Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 111

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 111

Bila berbicara soal tenaga dalam, sudah jelas Sik Tiong Giok bukan tandingan lawan, tetapi ia justru mengandalkan kelincahan dan keindahan jurus serangannya untuk mengatasi semuanya itu.

Sebentar ia tampak menyodok, sebentar lagi tampak membacok, posisinya pun ikut bergeser tiada hentinya ke sana kemari. Dalam keadaan seperti ini, hilanglah kesempatan bagi ketujuh iblis itu untuk menguasai keadaan.

Sebagaimana diketahui, si Telapak Darah Pengusik Langit, Lu Ma, telah menderita luka dalam. Andaikata ia bertarung secara sabar dan mantap, luka tersebut tentu tak akan berpengaruh banyak terhadap tenaga dalamnya.

Namun sayang, ia kurang sabar. Setelah bertarung sekian lama tanpa hasil, habis sudah kesabarannya. Tiba-tiba ia membentak keras, lalu tubuhnya menerjang maju ke depan secara ganas.

Sebagai seorang jago yang termasyhur dalam dunia persilatan karena ilmu pukulannya, bisa diketahui betapa dahsyat dan hebatnya ancaman tersebut.

Dalam keadaan demikian, Sik Tiong Giok bukan berusaha untuk menghindarkan diri, sebaliknya dia malah maju menyongsong serta menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras melawan keras.

Telapak Darah Pengusik Langit, Lu Ma, menjadi amat girang. Segera pikirnya, "Bajingan cilik, rasakan kelihayanku ini!" Ingatan tersebut baru saja melintas lewat, sepasang telapak telah saling beradu. Cepat-cepat ia mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya; dalam perkiraannya, pukulannya kali ini pasti akan berhasil melukai lawan.

Siapa sangka begitu bentrokan terjadi, tiba-tiba saja tenaga pukulannya terpeleset ke samping sehingga tenaga yang amat dahsyat itu menyambar melewati sisi dada Sik Tiong Giok dan langsung menerjang tubuh Ang Lou Hujin.

Tak terlukiskan rasa kaget Telapak Darah Pengusik Langit, Lu Ma, menyaksikan kejadian itu. Cepat-cepat teriaknya, "Hati-hati, Suci atau Kakek Keempat!" Sambil berteriak, tergopoh-gopoh ia menarik kembali tenaga pukulannya.

Sayang sekali, keadaan sudah terlambat. Tenaga pukulan yang mahadahsyat itu telah menerjang ke arah Ang Lou Hujin.

Kendatipun Ang Lou Hujin sendiri merasakan juga datangnya tenaga serangan mahadahsyat yang menerjang ke arahnya sehingga ia sempat mengibaskan tangannya untuk menangkis, akibatnya ia sendiri tergetar mundur dengan sempoyongan. Bahkan belum cukup sampai di situ, tubuhnya terhuyung kembali ke belakang dan akhirnya roboh terjungkal ke atas tanah.

Melihat adegan tersebut, Sik Tiong Giok kontan tertawa terbahak-bahak. Ejeknya kemudian, "Hey, mengapa kalian malah saling gontok-gontokan sendiri? Haa, haa, haa... inilah yang dinamakan orang, air bah menerjang kerajaan naga." Sementara masih menggoda, Raja Setan Kepala Botak segera memanfaatkan kesempatan baik itu dengan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Seakan-akan tidak menyangka datangnya serangan tersebut, pemuda itu akan segera terhajar telak. Semua kejadian ini dapat diikuti oleh keenam iblis lainnya dengan jelas, bahkan Ang Lou Hujin yang masih terduduk di atas tanah segera berseru keras saking gembiranya.

Pada saat yang amat kritis inilah, tiba-tiba Sik Tiong Giok merendahkan bahunya sambil mengigir ke samping.

Seketika itu juga, Raja Setan Kepala Botak merasakan bahwa serangannya bukan saja gagal mengenai lawan, bahkan pada saat yang bersamaan ia merasakan bagaimana angin serangannya yang mahadahsyat itu telah meluncur ke samping dan langsung menghantam tubuh Hua In Moli, Thi Cu, yang berada di hadapannya.

Thi Cu sangat terkejut merasakan datangnya serangan tersebut. Buru-buru ia mengayunkan telapaknya untuk menyambut datangnya serangan dahsyat dari rekannya ini.

Sayang seribu kali sayang, tenaga dalam yang dimilikinya kelewat cetek. Begitu ancaman tersebut disambut, ia segera merasakan datangnya tenaga tekanan yang mahadahsyat menindih tubuhnya. Tak ampun, tubuhnya segera mencelat sejauh satu kaki lebih dan sewaktu roboh kembali ke atas tanah, darah segar menyembur keluar dari mulutnya.

Hanya cukup dua gebrakan saja, ketujuh orang iblis itu sudah dibuat kaget, tertegun, dan sesaat lamanya tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Lama kemudian, Raja Setan Kepala Botak baru mundur dua langkah sambil berseru dengan perasaan ngeri, "Hey, bocah muda, ilmu silat apa yang telah kau pergunakan itu?"

"Haah... haah... inilah yang dinamakan ilmu meminjam golok membunuh orang, pernahkah kau dengar nama ini?"

"Bangsat, kau ngaco belo!" tiba-tiba Raja Setan Kepala Botak membentak marah.

"Mau percaya atau tidak terserah kepadamu. Masih berani bertarung lagi?" Pertanyaan ini kembali membuat Raja Setan Kepala Botak berdiri tertegun. Bila dilihat dari situasi, jelas mereka bertujuh tak mampu bertarung lagi, tapi kalau disuruh mengaku kalah, ia pun merasa tak rela.

Lama setelah berdiri termangu, akhirnya Raja Setan Kepala Botak berkata sambil menghela napas, "Baiklah, kami bertujuh dari Istana Iblis mengaku kalah."

"Ehm, bagaimana dengan perjanjian selama tiga tahun...?"

"Akan kami laksanakan."

"Tapi kau harus tahu," sela Ban Biau Sian Koh, Lu Yong Poo, tiba-tiba, "Kami hanya takluk pada Lencana Tujuh Iblis, tapi bukan takluk kepadamu, Pangeran Serigala."

Baru selesai ia berkata, kakek bungkuk yang berada di depan pintu kuil telah menyambung sambil tertawa terbahak-bahak, "Peduli kalian takluk kepada siapa, yang penting asal kalian benar-benar takluk."

Dengan marah, Lu Yong Poo melotot sekejap ke arah kakek itu, namun sebelum ia sempat mengumbar amarahnya, Raja Setan Kepala Botak telah memberi tanda kepadanya. Kemudian katanya kepada Sik Tiong Giok sambil tertawa, "Nah, persoalan telah beres, kami ingin mohon diri lebih dulu."

Mendadak Huan Li Ji mengangkat tinggi Lencana Tujuh Iblis itu lalu berseru, "Apakah kalian bermaksud tidak menghormati Lencana Tujuh Iblis itu lagi?"

Ketujuh iblis itu sama-sama tertegun, lalu sambil memberi hormat, serunya berbareng, "Kami siap mendengarkan perintah dari Lengcu."

Sambil mengangkat tinggi lencana tersebut, Huan Li Ji segera berkata lagi, "Kuperintahkan kepada kalian bertujuh segera berangkat ke Bukit Pay Lau San, selidiki tentang bakal munculnya kelabang langit, periksa juga manusia-manusia dari mana saja yang berniat merebut mestika tersebut. Nah, cepat berangkat!"

Dengan perasaan apa boleh buat, tujuh orang iblis itu segera menyahut, lalu dengan wajah murung dan tubuh lemas beranjak pergi meninggalkan kuil tersebut.

Menanti ketujuh orang itu sudah pergi jauh, Huan Li Ji tak dapat menahan rasa gelinya lagi. Ia segera tertawa tergelak, "Di hari-hari biasa, ketujuh orang itu sombong dan takabur serta soknya bukan kepalang, tapi hari ini keadaan mereka tak ubahnya seperti seekor anjing yang kena gebuk, sungguh mengenaskan sekali keadaannya. Sampai aku sendiri pun turut merasa kasihan."

"Tapi bila suatu ketika kau, si budak, terjatuh ke tangan mereka, orang-orang itu tak bakal menaruh belas kasihan kepadamu," sambung kakek bungkuk itu sambil tertawa.

Cepat-cepat Sik Tiong Giok maju ke depan dan memberi hormat, katanya kemudian, "Seandainya Locianpwee tidak membantu kami secara diam-diam, belum tentu ketujuh iblis itu akan sedemikian takluknya hari ini."

"Kalau begitu kalian harus berterima kasih sekali kepadaku," seru kakek bungkuk itu sambil tertawa.

"Yaa, memang sudah sepantasnya berterima kasih sekali kepada Cianpwee..." Seraya berkata, ia segera berlutut sambil memberi hormat, diikuti pula oleh Huan Li Ji dari sisinya.

Hanya Sim Cui seorang tetap berdiri tak berkutik di tempat semula sambil tersenyum.

Melihat itu, kakek bungkuk tersebut segera menegur, "Hey, budak nakal, seandainya aku tidak membantu secara diam-diam, mustahil kau dapat mengalahkan ketujuh iblis itu. Mengapa kau tidak berterima kasih kepadaku?"

Nona cilik itu segera mencibirkan bibirnya dan menyahut, "Hmm, mengapa aku harus berlutut dan menyembah kepadamu? Kau ini manusia macam apa?"

Sik Tiong Giok terkejut sekali. Ia tak mengira kalau nona kecil itu begitu bernyali sehingga berani memaki seorang Locianpwee dari dunia persilatan. Tanpa terasa ia mengerutkan dahinya rapat-rapat.

"Adikku, kau tak boleh bersikap demikian terhadap seorang Wulin Cianpwee," Huan Li Ji segera berbisik pula.

Sambil memutar biji matanya yang jeli, Sim Cui kembali tertawa, "Kau anggap siapakah dia? Haa... haa... dia cuma seorang angkatan muda dari dunia persilatan, dia cuma seorang cecunguk muda."

Perkataan dari nona cilik ini tentu saja semakin membingungkan Sik Tiong Giok serta Huan Li Ji. Untuk sesaat, kedua orang itu hanya bisa saling berpandangan dengan wajah termangu.

Sim Cui mengerling sekejap ke arah orang itu, lalu katanya lagi sambil tertawa cekikikan, "Bukankah kalian ingin melihat jelas wajah aslinya? Nah, asalkan kugapai tanganku ini, sudah pasti dia akan menampakkan wajah aslinya."

Ketika mendengar ucapan tersebut, kakek bungkuk itu segera tertawa terbahak-bahak. Sambil melepaskan topeng dari wajahnya, ia berseru, "Waduh nona besarku, kau memang hebat sekali, tak usah repot-repot lagi, biar kutunjukkan sendiri wajah asliku."

Sik Tiong Giok semakin terkejut lagi setelah melihat keadaan yang sebenarnya. Ternyata kakek bungkuk yang semestinya adalah manusia aneh penghuni rumah pohon itu, sekarang telah berubah menjadi seorang bocah lelaki berusia tiga belas tahunan yang berwajah merah, bergigi putih, dan bertampang nakal.

Huan Li Ji membelalakkan pula matanya lebar-lebar sambil memandang dengan terkejut, serunya kemudian agak termangu, "Haah... dia berubah lagi... Siapakah kau sebenarnya?"

Sementara itu, Sik Tiong Giok telah mendekat maju ke muka dan membekuk tengkuk bocah itu. Setelah tertegun sejenak, bentaknya kemudian sambil tertawa, "Bagus sekali perbuatanmu, Kalajengking Kecil. Kau berani mempermainkan aku?"

Ternyata bocah itu bukan lain adalah Si Kalajengking Kecil, Siu Cing.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment