Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 112

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 112

Dengan peluh bercucuran, ia segera berteriak keras, "Aduh, Mak, jangan kau cekik mati aku. Beginikah sikapmu terhadap seorang locianpwee?"

"Huh, kau masih berani berlagak sebagai seorang locianpwee? Lihat saja, kucekik kau sampai mampus," kata Sik Tiong Giok sambil mencekik dengan gemas.

Lama-kelamaan Siu Cing tak tahan juga, ia segera berseru kembali, "Engkoh Sik-ku yang baik, ampunilah aku. Bila cekikan ini kau lanjutkan, aku benar-benar bisa berangkat ke istana langit dengan menumpang angin."

Sik Tiong Giok tersenyum, ia mengendurkan tangannya lalu berkata, "Cepat katakan, mengapa kau datang dengan menyaru sebagai kakek bongkok?"

"Hmm, siapa lagi? Siluman rase itu yang memaksa aku menyaru demikian. Hampir saja aku mati konyol," omel Siu Cing sambil berkerut kening.

"Sudah, jangan membanyol terus. Siapa sih siluman rase tua itu?"

"Siapa yang membanyol? Masa kau tidak kenal dengannya?" seru Siu Cing sambil membelalakkan matanya lebar-lebar.

"Siapa sih yang kau maksudkan?" tanya Sik Tiong Giok semakin kebingungan.

"Siapa lagi, tentu saja si tua bangka yang mengaturkan segalanya bagi kalian itu."

"Oh, kau maksudkan cianpwee yang bungkuk itu? Ya, kami memang sudah kenal dengannya, dan kami pun tahu kalau dia pandai menyamar."

"Huh, dia pun pandai menipu orang," seru Siu Cing sambil tertawa. "Itulah sebabnya kupanggil ia sebagai rase tua."

"Sejak kapan kau kenal dengannya?"

Siu Cing segera membusungkan dadanya dan menjawab dengan bersemangat, "Kami sih sahabat lama, sudah kenal lama sekali, malah hubungan kami pun terhitung lumayan juga."

Menyaksikan gaya Siu Cing yang kocak itu, Huan Li Ji segera tertawa cekikikan, "Wah, kalau dilihat gayanya sih hebat juga, tapi berapa sih umurmu?"

"Hei, nonaku, jangan kau pandang bias orang lain. Jelek-jelek begini, aku yang tua sudah berusia tiga belas tahun, mengerti? Tidak terlalu muda, bukan?"

"Ah, makin lama makin edan saja kamu ini."

"Anjing yang sudah berumur tiga belas tahun baru terhitung sudah tua!" sela Sim Cui tiba-tiba sambil tertawa.

Begitu ucapan tersebut diutarakan, kontan saja semua orang tertawa tergelak. Sebaliknya, Siu Cing melotot dengan penasaran, teriaknya, "Budak ingusan, kau berani samakan aku dengan anjing? Hati-hati dengan mulutmu itu!"

"Ada apa? Mau ajak berkelahi?" tantang Sim Cui segera.

Cepat-cepat Sik Tiong Giok melerai, katanya sambil tertawa, "Sudahlah, jangan cekcok dulu. Adik Cing, cepat katakan, siapakah locianpwee itu?"

"Si Rase Sakti Li Cing Kiu termasuk orang jago kelas satu yang disegani banyak orang, tapi justru takut terhadap dua orang."

"Siapakah kedua orang itu?"

"Yang pertama adalah Kakek Serigala Langit Sik Thian Kun."

Tanpa terasa sekulum senyum muncul di ujung bibir Sik Tiong Giok, segera tanyanya lebih lanjut, "Siapakah orang yang kedua itu?"

"Orang itu tak lain adalah aku sendiri, si kalajengking Siu Cing," sebut bocah itu sambil menuding hidung sendiri.

Perkataan itu kembali disambut semua orang dengan gelak tawa keras.

"Bukankah orang takut kepadamu karena kau suka bertebal muka?" ejek Sim Cui segera.

"Budak ingusan," teriak Siu Cing sambil melotot. "Kapan sih aku pernah bertebal muka?"

Sambil tertawa Sik Tiong Giok berseru, "Perduli bertebal muka atau tidak, coba ceritakan dulu kisah perjumpaanmu dengan Rase Sakti locianpwee."

"Aku berjumpa dengannya di Bukit Pay Lau San. Dia menyuruh aku dan budak cilik itu datang ke tepi Sungai Ci Sui Hoo untuk menantikan kedatanganmu."

"Kalau begitu kalian sudah datang sedari tadi? Tapi mengapa si tolol tak nampak?"

"Bersama Li Suci, dia telah berangkat ke Bukit Pay Lau San lebih dulu, sedang kami khusus ke Ci Sui Hoo untuk menunggu kedatangan kalian."

"Hei, jangan berbicara seenak begitu, aku mah tak berani menerima kebaikanmu itu," seru Sik Tiong Giok sambil tertawa.

"Sudah, sudahlah," cepat-cepat Siu Cing menggoyangkan tangannya berulang kali sambil tertawa, "aku memang lagi apes. Lagi-lagi tertipu oleh si Rase Tua itu."

Baru selesai ia berkata, tiba-tiba muncul sebutir batu kecil yang meluncur dengan kecepatan tinggi dan persis menghajar pipinya. Tak ampun lagi, pipi yang putih jadi membengkak dan merah. Terdengar seseorang berseru dari atas atap rumah diiringi gelak tawa yang keras.

"Setan cilik, usil amat mulutmu itu. Beraninya cuma memaki aku di belakang orang. Kalau tidak diberi sedikit pelajaran, tentu tak akan mengetahui kelihayanku."

Mendengar perkataan itu, Siu Cing segera menutupi mulutnya dengan kedua belah tangan sambil berteriak, "Aduh Mak... kalau pipiku sampai bengkak besar, aku tak akan melepaskan kau dengan begitu saja."

"Sudahlah setan cilik, kau tak usah ngotot terus. Kalau pipimu sampai bengkak besar, masa kau masih bisa berbicara?" kata orang itu tertawa.

Dalam pada itu, Sik Tiong Giok telah menjura ke atas atap rumah sambil berseru, "Locianpwee..."

"Bocah muda she Sik," sela orang itu sambil tertawa, "lebih baik kalian segera berangkat, hati-hati mestika itu direbut orang."

Begitu selesai berkata, ia segera berkelebat lewat dan berlalu dari situ. Dalam sekejap mata, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan. Sik Tiong Giok berdiri termangu sampai lama sekali, kemudian dia baru kembali ke dalam ruangan.

Selesai berunding, berangkatlah mereka semua pada malam itu juga dengan membawa serta si Lima Ikan, dua manusia buas, serta empat malaikat bengis. Rombongan berjalan dengan amat cepat, tapi di mana mereka muncul, di situ segera terjadi kegemparan, terutama karena ulah dua manusia buas; salah sedikit saja segera akan timbul keributan dengan orang.

Hari ini, ketika senja menjelang tiba, mereka melepaskan lelah di Kota Swan Wi Sia. Selesai membersihkan badan, mereka pun bersantap bersama di ruang tengah. Sebagian besar di antara tamu yang berada di dalam ruangan waktu itu adalah kawanan jago dari berbagai daerah yang khusus datang ke situ untuk mencari mestika di Bukit Pay Lau San.

Sementara semua orang sedang bersantap dengan ramai, tiba-tiba dari luar pintu berjalan masuk lima orang perempuan cantik. Perempuan-perempuan itu rata-rata berparas cantik dengan potongan badan yang menarik, hanya sayang di balik keayuan mereka terpancar pula kegenitan dan kejanggalan.

Sik Tiong Giok sangat terkejut setelah melihat kemunculan perempuan-perempuan itu. Ia segera menarik ujung baju Siu Cing sambil berbisik, "Adik Cing, cepat kau pinjamkan topengmu itu kepadaku."

"Buat apa?" tanya Siu Cing keheranan.

"Aku tak ingin bertemu muka dengan orang-orang itu."

Siu Cing segera berpaling setelah mendengar perkataan tersebut, tapi dengan cepat dia pun berseru kaget, "Waduh celaka, kelima bebek jelek itu pasti akan beradu jiwa denganku bila tahu aku berada di sini."

"Itulah sebabnya kita harus cepat-cepat menyaru muka."

"Ayo cepat masuk ke kamar," Siu Cing menarik tangan Sik Tiong Giok seraya berseru, "bila muncul kembali nanti, tanggung mereka tidak akan mengenali dirimu lagi."

Sementara itu, dua manusia buas yang sudah mulai terpengaruh oleh arak telah bangkit berdiri begitu melihat munculnya lima orang wanita cantik di sana. Sambil mengucek matanya berulang kali, si Selaksa Dewa Murung Yu Bong sambil tertawa, "Telah lama kudengar akan kecantikan wajah Lima Walet dari Telaga Tong Ting, tak nyana berita tersebut memang tepat sekali."

"Toako," Sejuta Setan Kesal Yu Jiang berseru pula sambil tertawa, "aku dengar mereka tak pernah menampik orang yang berusaha untuk mendekatinya, mengapa kita tidak mencoba untuk bermesraan dengan mereka?"

"Usulmu memang bagus sekali, Loji, ayo kita dekati mereka."

Dengan tubuh sempoyongan karena mabuk, mereka berdua segera berjalan ke muka menyongsong kedatangan kelima perempuan itu. Biarpun di situ hadir puluhan orang tamu, namun tak seorang pun yang dipandang sebelah mata oleh mereka. Setiap langkah mereka berjalan, segera terdengar suara orang menjerit kesakitan. Ternyata orang-orang itu kena disambar oleh Sejuta Setan Kesal Yu Jiang sehingga terlempar jauh dari atas kursi.

Kedua orang ini memang bernyali besar. Biarpun berhadapan dengan begitu banyak jago, semua tanpa rasa gentar mereka menerjang lewat dari antara para jago menuju ke arah pintu. Nyatanya memang tak seorang pun di antara mereka yang berusaha untuk menghalangi perbuatannya; mungkin mereka sudah cukup mengenali sikap buas kedua orang ini sehingga siapapun tak ingin mencari penyakit buat diri sendiri.

Dalam waktu singkat, mereka telah sampai di hadapan kelima orang perempuan ini. Setelah mengamati perempuan-perempuan itu dengan pandangan melotot, tiba-tiba si Selaksa Dewa Murung Yu Bong berkata sambil tertawa, "Loji, coba kau lihat siapakah di antara mereka yang paling bahenol?"

Sejuta Setan Kesal Yu Jiang mengawasi sekejap perempuan-perempuan itu, lalu sahutnya sambil tertawa, "Semuanya cantik dan seorang saja di antara mereka sudah cukup membuat aku terbuai, tapi aku rasa perempuan yang berbaju putih itu paling montok dan bahenol."

"Kalau pandanganku sih berbeda, aku rasa yang berbaju merah itulah yang lebih menggairahkan."

Lima Walet dari Telaga Tong Ting terhitung juga jago-jago kenamaan di dalam dunia persilatan, belum pernah mereka diperlakukan orang dengan cara begini. Akan tetapi, mereka pun sadar akan tabiat dari dua manusia buas itu; sudah jelas kedua orang itu tidak mudah untuk dilayani.

Dalam keadaan yang kritis inilah, mendadak tampak seseorang melompat bangun dari tempat duduknya, lalu sambil menggebrak meja keras-keras, bentaknya, "Dari mana datangnya dua telur busuk, berani amat membuat keonaran di sini!"

Dengan gusar Sejuta Setan Kesal Yu Jiang berpaling. Ketika dilihatnya orang yang menegur, ia mendengus dingin. Dengan pancaran hawa nafsu membunuh menyelimuti wajahnya, ia maju mendekati orang itu, lalu bentaknya dengan gusar, "Siapa kau?"

"Hmm, kau pernah mendengar nama si Singa Bermata Satu?" kata lelaki kekar itu dingin.

"Hahaha... hahaha... hahaha..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment