Chapter 108
Diiringi desingan keras dan suara gemerincing yang nyaring, tongkat di tangan Ang Lou Hujin terjatuh ke tanah.
Dengan membentak keras, bocah sakti berjuluk Iblis Langit, Ang Cun, berseru, "Yu Hoa, mau apa kau?" Ternyata, sastrawan setengah umur itu dikenal oleh dunia persilatan sebagai siucay bermata setan, Yu Hoa.
Dengan dingin dan ketus, sastrawan itu menjawab, "Selama berada di hadapan pangeran, jangan mencoba menggunakan tongkat atau bermain golok, mengerti?"
"Huuh, pangeran kentut!" teriak Ang Cun marah. "Bajingan keparat bermarga Sik, kau tak usah berlagak di hadapan kami; utang piutang di antara kita belum dibereskan."
"Apakah persoalan yang menyangkut kotak Giap Hap Gi Ciau itu yang kau maksudkan?" kata Sik Tiong Giok sambil tertawa. "Asal kalian bisa keluar dari kuil bobrok ini dengan selamat hari ini, tentu akan aku persembahkan dengan kedua belah tanganku."
"Bocah keparat, aku setuju dengan usulmu itu. Andaikata aku tak bisa keluar dari kuil bobrok ini, aku pun akan menuruti semua perkataanmu; mau dibunuh atau dicincang, silakan."
"Dibunuh atau dicincang sih tidak usah," kata Sik Tiong Giok sambil tertawa. "Cukup bila kau bersedia tunduk serta taat pada perintahku."
Bocah Sakti Iblis Langit, Ang Cun, tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, asal kau si bocah keparat benar-benar memiliki kemampuan semacam itu, Ang Losam bersedia menjadi budakmu seumur hidup." Begitu selesai berkata, sepasang kakinya segera dijejakkan ke tanah dan ia menerjang ke arah Sik Tiong Giok yang duduk di tengah ruangan.
Sik Tiong Giok tetap duduk tak bergerak di tempat semula. Sebaliknya, Huan Li Ji yang berada di sebelah kanannya segera mengeluarkan sebuah benda dan mengacungkannya seraya membentak, "Di luar kuil terdapat lapangan yang lebih luas. Jika ingin bertarung, lebih baik dilakukan di situ saja."
Sekilas pandang, si Bocah Sakti Iblis Langit, Ang Cun, mengenali benda itu sebagai lencana Thian Mo Leng yang telah hilang di Lu Hoa Kok. Cepat-cepat ia menarik kembali serangannya, lalu dengan wajah tertegun, ia mengundurkan diri dari ruangan tersebut.
Bersamaan dengan itu, si siucay bermata satu, Yu Hoa, mengibaskan tangannya. Ketujuh ikan dan kelima malaikat bengis yang berdiri di sisi ruangan serentak memburu keluar serta mengepung seluruh halaman kuil dengan rapat.
Menyusul kemudian, ketujuh iblis tadi turut mengundurkan diri dari ruangan kuil. Setelah memperhatikan sekeliling sejenak, Ang Lou Hujin berkata sambil tertawa dingin, "Tampaknya kalian telah mempersiapkan perangkap dan jebakan dalam kuil bobrok ini."
"Walaupun bukan perangkap atau jebakan yang hebat," kata Sik Tiong Giok sambil tertawa, "tapi cukup menyulitkan kalian tujuh orang iblis bila berniat menerjang keluar dari sini."
"Hmm, kau jangan memandang enteng kemampuan dari tujuh iblis!" teriak Ang Lou Hujin sambil tertawa dingin.
Belum habis ia berkata, si Sejuta Setan Masgul, Yu Liang, telah melompat ke depan sambil membentak, "Tak usah banyak bicara lagi, sambut dulu tiga buah pukulan dariku!"
Demikianlah watak dari dua manusia buas Bukit Liang San. Bila watak buasnya sudah berkobar, mereka tak akan mengakhiri perbuatannya sebelum menang atau kalah, hidup atau mati. Begitu membentak, tubuhnya segera menerobos maju dan melepaskan sebuah bacokan maut ke arah lawan.
Jangan melihat kedua manusia buas itu berperawakan kasar; ilmu silat mereka sungguh hebat dan dahsyat. Begitu serangan dilancarkan, angin pukulan yang sangat kuat seperti hembusan angin puyuh menyapu ke depan.
Ang Lou Hujin pun termasyhur sebagai seorang gembong iblis yang disegani. Kendatipun Leng San Sam Yu telah mengurungnya selama bertahun-tahun di bawah Bukit Cio Hong, watak bengis dan kejinya belum juga hilang. Serta-merta ia melepaskan sebuah pukulan dahsyat untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut. Sungguh hebat tenaga pukulan yang dilancarkannya; bersama dengan gerakan serangan ini, angin pukulan yang tajam menderu ke muka.
"Brak!" Begitu sepasang telapak tangan saling beradu, terjadilah suara ledakan keras yang memekakkan telinga. Tanah di sekeliling arena dilanda putaran angin yang menerbangkan pasir, debu, dan batu kerikil. Akibat benturan tersebut, Sejuta Setan Masgul, Yu Liang, merasakan tenaga kuat yang menerjang tubuhnya hingga ia tergetar mundur sejauh setengah langkah lebih. Sebaliknya, keadaan Ang Lou Hujin jauh lebih mengenaskan; ia terhantam sampai mundur sejauh dua langkah lebih.
Melihat kejadian tersebut, Sejuta Setan Masgul, Yu Liang, makin bertambah garang. Tanpa banyak berbicara lagi, telapak tangannya diayunkan ke depan, melancarkan serangkaian pukulan dan bacokan yang amat dahsyat. Sekalipun dalam hati kecilnya Ang Lou Hujin sadar kalau kekuatannya bukan tandingan lawan, sebagai perempuan yang terbiasa menang sendiri, ia tak mau mengaku kalah begitu saja. Ia mengayunkan kembali telapak tangannya untuk menyongsong serangan tersebut.
"Brak!" Bentrokan keras kembali terjadi dan pasir serta debu beterbangan. Kali ini, Ang Lou Hujin terdorong mundur sebanyak satu langkah lebar. Melihat Ang Lou Hujin menderita kerugian, si Telapak Darah Pengusik Langit, Lu Ma, segera menyelinap maju untuk membantu rekannya.
Sejuta Setan Masgul, Yu Liang, yang sudah asyik bertarung, sama sekali tak peduli lagi siapa lawannya. Ia membentak keras, "Sambutlah seranganku yang ketiga ini!" Menyusul ayunan telapak tangannya, ledakan keras kembali bergema. Di antara angin serangan yang berpusing, Sejuta Setan Masgul, Yu Liang, tak sanggup lagi mengendalikan kuda-kudanya. Ia terdorong mundur sejauh lima hingga enam langkah; tubuhnya gontai dan untung saja tak sampai roboh, kendatipun hawa murninya mengalami goncangan hebat.
Menjumpai saudaranya menderita kerugian, Selaksa Dewa Murung, Yu Bong, segera berteriak, "Losam, kau tidak apa-apa, bukan?"
"Aku masih sanggup menahan diri, akan kucoba untuk menerima sebuah pukulannya lagi," sahut Sejuta Setan Masgul, Yu Liang, lantang.
"Sudahlah, bagaimana jika manusia liar itu kau serahkan kepadaku?"
"Tidak bisa, keparat ini menjadi bagianku," seru Sejuta Setan Masgul, Yu Liang, dengan mata melotot.
"Tak bisa pun harus bisa, kau tahu isi perutmu sudah terluka," tegur Selaksa Dewa Murung, Yu Bong, gusar.
"Siapa bilang aku terluka? Pokoknya antara aku dengan keparat ini belum ada akhirnya jika salah satu pihak belum roboh." Sambil berkata, ia melepaskan lagi sebuah pukulan dahsyat. Sekalipun hawa murninya sudah tersendat-sendat, kekuatannya sama sekali tak berkurang.
Pada dasarnya, si Telapak Darah Pengusik Langit, Lu Ma, memang menggetarkan dunia persilatan karena keampuhan tenaga dalamnya; ia tak memandang sebelah mata kemampuan Sejuta Setan Masgul, Yu Liang. Melihat datangnya ancaman, ia segera mengayunkan telapak tangannya.
Pada saat itulah, Selaksa Dewa Murung, Yu Bong, berteriak keras, "Loji, serahkan saja keparat itu kepadaku!" Bersamaan waktunya, ia melancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat. Walaupun Telapak Darah Pengusik Langit, Lu Ma, termasyhur karena ketangguhan ilmu pukulannya, ia tak menyangka tibanya sergapan dari belakang, sehingga hawa murninya tak sempat ditarik kembali. Digencet dari muka dan belakang oleh pukulan yang amat dahsyat, terpaksa ia mengayunkan telapak tangannya menghadapi pukulan dari dua arah sekaligus.
"Blaam, blaam!" Dua kali benturan keras bergema. Sejuta Setan Masgul, Yu Liang, mencelat ke belakang dan roboh terduduk, namun si Telapak Darah Pengusik Langit, Lu Ma, pun tak menerima keuntungan apa-apa; ia terhuyung-huyung ke belakang sebelum akhirnya jatuh terduduk. Hanya Selaksa Dewa Murung, Yu Bong, seorang yang tetap berdiri tegak. Hal ini bukan berarti tenaga dalam Selaksa Dewa Murung lebih hebat, melainkan ia memanfaatkan kesempatan saat musuhnya terpojok sehingga berhasil meraih keuntungan.
Dengan kejadian tersebut, ketujuh iblis itu tertegun. Mereka sadar bila pertarungan dilanjutkan, mereka akan kehabisan tenaga dan kalah. Dalam pada itu, kakek bungkuk yang semula menjaga di depan pintu mendadak hilang lenyap.
Raja Setan Kepala Botak memandang sekeliling, kemudian berseru lantang, "Bocah bermarga Sik, bila kau berniat mencari kemenangan dengan memakai akal licik, biarpun pada akhirnya kami bertujuh jatuh pecundang di tanganmu, kekalahan tersebut tidak akan memuaskan kami."
"Lantas bagaimana maksudmu? Pertarungan macam apa yang kau kehendaki?"
Raja Setan Kepala Botak tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, kulihat keinginanmu menjadi pemimpin dunia persilatan sudah pasti berarti kepandaian silat yang kau miliki amat tangguh. Untuk itu, kami tujuh bersaudara masing-masing ingin melepaskan tiga buah pukulan kepadamu. Apakah kau berani untuk menerimanya?"
Jelas ia bertujuan jahat, yaitu meminta Sik Tiong Giok seorang diri menghadapi mereka bertujuh.