Chapter 121
"Benarkah begitu?" kata Pat Huang Sin Mo. "Kalau begitu, kita harus segera bersiap untuk menghadapi mereka. Lebih baik kita sumbat mulut guanya, lalu kita bunuh setiap harimau yang keluar. Apa yang perlu kita takuti?"
"Betul!" dukung Ang Lou Hujin sambil mempersiapkan toyanya. "Mari kita bertindak cepat, jangan sampai mereka menerjang keluar lebih dulu. Bakal kerepotan jadinya, apalagi hari sudah gelap, salah-salah jiwa kita akan terancam." Sambil berkata demikian, ia lantas memberi tanda dan memimpin kawanan iblis tersebut untuk menyumbat gua.
Mendadak Thian Mo Tongcu menghalangi perjalanannya sambil berkata, "Sa-moay, kau tak usah gugup, dengarkan dulu perkataanku..."
"Harimau-harimau itu sudah hampir keluar dari gua, apalagi yang mesti dibicarakan?"
"Menyumbat gua bukan tindakan yang tepat. Lagi pula, harimau-harimau itu pun belum tentu takut mati. Andaikata mereka menyerang secara bergerombol, bukankah kita bakal berabe? Lebih baik kita bagi semua anggota menjadi lima rombongan serta bersembunyi untuk sementara waktu di atas pohon. Bila ada kesempatan, kita bidik saja dengan senjata-senjata rahasia. Aku rasa cara ini jauh lebih baik."
Raja Setan Kepala Botak segera mengangguk-angguk. Maka, ia pun memerintahkan kelima puluh anggota Mo Kiong itu agar naik ke atas pohon. Namun, biarpun orangnya bisa naik ke pohon, beberapa ekor keledai pengangkut ransum tidak mungkin bisa naik, maka mereka pun disembunyikan di dalam beberapa lubang pohon.
Ketika persiapan selesai, rombongan harimau ganas yang ditunggu ternyata belum menampakkan diri. Kini, semua orang sudah berada di atas pohon, kecuali Thian Mo Tongcu yang tetap berada di bawah sambil mengawasi situasi di sekelilingnya dengan perasaan heran.
"Andaikata makhluk yang berada dalam gua itu cuma binatang buas sebangsa harimau, urusan lebih mudah diatasi. Takutnya kalau binatang itu adalah makhluk aneh yang menghebohkan, siluman naga... bisa berabe..."
Sementara dia masih berpikir, mendadak terdengar Raja Setan Kepala Botak berseru, "Losam, cepat naik ke atas pohon!"
Bagaikan baru sadar dari lamunan, Thian Mo Tongcu bersiap-siap hendak melompat naik ke pohon. Siapa sangka kakinya baru diangkat, ia sudah tersandung sebuah batu besar sehingga hampir saja terjerembab. Ketika diperiksa lagi dengan saksama, ia pun berseru kaget, "Aaaaah, sungguh aneh!"
Kalau tadi ia tak sempat memeriksa keadaan di sekitar sana karena suasana dalam lembah gelap gulita dan dilapisi kabut tipis, maka setelah tersandung batu, ia baru memeriksa dengan saksama. Saat itulah ia menemukan begitu banyak batuan di tanah kosong itu; semuanya berupa batu granit alam yang diatur sangat rapi.
Semakin dilihat, Thian Mo Tongcu merasa semakin keheranan. Tanpa terasa ia berpikir lagi, "Mungkinkah selain terdapat makhluk aneh dan binatang buas, di sini pun terdapat manusia? Tapi, mungkinkah itu...?"
Sementara dia masih termenung, dari dalam gua sudah terdengar suara auman yang amat keras sehingga menggetarkan seluruh permukaan bumi. Dalam waktu singkat, angin kencang berembus menerbangkan pasir dan debu. Begitu kuatnya embusan angin tersebut sampai untuk berdiri pun tidak mampu.
Dalam keadaan seperti ini, biarpun Thian Mo Tongcu bernyali besar dan berilmu silat tinggi, ia tidak berani berdiam lebih lama lagi. Cepat-cepat ia membalikkan tubuhnya lalu melompat naik ke atas pohon dengan gerakan tangkas. Setelah ia berada di atas pohon serta menengok kembali ke bawah, kontan saja iblis ini terperangah saking kagetnya.
Ternyata, dari dalam gua telah muncul tujuh sampai delapan ekor harimau ganas yang rata-rata bertubuh sebesar kerbau. Rombongan tersebut langsung menuju ke arah tebing sebelah atas dengan menyeberangi sungai. Suara percikan air menambah seramnya keadaan waktu itu.
Sebenarnya, mereka yang bersembunyi di atas pohon tak akan terancam jiwanya asal tidak bersuara. Namun, beberapa ekor keledai yang disembunyikan dalam lubang pohon menjadi panik dan meringkik tiada hentinya setelah mendengar auman harimau yang menyeramkan itu. Tak bisa dihindari lagi, serentak binatang-binatang itu menerjang keluar dari tempat persembunyiannya dan melarikan diri ke dalam hutan.
Harimau-harimau ganas itu menjadi makin berang, apalagi melihat ada makanan lezat melintas di hadapannya. Diiringi suara auman keras, mereka segera mengejar dari belakang. Menyaksikan kejadian ini, meski ketujuh iblis itu merasa terkejut, namun tak seorang pun yang mampu berkutik. Apalagi hari sudah gelap, panah yang mereka siapkan sama sekali tidak berguna lagi.
Selang beberapa saat kemudian, rombongan harimau ganas itu telah muncul kembali. Ternyata beberapa ekor keledai itu tak satu pun yang berhasil melarikan diri, semuanya terseret kembali. Hanya anehnya, setelah menyeret kembali keledai-keledai itu serta mengumpulkannya di tengah lapangan, ketujuh atau delapan ekor harimau itu tidak melahapnya, tetapi hanya mengawasi dengan mata melotot besar. Saat itulah, tiga ekor harimau di antaranya membalikkan badan dan berjalan masuk kembali ke dalam gua.
Raja Setan Kepala Botak yang menjumpai adegan ini menjadi keheranan. Pikirnya kemudian, "Mungkinkah kawanan harimau ini mempunyai raja harimau? Atau mungkin juga masih terdapat makhluk lainnya? Atau jangan-jangan di dalam gua itu terdapat makhluk aneh yang menghebohkan...?"
Belum habis ingatan tersebut melintas, dari balik gua telah muncul cahaya api yang menerangi seluruh mulut gua itu. Bahkan terdengar pula suara gemericik yang sangat ramai, seolah-olah ada banyak langkah kaki yang berat sedang berjalan melalui permukaan air. Sekali lagi, Raja Setan Kepala Botak berpikir dengan keheranan, "Jangan-jangan orang itu adalah manusia aneh yang mampu mengendalikan binatang-binatang tersebut? Tapi, rasanya belum pernah kudengar ada manusia semacam ini di dalam dunia persilatan."
Belum habis pikiran itu melintas, ketiga ekor harimau yang masuk ke dalam gua tadi kini sudah muncul kembali. Lalu, terlihatlah cahaya api yang makin lama semakin terang, menyusul kemudian muncul dua makhluk aneh yang tinggi besar. Mereka berjalan seperti manusia biasa, tapi seluruh badannya berbulu panjang. Bulu itu berwarna emas dengan rambut di atas kepalanya terurai ke pundak. Hidungnya tampak pesek dengan bibir yang tebal, gigi taringnya mencuat keluar, matanya besar, sementara lengannya panjang lagi kasar, serta memiliki ekor yang pendek.
Betapapun luasnya pengetahuan yang dimiliki tujuh iblis, untuk sesaat mereka tertegun setelah menjumpai dua makhluk aneh—manusia bukan manusia, gorila bukan gorila—ini. Kedua makhluk aneh itu masing-masing membawa sebuah obor yang memercikkan cahaya api yang besar. Ketika terhembus angin, obor tersebut memperdengarkan suara yang nyaring. Satu di antara mereka segera menancapkan obornya di atas dinding gua, sedangkan yang lain segera menyeberangi air menuju ke daratan.
Dengan kehadiran dua makhluk aneh tadi, dari balik gua kembali terdengar suara langkah kaki yang ramai. Menyusul kemudian muncul serombongan makhluk aneh yang bentuknya sama. Mereka semua memanggul senjata yang besar dan berat, sementara makhluk yang paling akhir membawa sebuah kuali besi yang besar sekali. Kuali itu paling tidak beratnya mencapai delapan ratus kati, namun makhluk itu membawanya dengan mudah tanpa membuang banyak tenaga.
Di bawah bimbingan cahaya api inilah kawanan makhluk aneh itu bersama-sama menyeberangi sungai menuju ke arah tanah kosong di seberang. Agaknya, rombongan harimau ganas itu takut sekali terhadap kawanan makhluk aneh itu; seperti kucing-kucing yang jinak, mereka mengikuti di samping makhluk-makhluk tersebut sambil mengibas-ngibaskan ekornya, sehingga mengenaskan sekali keadaannya. Tatkala makhluk aneh itu mengayunkan cakarnya yang panjang sembari berpekik rendah, kawanan harimau ganas itu serentak menyembunyikan ekor dan menyingkir jauh-jauh. Namun, mereka pun tak berani meninggalkan tempat tersebut; boleh dibilang kewibawaannya sebagai raja hutan sama sekali telah hilang.
Dalam waktu itu, kawanan makhluk aneh telah menancapkan obor-obor tersebut di sepanjang sungai dan meletakkan kuali besi di atas batu besar. Kemudian, mereka pun mengerubungi keledai-keledai yang tergeletak di atas tanah itu sambil tertawa seram, sehingga kelihatan gigi-gigi taringnya yang panjang. Suara tertawa mereka sangat menakutkan karena tak akan terdengar di antara manusia dan tak akan ditemukan pula di antara binatang. Kalau dibilang sedang tertawa pun sebenarnya tidak, sebab lebih mirip dengan suara lolongan.
Ketika kedelapan makhluk aneh itu melolong bersama, suara yang ditimbulkan segera menggetarkan seluruh rimba. Apalagi di tengah malam buta begini, siapa saja yang mendengar suara tersebut niscaya akan dibuat ketakutan dan ngeri. Ketujuh orang iblis yang terhitung gembong-gembong iblis yang membunuh orang tanpa berkedip dalam dunia persilatan itu, saat ini dibuat ketakutan setengah mati sampai mandi keringat dingin. Jangan lagi bergerak, mengembuskan napas dingin pun tak berani. Mereka cuma bisa menyaksikan semuanya itu dengan mata melotot.
Setelah tertawa keras beberapa saat, kawanan makhluk aneh itu mulai turun tangan mencabik-cabik keledai tersebut, dan dalam waktu yang singkat percikan darah segar telah berhamburan ke mana-mana. Keenam keledai itu segera tercabik jadi beberapa potong. Masing-masing makhluk mencomot segumpal daging segar itu dan segera memakannya dengan lahap. Sementara itu, kawanan harimau ganas hanya mengawasi dari kejauhan sambil menahan air liur. Mereka tidak berani meraung, tak berani pula bergerak; mengenaskan sekali keadaannya.
Tak sampai setengah jam kemudian, keenam ekor keledai itu sudah habis dimakan kawanan makhluk aneh tersebut, sedang kawanan harimau ganas itu hanya kebagian isi perutnya saja, namun binatang-binatang itu justru makan dengan tenang sekali. Selesai bersantap, makhluk aneh itu mulai berkumpul dan kasak-kusuk seakan-akan merundingkan sesuatu.