Chapter 118
Begitu memandang wajah nona itu, Sik Tiong Giok merasakan dadanya seperti dipukul dengan martil berat. Pandangan matanya menjadi gelap dan napasnya menjadi sesak. Tanpa terasa, ia memekik di dalam hati, "Hey, bukankah dia adalah Cu Siau Hong? Mengapa bisa bergabung dengan orang-orang Gi Liong Oh? Jangan-jangan Cu Bu Ki sudah berpaling ke pihak lain?"
Sementara itu, Ki Beng mendengus seraya berseru, "Seandainya mereka tidak dibius dulu oleh obat pemabuk kalian, tak mungkin mereka akan membiarkan dirinya terbidik mati."
"Lantas mau apa kau?" ejek Cu Siau Hong sambil tertawa meremehkan. "Walaupun mereka tewas di ujung panah kami, sesungguhnya mereka mati di tangan kalian. Kalian semua yang harus mempertanggungjawabkan kematian mereka itu."
"Baik, anggap saja aku yang membunuh. Mau apa kalian sekarang? Ingin membalaskan dendam? Hmm, maju saja!" seru Cu Siau Hong sambil tertawa dingin. Berbicara sampai di situ, ia segera menggenggam gagang pedangnya, lalu diiringi getaran keras, secepat kilat ia mencabut senjata itu dan melancarkan sebuah serangan hebat.
Di tengah berkelebatan cahaya perak, tiba-tiba terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati memecahkan keheningan. Seorang lelaki berbaju hijau mundur dua langkah dengan sempoyongan, lalu roboh terjengkang ke atas tanah.
Tersentak hati Sik Tiong Giok menyaksikan hal tersebut. Ia segera berpikir, "Cepat amat gerak serangannya, betul-betul suatu ancaman yang amat keji."
Terdengar Cu Siau Hong berkata lagi sambil tertawa terkekeh-kekeh, "Sudah kalian lihat? Nah, bila ada yang tak puas, tak ada salahnya untuk maju dan merasakan ketajaman pedangku."
Ki Beng segera tampil ke depan kemudian berseru, "Budak busuk, hatimu sungguh keji. Manusia semacam kau tidak boleh dibiarkan hidup terus di dunia lagi..."
Cu Siau Hong mengerdipkan matanya yang jeli, kemudian tersenyum. "Senjata itu tak bermata, apalagi kalau sudah dipakai untuk membacok orang. Tak bisa dibilang aku kelewat keji dalam serangan tadi, tapi... siapakah kau?"
"Ki Beng dari perkampungan Oh Im San Ceng! Hari ini aku ingin mencoba sampai di manakah kehebatan Nona."
"Oooh, rupanya kau adalah Ki Beng. Pernah kudengar dari Kuncu-ku yang mengatakan bahwa Ki Thian Bin dari perkampungan Oh Im San Ceng cukup hebat. Mumpung hari ini ada kesempatan, ingin sekali kulihat sampai di manakah kehebatan itu." Mendadak ia menggetarkan tangannya dan melancarkan sebuah tusukan kilat.
Semenjak tadi Ki Beng sudah membuat persiapan. Pedangnya segera digetarkan menciptakan selapis bayangan pedang untuk melindungi seluruh badan. Kemudian, dengan menggunakan jurus 'Bunga Bwee Memuntahkan Putih', ia ciptakan berpuluh kuntum bunga pedang yang serentak mengurung seluruh tubuh lawan.
Rupanya Cu Siau Hong tak tahu bagaimana mesti menghadapi serangan itu; ia terdesak mundur sejauh satu langkah.
"Heeeehhh, heeeehhh, heeeehhh... tidak jelek, bukan, ilmu pedang dari perkampungan Oh Im San Ceng?" ejek Ki Beng sambil tertawa dingin.
Cu Siau Hong mendengus. "Sayang, belum bisa disebut ilmu yang mahasakti dari dunia persilatan!" ejeknya. Di antara kilatan cahaya yang menyilaukan mata, kembali ia menerjang ke muka. Pedangnya diputar bagaikan roda dan langsung membacok tubuh Ki Beng. Dengan gerakan yang amat berhati-hati, Ki Beng menyambut datangnya serangan musuh; betapapun hebatnya ancaman lawan, ia tetap menjaga posisi bertahan.
Empat puluh gebrakan sudah lewat. Mendadak Cu Siau Hong membentak keras, permainan pedangnya segera berubah. Kali ini serangannya makin lama makin cepat, seolah-olah belasan serangan merupakan satu serangan yang sama. Atas perubahan ilmu pedang yang begitu hebat dari Cu Siau Hong, Ki Beng terdesak hebat dan mundur berulang kali; jurus serangannya pun menjadi kacau balau.
Sebaliknya, Sik Tiong Giok yang melihat kejadian tersebut segera berpikir dengan perasaan kaget, "Hey, sejak kapan budak ini mempelajari ilmu pedang Ciu Hong Lok Yap Kiam Hoat? Jangan-jangan dia bukan Cu Siau Hong? Tapi, Li Peng adalah Cu Siau Hong? Atau mungkin dia memang mempunyai dua nama?"
Sementara dia masih termenung, Ki Beng di tengah arena sudah dibuat terdesak hebat dan kalang kabut tak karuan, sedang serangan yang dilancarkan Cu Siau Hong makin lama semakin bertambah gencar. Berada dalam keadaan begini, dia tak sempat lagi untuk berpikir panjang. Cepat-cepat ia berseru dengan ilmu menyampaikan suara, "Ki Toako, untuk menghadapi ilmu pedang dari budak tersebut, kau tak boleh cuma berjaga-jaga saja. Berusahalah untuk saling berebut menyerang dengannya, akan kubantu dirimu secara diam-diam."
Waktu itu Ki Beng memang sudah tidak tahan; setiap saat ada kemungkinan baginya untuk roboh bermandikan darah. Untunglah di saat yang amat kritis ini, suara bisikan tersebut bergema. Dia kenal sekali dengan suara itu; sadarlah Ki Beng bahwa si Pangeran Serigala Langit, Sik Tiong Giok, telah datang. Kendatipun dia tak tahu mengapa Pangeran tersebut enggan menampakkan diri, namun semangatnya toh berkobar kembali. Segera dia mengubah taktik dan balas melancarkan serangan-serangan yang gencar dan bertubi-tubi.
Benar juga, dengan serangkaian serangan gencarnya itu, situasi yang tidak menguntungkan bisa teratasi, malahan dia pun dapat mendesak lawannya untuk mau tak mau harus bertahan.
Cu Siau Hong menjadi mendongkol sekali, paras mukanya berubah hebat. Mendadak ia menarik kembali serangannya sambil melompat mundur sejauh enam-tujuh depa. Sambil tersenyum, Ki Beng segera mengejek, "Hey Nona, kenapa ilmu pedangmu begitu jelek?"
"Keparat, hari ini pertarungan tak akan berakhir sebelum salah seorang di antara kita roboh terkapar menjadi mayat," seru Cu Siau Hong dengan suara dingin. Begitu selesai berkata, tiba-tiba saja dia mengayunkan pedangnya sambil melancarkan sebuah tusukan ke tubuh lawan.
Ki Beng tak berani berayal, cepat-cepat dia menciptakan segulung bayangan pedang untuk menangkis ancaman tersebut, lalu dengan menggetarkan bunga-bunga pedang, dia melindungi tubuh sendiri.
"Traaaang... traaang..." Serangkaian bentrokan nyaring segera berkumandang memecahkan keheningan, cahaya tajam tahu-tahu lenyap, dan bayangan manusia pun tampak kembali. Suasana pertarungan dalam arena saat ini sama sekali telah berubah; jelas sudah bahwa kedua orang itu sama-sama telah mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya. Ki Beng berdiri dengan napas tersengal-sengal, sementara Cu Siau Hong, dengan berjaga pada pedangnya yang menancap di atas tanah, mengatur pula pernapasannya.
Selang beberapa saat kemudian, mendadak Cu Siau Hong mengangkat pedangnya lagi sambil berseru, "Orang she Ki, beranikah kau menyambut sebuah seranganku lagi?"
Ki Beng segera menghimpun tenaga dalamnya lalu menyahut, "Asalkan Nona masih mempunyai kemampuan untuk melanjutkan pertarungan, Ki Beng bersedia menerima seranganmu itu."
"Bagus!" dengus Cu Siau Hong. Dengan menghimpun hawa murninya ke dalam pedang, pelan-pelan ia melancarkan sebuah tusukan ke muka. Ki Beng sendiri pun segera menghimpun semangatnya dengan menggetarkan pedangnya sejajar dada. Tampaknya saja gerakan yang dilakukan kedua orang itu sangat lamban, padahal berbahaya bukan kepalang, sebab dalam gebrakan ini siapa mati siapa hidup akan segera ketahuan.
Sik Tiong Giok yang bersembunyi di balik kegelapan dapat menyaksikan semua peristiwa ini secara jelas. Melihat kedua orang itu sudah bersiap-siap beradu jiwa, ia segera berpikir, "Bila kubiarkan kedua orang itu bertarung lebih lanjut, salah seorang di antaranya pasti akan mati. Padahal, aku tidak berharap mereka berdua terluka atau mati..."
Sementara dia masih berpikir, kedua orang di arena sudah mulai menggerakkan tubuh masing-masing untuk melepaskan serangannya yang paling akhir. Sik Tiong Giok segera melompat keluar dari tempat persembunyiannya sambil membentak keras, "Tahan!"
Secepat kilat ia menerobos lewat di antara kedua bilah pedang lawan... Traaang...
Di tengah dentingan nyaring, dua orang yang sedang bertarung itu tahu-tahu kehilangan kekuatan dan terperosok jatuh ke bawah. Sementara di tengah arena telah bertambah seseorang, dia adalah Pangeran Serigala, Sik Tiong Giok. Serentak para jago dari partai Serigala bersama-sama memberi hormat. Ki Beng juga menjura seraya berkata, "Tecu menjumpai Pangeran Cilik."
Hanya Cu Siau Hong seorang yang jatuh terduduk di atas tanah sambil memandang lawannya dengan pandangan tertegun serta terbelalak. Sik Tiong Giok maju ke depan seraya berkata, "Nona Cu, masih ingat dengan Sik Tiong Giok?"
Dengan wajah kebingungan, Cu Siau Hong menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku tidak kenal denganmu, dan aku pun tidak she Cu!"
"Lantas siapakah kau?"
Mendadak Cu Siau Hong melompat bangun lalu sahutnya dingin, "Memberitahukan kepadamu pun tak ada salahnya. Aku merupakan salah seorang di antara lima tusuk konde di bawah pimpinan Gi Liong Kuncu, si gadis suci Li Peng."
"Li Peng," Sik Tiong Giok menjerit kaget, kemudian lanjutnya, "Kau benar-benar adalah Li Peng? Aku justru kemari menolongmu, ayo cepat ikut aku pergi dari sini." Seraya berkata, ia segera menangkap lengan gadis itu.
Mendadak Li Peng membabat dengan pedangnya sambil membentak, "Mau apa kau?"
"Apakah kau tidak kenal lagi denganku? Aku adalah Pangeran Serigala, Sik Tiong Giok?"
"Hmm, siapa sih yang kenal dengan lelaki busuk macam kau?" Selesai berkata, ia membalikkan badan dan segera beranjak pergi dari situ. Serta-merta Sik Tiong Giok menghadang jalan perginya seraya menegur, "Li Peng, mau ke mana kau?"
"Kembali ke Telaga Gi Liong Oh. Ada apa? Kau hendak menyandera diriku?"
Sik Tiong Giok memutar biji matanya berulang kali sambil berpikir. Teringat keadaan dari Hong Cu Yu, dia sadar nona ini pun bisa jadi sudah terpengaruh oleh obat pembingung sukma.