujarnya, "Sobat Cebol, aku harus pergi sekarang." Kembali tubuhnya sempoyongan sehingga hampir saja roboh ke atas tanah.
Cepat-cepat Sik Tiong Giok memayang dirinya seraya berseru, "Sobat lama, apakah kau terluka?"
Huan Li-ji segera menyela, "Dia menderita luka parah karena harus membantu aku untuk memundurkan Pat-huang Sin-mo."
Baru sekarang kedua manusia jelek serta Kakek Cebol memahami apa gerangan yang telah terjadi. Serentak mereka menjerit bersama, "Oooh..."
"Sobat tua, kalau memang begitu kau lebih-lebih tak boleh pergi dari sini," seru Sik Tiong Giok lagi.
Tiba-tiba Menantu Bermuka Jelek Huan Sim melelehkan air matanya. Sambil menarik tangan Huan Li-ji, dia berkata seraya menuding ke arah manusia aneh berbaju hitam itu, "Li-ji, dia tak lain adalah..."
"Cho Lotoa, apakah kau hendak mengingkar janji?" mendadak manusia berbaju hitam itu membentak keras.
Tapi kemudian sikapnya menjadi lunak kembali. Setelah menghela napas pelan, terusnya, "Lotoa, urusan yang sudah lewat biarkan saja lewat. Anggap saja impian yang berlalu, apa gunanya kau mesti mengungkapnya kembali? Nah, aku pergi dulu..." Seusai berkata, sambil menghimpun sisa tenaga yang dimilikinya, dia menjejakkan kakinya ke atas tanah lalu berlalu dari tempat itu.
Memandang kepergian orang itu, si Menantu Bermuka Jelek Huan Sim termenung beberapa saat lamanya. Kemudian katanya sambil menghela napas panjang, "Benar-benar seorang tokoh aneh yang mirip naga sakti, yang kelihatan kepalanya tapi tidak kelihatan ekornya. Tapi apa sebabnya justru memiliki pengalaman sejelek ini? Aai, benar-benar suatu peristiwa yang mengenaskan."
"Ayah," tiba-tiba Huan Li-ji menyela, "apa yang hendak kau katakan tadi? Dia adalah apa ku?"
Menantu Bermuka Jelek Huan Sim termenung dan berpikir sejenak, lalu sahutnya, "Dia adalah seorang tokoh sakti dari dunia persilatan, seorang tuan penolong dari Lembah Lu-hoa-kok kita."
Huan Li-ji segera tertawa, "Benar, ucapan Ayah memang tepat sekali! Dia memang seorang tokoh dunia persilatan yang berjiwa besar. Seandainya tiada dia pada hari ini, Lembah Lu-hoa-kok kita pasti akan berantakan dan tertimpa musibah."
Sementara mereka masih berbincang-bincang, si Dewa Guntur Bermuka Jelek Huan Siau yang sedang berbaring di atas pembaringan itu merintih pelan. Menyusul kemudian, dia memuntahkan segumpal darah kental berwarna hitam.
Betapa terkesiapnya beberapa orang itu. Si Menantu Bermuka Jelek Huan Sim yang mempunyai hubungan persaudaraan dengannya cepat-cepat menerobos masuk ke dalam ruangan, kemudian serunya, "Losam! Losam! Kenapa kau?"
Sesudah memuntahkan darah kental berwarna hitam itu, Dewa Guntur Bermuka Jelek Huan Siau kehilangan sama sekali daya kekuatan tubuhnya. Lagi-lagi dia jatuh tak sadarkan diri.
Huan Li-ji yang menyaksikan kejadian itu segera mengucurkan air matanya karena gelisah bercampur cemas. Sambil menyebut 'Sam-siok', ia berlutut di tepi pembaringan dengan perasaan yang amat pedih, sedemikian pedihnya sehingga tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Kakek Cebol menghela napas panjang, katanya pelan, "Seandainya Losam tidak ceroboh dan bertindak gegabah, dia tak akan mengalami nasib seperti ini. Betul-betul suatu tindakan yang tidak menguntungkan. Cho Lotoa, bagaimana keadaannya sekarang...?"
Dengan air mata bercucuran dan suara sesenggukan, Menantu Bermuka Jelek Huan Sim menyahut, "Selain terkena bubuk racun penghancur tulang, semua urat nadi penting di bawah iganya patah juga termakan totokan siluman perempuan itu. Aku lihat keadaannya sudah tidak bisa dipertahankan lagi!"
"Tapi sebotol bubuk pelenyap racun yang ditinggalkan manusia berbaju hitam itu dapat memunahkan daya pengaruh dari bubuk beracun penghancur tulang," seru si Duka Bermuka Jelek Huan Ki cepat-cepat.
"Tapi kita kan tak bisa menyambung kembali nadinya yang terputus," sambung si Menantu Bermuka Jelek Huan Sim dengan air mata bercucuran.
Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba saja rasa sedih dan pedih yang tak terkirakan menyelimuti seluruh benaknya. Ia begitu sedih sampai tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.
Mendadak si Dewa Guntur Bermuka Jelek Huan Siau yang berbaring di atas pembaringan membuka kembali matanya.
Sik Tiong Giok serta Huan Li-ji yang berdiri di sisi pembaringan menjadi gembira sekali setelah melihat keadaan itu, serunya hampir berbareng, "Sam-siok..."
Dua manusia jelek serta Kakek Cebol pun kelihatan kaget bercampur gembira. Serentak mereka maju bersama ke depan.
Dewa Guntur Bermuka Jelek Huan Siau memandang sekejap semua orang yang hadir lalu menghembuskan napas panjang. Kepada Menantu Bermuka Jelek Huan Sim katanya lirih, "Toako, aku rasa aku sudah tak sanggup bertahan lagi."
"Losam, jangan berpikir yang bukan-bukan. Kau pasti akan sembuh kembali," hibur Menantu Bermuka Jelek Huan Sim sambil menekan rasa sedih di dalam hatinya.
Kembali si Dewa Guntur Bermuka Jelek Huan Siau tertawa getir, bisiknya, "Toako tak usah menghiburku. Asal Li-ji tetap sehat walafiat, biar mati pun aku akan pejamkan mata rapat-rapat."
"Sam-siok!" Huan Li-ji segera berpikir sedih setelah mendengar perkataan itu. Sambil mendekap pamannya, ia menangis tersedu-sedu.
Dengan susah payah Huan Siau menggerakkan tangan kirinya dan membelai rambut Huan Li-ji dengan penuh kasih sayang. Bisiknya lirih, "Tak usah menangis lagi, Nak. Walaupun kau bukan darah daging dari keluarga Huan, namun kami bersaudaralah yang telah memeliharamu hingga dewasa. Kau terhitung juga sebagai keturunan keluarga Huan... sudahlah, kau jangan menangis."
Huan Li-ji berusaha keras untuk menekan rasa sedih dan isak tangisnya, namun semakin ditahan rasa sedih semakin memuncak sehingga akhirnya ia mendekam di sisi pembaringan sambil menangis sejadi-jadinya.
Perlahan-lahan Huan Siau berpaling ke arah Sik Tiong Giok, lalu bisiknya pula, "Pangeran kecil..."
"Bila Sam-siok ingin menyampaikan sesuatu pesan, katakanlah!" cepat-cepat Sik Tiong Giok menyahut.
"Dahulu kami tiga bersaudara adalah orang-orang dari golongan hitam, sampai kemudian bertemu dengan majikan tua kami, baru melepaskan jalan sesat kembali ke jalan yang benar. Majikan tua bersikap amat baik kepada kami, budi kebaikannya menumpuk bagaikan bukit."
"Losam, jagalah kesehatanmu baik-baik, apa gunanya kau membicarakan tentang persoalan itu?" buru-buru si Menantu Bermuka Jelek Huan Sim mencegah.
"Toako, aku teringat kembali akan banyak persoalan yang terjadi di masa lampau. Aku merasa berterima kasih sekali kepada Thian yang telah memberikan kesemuanya ini kepada kita."
"Bagaimana mungkin Engkoh Cilik Sik bisa memahami bila kau membicarakannya dengannya?"
"Aku hanya berharap dia bisa merawat Anak Li baik-baik dengan mengingat hubungan kami yang telah banyak tahun mengikuti majikan tua."
Waktu itu Sik Tiong Giok pun merasakan sepasang matanya agak berkaca-kaca. Cepat-cepat dia berseru, "Sam-siok tak usah kuatir, aku tidak akan merugikan Nona Li... apalagi menyia-nyiakan dirinya."
"Yaa, aku tahu kau bisa baik-baik melayaninya. Aku... aku pun bisa berlega hati sekarang." Berbicara sampai di situ, mendadak ia batuk beberapa kali sambil memuntahkan beberapa gumpal darah hitam, kemudian kepalanya terkulai dan menghembuskan napas panjang-panjang.
Menantu Bermuka Jelek Huan Sim segera menyaksikan keadaan yang tidak menguntungkan. Cepat-cepat dia membangunkan tubuh Huan Siau sambil berteriak, "Losaaam! Losam! Kenapa kau?"