Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 120

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 120

"Kau pun tahu tentang Gi Liong Oh?" seru Raja Setan Kepala Botak keheranan, "kami memang mendapat musibah di sana."

"Aku sendiri pun baru dua hari belakangan ini mengetahui tentang nama tersebut, tapi belum pernah bertemu secara langsung. Sebenarnya siluman macam apakah yang telah kalian jumpai?"

Raja Setan Kepala Botak mengatur pernapasan lebih dulu, kemudian menceritakan kisah pengalamannya yang mengerikan. Rupanya, Tujuh Iblis setelah berangkat meninggalkan Ci Sui Ho dengan disertai anak buahnya, merasa sangat tidak puas dengan Pangeran Serigala karena dibuat tak berkutik oleh lencana Tujuh Iblis yang terjatuh ke tangan pemuda tersebut. Maka, mereka pun berunding untuk segera berangkat ke Bukit Pay Lau San serta mengatur persiapan sambil berusaha menunggu kesempatan baik untuk menangkap si Kelabang Langit. Asalkan Kelabang Langit diperoleh dan ilmu sakti berhasil dipelajari, tentu mereka bisa malang melintang dalam dunia persilatan tanpa harus takut dengan Pangeran Serigala lagi. Begitu keputusan diambil, mereka pun segera memotong jalan untuk berangkat menuju ke Bukit Pay Lau San.

Menurut keterangan penduduk pribumi di situ, dikatakan ada sebuah jalan potong yang bisa mempersingkat jarak perjalanan selama dua atau tiga hari dengan melewati Siu Pi Ciong dan Telaga Gi Liong Oh. Namun, menurut penuturan penduduk suku Biau di situ, katanya di tengah Telaga Gi Liong Oh terdapat seekor naga yang sudah banyak melukai jiwa manusia. Sebagai jago-jago silat yang berpengalaman luas, tentu saja cerita takhayul semacam itu tidak digubris. Maka, berangkatlah mereka menembusi jalan setapak melalui Siu Pi Ciong menuju ke Telaga Gi Liong Oh.

Perjalanan yang mereka tempuh memang merupakan daerah yang terpencil serta jarang dilalui manusia. Hanya ada satu hal yang aneh, yaitu tidak seekor binatang atau burung pun yang kelihatan di sekitar sana. Thian Mo Tongcu atau Budak Sakti Iblis Langit, Ang Cun, yang terkenal dengan kecerdikannya, segera menjadi curiga setelah melihat peristiwa itu. Cepat-cepat dia berkata kepada semua orang, "Aku rasa keadaan di sini memang kurang beres. Mau tak mau kita harus mempercayai cerita takhayul itu, siapa tahu kalau di sekitar sini memang benar-benar terdapat naga?"

Pat Huang Sin Mo yang mendengar perkataan ini segera berseru sambil tertawa, "Losam, mengapa nyalimu makin lama semakin kecil? Peduli amat dengan naga atau makhluk aneh, memangnya kita mesti merasa takut?"

"Kalau makhluk itu tidak menakutkan, mengapa dalam hutan ini tak tampak seekor binatang atau seekor burung pun?"

"Jadi menurut anggapanmu dalam Telaga Gi Liong Oh benar-benar ada naganya?" seru Pat Huang Sin Mo.

"Menurut penuturan dari suku Biau," kata Thian Mo Tongcu Ang Cun kemudian, "jauh sebelum itu, di sini memang sering kali muncul makhluk aneh berbentuk naga. Itulah sebabnya tempat ini dinamakan Telaga 'Gi Liong Oh', siapa tahu kalau makhluk tersebut memang benar-benar bercokol di sana?"

"Ya, aku pun merasakan sesuatu yang tak beres," sela Raja Setan Kepala Botak. "Sepanjang perjalanan sampai di sini, tidak seekor harimau atau binatang buas pun yang kujumpai, bahkan binatang kecil pun tidak ada yang tampak."

Setelah mendengar perkataan itu, maka semua orang pun segera meningkatkan kewaspadaan masing-masing. Tak lama kemudian, mereka sudah melewati tanah berbukit-bukit dan tiba di sebuah mulut lembah. Lembah tersebut penuh dengan tebing yang terjal serta pepohonan yang besar dan lebat. Sekilas pandangan saja cukup mendatangkan suasana yang menyeramkan. Han Biau Sian Koh Lu Yong pun menjadi tertegun setelah menyaksikan suasana di situ. Kepada Raja Setan Kepala Botak, ia segera berkata, "Toako, aku rasa lembah ini bukan tempat yang aman, bagaimana kalau kita mencari jalan berputar saja?"

Hua Sin Mo Li Thi Cu segera menimbrung, "Cici, apakah kau menjadi takut? Padahal banyak tebing dan lembah sudah kita lewati, kenapa kali ini kau tampak amat ketakutan?"

"Ji moay memang tak bisa mengubah sifat tergesa-gesanya," sela Raja Setan Kepala Botak sambil tertawa. "Andaikata kita tak pernah mendengar tentang makhluk aneh seperti naga, apa pula yang mesti kita takuti?"

"Betul," seru Han Biau Sian Koh cepat, "alangkah baiknya kalau kita dapat bertindak lebih hati-hati."

Maka Thian Mo Tongcu pun berseru, "Lebih baik kita utus dua orang untuk melakukan pemeriksaan lebih dulu, kemudian baru memutuskan tindakan selanjutnya."

Dua orang anggota Mo Hu segera dikirim ke dalam lembah untuk melakukan pemeriksaan. Tak lama kemudian mereka muncul kembali sambil melaporkan, "Situasi dalam lembah aman. Tanahnya luas dan penuh dengan pohon siong di bagian luar, tapi setelah menembusi hutan, terdapat sebuah tebing yang berbatu luas. Tecu sudah memeriksa di sekitar sepuluh li lebih tanpa menemukan dasarnya, mungkin tempat ini berupa selat yang tembus sampai ke tebing lain."

"Apakah ditemukan sesuatu yang mencurigakan?" tanya Thian Mo Tongcu lagi.

"Di situ tidak terlihat sesuatu apa pun, bahkan burung pun tak tampak."

Thian Mo Tongcu segera termenung sejenak, kemudian baru ujarnya kepada Raja Setan Kepala Botak, "Toako, aku bermaksud meninggalkan semua anggota di luar lembah sedang kita masuk melihat-lihat, bagaimana menurut pendapatmu?"

"Baik!" jawab Raja Setan Kepala Botak. Ia segera menerobos masuk ke dalam lembah itu lebih dulu, disusul keenam iblis lainnya di belakang. Beberapa langkah setelah memasuki lembah, mereka sampai di sebuah hutan pohon cemara yang lebat; ranting bertumpang tindih sehingga sukar untuk dilewati. Tiba-tiba satu ingatan melintas di dalam benak Thian Mo Tongcu, segera pikirnya, "Membiarkan kelima puluh orang anggota Mo Hu menunggu di luar lembah pun bukan suatu tindakan yang benar. Apa salahnya kalau suruh mereka mengikuti saja di belakang sehingga kalau sampai terjadi sesuatu, ada yang akan membantu?"

Karena pendapat tersebut, maka dia pun segera mengulapkan tangannya memerintahkan kelima puluh orang anggota Mo Hu itu mengikuti masuk ke dalam lembah. Pohon cemara yang tumbuh di sana memang lebat sekali, ditambah lagi senja sudah menjelang tiba, membuat suasana di sana menjadi remang-remang. Tumpukan daun kering yang rontok ke atas tanah bertumpuk-tumpuk amat tebal dan menimbulkan bau busuk yang menusuk hidung. Dengan susah payah, rombongan tersebut menembus hutan cemara itu sebelum akhirnya tiba di hutan batu. Sejauh mata memandang, lembah itu hanya dipenuhi dengan aneka macam batuan yang tinggi rendah tak menentu tersebar di mana-mana; sebagian besar batuan di situ telah dilapisi dengan lumut yang tebal.

Dengan susah payah pula hutan batu ini berhasil dilalui. Kini di depan mata terbentang sebuah sungai dengan air yang deras. Baru saja Tujuh Iblis hendak menyeberang sungai tadi, Si Telapak Darah Pengusik Langit Lu Ma yang berpegangan pada sebuah batuan mendadak merasa tangannya memegang suatu cairan lembek yang baunya busuk sekali. Saking kagetnya, ia segera berteriak, "Aaaah...!"

"Lo Liok, apa yang telah kau temukan?" cepat-cepat Thian Mo Tongcu bertanya.

"Coba kau lihat cairan apakah ini?"

Dengan seksama Thian Mo Tongcu memperhatikan sekejap cairan yang menodai tangan Telapak Darah Pengusik Langit, kemudian ujarnya, "Kemungkinan sekali benda itu adalah cairan racun dari bangsa ular, cepat cuci sampai bersih, hati-hati jangan sampai keracunan."

Mendengar itu, Telapak Darah Pengusik Langit Lu Ma segera mencuci bersih tangannya lalu mengejar rombongan lainnya. Makin ke dalam, batuan makin berkurang, aliran selokan berubah menjadi sungai yang mengalir bersih. Dengan menelusuri sungai itu mereka berjalan lagi sekian waktu sebelum akhirnya perjalanan itu terhadang oleh sebuah tebing; tampaknya mereka telah tiba di dasar lembah. Thian Mo Tongcu segera maju ke kaki bukit untuk melakukan pemeriksaan. Ternyata, di bawah bukit itu merupakan sumber mata air, di antara dindingnya terdapat sebuah gua yang mirip dengan sebuah pintu. Walaupun mulut gua itu hanya selebar dua tiga kaki, namun tampak amat rahasia letaknya dan sukar diukur berapa dalamnya. Bau busuk yang sangat amis serta desingan angin yang dingin membuat suasana di situ terasa mengerikan. Di sisi kiri maupun kanan gua merupakan tebing-tebing curam yang menjulang ke angkasa; di situ tiada jalan lain lagi.

Dalam pada itu, matahari sudah tenggelam, suasana dalam lembah pun menjadi gelap dan pemandangan di sekitar situ mulai sukar untuk dibedakan lagi. Memandang mulut gua itu, Thian Mo Tongcu segera berpikir, "Kini langit sudah gelap dan jika masuk ke dalam gua itu dan berjumpa dengan makhluk aneh, pasti akan sulit untuk menghadapinya... tapi kalau tak berhasil menemukan jalan keluarnya, bukankah kami semua akan terkurung di sini...?"

Berpikir begitu, dia pun bermaksud merundingkan persoalan ini dengan Raja Setan Kepala Botak sekalian. Tapi, di saat dia berpaling inilah, tampak olehnya Raja Setan Kepala Botak sedang berjalan mondar-mandir di bawah beberapa batang pohon besar di tepi selatan jeram, seakan-akan sedang mencari sesuatu. Timbul rasa penasaran dalam hati Thian Mo Tongcu setelah menyaksikan kejadian ini; cepat-cepat dia menyusul ke sana. Di saat tubuhnya sedang melewati mulut gua dan kebetulan menengok ke dalam sekejap, mendadak terasa olehnya ada beberapa cahaya bintang yang memancar keluar dari gua tersebut. Karena heran, ia segera menghentikan langkahnya.

Dengan seksama penemuannya itu diperiksa sekali lagi. Ternyata cahaya bintang yang berkedip itu sedang bergerak naik turun tiada hentinya, bahkan makin lama berkembang makin luas. Agaknya sedang mengembang ke arah mulut gua, malah secara lamat-lamat dia pun menangkap suara dengusan napas. Peristiwa ini kontan saja mengejutkan Thian Mo Tongcu, tanpa terasa teriaknya, "Aduh celaka, kita telah memasuki sarang dari ular besar!"

Sambil berseru dengan sekuat tenaga, dia melompat ke lain sisi tebing dan berlarian menuju ke sisi Raja Setan Kepala Botak, serunya dengan gugup, "Toako, di dalam gua itu bersembunyi sejumlah harimau ganas! Rupanya merasa dibikin terkejut sehingga berbondong-bondong menerjang keluar."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment