Chapter 104
"Losam!" Kakek cebol segera memeriksa denyut nadinya, namun sambil menghela napas panjang, ia berkata pelan, "Dia... dia telah pergi..." Belum selesai perkataan itu diucapkan, Huan Liji telah menangis sekeras-kerasnya, sementara Sik Tiong Giok turut melelehkan air mata meski tanpa suara.
Dewa Guntur bermuka jelek, Huan Siau, telah mengembuskan napas terakhirnya. Sejak kini, ia tak bisa lagi merasakan pahit getirnya kehidupan di dunia ini. Sang surya mulai merangkak naik dari ufuk timur, sinar keemasan memancar masuk ke dalam ruangan. Suasana hening mencekam seluruh ruangan; yang ada di situ hanyalah butiran air mata yang bercucuran.
Lama kemudian, kakek cebol berkata, "Kau harus menahan rasa sedihmu. Bersiap-siaplah untuk menyediakan semua perlengkapan untuk pemakaman Losam, sedangkan budak Li dan engkoh cilik Sik masih ada urusan di tepi Sungai Cisuiho..."
Bagaikan baru sadar dari impian buruk, menantu bermuka jelek Huan Sim memandang sekejap wajah semua orang. Setelah menghela napas panjang, ia memerintahkan si Duka bermuka jelek, Huan Ki, untuk menitahkan orang-orangnya agar menyiapkan pemakaman bagi Dewa Guntur bermuka jelek, Huan Siau.
Tujuh hari kemudian, Sik Tiong Giok bersama Huan Liji melakukan perjalanan. Walaupun sepasang muda-mudi ini masih dicekam rasa sedih akibat kematian Dewa Guntur bermuka jelek Huan Siau, namun tak tertutup pula rasa gembira yang menyelimuti perasaan mereka. Hal ini tentu tidak bisa disalahkan; sedih dan gembira merupakan perasaan yang dimiliki setiap manusia, terutama bagi kaum muda yang di saat gembira mudah melupakan segala kesedihan.
Mereka berdua menempuh perjalanan bersama-sama. Meski tidak banyak berbicara, namun setiap kali beradu pandangan dan senyum dikulum, semuanya sudah cukup untuk menggantikan berbagai percakapan. Dalam keadaan seperti ini, mereka menganggap banyak berbicara adalah hal yang tidak berguna.
Ketika senja hari keenam tiba, mereka sampai di puncak Bukit Thianciatshan. Dari atas puncak bukit, mereka menjumpai Sungai Cisuiho yang berliku-liku menembus tebing dan bukit bagaikan seekor ular besar. Sungguh indah pemandangan alam di situ.
"Sudah kau lihat," kata Sik Tiong Giok sambil tertawa, "sungai itu adalah Cisuiho?"
"Aku sendiri pun tidak mengerti. Empek berbaju hitam itulah yang mengusulkannya kepadaku," sahut Huan Liji. "Aku tebak, dipilihnya tempat tersebut tentu mengandung suatu arti yang mendalam."
Huan Liji mengangguk-angguk. "Ya, aku tebak kawanan gembong iblis itu pun pasti tak akan berdiam diri saja."
"Kalau memang demikian, kita tak boleh turun ke situ secara terang-terangan," kata Sik Tiong Giok sambil tertawa. "Lebih baik kita menyusup dulu ke situ secara diam-diam, setelah menguasai keadaan, barulah kita munculkan diri."
Kembali Huan Liji mengangguk, lalu bertanya sambil mengerdipkan mata, "Bagaimana dengan kuda kita?"
"Itu gampang, kita titipkan di rumah orang dusun. Bila urusan telah selesai, baru kita ambil lagi."
Maka berangkatlah kedua orang itu mencari rumah penduduk di sekitar sana. Setelah menitipkan kuda dan mengencangkan pakaian, mereka menuju ke tepi Sungai Cisuiho dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Daerah di sekitar tempat itu termasyhur karena bahayanya; di mana-mana terdapat tebing curam dengan jurang yang dalam. Sekali salah melangkah, tubuh bisa hancur berantakan. Untung saja, muda-mudi itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna, sehingga medan curam tidak menjadi rintangan yang serius.
Sepintas lalu, jarak dari puncak bukit sampai tepi Sungai Cisuiho tampak amat dekat, tapi bagi pelancong biasa, mereka harus menempuh perjalanan selama seharian penuh dengan banyak rintangan. Itulah sebabnya Sik Tiong Giok dan Huan Liji baru tiba di tengah bukit setelah menempuh perjalanan selama dua kentongan. Tiba-tiba, dari kejauhan mencorong setitik cahaya lampu.
"Coba kau lihat, di situ ada orang," bisik Huan Liji lirih.
Sik Tiong Giok memperhatikan sekejap daerah itu, kemudian setelah berpikir sejenak, ia menyahut, "Ayo berangkat, mari kita periksa keadaan di sana!"
Dengan cepat mereka menuju ke arah sumber cahaya itu. Dalam tiga sampai lima lompatan, mereka sudah berada dekat dengan sumber cahaya tersebut. Ternyata, sinar itu bukan berasal dari gubuk atau bangunan rumah seperti yang diduga semula, melainkan berasal dari balik sebuah pohon yang besar sekali. Batang pohon itu mencapai sepuluh pelukan orang dewasa; meski tengahnya berlubang, daunnya sangat rimbun.
"Aneh, masa ada orang berdiam di dalam batang pohon itu?" pikir kedua orang itu dengan perasaan tercengang.
Setelah berpikir sejenak, Sik Tiong Giok segera memberi tanda kepada Huan Liji. Dengan langkah berhati-hati, mereka mendekati pohon tersebut. Ternyata pohon itu benar-benar besar; bukan saja pada dahan terdapat jendela, malah terdapat dua buah jendela, sedangkan ruangan di balik batang pohon itu bisa menjadi tiga ruangan besar.
Semakin dilihat, Huan Liji semakin merasa kaget bercampur keheranan. Tanpa terasa ia berbisik sambil tertawa, "Wah, ini baru namanya rumah pohon yang sangat istimewa. Mungkinkah ada orang yang berdiam di situ?"
Sik Tiong Giok segera menggoyangkan tangan mencegah gadis itu bertanya lebih lanjut, kemudian pelan-pelan mereka mendekati daun jendela terdekat dan melongok ke dalam. Seandainya tidak mengintip, mungkin lebih baik; begitu melihat ke dalam, hampir saja Huan Liji menjerit keras saking kagetnya.
Ternyata di balik ruangan pohon itu terlihat seseorang duduk dengan tenangnya. Dibilang manusia karena ia memiliki wajah kasar seperti manusia lainnya, namun orang itu justru tidak memancarkan hawa kehidupan barang sedikit pun. Yang paling menakutkan adalah wajahnya yang kurus dan kecil tanpa alis mata, tidak memancarkan warna darah, bahkan tanpa pancaran emosi. Panca indranya pun susah dibedakan; mata dan bibir yang tertutup rapat membentuk garis lurus, rambutnya terurai panjang. Ia memakai baju hitam dan duduk tak bergerak, bentuknya tak berbeda seperti patung batu atau arca setan.
Begitu aneh dan seramnya manusia ini membuat bulu kuduk Sik Tiong Giok dan Huan Liji merinding dan hati mereka berdebar keras. Ketika segulung angin dingin berhembus dan mengibarkan ujung baju mereka, Huan Liji tak dapat menahan rasa bergidiknya. Tiba-tiba ia berseru tertahan, "Setan...!"
Mendengar jeritan itu, cepat-cepat Sik Tiong Giok menarik tangannya dan menyingkir sejauh dua kaki lebih. Setelah menyembunyikan diri baik-baik, ia bertanya, "Adik Li, mengapa kau menjerit semaunya?"
Huan Liji mengerdipkan matanya berulang kali dengan wajah pucat karena takut. Lama kemudian ia balik bertanya, "Engkoh Giok, benarkah di dalam dunia ini terdapat setan?"
Sik Tiong Giok tertawa, "Seandainya benar-benar ada setan, apakah kita harus berkelahi dengannya? Kita kan masih ada urusan lain, mana ada waktu untuk berkelahi dengan setan? Itulah sebabnya aku bilang di dunia ini tak ada setan."
Huan Liji mengangguk-angguk pelan, meski rasa takut dan ngeri masih mencekam perasaannya. Pada saat itulah, mendadak dari dalam rumah pohon berkumandang suara teguran seseorang, "Setelah datang kemari, kenapa kalian tidak duduk sebentar di dalam rumahku?"
Teguran itu kembali mengejutkan Huan Liji; hampir saja ia menjerit sekuat-kuatnya kalau mulutnya tidak segera didekap sang pemuda. Beberapa saat kemudian, Sik Tiong Giok bertanya, "Hei, kau ini manusia atau setan?"
"Aku manusia juga setan, apakah kalian takut?" sahut orang di balik rumah pohon.
"Kami tidak takut," sahut Sik Tiong Giok.
"Mengapa tak berani masuk ke dalam rumahku untuk duduk? Kalian benar-benar berjodoh denganku, silakan masuk ke dalam!"
Sik Tiong Giok memandang sekejap ke arah Huan Liji, lalu berbisik pelan, "Adik Li, kau takut?"
Huan Liji menggeleng tanda ia tak takut, padahal hatinya bergidik. Sambil tertawa, Sik Tiong Giok berseru, "Kalau toh kau tak takut, bagaimana kalau kita masuk untuk melihat-lihat?" Sambil berkata, ia menarik tangan gadis itu dan berjalan masuk ke pintu rumah pohon.
Baru saja masuk ke dalam, mendadak terdengar orang di dalam rumah pohon itu membentak, "Enyah dari sini! Kalian siluman dari mana yang berani memasuki rumah pohonku?"
Mendengar bentakan tersebut, Sik Tiong Giok segera menarik tangan Huan Liji dan melompat mundur sejauh satu kaki lebih. Ia berseru dengan mendengus dingin, "Kenapa sih kau tidak tahu aturan? Padahal kau yang mengundang kami masuk, kenapa sekarang malah marah-marah sendiri?"
Orang yang berada di dalam rumah pohon itu tertawa terbahak-bahak. "Haaah... haaah... haaa... aku hanya ingin mencoba keberanian kalian. Ternyata kalian tak tahan bentakan, ayo cepat masuk."
Sekali lagi Sik Tiong Giok mendengus dingin. "Kalau toh kau tidak senang menyambut kedatangan kami, buat apa pula kami harus mengganggu ketenanganmu? Maaf, kami tidak jadi masuk..."
"Haahh... haaahh... haahh..."