Chapter 12
Ilmu silat Liau It Taysu cukup hebat. Belum sempat punggungnya menempel tanah, ia sudah melesat bangun sambil melancarkan tendangan. Sayangnya, Sik Tiong Giok bergerak lebih cepat. Baru saja tendangan dilancarkan, Sik Tiong Giok sudah melesat kembali ke udara. Dari sana, dengan jurus "burung walet menembus gua", ia melancarkan pukulan ke arah kepala pendeta. Jurus "Ngo Jiang Hiat" adalah salah satu jalur darah kematian. Jika terkena, jiwa seseorang akan melayang. Liau It Taysu tidak berani bertindak gegabah dan segera menggerakkan tangan untuk melindungi diri.
Di saat terakhir sebelum jari-jarinya menyentuh kepala lawan, Sik Tiong Giok tiba-tiba mengubah serangannya menjadi cengkeraman ke urat nadi pergelangan tangan lawan. Kemudian, dengan meminjam kekuatan lawan, ia mengangkat tubuh musuh sambil membentak, "Kali ini kau harus terbanting keras!" Tubuh Liau It Hweesio yang besar seperti kerbau segera meluncur sejauh lebih dari satu kaki dan terhempas keras ke tanah.
Utusan manusia serigala mulai ketakutan. Perasaan bergidik timbul dalam hatinya setelah menyaksikan peristiwa itu. Ia semakin yakin bahwa nelayan kecil di hadapannya tak lain adalah pewaris kakek Serigala Langit yang termasyhur. Sebab, kepandaian silat andalan Manusia Serigala, selain dua belas jurus "Jian Jiu" yang dianggap maha sakti, juga meliputi gerakan tubuh "Serigala Menggelinding" serta tujuh puluh dua jurus "Ki Na Jiu" yang lihai.
Perlu diketahui, "Ki Na Jiu" dari manusia serigala ini berbeda sekali dengan yang sering dijumpai di daratan Tiongkok, bahkan beribu kali lipat lebih hebat daripada ilmu gulat Mongolia. Dulu, si Manusia Serigala berdiam di bukit serigala selama puluhan tahun. Bukit itu adalah sarangnya serigala, dan serangan kawanan serigala biasanya bergerombol hingga ratusan ekor, paling sedikit puluhan ekor. Betapa pun lihainya seorang jago silat, pasti akan pusing menghadapi kerumunan itu.
Berada dalam keadaan seperti ini, selain harus mempertahankan hidup, manusia serigala pun berniat menciptakan semacam ilmu untuk membalas dendam. Maka, dengan mengandalkan kecerdasan otaknya, ia menciptakan ilmu sakti berdasarkan gerak-gerik kawanan serigala. Tiga puluh tahun lamanya ia menekuni ilmu khusus untuk menghadapi kerubutan serigala ganas, akhirnya ia berhasil menciptakan ilmu yang benar-benar tangguh.
Sik Tiong Giok sendiri bukan hanya berhasil mewarisi kepandaian silat dari Manusia Serigala, ia juga memperoleh hawa murni sebesar enam puluh tahun hasil latihan dari Manusia Serigala. Semua itu membuat tenaga dalamnya melebihi tenaga dalam seseorang yang telah berlatih selama enam puluh tahun. Jangan lagi manusia, bahkan macan kumbang yang betapa pun ganasnya akan terlempar dengan mudah bila menyentuh tangannya.
Demikianlah, dari gerak serangan yang dilancarkan Sik Tiong Giok, Rasul Serigala Thian Hong segera sadar bahwa pihak lawan adalah pewaris asli Manusia Serigala. Dalam kaget dan seramnya, tiba-tiba terlintas sebuah akal jahat dalam benaknya. Sambil berkerut kening, ia tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata, "Saudara kecil, apakah kau murid Manusia Serigala?"
"Kalau benar, kenapa? Kalau tidak, kenapa pula?" jawab Sik Tiong Giok sambil melorotkan diri. "Apakah kau tak bisa mengetahuinya dari gerak seranganku tadi...?"
Rasul segera tertawa. "Aku sudah mengetahuinya sejak tadi. Benar-benar tak kusangka suhu ku mempunyai murid yang begitu hebat sepertimu. Benar-benar menggembirakan!"
"Lalu, siapa pula kau?" tanya Sik Tiong Giok balik.
"Aku adalah susiokmu, si Rasul Serigala. Cepat katakan di mana gurumu berada!"
Tak terlukiskan rasa kaget kawanan jago yang berada dalam arena setelah mengetahui bahwa nelayan kecil ini bekerja sama dengan Rasul Serigala yang mengaku sebagai paman gurunya itu. Bukankah mereka akan berabe? Tak heran suasana berubah tegang. Setiap orang segera bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Dalam ketegangan yang mencekam seluruh angkasa, tiba-tiba terdengar Sik Tiong Giok membentak keras. "Manusia bedebah, kau betul-betul bermuka tebal dan tak tahu malu! Sudah mengkhianati perguruan, mengaku jadi angkatan tua, mau menipu aku lagi! Huh, kau anggap aku benar-benar tak mengetahui wujud aslimu?"
"Kau tahu siapa aku?" Rasul Serigala balas mendengus marah.
Sik Tiong Giok mendengus dingin. "Huh, kau ini apa? Kau toh murid murtad dari perguruan Serigala Langit, Giok Bin To Nang (Penjagal Berwajah Kumala) Cu Bu Ki?"
Merasa identitasnya dibongkar orang, Rasul Serigala semakin kalap, teriaknya, "Bocah keparat, kau jangan ngaco! Aku bukan manusia yang suka mencatut nama orang!"
"Kalau begitu, biar kubetot lepas jenggot palsumu itu, agar semua orang bisa mengetahui wujud aslimu!" kata pemuda itu tertawa. Dengan cepat ia melompat ke muka dan menerjang ke arah Rasul Serigala. Sebuah cengkeraman maut langsung dilancarkan. Keenam manusia berkepala serigala yang mengitari arena serentak membentak nyaring sambil menyerbu ke depan.
Gerak serangan yang dilancarkan pemuda itu terhadap si Rasul Serigala tetap dilakukan tanpa merubah arah, sementara tangan kanannya disapukan ke arah depan dan belakang tubuhnya dengan gerakan yang luar biasa. Termakan oleh sapuan angin pukulan Sik Tiong Giok, keenam manusia berkepala serigala itu merasakan tubuh mereka terhadang secara tiba-tiba dan tidak mampu bergerak kembali. Namun, atas kejadian tersebut, serangan Sik Tiong Giok terhadap Rasul Malaikat pun ikut terhambat.
Memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini, Rasul Serigala segera melompat ke sisi tubuh ketua Ngo Oh Pang, Bun Su Khi. Sementara itu, Bun Su Khi sedang memusatkan seluruh perhatiannya menyaksikan jalan pertarungan. Ia tak mengira kalau bencana akan muncul secara tiba-tiba. Belum sempat ia berbuat sesuatu, jalur darah pada tengkuknya sudah dicengkeram oleh si Rasul Serigala itu.
"Bocah keparat, berhenti kau!" hardiknya keras-keras. "Kalau kau berani maju lagi, segera kubunuh manusia she Bun ini terlebih dahulu...!"
Nona berbaju hijau di atas sampan yang melihat kejadian ini berteriak kaget. "Ooh, Ayah... cepat kau lepaskan Ayahku!"
Sik Tiong Giok sendiri dibuat agak tertegun oleh perubahan peristiwa tersebut. Beberapa saat kemudian, ia membentak, "Cu Bu Ki, apa yang hendak kau lakukan?"
"Hei, jangan sembarangan memanggil, sebut aku Rasul Serigala!"
"Mengapa? Bukankah kau memang bernama Cu Bu Ki? Atas dasar apa harus menyebutmu si Rasul Serigala? Jangan harap aku akan merubah sebutanku!" jawab pemuda itu.
Rasul Serigala segera mendengus dingin. "Hmm, bila kau tidak menuruti perkataanku, segera kubunuh manusia she Bun ini!"
"Kau mau membunuhnya? Apa hubungannya dengan aku? Kalau mau dibunuh, silahkan dibunuh dengan segera. Tapi kau mesti ingat, bila dia mati, maka kau jangan harap bisa hidup terus. Aku pasti akan membalaskan dendam baginya!"
Rasul Serigala kembali tertegun. Pikirnya, "Aneh, masa keparat ini tidak punya hubungan sama sekali dengan Bun Su Khi? Jangan-jangan aku salah menduga?" Rupanya, setelah melihat Sik Tiong Giok duduk bersama Bun Un, putri Bun Su Khi, dalam sampan kecil, dan mereka berbicara serta bergurau dengan mesra, ia menganggap kedua orang muda itu sepasang kekasih. Setelah mendengar perkataan dari Sik Tiong Giok, ia baru tahu bahwa ia telah salah menduga. Gagal dengan rencana kejinya, untuk sesaat ia tertegun.
Sementara itu, ketua Ngo Oh Pang berdiri dengan alis mata berkerut, wajahnya penuh amarah. Namun, berhubung tubuhnya dicengkeram orang sehingga tak mampu berkutik, biar marah pun, marahnya hanya dalam hati dan tak mampu diutarakan keluar. Pada waktu itulah, tiba-tiba Nona Bun Un melompat dari sampannya dan menghampiri Sik Tiong Giok, serunya kemudian, "Hei, sebenarnya apa maksudmu? Mengapa kau tidak menolong ayahku? Kau tahu, dia adalah ayahku?" kata Bun Un mendongkol.
Sik Tiong Giok tertawa. "Aku tahu kalau dia adalah ayahmu. Asal bangsat she Cu turun tangan keji, aku pasti tak akan mengampuninya. Meski kehilangan ayahmu, namun bencana besar bagi dunia persilatan dapat disingkirkan. Bukankah kematian ayahmu lebih berharga?"
Bun Un hanya mengharapkan ayahnya selamat dari bencana. Sudah barang tentu ia tak akan memikirkan hal lain. Dengan air mata bercucuran, kembali ia berseru pedih, "Aku tidak ambil peduli, pokoknya kau harus menolong ayahku!"
"Baiklah," ucap Sik Tiong Giok dingin, "tapi kita mesti berjanji dulu. Bisa saja kutolong ayahmu, tapi tidak kujamin keselamatan jiwanya!"
"Hei, keparat! Bukankah perkataanmu itu sama artinya dengan tidak berbicara!" jengek Rasul Serigala sambil tertawa. "Kalau keselamatan-nya tak dapat kau jamin, apa pula yang dapat kau tolong?"
Sik Tiong Giok mengerutkan dahinya kencang-kencang, kemudian sambil melotot gusar ke arah Rasul Serigala, lalu membentaknya, "Cu Bu Ki, asal kau berani melukai Bun Pangcu biar seujung rambut pun, kita tak bakal ada habisnya. Akan kusuruh kau mengganti nyawanya dengan nyawamu!"
Tiba-tiba Rasul Serigala mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak. "Haaah, haaah, haaah, keparat busuk, tak nyana kalau usiamu meski kecil, bacotmu justru gedenya luar biasa!"
"Hmmm, bila tidak percaya, silahkan saja untuk mencoba!"
Dengan meningkatnya perang mulut, suasana dalam arena pun bertambah tegang. Semua orang saling berhadapan dengan hati penuh kewaspadaan. Mendadak Rasul Serigala menggeretakkan giginya keras-keras. Telapak tangan kanannya yang semula menempel di ulu hati Bun Su Khi, kini diangkat ke atas secara pelan-pelan dan bersiap sedia melancarkan bacokan maut.