Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 113

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 113

"Lan Kim Tian dari Benteng Kim Kee Cay, rupanya kau memang sudah bosan hidup?"

Lan Kim Tian segera meloloskan sebilah golok tipis dari pinggangnya, lalu membacokkannya ke tubuh Sejuta Setan Kesal Yu Jiang sambil berucap, "Kita buktikan saja nanti, siapa yang bakal mampus di antara kita."

"Hmm, aku rasa kau yang bakal mampus," dengus Sejuta Setan Kesal Yu Jiang. Dalam satu gerakan yang amat cepat, ia mencengkeram golok lawannya.

Menyaksikan kejadian tersebut, semua orang yang hadir di dalam ruangan mengkhawatirkan keselamatan Sejuta Setan Kesal Yu Jiang. Bagaimana mungkin sepasang tangan telanjang dapat mengungguli bacokan golok? Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benak mereka, tiba-tiba terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati memecahkan keheningan. Dengan perasaan kaget, semua orang segera berpaling. Ternyata, golok yang semula berada di tangan Lan Kim Tian kini sudah mencelat ke udara, sementara orangnya telah roboh terkapar di atas tanah.

Berhasil merobohkan lawannya, bagaikan tak terjadi sesuatu apa pun, Sejuta Setan Kesal Yu Jiang melanjutkan perjalanannya menuju ke meja kelima walet dari Telaga Tong Ting. Atas peristiwa ini, semua yang hadir hanya bisa saling berpandangan tanpa mengetahui apa yang mesti diperbuat. Dari pihak Benteng Kim Kee Cay sesungguhnya masih ada orang di sana, tetapi setelah menyaksikan atasan mereka tewas secara mengenaskan, siapa pula yang berani berkutik? Selang beberapa saat kemudian, mereka baru berani menggotong mayat Lan Kim Tian dan segera meninggalkan tempat itu.

Sementara itu, kedua manusia buas tadi telah tiba di depan meja kelima walet tersebut. Selaksa Dewa Murung Yu Bong segera menarik tangan si wanita cantik berbaju merah, Ciu Thian Yan, lalu mengendus ke depan hidungnya sembari manggut-manggut. "Ehm, harum nian baunya!"

Sebaliknya, Sejuta Setan Kesal Yu Jiang merangkul pinggang wanita iblis berbaju putih, Liang Siang Yang, seraya berseru, "Waduh, ramping benar pinggangnya!"

Bisa dibayangkan betapa gusarnya kelima walet tersebut. Mereka mengernyitkan dahi sambil menggigit bibir, tetapi tak seorang pun berani bicara, terutama kedua walet yang sudah terjatuh ke tangan kedua orang lelaki itu. Mereka bahkan terpaksa melayani dengan senyuman. Sesudah mengernyitkan alis, perempuan iblis berbaju hijau, Bwee Soat Yan, berkata sambil tertawa cekikikan, "Sungguh tak kusangka kalian berdua begitu romantis."

Sejuta Setan Kesal Yu Jiang tertawa tergelak. "Hahaha, jangan kalian lihat tampang kami menyeramkan, padahal kami sangat berpengalaman dalam adegan ranjang. Bersama kami, kalian tentu akan merasa puas sekali."

"Wah, kalau begitu kalian berdua sangat ahli dalam bercinta," seru Bwee Soat Yan sambil tertawa terkekeh-kekeh. Mendengar perkataan tersebut, kedua manusia buas itu saling berpandangan sekejap lalu tertawa terbahak-bahak.

Ketika Bwee Soat Yan menuang arak ke dalam dua buah cawan, diam-diam ia memasukkan sebutir pil berwarna hijau ke dalam masing-masing cawan. Begitu pil tadi larut, ia segera berujar sambil tersenyum, "Baru pertama kali ini kami kakak beradik berkenalan dengan kalian. Mari keringkan isi cawan ini sebagai tanda persahabatan."

Padahal, Selaksa Dewa Murung Yu Bong sudah melihat bahwa isi cawan itu tidak beres. Sambil mengangkat cawan yang disuguhkan, ia mengejek sambil tertawa dingin, "Ketika masih berdiam di Bukit Liang San tempo hari, toako paling suka makan empedu ular berbisa. Hmm, biarpun kau campur arak ini dengan racun, jangan harap kau dapat meracuniku." Selesai berkata, ia lantas menegak isi cawan tersebut sampai habis.

Sejuta Setan Kesal Yu Jiang mengangkat pula cawannya dan berseru sambil tertawa, "Obat racun adalah vitamin buat kami. Semakin beracun, semakin bermanfaat. Sayang di sini tak tersedia ular beracun, kalau tidak, tentu akan kubuktikan di hadapan kalian."

Terkesiap hati kelima walet itu mendengar ucapan tersebut. Sambil tertawa paksa, Bwee Soat Yan berkata, "Dengan kemampuan yang begitu hebat, tak heran nama besar kalian menggetarkan dunia persilatan. Sayang di sini tak tersedia ular beracun, kalau tidak, kami pasti ingin menyaksikan kehebatan kalian."

"Aduh..." Belum habis perkataan itu diutarakan, mendadak terdengar Selaksa Dewa Murung Yu Bong menjerit keras. Sambil melepaskan pelukannya atas Ciu Thian Yan, ia melompat bangun dan berdiri tertegun sambil menggertakkan gigi; wajahnya kelihatan amat menakutkan. Sekali lagi semua orang di ruangan itu terkejut. Mereka tak habis mengerti apa yang sedang terjadi pada Selaksa Dewa Murung Yu Bong. Suasana menjadi hening, berpuluh-puluh pasang mata tertuju ke arah wajahnya.

Mendadak terdengar seseorang menjerit keras, "Ular beracun!"

Ketika semua orang mengalihkan pandangan, terlihatlah Selaksa Dewa Murung Yu Bong telah mengangkat sebelah kakinya ke atas bangku. Seekor makhluk kecil tampak melilit kaki itu kencang-kencang. Makhluk itu tak lain adalah seekor ular kecil berwarna hitam yang melilit dengan sangat kuat, hingga sepintas menyerupai garis hitam yang membekas dalam pada daging. Selaksa Dewa Murung Yu Bong memperlihatkan kegagahannya sebagai seorang lelaki; ia tak tampak kaget ataupun gugup, tetapi peluh sebesar biji jagung bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Jelas ia sedang menahan sakit yang luar biasa.

Dengan penuh rasa geram, Sejuta Setan Kesal Yu Jiang memandang ke seluruh ruangan, kemudian berteriak lantang, "Siapa yang telah melepaskan ular? Cepat tarik kembali!"

Dari luar pintu, seseorang menyahut dengan suara lembut, "Bukankah kalian gemar makan ular beracun? Nah, terimalah ular kecilku itu sebagai hidangan. Hanya saja, aku tidak tahu apakah gigi kalian cukup kuat."

Beberapa patah kata yang amat lembut itu membuat puluhan pasang mata kembali mengawasi ular kecil tadi dengan saksama. Mendadak terdengar jeritan kaget, "Aah! Ular bersisik besi bergaris emas, ular aneh yang tak putus bila dibacok!"

Melihat peluh yang membasahi tubuh Selaksa Dewa Murung Yu Bong, Sejuta Setan Kesal Yu Jiang tahu toakonya menderita sekali. Tiba-tiba ia merogoh sebilah pisau belati dari sakunya, membantingnya ke atas meja, lalu berseru, "Toako, bagaimana keadaanmu? Kalau sudah tak sanggup menahan diri, potong saja betismu itu!"

Sementara itu, Selaksa Dewa Murung Yu Bong telah berhasil mencengkeram kepala ular itu sambil menggertakkan gigi. "Aku percaya masih bisa mempertahankan diri. Cepat kau cari si pemilik ular itu sampai dapat!"

Gelisah melihat keadaan saudaranya, Sejuta Setan Kesal Yu Jiang berteriak, "Bila tak kutemukan si pemilik ular ini, akan kuhancurkan rumah makan ini hingga rata dengan tanah!"

Baru selesai ia berkata, dari luar pintu kembali terdengar suara, "Kau tak perlu sewot, lihatlah, bukankah aku telah datang?"

Bersamaan dengan itu, muncul seorang perempuan berparas amat cantik yang mengenakan baju ringkas berwarna hitam. Dengan lemah gemulai, ia berjalan menuju ke hadapan Sejuta Setan Kesal Yu Jiang, lalu dengan suara halus dan lembut ia berkata, "Kau hendak mencari aku? Lihatlah, bukankah aku sudah datang?"

Cukup mendengar suaranya saja, orang sudah terpesona, apalagi setelah menyaksikan wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang menggiurkan. Untuk beberapa saat, Sejuta Setan Kesal Yu Jiang tertegun; sepasang matanya terbelalak lebar, mengawasi wajah perempuan itu tanpa berkedip.

Selaksa Dewa Murung Yu Bong menjadi amat gelisah. "Loji, cepat suruh dia menarik kembali ularnya!"

Sejuta Setan Kesal Yu Jiang tersadar dari lamunannya setelah mendengar teriakan itu. Ia mendehem lalu berujar, "Hey, betulkah Nyonya Kecil yang melepaskan ular itu?"

Perempuan cantik itu tertawa merdu. "Jadi kau tak percaya? Ular itu kupelihara sedari kecil, ia penurut sekali dengan kata-kataku."

"Mengapa kau lepaskan ular itu seenaknya sendiri?"

"Sebab belakangan ini aku sudah bosan dengannya. Maka sewaktu kudengar kalian gemar makan ular, sengaja aku lepaskan dia. Ada apa? Memangnya kalian anggap ular itu kelewat kecil dan tak cukup dimakan? Baiklah, aku masih mempunyai yang lebih besar lagi."

Tiba-tiba ia mengangkat tangannya. Seekor ular besar berkepala merah muncul dari balik bajunya dan langsung memagut sikut Sejuta Setan Kesal Yu Jiang. Dengan ketakutan, ia melompat mundur. Melihat hal itu, perempuan cantik berbaju hitam itu tertawa cekikikan.

"Aaaah, rupanya kalian cuma pandai mengibul. Masa kalian benar-benar berani makan ular beracun?"

Mencorong sinar kegusaran dari balik mata Sejuta Setan Kesal Yu Jiang. Setelah mendengar sindiran itu, ia menatap perempuan tersebut dengan mata melotot, kemudian membentak keras, "Ayoh, cepat lepaskan keluar!"

"Tapi kau mesti hati-hati, lho," seru perempuan cantik berbaju hitam itu sambil tertawa, "si muka merahku ini jauh lebih hebat daripada si jaliteng."

Waktu tangannya digerakkan ke atas, cahaya merah berkelebat lewat. Tahu-tahu seekor ular merah sepanjang tiga depa telah muncul di hadapan Sejuta Setan Kesal Yu Jiang, bahkan sambil mengangkat kepalanya siap melakukan terkaman.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment