Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 106

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 106

Dengan suara lantang, ia segera berteriak, "Saudara Song, Saudara Cu, cepat bantu aku untuk meringkus bocah perempuan ini." Kedua lelaki itu tidak menyahut dan segera menyerbu ke muka sambil mengayunkan senjata mereka. Namun, bukan Huan Li Ji yang menjadi sasaran; tusukan mereka langsung ditujukan ke arah sastrawan setengah umur tersebut.

Sastrawan itu tak menyangka akan terjadi perubahan semacam ini. Apalagi serangan yang dilancarkan sangat mendadak, sehingga meskipun ilmu silat yang dimilikinya hebat, sulit baginya untuk menghindar.

Tanpa ampun, sambaran golok yang satu menyambar ikat kepalanya hingga robek dan terjatuh ke tanah, sementara sambaran golok yang lain membabat pahanya hingga daging beserta pakaiannya terpotong sebagian. Darah segar segera bercucuran dengan deras.

Huan Li Ji sangat keheranan melihat adegan itu. Ia tak habis mengerti mengapa musuhnya berbalik menyerang rekan sendiri, namun ia tidak membuang waktu untuk memikirkannya karena sangat mengkhawatirkan keselamatan Sik Tiong Giok.

Maka, sambil menarik kembali serangannya, ia membalikkan badan, siap menyusul ke dalam ruangan. Namun, tepat pada saat itu, Sik Tiong Giok telah memunculkan diri.

Cepat-cepat ia menghampiri pemuda itu lalu berseru dengan terkejut bercampur heran, "Engkoh Giok, apa yang telah terjadi dengan mereka?"

"Jalan pikiran mereka sudah terpengaruh oleh daya hipnotis," bisik Sik Tiong Giok sambil tersenyum. "Dengan demikian, kita tak usah repot-repot menghadapi mereka lagi."

Huan Li Ji termangu-mangu dengan perasaan tidak habis mengerti. Ia tidak tahu mengapa jalan pikiran kedua orang itu bisa terpengaruh, maka ia menatap ketiga orang lelaki yang sedang bertarung dengan tertegun.

Dalam pada itu, sastrawan setengah umur yang terluka tadi sudah melompat ke belakang dengan perasaan terkesiap. Sambil mengawasi kedua rekannya dengan mata terbelalak, ia berseru, "Hei... kalian sudah gila?"

Namun, kedua lelaki kekar itu tidak menjawab. Dengan sepasang mata melotot yang memancarkan sinar berapi-api penuh kebencian, mereka menyerang terus secara kalap.

"Hei saudara berdua, apakah kau sudah tidak mengenali diriku lagi?" kembali sastrawan itu berteriak kaget.

Kedua lelaki itu tidak menggubris. Golok mereka digetarkan berulang kali dan menyerang terus dari kiri dan kanan. Agaknya sastrawan itu cukup mengetahui tingkatan ilmu silat kedua rekannya. Seandainya harus bertarung satu lawan satu, tiada persoalan baginya, namun jika keduanya maju bersama, ia sadar bukan tandingan mereka.

Kini, setelah menghadapi serangan rekan-rekannya yang begitu garang, ia sadar mustahil baginya untuk menghindar. Akhirnya, sambil menggertakkan gigi, ia menangkis serangan mereka dengan kipasnya.

Siapa sangka begitu serangan ditangkis, kedua lelaki itu justru menyerang semakin kalap. Sepasang golok mereka dibacokkan dan diayunkan berulang kali secara nekat dengan jurus-jurus adu jiwa. Lambat laun, sang sastrawan mulai terdesak hebat. Di bawah kepungan sepasang golok, ia hanya bisa bertahan tanpa sempat membalas.

Belasan jurus kemudian, sastrawan itu semakin keteteran. Ia sadar kemampuannya sudah habis, lalu berteriak dengan gelisah, "Saudara Song, Saudara Cu, betulkah kalian sudah tidak mengenali diriku lagi?"

Pada saat itu juga, tiba-tiba Sik Tiong Giok mendengar suara kakek berbisik di telinganya, "Hei anak muda, sekarang tinggal melihat tindakanmu selanjutnya. Berusahalah menaklukkan ketiga orang ini dan jadikan mereka sebagai budakmu. Asal ketiga orang itu sudah ditaklukkan, kau tentu bisa memasuki wilayah Ci Sui Hoo dengan mudah."

Sik Tiong Giok tertegun dan berpikir, "Aneh benar, dari mana ia bisa tahu kalau aku hendak ke Sungai Ci Sui Hoo?"

Belum habis ingatan tersebut melintas, terdengar kakek itu membisik lagi, "Hei, anak muda! Peluang baik segera akan hilang, kau harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya."

Tanpa berpikir panjang, Sik Tiong Giok segera menerjang maju. Sekali ayunan tangan, ia menyambar golok dari lelaki bermarga Song itu. Jurus yang digunakan adalah *Ki Na Jiu Hoat*. Begitu berhasil merebut satu, ia siap merebut golok berikutnya, tetapi lelaki bermarga Cu segera memutar goloknya untuk membabat pergelangan tangan Sik Tiong Giok.

Dalam keadaan tersebut, Sik Tiong Giok harus mengutamakan keselamatan diri. Ia merendahkan pergelangan tangannya ke bawah untuk menghindari bacokan, kemudian melontarkan tendangan kilat ke depan. Lelaki bermarga Cu itu menggeser posisi ke samping, lalu memutar goloknya dan melancarkan bacokan lagi.

Walaupun terjangan Sik Tiong Giok gagal merampas golok di tangan kedua lawannya, ia berhasil menyelamatkan sang sastrawan dari ancaman. Serta-merta sastrawan itu melompat keluar dari arena lalu berdiri di kejauhan sambil mengatur napas. Agaknya sastrawan tersebut sudah berencana untuk berdiam diri dan membiarkan lawannya bertarung sendiri, sementara ia tinggal memungut hasilnya nanti.

Sayang sekali ia lupa bahwa di sana masih ada Huan Li Ji. Si nona yang menyaksikan kejadian itu segera membentak keras, menerobos ke muka, dan melancarkan totokan. Sambil mendengus tertahan, sastrawan setengah umur itu roboh terjengkang ke tanah.

Bersamaan dengan robohnya sastrawan itu, Sik Tiong Giok mengeluarkan ilmu silat simpanannya. Ia melepaskan tiga serangan berantai dan berhasil merebut posisi di atas angin. Serangkaian totokan dilancarkan, dan dalam sekejap mata, lelaki bermarga Song dan Cu itu sudah roboh terjungkal ke tanah.

"Anak muda, gotong ketiga orang itu masuk ke dalam!" seru kakek di dalam rumah pohon itu.

Sik Tiong Giok saling berpandangan sekejap dengan Huan Li Ji. Dengan perasaan berat hati, ia menggelengkan kepala lalu menggotong kedua lelaki itu masuk ke dalam ruangan. Setelah meletakkan mereka ke lantai, ia mengangkat kepala, lalu berteriak dengan rasa kaget bercampur girang, "Aaah! Rupanya kau..."

Huan Li Ji yang baru masuk sambil menenteng tubuh sastrawan itu ikut berteriak tercengang, "Eeei... kau lagi-lagi sudah berubah!"

Ternyata kakek berambut putih di dalam rumah pohon itu telah berubah kembali. Rupanya orang itu bukan lain adalah manusia aneh berbaju hitam yang pernah mereka jumpai di Lembah Lu Hua Kok tempo hari.

Sambil tersenyum, manusia aneh itu manggut-manggut dan berkata, "Kau merasa keheranan, bukan Nak?"

"Sebenarnya siapa sih kau ini?" tanya Sik Tiong Giok dengan bingung.

"Hahaha... kalian tidak perlu tahu siapa aku. Pokoknya aku tidak bermaksud jahat terhadap kalian, bahkan bisa dibilang justru menguntungkan."

"Hmm, kau sudah menyiksa orang untuk menempuh perjalanan jauh kemudian berperan jadi setan di sini, kebaikan apa yang kau berikan kepada kami?" sela Huan Li Ji cemberut.

Kembali manusia aneh itu tertawa, "Tahukah kau bahwa semua jago dari berbagai partai di dunia persilatan dewasa ini telah berdatangan di Bukit Pay Lau San?"

"Pergi ke Bukit Pay Lau San?" tanya Sik Tiong Giok terkejut. "Mengapa mereka ke sana? Apakah karena Kelabang Langit itu?"

"Benar, siapa pun pasti ingin mendapatkan Kelabang Langit yang merupakan binatang langka tersebut."

"Huuh, paling banter cuma seekor kelabang raksasa yang sudah berumur lama, apa sih anehnya?" sela Huan Li Ji lagi.

"Kau tidak mengerti manfaat binatang tersebut, Nak," kata manusia aneh itu tertawa. "Jangan lagi mutiara Kelabang Langit yang merupakan mestika tak ternilai harganya, bahkan cakar dari kelabang itu pun adalah obat mestika yang tiada taranya."

"Apa khasiat benda tersebut?"

"Kau harus tahu, Nak. Kelabang Langit baru memunculkan diri setiap tiga ribu tahun sekali. Bagi orang yang belajar ilmu batin, mutiara kelabang tersebut dapat menguatkan hawa murninya hingga mencapai tingkatan paling tinggi. Sebaliknya, bagi orang yang belajar silat, benda tersebut dapat membuat tubuh menjadi kebal dan tahan uji."

"Apa pula gunanya bangkai kelabang tersebut?" tanya Sik Tiong Giok kemudian.

"Bangkai kelabang itu bisa dijadikan ramuan obat mestika. Jika sampai jatuh ke tangan orang-orang golongan sesat, wah, bisa berabe jadinya, sebab hal itu bisa membantu kemampuan mereka untuk berbuat kejahatan. Itulah sebabnya aku minta kalian berusaha keras mendapatkan Kelabang Langit itu seutuhnya."

"Kami harus mendapatkan kelabang tersebut seutuhnya?" tanya Huan Li Ji sambil mengedipkan mata.

"Benar," manusia aneh itu mengangguk. "Justru karena kalian harus mendapatkan kelabang tersebut seutuhnya, maka aku berusaha membantu kalian mendapatkan Lencana Tujuh Iblis serta mengendalikan satu-satunya golongan yang paling tangguh dari golongan sesat."

"Aku khawatir ini terlalu sulit," tukas Sik Tiong Giok. "Aku rasa Tujuh Iblis bukan lawan yang gampang dihadapi."

"Itulah sebabnya pula aku berusaha memancing kedatangan kalian kemari sambil mempersiapkan segala sesuatunya dengan cermat."

"Persiapan apa yang hendak kau lakukan?" tanya Huan Li Ji.

"Dalam tujuh hari mendatang, aku akan mewariskan semacam ilmu sakti kepada kalian. Selain itu, akan kutaklukkan pula dua belas orang jago tangguh untuk dijadikan sebagai pelindung lencana kalian."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment